Lima Belas

1237 Kata

Aku menuruni kereta mengikuti langkah kaki Sebastian. Tempat ini jauh berbeda dengan tempat barusan. Kami berada di depan sebuah rumah dari kayu dengan halaman luas tanpa tanaman, hanya ada tanah kemerahan yang basah, genangan air coklat yang becek dan licin, hingga aku harus berjalan sangat pelan-pelan. Kuamati rumah kayu kecil di depanku, tempat itu sudah tua, tak terpakai dalam waktu cukup lama, pikirku. Atapnya telah hilang sebagian, jendelanya telah koyak berayun di terpa angin siang bersama belukar yang menjalar pada tiang-tiangnya yang sudah ada rumah-rumah rayap di sana, melilit seperti bentukan ular. Pohon oak di belakangnya, tumbuh tinggi amat lebar, dengan akar-akar yang seolah memeluk rumah pucat di depannya untuk melindunginya dari kerobohan bobotnya sendiri. Sebastian melang

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN