Davin dan Alika larut dalam pikiran masing-masing. Walaupun mereka berdua berada dalam satu kamar, tetapi satu sama lain terlihat acuh tak acuh. Davin tenggelam dalam buku bacaannya, sementara Alika asyik dengan perawatan tubuh.
Sesekali mata davin mencuri pandang pada istrinya, wanita bertubuh langsing itu tetap tampak cantik di usia yang ke tiga puluh tujuh tahun.
Alika yang baru selesai mencuci muka, kembali menyapukan pembersih ke wajahnya yang mulus, tetapi dari balik pantulan kaca, mata indah Alika memperhatikan Davin yang tak bergeming dari jutaan huruf yang bertaburan di buku bacaannya.
Wanita itu sudah biasa dianggap sebagai patung bernyawa oleh Davin. Interaksi mereka di dalam kamar hanyalah saling sapa setiap bangun pagi dan menjelang tidur. Davin seperti sengaja menghindar untuk berbicara banyak dengan Alika, saat mereka baik-baik saja atau sedang terbelit masalah, Davin tetap diam.
“Mas, apa kau merasa tidak ada yang harus dibicarakan padaku?” tanya Alika.
Dirinya lelah jika harus berhadapan dengan manusia salju seperti Davin. Suaminya bisa meleleh hanya di hadapan Vidya dan Bintang. Mungkin di mata Davin semua orang di muka bumi ini bukan manusia hingga tak layak di sapa atau diberikan senyum.
“Hemb, apa yang ingin kau bicarakan?” Davin menoleh sesaat, tapi detik berikutnya kembali fokus pada buku yang dipegang. Heran melihat Alika, jika menginginkan sesuatu tinggal bicara saja, tidak perlu repot berbelit-belit menarik perhatiannya.
“bukan aku yang ingin bicara, tapi kau! Kau harus menjelaskan sesuatu padaku!” jawab Alika ketus dengan wajah sedikit cemberut.
Suaminya ini benar-benar berhati salju. Sangat tidak peka dengan apa yang dikatakan orang lain. dua belas tahun berumah tangga, hanya kesabaran Alika yang membuat pernikahan mereka tetap aman. Seandainya Davin menikahi wanita lain, dengan sikapnya yang ketus dan dingin seperti itu, mungkin baru tiga hari umur pernikahannya, laki-laki itu sudah menjadi duda.
“Aku? Apa yang harus kujelaskan?” jawab Davin tanpa menoleh sedikit pun pada istrinya.
“Tidak ada, kau tidak perlu menjelaskan apa pun padaku! Berharap kau jujur percuma saja. Sama saja dengan aku bermimpi salju turun di padang pasir, tengah hari, dan musim kemarau pula!" Alika melemparkan handuk kecil pada Davin. Omelan memanjang keluar dari mulutnya.
Laki-laki jenis apa yang dinikahinya ini? Kenapa dulu ia bisa terpesona pada wajah tampan pria itu, tetapi miliki hati yang luar biasa beku.
Mungkin waktu mama mertua hamil, beliau mengidam makan es dari kutub selatan dan lahirlah suamiku yang sifatnya seperti manusia salju. Rutuk Alika dalam Hati.
Lemparan handuk dari Alika tepat mengenai wajah Davin, pria itu tersenyum hangat melihat tingkah istrinya. Ia melepas kacamata, menutup buku, dan menyimpan kedua benda tersebut di atas nakas. Davin menepuk bantal di sampingnya, isyarat untuk sang istri segera mendekat dan berbaring di tempat yang ia tunjuk.
Hati Alika menghangat saat melihat respon Davin atas kekesalannya. Pria itu tersenyum bahkan meminta Alika untuk duduk disampingnya.
Sebuah kemajuan yang sangat luar biasa. Batin Alika
Wanita itu menuruti keinginan Davin, naik ke kasur dan siap untuk menarik selimut hendak tidur, tetapi gerakannya ditahan oleh Davin.
Pria itu menarik Alika masuk ke dalam pelukannya, dengan posisi setengah duduk ia menyandarkan kepala istrinya ke bahu dan memainkan rambut wanita itu dengan lembut.
“Bicaralah, apa yang ingin kamu bicarakan
Usia kita sudah tidak lagi muda, tidak baik ngambek seperti anak remaja.” Davin membelai rambut Alika lembut, mencium pucuk kepala istrinya dengan penuh rasa sayang.
Alika tercekat mendapat perlakuan romantis dari Davin. Ternyata pria dingin seperti suaminya, bisa bersikap hangat bahkan sangat romantis.
“Maksudku juga gitu, Mas. kita sudah menikah selama dua belas tahun. Umur sudah mendekati empat puluh,” tutur Alika. “Selama menikah, belum pernah satu kali pun kita berbicara tentang masalah rumah tangga, tetapi tidak berarti pernikahan kita baik-baik saja tanpa masalah.”
Wanita itu mengubah posisi duduknya menjadi tegak dan menghadap ke arah Davin Sekali ini ia sangat berharap kalau suaminya akan serius mendengarkan semua keluh kesahnya.
“Maafkan Mas. Selama pernikahan kita, selalu mementingkan diri sendiri. Ada banyak masalah yang disembunyikan darimu, tapi Mas yakin saat ini kamu sudah mengetahui semuanya.”
Davin mengikuti posisi duduk Alika, menggenggam tangan istrinya dengan hangat. Ia teringat dengan banyaknya kesalahan yang selama ini telah ia lakukan kepada Alika, membiarkan wanita hebat itu berjuang sendirian mempertahankan rumah tangga mereka. kini saatnya mereka harus mengubah keadaan, membangun rumah tangga mereka dari awal lagi.
“Tapi aku ingin mendengar dari mulut mas, semuanya,” rajuk Alika manja.
Entahlah, saat ini tiba-tiba saja dirinya merasa menjadi seperti wanita muda yang baru saja menikah. Mendapati perubahan sikap Davin membuat hati wanita itu berbunga-bunga.
“kita sudah punya anak, Sayang. Bintang adalah anak Mas dan Vidya.” Davin menarik napas panjang sebelum melanjutkan bicarakannya.
“Mas pernah melakukan kesalahan tak termaafkan pada Vidya. Jangan cemburu apalagi marah padanya, semua murni kesalahan Mas!”
Alika merangkul Davin dengan hangat. Wanita itu mengerti apa yang dirasakan suaminya saat ini, dan dirinya juga tidak akan pernah menyalahkan Vidya. Ia sudah cukup mengerti dengan semua cerita Vidya dan Erna. Semua hanyalah masa lalu, yang tak perlu mereka ungkit.
Alika ingin belajar menerima dan menjadi wanita hebat yang menjalani semuanya dengan sabar. Dirinya banyak belajar dari Vidya, wanita yang jauh lebih muda darinya tetapi memiliki kesabaran luar bisa. Apa yang dilalui oleh Alika masih jauh di bawah penderitaan Vidya.
“Aku, tidak akan pernah cemburu kepada Vidya, apalagi pada Bintang, anak kita,” balas Alika. “Tidak sabar mendengar Bintang memanggil kita Mama dan Papa.”
Davin tersentuh mendengar ucapan tulus Alika, ia tersenyum.
“Semua butuh proses, bersabarlah. Ayo tidur, sudah malam, masih banyak waktu untuk kita membicarakan hal yang lain!” seru Davin, ia mematikan lampu kamar dan menyusul istrinya tidur.
***
Bintang berlari cepat ke arah Vidya yang sudah menunggunya di mobil. Remaja tanggung itu langsung membuka pintu depan mobil dan melemparkan tas serta sepatu ke bagian kursi belakang. Mata Vidya melotot memperhatikan tingkah Bintang, tetapi tawa manis remaja itu meluluhkan hatinya.
“Tumben pake mobil, biasanya ibu lebih suka pake motor?” tanya remaja itu.
Dirinya sangat tahu, sifat sederhana sang ibu, menggunakan mobil jika motor kesayangan beliau sedang tidak bisa digunakan. Sering kali Bintang bertanya untuk apa punya mobil kalau selalu memilih motor sebagai kendaraan utama.
“Ibu mau antar kamu ke rumah Oma Erna. Om Davin dan Tante Alika mau ngajak Bintang ke pantai besok. Mumpung libur katanya,” jelas Vidya singkat.
Sejujurnya hati Vidya agak sedikit bimbang melepaskan putranya pergi bersama Davin dan Alika, tetapi seperti janji yang pernah ia ucapkan, tidak akan pernah membatasi pasangan suami istri itu untuk bertemu dengan Bintang. Janji adalah hutang, dan Vidya tidak ingin berhutang apalagi pada Davin juga Alika.
“Ibu ikut?” tanya Bintang. Dirinya merasa enggan pergi jika sang ibu tidak ikut serta.
Bintang juga merasa heran, semenjak ibunya bertemu dengan Davin dan Alika, kenapa mudah saja melepaskan dirinya kepada kedua orang itu. Tidak seperti kepada teman ibunya yang lain. sekali pun Bintang dekat dengan kedua teman ibunya dan sering menghabiskan waktu di rumah mereka bukan berarti Bintang suka untuk mengikuti kemana saja ajakan keluarga itu.
“Ibu nggak bisa ikut, Sayang,” jawab Vidya. “kamu saja yang pergi, tetapi jika keberatan, kamu boleh menolak.”
Vidya memperhatikan raut wajah Bintang dari ekor matanya. Sebagai ibu, ingin sekali ia melarang Putranya untuk ikut keluarga Davin, tetapi sebagai manusia dirinya masih cukup punya hati untuk membatasi hubungan antara ayah dan anak.
“Bintang males mau ikut, lagian udah hampir tiap hari ke rumah om Davin, cape. Pengen istirahat aja di rumah sama Ibu,” tolak remaja itu, matanya fokus menatap ke jalan dengan muka mengerut masam.
Tanpa Bintang sadari, perkataannya telah membuat sang ibu menarik segaris senyum samar di bibirnya yang tipis. Jika Bintang menolak ajakan davin, berarti kesempatan untuk Vidya bermain dengan putranya, hari ini.
“Kalau begitu, kita ke rumah om Davin dan tante Alika, trus Bintang bicara sendiri, ok?” ajak Vidya, dibalas dengan anggukan dari Bintang.
Ujung mata Vidya menangkap seulas senyum di wajah putranya. Ternyata Bintang merindukan kebersamaan mereka. Semenjak dirinya bicara dengan Alika tentang Bintang, wanita itu memang mengerti dan sangat mengerti. Namun, imbasnya waktu kebersamaan Vidya dengan sang buah hati menjadi berkurang jauh.
Vidya menyadari, secara perlahan Alika ingin mencuri perhatian Bintang, mungkin wanita itu masih menyimpan ketakutan jika Vidya akan merebut perhatian Davin sehingga dirinya merasa perlu bersiap-siap secara perlahan mengambil hati Bintang dengan menawarkan kemewahan.
***
“Bintang capek, nggak mau ikut ke pantai, ingin istirahat aja di rumah, bareng ibu. maaf, Om.” ucap Bintang, tegas.
Vidya dapat mendengar penolakan Bintang, meskipun jarak antara dirinya dan Erna cukup berjauhan dengan ketiga orang itu. Dirinya sengaja tidak mau duduk dekat atau mencampuri urusan mereka bertiga. Tidak ingin dikatakan mendikte, apalagi Bintang sudah cukup mengerti untuk membuat keputusan sendiri.
“Kenapa nggak mau? Enak lo bisa main di pantai. Kamu belum pernah liburan kemana pun, kalau nggak di ajak kami ‘Kan?” tanya Alika.
Hati Vidya tersentak mendengar pertanyaan Alika untuk putranya, tetapi semua itu benar. Vidya memang belum pernah membawa Bintang kemana pun. Terlalu sering liburan mereka hanya dihabiskan di rumah dengan menonton film terbaru dan memasak serta menguji resep cake untuk dibuat di kafe.
Sedikit berdarah dan membara hati Vidya, tetapi ia tahan. Alika tidak punya hak menjatuhkan bagaimana dirinya mengisi liburan sekolah sang putra. Cara mendidik anak yang diterapkan oleh Vidya jelas tidak akan sama dengan mereka para orang kaya.
Erna melihat perubahan riak wajah Vidya, menepuk pelan punggung tangan wanita itu. Dari mulutnya terucap kata sabar, dan Vidya mau tidak mau harus mematuhinya.
“Maaf Tante, Bintang suka menghabiskan liburan bersama Ibu di rumah. Bintang bisa main dan nonton puas-puas dengan ibu.”
Tegas Bintang memberikan jawaban pada Alika. Ada nada ketidaksukaan dari suara Bintang.
Naluri sebagai seorang anak untuk melindungi sang ibu, muncul seketika saat mendengar hinaan yang diucapkan Alika untuk Vidya secara eksplisit.
“Biarkan saja Bintang tidak ikut, seminggu ini dia sudah terlalu banyak menghabiskan waktu bersama keluarga kita.” Davin angkat suara. Mencoba meredam kemarahan Bintang yang jelas tampak dari wajah dan kata-kata yang ia ucapkan.
Sedikit banyak, Pria itu mulai mengerti dengan sifat dan karakter putranya. Untuk remaja tanggung itu, jangan pernah menghina ibunya apalagi sampai mengeluarkan air mata. Pantang jika hanya duduk diam tanpa pembelaan.
“Tapi, Mas, ini udah kita rencanakan dari kemarin,” protes Alika.
Wanita anggun dan penuh wibawa itu tampak keberatan dengan keputusan Davin. Bagaimana pun, ia tetap ingin mengajak Bintang ikut liburan bersama keluarga mereka. keharmonisan rumah tangga dirinya dan Davin terjadi semenjak ia bisa menerima keberadaan putra suaminya dari perempuan lain.
Untuk Alika, Bintang adalah kunci dari setiap pintu permasalahan dalam rumah tangga mereka. Asalkan ia bisa membuka setiap pintu itu dengan kehadiran Bintang di tengah mereka, Apa pun akan dilakukan olehnya.
“sekali lagi maaf, Tante. Bintang sayang sama Ibu dan tidak akan pergi. Libur semester ini, waktu khusus untuk Bintang dan ibu.”
Bintang menoleh pada Vidya, remaja itu melemparkan pandangan penuh kasih sayang. Lesung pipi tercetak jelas di wajahnya seiring senyum meneduhkan yang ia berikan untuk Vidya. Namun, kata-kata tegasnya terucap kembali untuk Alika.
Remaja itu berdiri, meraih tangan Davin dan Alika, menciumnya dengan takzim. Namun, sebelum beranjak pergi remaja itu sempat membuat orang di sekitarnya terdiam.
“Pak ustaz bilang, utamakan orang tua mu, baru orang lain. Utamakan ibu mu, ibu mu, dan ibu mu, baru yang lain!”
Pedas perkataan Bintang menohok batin Davin dan Alika. Mereka lupa saat ini statusnya di hadapan Bintang tak lebih dari orang asing yang memiliki kedekatan hati dengan ibunya. Anak itu belum mengetahui hubungan darah yang terikat di antara mereka semua.
Kebaikan hati Vidya yang rela mengalah, menyerahkan Bintang untuk menghabiskan waktu di rumah mereka sejak pulang sekolah hingga hampir menjelang tidur malam, membuat lupa jika masih ada sebuah rahasia yang harus mereka jaga hingga anak itu cukup dewasa.
Alika tersenyum masam, Davin terdiam, dan Erna serta Vidya menarik napas lega dengan ucapan Bintang. Sedikit anak itu bicara, tetapi mampu menyentil hati mereka yang egois.
Sebagai orang tua, seharusnya mereka bisa memberikan contoh yang baik, tetapi abai karena rasa ingin lebih dan ingin terus lebih.
Gelar wanita berhati emas, memang layak diberikan pada Vidya. Agar anaknya bahagia, ia rela mengalah begitu banyak. Demi menghindari keributan, ia rela memberikan lebih dari apa yang dia punya.
“Pulanglah, dan nikmati liburanmu bersama ibu!" perintah Davin.
Pria itu mengacak rambut Bintang gemas. Senyum terkembang di wajahnya, sebuah pelajaran telah diberikan oleh anak berusia tiga belas tahun pada mereka tentang apa arti pengabdian dan kewajiban pada orang tua.
Pria itu, mengangguk pada Vidya, memberikan izin pada wanita sederhana itu untuk membawa putranya pulang. Sampai detik ini, Bintang masih anak Vidya seorang, Davin dan Alika hanya teman dari ibunya dan Erna hanyalah seorang Oma Angkat. Berulang kali Davin menanamkan ingatan tentang hal itu, agar ia tidak kembali melukai hati wanita yang sampai saat ini masih ia cintai.