“Kamu tinggal di mana, Mbak? Biar saya antar.” Aina menggeleng. “Gak perlu, Mas. Saya naik angkot aja, gak jauh dari sini, kok.” “Anggap aja sebagai ucapan terima kasih saya karna Mbak sudah bersedia bantu saya beli ini.” “Ha-ha, gak perlu begitu, Mas. Itu hanya bantu beliin aja, santai aja, Mas.” “Jadi tolong terima niat baik saya, Mbak. Saya gak enak kalo orang bantu, tapi kebaikannya gak dibala.” Aina tersenyum kikuk. Darya terkesan sedikit memaksa, tetapi Aina paham jika Darya merasa tak enak setelah dibantu. “Baik ‘lah kalau begitu, Mas. Motor Mas-nya di mana?” “Itu di sana, Mbak. Ayo ikut saya.” Darya tersenyum ramah sembari menunjuk ke area parkiran mobil. Aina mengikuti langkah Darya dengan kening sedikit berkerut. “Mas-nya ... bawa mobil?” Darya menoleh ke belakang, lalu

