Aku merasakan pelukan lengan seseorang melingkar di tangan dan menyentuh hingga ke telingaku. Mataku perlahan membuka. Tak ada cahaya silau matahari, suasananya terasa suram. Aku mengira masih dinihari ketika itu, tapi bunyi suara kereta dan langkah kaki kuda yang menghentak tanah membuyarkan persepsiku dengan segera. Mukaku yang berhadapan dengan kulit pucat lelaki itu membuatku terpana. Memandangi tubuhnya, d**a bidangnya yang kokoh dan lengannya yang kuat membuatku mendapat penghiburan dari semua penderitannku belakangan ini. Jemariku yang nakal menyapu kulitnya pelan-pelan, menuruni susunan perutnya yang datar dan kotak dengan otot yang keras. Tubuhnya seperti diukir dengan sangat sempurna, tak jauh berbeda dengan rupanya yang seakan dianugerahi cahaya seluruh semesta. Aku tak bisa menahan diri untuk tak mencium dadanya yang begitu wangi, dan mencumbunya sesuka hati. Aku merasa seperti tak punya etika dengan melakukan hal seperti itu pada seorang pria yang bahkan aku belum mengetahui siapa namanya. Namun seperti air yang tak akan bisa jika tak mengalir, perasaanku padanya pun demikian kuat, hingga darahku yang berdesir, debaranku yang tak terelakkan memaksa tubuhku untuk selalu berada dekat dengannya.
"Kau sudah terbangun" katanya, membuatku terkejut
"Yah" kataku dengan singkat dan menaruh kepalaku di atas perutnya dan menyapu lengannya. Dia tidak berkata apa-apa padaku, jadi aku mengira ia tak akan marah kalau aku sekedar menyentuhnya, dan lagi ia tak pernah terpengaruh oleh sentuhanku sama sekali. Tak ada balasan meski setengah mati aku mencoba merayunya. Tapi, tiba-tiba dia terbangun dari tidurnya dan mengganggu kesenanganku dengan cepat. Langkahnya yang panjang dalam balutan celana kain hitam lalu mengetuk pintu.
"Bawakan sarapan kemari!" aku merasa malas untuk bangun dari tempat tidur dan hanya menatapnya beranjak membuka jendela. Sinar matahari langsung saja menusuk mataku. semalam hujan deras, tapi hari ini matahari bersinar seolah tanpa masalah sama sekali. Pria itu lalu meraih sebuah kemeja dari lemari. Aku beranjak ke sisinya dan membantunya memasang kancing kemeja yang kaku itu. Dia diam saja dan tak melihatku sama sekali.
"Apa kau tidak tertarik padaku!" ucapku dengan tiba-tiba
"Apa?" balasnya dengan begitu santai. Aku menatap matanya yang tajam dan mukanya yang begitu dingin
"Maksudku, kau tahu aku bisa melakukan apa saja untukmu tapi kenapa kau selalu menolakku seperti itu"
"Apa kau mengharapkan sesuatu dariku?" ucapannya seperti menyudutkan, hingga aku kehilangan selera untuk melanjutkan kata-kataku lagi
"Lupakan saja!"
"Setelah sarapan bersiaplah, kita akan ke suatu tempat" dia meninggalkan aku sendirian dalam pikiranku sendiri. Entah kemana lagi dia akan membawaku setelah ini. Dia tidak pernah menjelaskan apa pun.
Setelah membersihkan diri, berganti pakaian dengan gaun ungu berkerah tinggi, lengan panjang dan membereskan rambutku, menggelungnya rapi lalu dihias jepit rambut mutiara, kemudian aku duduk untuk menghabiskan roti gandumku dengan segelas s**u hangat, meski aku tak begitu berselera makan sejujurnya, tapi Lanni mengawasiku dan menungguku menghabiskan menu dalam piring keramik putih di depanku. Sesekali aku menengok ke arah jendela dan mengamati pejalan kaki maupun rombongan kereta kuda yang bergerak beriringan. Ketika aku termenung, dari lantai dasar aku mendengar bunyi piano mengalun lembut dan menyejukkan. Karena penasaran, segera saja kucampakkan makananku untuk mencaritahu dari tangan mana nada menyentuh itu mengalun. Di ujung tangga, aku menemukan punggung tegak lelaki itu dan jemarinya bermain lincah di atas piano dengan menawan. Aku berdiri terpaku mendengar musiknya dan memandangi wajahnya yang penuh ketenangan dan senyum tipis yang tulus dan menyegarkan. Ketika kemudian ia menyadari aku datang jemarinya terhenti dan musik itu menghilang. Aku mendekatinya, dia bangkit dari duduknya dan menatapku.
