Untuk Bintang

1941 Kata
“Mah, Mak Piah, coba rasa perutku. Ada gerak-geraknya,” oceh Vidya, saat mereka sedang duduk santai di teras rumah. Wajah cerahnya seolah tanpa beban. Semenjak kepulangan Vidya dari rumah sakit, mata yang menyimpan kesedihan itu sedikit demi sedikit memudar. Ia yang semula tidak memiliki kepercayaan pada orang-orang sekitarnya, bahkan kepada Erna, ibu angkatnya, kini mulai bisa membagi apa yang dirasakan. “Mana, Mak Piah pengen ikut ngerasakan bayinya gerak!” seru Rafiah bersemangat, tangannya ikut memegang perut Vidya. Rafiah dan Jumadi merupakan salah satu orang yang ikut antusias dengan semakin membaiknya keadaan Vidya. pasangan suami istri yang paling banyak membantu Erna dan Vidya dalam bulan-bulan pertama kedatangan mereka di rumah pantai. “Kamu dibohongi Vidya, mau aja Piah. Lihat dia tertawa lihat kamu sentuh perutnya!” ujar Erna sambil tertawa. Erna merasa geli hati melihat gelagat Vidya dan Rafiah. Dirinya cukup bahagia melihat putri angkatnya mengalami kemajuan. Ia beruntung Prayoga datang memberikan kekuatan kepada mereka. Vidya jauh lebih membaik dari sebelumnya, bahkan kehamilan yang menjadi momok gadis itu telah berubah menjadi hal yang membahagiakan untuk mereka. Erna yang semula khawatir dengan keadaan mental Vidya, juga bersyukur melihat keadaan anaknya semakin sehat. Ia juga tidak lagi mengkhawatirkan tentang omongan orang nantinya pada keluarga mereka. Semua ini adalah kenyataan, mereka tidak bisa menghindar, yang harus dilakukan hanyalah mensyukurinya agar bisa menjalani semua dengan baik. Tawa Vidya pecah mendengar ucapan mamanya. Gadis remaja itu berhasil mengerjai Rafiah. Setelah lama tertekan ia akhirnya bisa tertawa. Sedikit demi sedikit beban yang menggantung mulai bisa ia lepaskan. “Mak Piah, ini masih empat bulan lebih sedikit. Mama bilang kalau udah lima atau enam bulan, baru gerakan dedeknya kencang,” jelas Vidya. Calon ibu muda itu merasakan kebahagiaan saat mengandung, walau masih ada sedikit kekhawatiran bagaimana ia akan membesarkan anaknya dan bagaimana ia akan menghadapi cemoohan para tetangga nanti. Namun, dirinya sangat beruntung, banyak dukungan dan bantuan yang diterima. “Neng Vidya pintar sekali ngerjain Mak Piah, jadi malu,” kelakar Rafiah membuat mereka bertiga tertawa keras. “Ma, kapan pulang ke kota? Aku rindu dengan kawan sekolah!” ujar Vidya tiba-tiba. Vidya merasa sudah cukup untuk duduk diam di rumah. Pelajaran sekolah pasti banyak tertinggal, dan entah sudah berapa banyak alpa di buku absensinya. Remaja yang sebentar lagi akan segera menjadi ibu muda itu lupa kalau dirinya sedang hamil. Perut saja sudah kian membesar, bagaimana ia bisa meneruskan sekolah dalam keadaan perut yang semakin membuncit? “Nak, kamu sedang hamil, tidak bisa sekolah lagi. Lita tinggal di sini saja sampai kamu melahirkan, bagaimana?” tanya Erna lirih. Hati perempuan itu serasa diremas. Pilu membayang di mata tuanya saat melihat riak wajah Vidya berubah, mendengar penjelasannya. “Tidak bisa sekolah ya, Ma? Tidak apa-apa, bisa main ke pantai setiap hari.” Vidya tertawa lepas menutupi rasa sedihnya. Bohong jika ia tidak kecewa, tetapi mau bagaimana lagi, dirinya harus sadar diri sebentar lagi akan segera menjadi ibu. *** Vidya tidur dengan gelisah. Mimpi yang sama telah mengusik tidurnya setiap malam. Dalam mimpi Vidya, sebuah tangan hitam terulur panjang hendak menggapai tubuhnya. Mengunci kedua tangan, hingga ia tak dapat memberontak melepaskan diri. Sebuah tangan hitam kembali muncul dari kegelapan. Menahan kedua kakinya yang berlari menjauh, membuat Vidya jatuh tersungkur. Saat ia ingin berteriak, tangan-tangan yang lain bermunculan, membekap mulutnya dan mulai menggerayangi tubuhnya. Vidya berteriak sekuat tenaga saat tangan-tangan hitam itu mulai melepas pakaiannya satu demi satu. Semakin keras ia memberontak ingin melepaskan diri, tangan-tangan hitam itu semakin banyak bermunculan dan menariknya ke sudut gelap. Vidya hanya bisa menjerit sekuat hati, hingga ia terjaga dari tidur. Saat tersadar dari mimpi buruk itu, Vidya sudah tidak memiliki keinginan untuk tidur lagi. Tangan-tangan terkutuk itu seolah tumbuh subur dalam tidurnya. Setiap ia mulai memejamkan mata, tangan-tangan hitam itu selalu bergentayangan, ingin merusak tubuh gadis malang itu. Hingga pagi, tangan-tangan hitam itu berganti dengan suara-suara yang tak kasat mata. Menggoda dan merayu Vidya untuk mengikuti mereka. Banyak suara yang membisikkan Vidya, mengatakan wanita itu sebagai gadis yang kotor, tak layak hidup serta membuat aib, memiliki seorang bayi tanpa ayah. “Aaaaaaaaaaaaaaa ....” Vidya menjerit sekuat tenaga. Erna dan Rafiah menemui gadis itu yang berdiri dengan sebuah gunting di tangan. Ia mengacung-acungkan gunting itu ke udara, seolah sedang mengusir sesuatu yang tak kasat mata. Wajah gadis itu basah oleh keringat bercampur air mata. “Vidya, ada apa, Nak? Ini Mama, Sayang.” Erna mencoba menenangkan putri angkatnya yang telah terpengaruh oleh delusi. Wanita tua itu sangat paham dengan kejiwaan Vidya belum stabil sepenuhnya. Gadis itu masih sering di pengaruhi waham, yang membuat moodnya berubah-ubah. Di usia kehamilannya yang semakin besar, waham itu semakin sering mengganggu Vidya. “Usir, Ma, usir suaranya. Suruh pergi mereka semua. Bayangan busuk, suara b*****t, pergiiiiii ....” teriak Vidya tidak terkendali. Gunting yang ia pegang, telah berhasil di amankan Rafiah. Kini gadis itu meringkuk di sudut kamar, menutup kedua telinga dengan tangan, seakan ingin menyumbat pendengarannya. Rafiah, ringkas mengambil obat untuk Vidya dan menyerahkannya pada Erna. Mereka berdua telah terbiasa menghadapi Vidya yang sering kali marah-marah tanpa alasan atau menangis tanpa sebab. Gadis malang itu telah mengalami hal-hal buruk di usianya yang masih sangat muda. *** Ruang kerja Vidya terasa pengap, meski AC diruangan itu telah dinyalakan. Alika meneguk minuman yang mendadak jadi terasa hambar. Beberapa kali wanita cantik itu menyeka air mata yang telah berani, mengalir keluar tanpa permisi. Beberapa kali ia menahan napas mendengarkan cerita Vidya. Wanita anggun itu tidak pernah mengira, bahwa kisah yang terjadi antara Vidya dan Davin ternyata serumit ini. Alika pikir, Vidya adalah benalu untuk keluarga Davin, dan parasit untuk rumah tangganya. Ternyata wanita tegar ini telah terlalu banyak menerima rasa sakit. Bodohnya alika, selama ini ketakutan terhadap orang yang salah. Tidak pernah mencari tahu kebenaran tentang siapa sebenarnya Vidya. Hanya mengandalkan perasaan sebagai seorang istri yang teraniaya, hingga menyalahkan wanita sederhana yang berusaha hidup normal di hadapannya. “Kenapa tidak menuntut mas Davin untuk bertanggung jawab?” tanya Alika lembut. hilang sudah amarahnya pada wanita malang ini. “Untuk apa? Untuk menyakiti hati banyak orang? Jika aku menuntut tanggung jawab, apa kita bisa duduk satu meja seperti ini?” Vidya mencoba menjelaskan pada Alika, bahwa dirinya sedari dulu tidak pernah berusaha untuk merebut davin dari wanita itu. Ia hanya berharap, Alika mau mengerti keadaannya, dan menerima Bintang seperti darah dagingnya sendiri. Alika mengalihkan pandangan keluar jendela, ada rasa malu saat bertatap mata dengan Vidya. kecurigaan tak beralasan, tuduhan yang pernah ia tujukan pada perempuan bersahaja itu, bahkan fitnahan juga pernah ia layangkan. Bertengkar dengan Davin, menciptakan rumah tangga seperti neraka, karena suaminya tidak bisa melupakan cinta pertama yang ternyata tidak pernah mencintainya. Alika menertawakan kebodohannya sendiri. Dua belas tahun membangun rumah tangga tanpa memperkuat pondasinya malah menuduh seorang wanita malang yang menjadi dalang topan badai, kehancuran rumah tangga yang ada di ambang mata. “Lantas, menceritakan ini untuk apa?” tanya Alika lagi. “Jika kau tidak menuntut tanggung jawab, untuk apa kau membuka semuanya?” “Untuk Bintang! Anakku tidak tau apa-apa, dan jangan pernah libatkan dia. Saat ini pun, anakku tidak pernah tau siapa ayahnya,” jawab Vidya. “Bintang anak dari suamiku, kami tidak akan memisahkannya darimu atau pun berusaha untuk melukai perasaannya.” Alika menyentuh tangan Vidya, dirinya tidak sampai hati menyakiti wanita yang sudah terlalu kenyang merasakan pahitnya hidup di usia muda. “Percayalah, kau bisa pegang kata-kataku,” janji Alika. Kedua wanita itu saling rangkul, melepas semua beban tentang benang merah yang selama ini kusut di antara mereka. Ketika semua permasalahan bisa dibicarakan dengan baik, hati menjadi sedikit lebih lega. Seolah batu besar yang menghimpit rongga d**a, terlepas begitu saja. *** Desah napas lega dari Alika terdengar di telinga mertuanya yang duduk tepat di samping perempuan itu. Mereka berdua memperhatikan Bintang yang sibuk bermain play station dengan Davin. Remaja tiga belas tahun itu masih tampak polos walaupun postur tubuhnya sudah menyaingi sang ayah. “Kau sudah bicara dengan Vidya?” tanya Erna. Jemari tuanya gemetar mengupas jeruk yang terhidang di meja. Wanita sepuh itu sudah cukup lelah jika harus mengurusi masalah keluarga yang tak kunjung usai. Ia ingin anak, cucu, dan menantunya bisa berkumpul tanpa ada sengketa. Ingin menikmati hari tua tanpa beban. “Sudah, Ma. Alika minta maaf, selama ini tidak bisa melihat yang terjadi dalam keluarga kita,” ucap wanita itu tulus. Menjadi anak tunggal dalam keluarga serta dibesarkan seperti seorang putri raja, terkadang membuat Alika menjadi pribadi yang sedikit egois. Namun, dirinya tetaplah seorang perempuan yang punya hati selembut kapas. “Bagaimana keputusanmu tentang Bintang?” tanya Erna lembut. Sebagai orang tua dirinya tidak ingin kembali melukai Davin, sebagai mertua, ia juga tidak mau menyakiti hati menantunya, dan sebagai seorang nenek, ia memiliki harapan agar bisa mengakui cucunya di hadapan semua orang. Alika yang sedang menyedu teh, memandang Erna syahdu. Ia mengerti kekhawatiran mertuanya. “Bintang? Biarkan saja seperti ini, sampai kedua orang tuanya bisa berbicara jujur,” jawab Alika. "Kasihan anak itu, dia tidak tau apa-apa. Jangan sampai ia menjadi korban dari kisah masa lalu!” Rasa keibuan Alika hadir. Dua belas tahun pernikahannya dengan Davin belum juga di karuniai seorang putra. Kehadiran Bintang walau sempat menjadi pemicu kecemburuan Alika, ternyata cukup membuatnya merasa sempurna sebagai seorang ibu. “Jangan membawa pergi anak itu dari kehidupan Vidya. Bintang adalah nyawanya!” tegas Erna. “Jangan khawatir, Ma. Tidak ada yang akan memisahkan mereka berdua!” jawab Alika menegaskan permintaan Erna. Kedua wanita beda usia itu tersenyum penuh arti. *** Arini memandang Vidya dengan heran. Jagung rebus yang ia pegang, hampir terjatuh ke tanah karena kagetnya. Ia merasa ragu dengan keputusan yang sudah Vidya ambil. Membiarkan anak semata wayangnya menginap di rumah Davin dan di sana juga sudah ada Alika. “Kamu yakin Bintang nggak apa-apa nginep di sana?” Sekali lagi Ariani mengajukan tanya pada Vidya. “Memangnya kenapa? itu rumah ayahnya, Ri. Di sana juga ada nenek dan ibunya, apa lagi yang harus aku khawatirkan?” tanya Vidya. duduk di teras rumah Ariani yang teduh sambil menikmati jagung rebus. Sudah lama ia tak melakukankegiatan santai seperti ini. Kini ia mendapatkan kesempatan itu kembali, saat Alika menawarkan Bintang menginap di rumah mereka. Tidak masalah untuk Vidya, jika Bintang ingin menginap di rumah ayahnya. Fulu sebelum Davin kembali, Bintang sudah sering menemani neneknya di sana. “Kamu lagi nggak sakitkan, Vid? di sana ada Alika, lo! Bagaimana jika dia tiba-tiba berubah pikiran dan ingin merebut anakmu. Mereka sudah menikah dua belas tahun, seupil anak aja mereka juga nggak punya!” seru Ariani, keras. Ariani menarik napas kesal, berapa kali ia harus mengingatkan Vidya agar tidak terlalu baik hati dan sabar. Apa lagi mudah percaya sama orang lain. Lihatlah buat kesabaran dan sifat mudah percayanya, membawa wanita itu jaatuh kedalam jurang ilusi hampir empat belas tahun lamanya. “Aku sengaja, Ri. Biarkan Bintang dekat dengan Alika. Kasihan Mama kalau aku membatasi mereka.” Tatapan mata Vidya memohon pengertian pada Ariani. sahabat baiknya itu adalah wanita cerdas dan keras. Sering setiap masalahnya selalu dibantu oleh Ariani. Namun, kali ini ia mengharapkan Ariani memahami keinginannya. Mendekatkan Bintang pada Alika bukan masalah besar yang harus diributkan. Erna, mama angkatnya berulang kali memohon agar Alika diberi kesempatan berkenalan dengan Bintang. “Kalau sudah bicara tentang mamamu, aku tidak bisa ikut campur. Beliau orang yang paling menderita dan kasihan dalam rumitnya masalah kalian,” pungkas Ariani. “Biarkanlah ia menikmati hari tua dengan bahagia.” Vidya tersenyum hambar. Semua orang tahu pengorbanan yang dilakukan Erna untuknya. Membiarkan Bintang untuk dekat dengan Davin dan Alika adalah bagian dari rasa terima kasih Vidya kepada keluarga itu. “Besok temani aku ke makam papa, mau Ri?” tanya Vidya separuh memohon. Sudah lama ia tidak ke makam Prayoga. Seandainya orang tua itu masih hidup, ia tentu bahagia melihat anak, menantu, dan cucunya kini sudah mulai saling memaafkan. Hidup berdampingan tanpa luka dan beban. Ariani mengangguk, menyetujui permintaan sahabatnya. Dirinya tahu, Vidya sejak dulu sangat dekat dengan almarhum Prayoga. Ketiadaan sosok ayah, membuat wanita itu bergantung penuh pada kasih sayang Prayoga.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN