flashback

1907 Kata
Bagai disambar petir Erna mendengarkan penjelasan dokter yang merawat Vidya. Tidak ingin percaya, tetapi juga tidak bisa mengingkari bahwa ia akan segera menjadi seorang nenek. Sulit baginya untuk menerima, bagaimana nanti ia akan menengadahkan kepala, memandang orang lain dengan kepala tegap seperti biasa. Seandainya bisa, Erna ingin bertemu Tuhan. Meminta agar semua ujian ini diberikan lain waktu. Bagaimana ia harus mendengar mulut tetangga mengumbar cerita, putri angkatnya hamil karena putra kandungnya sendiri. Erna memberikan pandangan sedih pada gadis remaja yang tertidur pulas di atas brankar. Wajahnya tampak tenang menikmati mimpi yang membuai. Remaja yang malang itu tidak menyadari bahwa kehidupan yang menantinya di depan semakin kelam. Tidurlah, Nak. Sesulit apa pun hidupmu, Mama akan selalu mendampingimu. Erna membelai lembut rambut gadis itu, menahan gemuruh yang semakin membuat dadanya sesak. “Mama ....” Vidya memanggil dengan suara yang masih lemas. “Iya, Sayang. Mama di sini,” jawab Erna. “Haus, Ma. Mau minum.” Vidya menatap sayu pada Erna, sementara Rafiah sigap menuangkan air dan menyerahkannya pada gadis remaja itu. “Mama kenapa sedih?” tanya Vidya.Mata sayunya menatap Erna yang terlihat lebih tua dari hari sebelumnya. Vidya dapat merasakan, Erna sedang dilanda kegelisahan yang tak ingin dibicarakan. Walaupun gadis itu tahu kegundahan mama angkatnya berpuncak dari dirinya. “Tidak apa-apa sayang, istirahatlah.” Kembali Erna mengelak dari pertanyaan Vidya. Wanita paruh baya itu tidak mau mengatakan keadaan yang sebenarnya pada Vidya. Biarlah anak gadisnya tenang dulu, kalau keadaanya sudah sedikit lebih baik, perlahan Erna akan mengatakan yang sebenarnya. Remaja malang itu hanya diam, memandang langit-langit kamar rumah sakit yang terlihat membosankan. Dirinya bukan orang bodoh yang tidak bisa merasakan perubahan sikap di sekelilingnya, tapi biarlah, mungkin sekarang bukan waktu yang tepat untuk membicarakannya. Lebih dari seminggu Vidya dirawat di rumah sakit. Saat pulang ia merasa jalan yang di laluinya berbeda. Di sisi kiri dan kanan jalan banyak pohon kelapa yang melambai-lambaikan daunnya. Di ujung mata memandang, begitu banyak bukit dan sebuah gunung yang menunggu di depan. ini bukan kota tempat Vidya tinggal, ini seperti suasana desa yang belum pernah ia lihat. Sesampainya di rumah pantai, Vidya melupakan kebingungannya. Ia berlari menghambur ke bibir pantai, bermain dengan ombak yang menyapa jemari kaki Vidya sebelum kembali ke laut lepas. Erna tersenyum melihat tawa ceria putrinya, kentara sekali dengan keadaanya beberapa hari yang lewat. Remaja yang sempat mati rasa dan enggan untuk mempercayai dunia, kini sedikit lebih baik walau sesekali ia masih melihat luka jauh di dalam matanya. “Nak, ayo masuk! Baru sembuh jangan main ke pantai dulu,” ajak Erna. Dirinya tetap menunggu meskipun tidak mendapatkan respon dari Vidya, bahkan hingga panggilan ke tiga kali, barulah anak gadis itu menoleh dan mengikuti panggilannya. “Sore main di pantai lagi ya, Mah?” Vidya menggandeng tangan Erna masuk ke dalam rumah. Pakaiannya basah dan penuh pasir. “Jangan banyak bermain dan cape, kesehatan Vidya belum pulih ya, nak!” pujuk Erna. “Ma, Lihat perutku, buncit. Aku gendutan ya, Ma.” Tanpa memperdulikan omongan Erna, gadis itu sibuk meneliti perutnya yang tampak kian membesar. Erna hampir mengeluarkan air mata, melihat Vidya yang bersikap seperti anak usia lima tahun. Apakah putri angkatnya akan mengalami ngangguan jiwa yang sangat fatal? Bagaimana nanti ia akan merawat anaknya jika dirinya sendiri saja masih kurang akal? Tidak! Erna tidak sanggup jika harus melihat Vidya menjadi manusia hilang akal. Bagaimanapun, ia akan berusaha untuk merawat Vidya. Keadaan Vidya semakin hari, sedikit demi sedikit jadi lebih baik walau ada beberapa kali ia masih tidak merespon pangilang orang-orang di sekitarnya ataupun ia terlalu larut dalam pikirannya sendiri. Menangis dan tiba-tiba menjerit ketakutan masih sering ia alami. Perut Vidya yang semakin hari semakin besar, tidak sedikit pun menjadi perhatian gadis remaja itu lagi. Hanya Erna dan Rafiah yang berkali-kali mengingatkannya agar tidak terlalu aktif berlari-lari. Erna gundah melihat perubahan mental yang ditunjukkan putri angkatnya. Vidya remaja enam belas tahun, tapi bersikap tak ubahnya bagai anak usia lima tahun. Bagaimana gadis itu akan merawat kehamilannya dan jika anaknya lahir, bagaimana ia akan membesarkan bayinya? Berulang kali pertanyaan yang sama Erna ajukan pada dirinya sendiri. “Vidya, kalau Mama kasih tau sesuatu, mau dengar?” Erna mulai mengajak Vidya bicara, saat mereka sedang duduk santai di teras rumah. Ia ingin memberitahukan keadaan Vidya yang harus dimengerti oleh anak itu, walau resikonya nanti ia akan kembali tenggelam dalam dunia imajinasinya. “Apa, Ma?” tanya Vidya. kepalanya di tengadahkan, menatap Erna yang duduk di kursi sambil menyisir rambutnya. “Vidya tau ibu hamil? Di dalam perut kamu, ada ade bayinya. Mulai sekarang kamu harus pintar jaga diri. Jangan sampai ade bayi dalam perut kamu sakit.” jelas Erna. Mata wanita paruh baya itu sesaat menangkap perubahan pada wajah Vidya yang menjadi pias. Ia yang semula berencana ingin membuat Vidya mengerti tentang perubahan fisik pada gadis itu, berubah hening. Urung meneruskan pembicaraannya. Vidya meraba perutnya yang mulai terasa membesar, sebuah senyum kecil terbit di wajahnya yang pucat. “Aku hamil, Ma?” tanyanya lirih. “Aku akan punya anak? Tapi aku belum siap, Ma.” Vidya bertanya tanpa menoleh pada Erna. Ia justru bergerak perlahan meninggalkan ibu angkatnya sendirian. Vidya masuk ke dalam kamar dan duduk di tengah-tengah ranjang dengan menekuk kedua lutut. Rambut panjangnya tergerai menutupi wajah yang berubah linglung. “Aku hamil ... aku hamil ... aku hamil ....” ucapnya berulang kali, bagai rapal mantera penguat hati, tetapi sayang ketangguhan gadis itu kalah dengan beribu luka yang sudah menggores hatinya. Ia menangis terisak. Lambat laun, keping kisah yang ingin ia kubur, kembali naik ke permukaan. Lelah hatinya mengusir bayang-bayang hitam yang berusaha mengejar dan membunuh harapannya. Saat ia sudah mulai tertatih, bersusah payah berusaha menerima keadaan, sebuah jurang baru telah menganga lagi di depannya. *** “Piah, panggil Vidya buat sarapan. Dari subuh dia belum bangun.” Pagi ini Erna sengaja membuat nasi goreng dengan banyak taburan kacang tanah dan ikan teri goreng. Ingin menghibur Vidya yang sejak semalam hanya duduk terdiam di kamar. Jika di ajak bicara, hanya menggeleng dan mengangguk. Piah yang mendapatkan perintah untuk membangunkan Vidya, menjerit sekuat tenaga, melihat mulut anak itu penuh buih dan kedua matanya nyaris menjadi putih. “Ibuuu ... Ibuuu ..., Bang Madiiii, tolong Pidya ....” jeritan Rafiah mengubah heningnya pagi menjadi kegemparan di rumah pantai. Erna bergegas dari dapur berlari ke kamar tidur utama. Tangannya terkulai melihat Vidya yang sudah kusut masai dengan napas yang sangat perlahan. Beruntunglah Jumadi cepat tanggap. Laki-laki bertubuh tegap itu segera menggendong Vidya dan membawanya ke mobil, menyuruh istrinya untuk membereskan pakaian dan keperluan Vidya, sementara ia dan Erna membawa Vidya ke rumah sakit. “Madi, cepat bawa mobilnya. Mata Vidya, Madi ...." Tangis Erna tak terbendung lagi. Entah dosa apa yang ia perbuat sampai keluarganya harus menerima banyak musibah seperti ini. “Sabar, Bu. Berdoa semoga Vidya tidak apa-apa.” Jumadi berusaha menenangkan majikannya yang sudah banjir air mata dan terlihat sangat panik. Jalan yang masih sepi memudahkan Jumadi membawa mobil dengan kecepatan tinggi. Mobil yang meliuk-liuk melewati daerah pesisir membuat sesekali hatinya meringis ngeri. Khawatir bertabrakan dengan pengemudi bus antar kota yang ugal-ugalan. *** Prayoga memeluk istrinya yang terlihat semakin kurus. Penampilannya kian terlihat semrawut dengan keriput yang semakin menebal di wajah cantiknya. Laki-laki berpostur gagah itu menghela napas kasar. Dalam pikiran tuanya yang semakin kalut, ia menyesali keadaan yang semakin bertambah buruk. Ia baru saja tiba dari surabaya ketika menerima telepon dari Erna yang mengatakan putri mereka mencoba bunuh diri karena tidak bisa menerima kehamilannya. Prayoga tidak bisa menyalahkan kebodohan Vidya, gadis polos yang berpikir dengan mengakhiri hidup, dirinya tidak akan mengalami penderitaan lagi. Prayoga juga tidak bisa menghukum Davin, sebab sebagai orang tua dialah yang sangat bersalah, telah gagal mendidik buah hati mereka menjadi seorang manusia yang berbudi luhur. Di dalam ruang mawar, di mana Vidya di rawat, mata tua Prayoga basah, melihat putrinya yang semakin kurus seperti tak terawat. Sementara itu Vidya memberikan senyum tipis menutup duka yang ia simpan. “Kenapa aku dibawa ke sini lagi, Ma? Aku malu hidup lama-lama, hanya bikin susah Mama dan Papa,” ucap gadis itu lirih. Suara lemahnya membuat Erna dan Prayoga harus mendekatkan telinga untuk mendengarkan gadis itu bicara. “Sssttt ... Vidya, tidak boleh bicara begitu. Tidak ada yang direpotkan oleh Vidya. Kami senang ada Vidya, apalagi cucu yang akan Vidya berikan untuk Papa.” Prayoga mengusap anak rambut Vidya, matanya kembali berembun mendengar ucapan putri angkat yang sudah dianggap layaknya anak sendiri. Di saat dirinya menderita, tetapi gadis lugu ini masih memikirkan mereka, orang tuanya. “Aku hamil dan anakku nggak punya papa. Aku nggak bisa rawat anak ini.” Embun bening, membayang di kedua mata Vidya. Pikirannya kusut mengingat kehamilan yang tidak pernah ia duga. Ketika dirinya dinodai oleh Davin, perasaan kotor dan hina sudah melekat dalam hati gadis itu, dan kini benih dari noda yang disebar oleh pemerkosanya telah tumbuh menjadi tunas yang semakin tumbuh membesar dengan cepat di rahimnya. Pikiran bodoh tentang rasa malu, sulitnya membesarkan seorang anak, serta pahitnya kehidupan karena kemiskinan yang pernah di rasakan, membuat Vidya mengambil tindakan nekat. Jika ia mati, maka bayi mungil itu tidak akan pernah lahir ke dunia. Semua aib yang mencoreng mukanya akan tenggelam, terkubur bersama jasadnya di dalam tanah, dan anak yang nanti akan ikut menanggung malu karena lahir tanpa ayah juga akan ikut tenggelam. “Ada Papa dan Mama yang akan bantu Vidya merawat jagoan kecil kita. Jangan merasa sendiri, sebab Papa dan mama tidak akan pernah meninggalkan Vidya.” Hibur Prayoga. Saat ini yang harus dilakukan olehnya adalah menenangkan gadis polos itu, jangan sampai memiliki niatan untuk melakukan bunuh diri lagi. Sementara Erna yang terlalu sering melihat kondisi Vidya yang rapuh, memilih keluar kamar dan duduk menangis di kursi yang terletak di lorong rumah sakit. “Jangan takut dan sedih lagi, ya! Kasihan jagoan kecil kalau harus merasakan sakit di dalam sana, dan kasihan Mama yang selalu sedih melihat keadaan Vidya.” Lagi Prayoga berusaha memberikan nasehat untuk putri angkatnya. Bagaimanapun gadis remaja yang ada di depannya saat ini sudah menjadi tanggung jawabnya. Menguatkan rasa percaya diri anak itu, akan membuatnya bisa berpikir dengan logis dan lebih baik. “Tapi Papa, ada banyak suara yang mengatakan kalau anakku pembawa sial. Suara-suara itu mengajakku untuk mati dan salah satu dari mereka mengajarkan aku bagaimana caranya untuk mati dengan mudah.” Lirih suara Vidya menjelaskan pergolakan batin yang menjadi delusi untuk dirinya. “Suara yang kamu dengar dan bayangan yang mengajarkanmu untuk bunuh diri, semua hanyalah setan yang berusaha mempengaruhimu untuk berbuat dosa,” jelas Prayoga. “Kamu tidak perlu mendengarkan mereka apalagi mengikutinya. Jika suara-suara itu mengganggu, katakan pada Mama. Beliau yang akan membantumu mengusir suara-suara jahat itu.” Pria paruh baya itu memberikan senyum pada Vidya. Kini ia mengerti kenapa anak gadisnya membuat keputusan bodoh. Rasa takut, malu, rendah diri, dan sakit yang ditahan oleh gadis itu, menciptakan delusi yang merusak kejiwaannya sendiri. “Jika aku bicara pada mama, apa semua akan baik-baik saja? Apa aku tidak akan menyusahkan kalian?” tanya Vidya dalam isak tangisnya yang terdengar semakin menyayat. Kesedihan hati gadis itu akhirnya berhasil tertumpahkan pada Prayoga, orang tua yang sangat sabar menerima semua keluh kesah putrinya. Orang tua yang bisa bicara dari hati ke hati dengan anaknya, hingga gadis itu sedikit mau membuka diri tentang apa yang ia rasakan. “Tentu! Jadi mulai sekarang, setiap apa pun yang kamu rasakan harus dibicarakan semuanya pada Mama, ok?” kembali pria itu mencoba memberikan pada Pengertian pada Vidya. “Jangan menangis Sayang, semua masalah ini pasti akan berakhir, percayakan pada Papa dan Mama. Dan izinkan kami menggenggam erat tanganmu.” Kembali mata tua itu berembun. Mengobati luka batin seorang wanita yang telah ternoda tidak akan pernah mudah. Luka itu akan membekas, tetapi saat ini mereka akan bahu membahu menyembuhkan luka hati putri kesayangan mereka, Vidya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN