“Taksi! Taksi!” Yuda melambaikan sebelah tangannya untuk menghentikan taksi. Satu tangannya menahan tubuh Rastanti yang tak sadarkan diri. “Hei! Apa kamu buta?! Gak liat ada pelanggan? Gak butuh duit, ya?!” Yuda mengumpat kesal karena beberapa taksi yang lewat tak berhenti, malah pergi begitu saja. Yuda malah mengatainya, padahal bisa jadi taksi-taksi itu sedang mengantar penumpang di dalamnya. “Ck, Moja sekarang lagi marah, malah pergi bawa mobil. Jadi aku kesulitan bawa Ibuk. Lagian kenapa juga Ibuk pake segala pingsan kayak gini, sih? Kenapa juga tadi malem gak makan, coba?” Yuda menggerutu, masih tega menyalahkan ibunya yang sudah ia kurung semalaman dengan kondisi perut kosong. “Kalau tau gini, mending aku gak jual motor demi tambahan DP mobil. Gak punya motor kayak gini makin sulit

