3. Dibodohi

1084 Kata
Rastanti tertawa sinis. “Prank? Masih aja gak sadar diri! Udah dikasih tau, gak percaya. Kamu kira, kalau bukan karna kasian sama kamu, siapa yang bakal suka sama kamu? Kalau bukan Yuda, gak ada lagi pria yang mau menikahi perempuan kayak kamu gini. Tapi Yuda berhak dapat wanita yang jauh lebih baik, bukan beban dan parasit sepertimu.” “Udah ‘lah, Buk.” Yuda mengembuskan napas pelan, lalu menatap Aina. “Aku sudah mengurus semua surat-surat untuk perceraian kita. Aku akan kasih kamu 1 juta, kamu bisa cari kontrakan atau kost murah buat pindah dari sini.” “Apa-apaan kamu, Yuda? Gak ada, kenapa juga kamu harus kasih dia 1 juta? Kalau dia gak punya uang, itu urusannya sendiri. Derita dia sendiri, keluar dari sini gak punya duit, biar dia jadi gelandangan, bukan urusan kita lagi!” celoteh Rastanti. “Anggap saja sebagai nafkah terakhir dariku, atau sebagai uang perpisahan. Aku tahu kamu tidak punya tabungan, jadi setidaknya 1 juta ini bisa kamu gunakan untuk mencari tempat tinggal murah dan sebagai uang bertahan sampai kamu dapat kerja.” Yuda mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompetnya. Rastanti segera menyambar uang yang disodorkan oleh Yuda kepada Aina. “Ck, kamu ini gimana, sih? Kamu lupa kalau sebentar lagi akan menikahi Moja? Kamu lebih butuh banyak uang untuk itu, Yuda! Kenapa malah harus menyumbang kepada perempuan ini, dia kesenengan jadinya. Kalau mau kasih, tidak harus 1 juta, lima puluh ribu saja sudah cukup. Ini, ambil!” Aina memejamkan matanya ketika Rastanti melemparkan selembar uang lima puluh ribu ke wajahnya. Ia mencoba tenang, meski hatinya begitu sakit, dan otaknya masih sulit menerima hal mengejutkan ini. “Apa sebenarnya ini, Mas? Apa maksud semua ini? Bukannya selama ini kita baik-baik saja? Kenapa sekarang malah tiba-tiba kamu pulang membawa dia, dan ingin menceraikan aku? Apa yang salah? Perasaan kita tidak ada masalah apa-apa. Kenapa tiba-tiba, Mas?” tanya Aina dengan ekspresi bingung serta tak percaya. “Ini bukan tiba-tiba, dari awal sebenarnya memang udah begini,” jawab Yuda. Aina terdiam, keningnya berkerut. “Dari awal begini? Maksud kamu?” Rastanti berdecak kesal. “Bisa-bisanya lulusan terbaik malah sebodoh kamu! Padahal udah dijelasin dari tadi! Kamu itu dari awal gak dicintai karna kamu itu cuma pengantin pengganti, tau! Kamu itu cadangan! Pelarian! Apa lagi yang mau kamu dengar, udah dari tadi aku jelaskan!” Dada Aina berdenyut mendengar itu. Tentu rasa sakitnya sudah tak bisa diungkapkan lagi. Ia mendongak, menatap Yuda dengan sorot tanpa makna. “Apa semua itu benar?” Yuda mengembuskan napas kasar. “Lagi pula, kamu juga untung karena selama ini bisa tinggal dengan tenang di rumahku. Anggap saja 2 tahun ini aku membantumu supaya tidak kesulitan di luar sana. Kamu tidak punya keluarga, tidak punya orang tua lagi, jadi kita sama-sama untung dalam hal ini. Kamu senang bisa tinggal di sini, makan di sini.” Aina tersenyum pahit. Ia menunduk dengan rasa sakit begitu dalam. “Jadi selama ini apa, Mas? Sedari awal kamu mendekatiku di kampus, bersikap baik padaku di kampus, sampai akhirnya kamu ngajak aku nikah, sekarang pernikahan kita udah 2 tahun, kamu cuma anggap aku pengganti? Apa kamu ini lucu?” “Udah ‘lah, Ai. Aku capek debat sama kamu, hampir tiap hari harus ngomong sama kamu, belum lagi jadi hakim buat debat kamu sama Ibuk-ku. Aku gak bakal terlalu desak kamu buat beres-beres. Kamu bisa ke kamar ambil barang sekarang, buat pindah dari sini. Aku juga mau bantu Moja buat beberes kamarnya, dia bakal tinggal di sini mulai sekarang. Makanya kamu harus pindah dari sini sekarang juga.” Aina tertawa miris. Matanya berkaca-kaca, tetapi ia segera menunduk untuk tak memperlihatkan rasa sakitnya di depan pelaku yang membuatnya terluka begitu dalam. “Padahal aku mencintaimu dengan tulus, Mas. Aku gak nyangka, ternyata aku emang sebodoh itu dari dulu, ya? Aku kira kamu juga cinta, ternyata semua kebaikan kamu selama ini palsu.” Aina mendongak, ia menatap Yuda dengan sorot dingin. “Aku tau sekarang, selama ini kamu baik sama aku di kampus, apa cuma demi tugas kampus?” Yuda diam sejenak, lalu berdecak. “Baik ‘lah, aku akan jujur saja, karna kamu begitu keras kepala. Aku ingin semuanya segera selesai, biar kamu juga gak banyak ngomong lagi. Moja udah capek dari tadi berdiri, kamu malah ngajak debat kayak gini.” Ia malah mencemaskan Moja di saat hati istrinya tengah hancur berkeping-keping. “Iya! Aku emang deketin kamu karna tugas, karna di kampus kamu mahasiswi yang paling pintar dan rajin. Aku memanfaatkanmu yang tidak punya teman. Lalu, kamu juga ingin tau kenapa aku menikahimu? Selain karna ingin membuat Moja kesal dan menjadikan kamu sebagai pengganti Moja, aku juga ingin terus memanfaatkan kepintaranmu itu. Berkat kamu, aku bisa terus naik jabatan, dan sekarang aku akan segera menjadi manager. Puas sekarang?” Napas Aina tercekat, ia membatu di tempat dengan hati hancur sehancur-hancurnya. Tangannya terkepal, semua kalimat Yuda sukses membuatnya jatuh ke jurang terdalam. “Ternyata hingga akhir aku emang gak pantes buat bahagia, ya?” Aina bergumam dengan bibir bergetar. “Ternyata kamu emang sebodoh itu, Aina. Bodoh sampai menganggap pria di depanmu ini menjadi harapan satu-satumu untuk hidup selama ini. Bodoh karna kamu sangat mencintainya, sedangkan dia sama sekali tidak pernah mencintaimu, hanya memanfaatkanmu. Jadi ... sebenarnya aku ini pintar atau bodoh?” batinnya ingin sekali meraung. “Apa lagi yang kau tunggu? Cepat keluar dari rumah ini! Jangan kira kamu bisa memohon-mohon di sini, mau pura-pura menangis darah pun gak peduli! Cepat keluar dari sini! Tidak usah lagi beberes barang, karna semua barang yang kamu punya adalah pembelian Yuda. Cepat keluar!” Rastanti mendorong Aina hingga terjatuh ke lantai. Aina menarik napas dalam, menguatkan dirinya sendiri. “Jangan menangis, Aina. Jangan perlihatkan lemahnya kamu, atau mereka akan semakin senang dan bahagia atas penderitaan serta rasa sakit ini,” batinnya. “Kasian, Tante. Seenggaknya kasih aja satu baju, biar bisa diganti-ganti di jalan. Masa cuma satu baju di badannya doang? Nanti jadi gembel, dong? Kasian dia.” Moja yang sedari tadi diam, akhirnya bersuara sok baik. Aina mendongak, menatap dingin ke arah Moja yang tersenyum miring ke arahnya. Tanpa ekspresi, Aina pun berdiri. “Kamu emang terlalu baik, Moja. Kamu emang menantu idaman Tante.” Rastanti begitu lembut kepada Moja, sebelum ia mendelik sinis ke arah Aina. “Padahal dia udah rebut Yuda dari kamu. Masih aja kamu kasian sama dia. Udah, biarin aja, dari awal dia ini emang gembel yang dipungut Yuda dan dibawa pulang ke rumah ini. Jadi gak ada hak dia buat bawa apa pun dari rumah ini.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN