“Padahal dia udah rebut Yuda dari kamu. Masih aja kamu kasian sama dia. Udah, biarin aja, dari awal dia ini emang gembel yang dipungut Yuda dan dibawa pulang ke rumah ini. Jadi gak ada hak dia buat bawa apa pun dari rumah ini.”
Aina menatap Yuda yang tampak tak merasa bersalah setelah mempermainkannya selama ini. “Padahal aku merelakan masa bagusku untuk membentuk karir, demi menikah bersama kamu. Tapi ternyata ini balasannya. Aku yang membantumu naik jabatan sampai akan menjadi manager, sekarang kamu buang aku karna cinta pertamamu kembali? Aku tidak sangka, ternyata selama ini aku mencintai binatang.”
“Jaga ucapanmu, Aina!” bentak Yuda. Ia menarik napas dalam, lalu menatap Aina nyalang. “Kamu juga harusnya sadar diri. Berkaca ‘lah, tiap hari kamu gak pernah berdandan, selalu jelek! Laki-laki mana yang bisa betah bersamamu?”
Aina tertawa tak percaya mendengar itu. “Berdandan? Kamu menuntutku untuk menjadi cantik di saat aku yang mengerjakan semua kerjaan rumah, mencuci baju, cuci piring, nyapu, ngepel, memasak. Aku gak memiliki waktu untuk merawat diriku sendiri, selain itu ... aku juga gak diberi modal oleh suamiku sendiri buat berdandan. Jangankan membeli bedak, baju dasterku aja gak dibeliin padahal ada yang 30 puluh ribuan. Jadi siapa yang mau disalahkan sebenernya? Aku atau kamu yang gak becus jadi suami, gak bisa kasih modal buat istri jadi cantik? Kamu liat istri-istri di luar sana cantik? Karna dia dimodalin sama suaminya. Atau kamu liat gadis-gadis di luar sana cantik? Itu karna dia gak punya tanggungan lain selain ngurusin dirinya sendiri.”
“Cukup! Terserah! Aku gak peduli. Meski kamu dandan pun, aku tetap gak bakal tertarik. Sekarang kamu silakan pergi dari sini, jangan membuat masalah ini semakin panjang. Kamu aku talak!”
Aina tersenyum sinis. “Percaya ‘lah, sekarang kalian senang-senang setelah mempermainkan hidup seseorang sampai seperti ini. Ke depannya, kalian semua akan merasakan apa itu dipermainkan, mungkin berkali lipat dari pada ini,” desisnya.
Tanpa berkata-kata lagi, Aina melangkah ke dalam kamar, mengambil satu tas berisik berkas-berkas pendidikannya.
“Tunggu, aku cek dulu. Jangan-jangan kamu selundupkan barang-barang berharga dalam tas itu!” Rastanti menyambar tas di tangan Aina. Ia mengecek seluruh isi tas, tak ada barang lain selain berkas-berkas milik Aina.
Aina menatap Rastanti dengan sorot dingin. Ia balik menyambar tasi itu, lalu melirik dingin ke arah Yuda, sebelum akhirnya Aina keluar dari rumah minimalis tersebut. Sorot matanya penuh dendam, seakan ribuan tamparan pun tak akan sanggup menyelesaikan dendam di hatinya.
“Aku bersumpah, aku akan mengembalikan rasa sakit ini, aku akan membuat kalian merasakan berjalan di alur kehidupan yang sudah aku rasakan lebih dulu. Aku bersumpah!” batin Aina disambut pekikan suara guntur.
***
“Huh, akhirnya pergi juga manusia pembawa sial yang bisanya cuma numpang hidup itu,” decih Rastanti, “mulai sekarang, hari-hariku akan segera menyenangkan karena akan segera punya mantu baru, mantu impian selama ini. Harusnya kamu pulang dari dulu, Moja. Tante sudah rindu sekali, loh.”
Moja tersenyum kepada Rastanti. “Padahal aku masih merasa bersalah sekali, karena aku, Aina malah harus cerai dengan Yuda. Saat aku dengar Yuda nikah sama Aina, aku sangat patah hati. Tapi bagaimana, aku tidak bisa cepat kembali karena tuntutan kontrak kerja di Jepang. Saat kontrakku sudah habis, aku juga ragu untuk balik ke Indonesia, karna bagaimana pun Yuda dan Aina sudah menikah, makanya aku ragu-ragu untuk balik ke Indonesia. Akhirnya karna aku dapat pekerjaan di Indonesia, makanya pulang ke sini. Eh, malah harus membuat Yuda cerai sama Aina. Aku jadi merasa bersalah sekali.”
Moja mengusap sudut matanya yang tak berair. Tentu saja semua celotehannya dan gerakannya itu hanya akting belakang. Moja adalah gadis sok polos yang penuh kelicikan.
“Kenapa juga kamu harus ragu-ragu pulang ke Indonesia? Jadi 1 tahun lalu, saat kamu awal menghubungiku, apa saat itu kontrak kerjamu di Jepang sudah habis?” tanya Yuda.
Moja mengangguk. “Tapi aku ragu untuk kembali ke sini.”
“Ish, harusnya kamu kembali saja tahun lalu. Jadi Tante gak keburu setruk tiap hari liat wajah jelek si Aina,” cetus Rastanti.
“Aku gak mau jadi orang ketiga dalem hubungan mereka, Tante. Makanya aku—”
“Kamu gak pernah jadi orang ketiga, Ja,” tukas Yuda lembut, “dari dulu, sedari awal hingga sekarang, kamu masih menjadi satu-satunya.”
“Benar!” tangkas Rastanti cepat, “Aina itu yang jadi orang ketiga dalam kehidupan kalian. Bukan kamu, dia yang jadi parasit.”
“Aina hanya pengganti, sedari dulu kamu tetap menjadi yang pertama. Bahkan sebenarnya, sedari setahun lalu, saat kamu mulai menghubungiku lagi, aku sudah ingin menceraikannya. Tapi karna aku masih butuh dia untuk pekerjaanku, aku masih mempertahankannya. Sekarang posisiku sudah aman, aku percaya diri sebentar lagi pasti akan diangkat menjadi manager, jadi tidak perlu dipertahankan lagi dia di sini, apalagi kamu sudah kembali.” Yuda tersenyum sembari mengusap lembut pipi Moja, sungguh tidak merasa bersalah atas apa yang ia lakukan kepada Aina—wanita yang selama 2 tahun ini mengabdikan diri secara tulus kepadanya sebagai seorang istri.
Semua percakapan itu rupanya masih terdengar oleh Aina. Wanita itu belum sempat benar-benar pergi. d**a Aina semakin berdenyut sakit, rupanya sedari dulu dirinya memang tak pernah berharga di mata Yuda.
“Jadikan ini sebagai pukulan untuk maju buat kamu, Aina. Seenggaknya Tuhan udah nunjukin sama kamu, kalo laki-laki itu bukan manusia, tapi binatang. Gak pa-pa 2 tahun ini sia-sia, kita ganti dengan kehidupan yang lebih baik setelah ini. Kita buktikan, kalau kita bisa injak mereka lebih dari merka injak kamu saat ini,” desis Aina penuh tekad.
Moja menyadari Aina masih ada di luar rumah. Ia menyeringai. “Sampai kapan pun, Yuda akan terus bertekuk lutut kepadaku. Heh, kamu bukan lawanku, wanita jelek yang bodoh,” batinnya licik.
***
Aina memejamkan matanya, lalu menarik napas dalam. Perlahan ia menunduk, menatap kalung di telapak tangannya.
“Buk, maaf karna aku jadi anak bodoh. Aku pantas disebut anak durhaka karna ... kalung peninggalan Ibuk harus aku gadaikan. Aku cuma punya ini satu-satunya hartaku, Buk. Kalo aku gak gadaikan ini, aku gak bakal bisa bertahan hidup sebelum dapet kerjaan. Aku janji, saat nanti aku dapet kerjaan, aku bakal tebus kalung ini lagi.” Aina mengusap kristal bening yang lolos satu per satu dari pelupuk matanya.
Aina pun sangat sedih harus menggadaikan barang peninggalan sang ibunda. Namun, ia tak punya pilihan lain. Aina benar-benar tidak memiliki sepeser pun uang di sakunya, dan ia tak sudi menerima satu rupiah pun uang dari Yuda.
Mata Aina berkilat penuh dendam. “Dengan modal ini, aku akan membalikkan semua keadaan.”