"Kau sudah siap?"
"Kita akan pergi sekarang?"
"Jika kau bilang iya"
"Kemana?"
"Ikut saja!" katanya, dan aku mengikuti arah langkahnya. Di depan gerbang, kereta merah dengan dua ekor kuda hitam besar dan gagah telah menunggu. Kereta tempo hari yang pernah kulihat saat ia datang. Tuan Leon juga sudah berada di sana, menjadi kusir yang sigap. Ketika kami akan menaiki kereta, dibukakannya pintu kereta dan lelaki itu naik lebih dulu menyusul aku kemudian. Suara pecut lalu terdengar, kaki kuda menderap dan kereta berjalan. Ini adalah kali pertama aku meninggalkan rumah selain ke taman, dan kali pertama juga aku bepergian dengan lelaki itu. Aku meliriknya, pria itu memandang keluar jendela, memerhatikan pejalan kaki di sekitar toko makanan kecil maupun pakaian yang berada berjejer, tak banyak hanya beberapa. Tatapan matanya tiba-tiba menangkap sorot mataku, aku merasa akan kehabisan nafas saat itu.
"Ada apa?" suaranya yang serak namun lembut itu membuat perasaanku seakan penuh dan mulutku kesulitan berbicara. Aku berpikir sesuatu, pertanyaan dan perbincangan yang akan menyenangkan sepanjang perjalanan yang entah akan tiba di mana.
"Kau...," aku berpikir keras sebelum benar-benar yakin pada apa yang ingin aku ketahui "aku belum tahu namamu sejak setahun lebih aku berada di kastilmu. Kau juga tidak tahu namaku kan?" mata hazelnya berkedip pelan dan melirikku penuh ketenangan
"Aku tahu namamu, tapi aku tidak memiliki nama"
"Apa..." kataku dengan sedikit terkejut "Mana mungkin kau tidak punya nama, lalu dengan nama bagaimana aku akan memanggilmu?"
"Terserah padamu, kau boleh memanggilku dengan nama yang nyaan dengan mulutmu!" ia merogoh ke sakunya dan meraih sebuah jam emas bulat dengan juntaian rantai panjang. Di sorotnya dengan serius selama beberapa menit, kemudian kembali menatap ke arah matahari
"Tapi, aku tidak memiliki sebuah nama yang bagus" dia tak peduli, seolah tak mendengarku. Aku diam mengatup mulutku dan berpikir sambil memandang jalan. Kereta melewati pinggir sungai Themes yang berair jernih dengan gerombolan anak laki-laki sedang berlarian gembira. Pakaian mereka lusuh dengan topi kain kumal dan sepatu yang telah sobek, berkeliling sambil membawa koran ataupun bunga-bunga dalam keranjang. Aku meliriknya sekali lagi
"Bagaimana kalau Sebastian?" ku tundukkan kepalaku dan menatap lantai kayu kereta, ku pikir ia tak akan suka nama itu
"Tidak masalah!" mukaku terangkat dan terpaku sesaat.
"Kukira kau akan menolak"
"Nama bukan hal yang perlu" terangnya dengan nada sinis tanpa bermaksud di tujukannya padaku, kupikir.
"Boleh aku bertanya?" balasku dengan ragu
"Katakan!"
"Kau mengusirku dari mansionmu?"
"Tidak"
"Tapi kau..." ia segera memotong ucapanku
"Aku tidak begitu menyukai keramaian di tempatku, lagi pula di sini tempat yang bagus. London, semua orang ingin tinggal dekat ibu kota. Pusat bisnis dan kesenangan"
"Rumah itu tak begitu menyenangkan. Aku selalu mendengar seorang perempuan berteriak dan semalam saat kau datang, aku.."
"Perempuan itu" katanya dengan nada menekan yang geram "Aku sudah mengingatkannya tak menggangu siapa pun, tapi sepertinya aku harus membakarnya saat menemukan dia di cermin!" aku tercengang, ia bicara begitu pongah
"Kau mengenalnya?"
"Tidak, itu hanya arwah murahan. Mati mengenaskan, tidak bisa masuk ke neraka atau surga, karena dia mati sebelum waktunya"
"Itu terdengar aneh untukku"
"Semua hal memang tidak masuk akal, jadi biasakanlah mulai sekarang"
Roda kereta terhenti di sebuah petakan 4 rumah sempit yang sunyi dan saling menutupi, berdiri saling berhadapan dengan posisi rapat yang menutup ke arah matahari. Bangunannya dari batu kuning yang mulai keropos, berlantai dua tanpa beranda, hanya sebuah jendela yang sudah rusak, kayunya menjuntai keluar seperti akan jatuh ke tanah. Mengamati dari sini, tempat itu gelap, sinar matahari seperti tak bisa masuk kesana dan hanya sampai di ujung batunya. Sebastian, lelaki misterius yang akhirnya aku paggil seperti itu, turun dan memberitahuku untuk tetap tinggal dan tidak meninggalkan kereta, sementara dia masuk melewati sebuah pintu tanpa penutup yang gelap di ikuti Tuan Leon, yang kemudian mereka menghilang tanpa jejak. Aku duduk berdiam dalam kereta sambil mengamati sekitar, perasaanku tak enak. Tempat ini begitu sunyi, meski kupikir berada di pemukiman padat, tapi tak ada keramaian sampai kemari. Aku menjulurkan kepalau keluar dari jendela dan mengamati sekitar. Langit seperti membentuk cekungan di tempat ini, tak ada burung beterbangan, tak ada angin. Bulu kudukku meremang seketika dengan situasi ini. Aku merasa sangat gelisah dan berharap dapat turun dari kereta dan menyusul Sebastian beserta Tuan Leon. Suara burung gagak kemudian menggema di puncak batu yang tak rata dan rusak di sisi tiap gedung, aku tersentak. Mata berwarna merah dari burung itu memandangku dengan tajam, dan misterius. Aku membuang muka, tanganku mulai basah karena keringat disertai debaran jantung yang mulai tak menentu. Burung gagak itu bersuara memekik, mengkoak lagi, makin keras dari sebelumnya. Perhatianku tercuri ke arah suara itu, sudah ada puluhan di atas sana. Tidak! Mungkin ratusan, beterbangan dan berebut celah di pinggir batu, entah sejak kapan, sedangkan mata mereka semua nyalang menatapku. Sebelum sempat aku berbalik, serombongan dari mereka mengepakkan sayap menuju ke arahku. Ketakutan sudah sampai pada puncak perasaanku. Aku meraih pintu dengan tergesa, kerumunan itu mulai memasuki jendela kereta dengan cepat di ikuti suara mereka yang lantang. Aku mendobrak paksa, sampai pintu itu terbuka dan berlari segera, meninggalkan tempat itu. Sisa burung lainnya memekik dari arah puncak gedung berbentuk segit tiga di depanku. Mata mereka masih sama ganasnya dengan serombongan gagak hitam barusan. Aku berlari dengan sekuat tenaga dan memasuki salah satu pintu untuk menghindari serangan mereka.
Suasana lorong sempit itu gelap dengan batuan yang terpencar berantakan, tak rata serta meninggalkan banyak lubang yang tergenang air setinggi mata kaki. Aku menempelkan hati-hati tanganku di sisi tembok batu yang berubah menjadi serbuk-serbuk rapuh saat aku sentuh dengan jemariku. Aku tidak tahu sepanjang apa koridor sempit ini, sunyi sekali, hanya ada titik-titik air yang memantul entah dari mana arahnya. Menggema pelan-pelan dan mengerikan, menusuk dalam lubang telingaku. Aku berjalan makin ke dalam sambil terus meraba, lalu mendapati pintu kayu yang teraba kasar olehku. Pintu itu membuka tiba-tiba, aku terkejut ketika mendapati cahaya terang yang menyilaukan. Saat aku mengedipkan mata beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya itu dengan kegelapan yang sempat menyelubungiku, aku mendapati ruangan berbatu coklat dengan lampu besi yang menggantung dengan rantai-rantai karatan yang besar. Lilin-lilin merahnya, mencair dan menetes di tengah ruangan. Ada segerombolan orang berdiri, sedang mengenakan jubah hitam semata kaki pada rentetan kursi-kursi panjang. Tak ada suara sama sekali dari arah mereka, namun serempak mereka semua berbalik menatapku dengan lilin merah di tangan mereka yang menyala.
"Ada orang asing" kata suara serak yang entah dari mana
"Tangkap dia" suara seorang gadis dengan tegas bercampur logat Italia yang kental. Aku memundurkan langkahku dengan panik ke belakang dan menginjak tanpa sengaja gaunku, hingga aku terjatuh membentur batu yang menyakiti punggungku. Tubuhku hanya mampu bergerak seinci ketika 4 orang yang mengenakan penutup kepala, hingga menyembunyikan muka mereka dengan jubah hitam panjang meraih kedua lenganku dengan kasar. Air mataku pecah, nafasku memburu oleh rasa takut yang mencekam. Mereka menyeretku kasar ke sebuah meja besar di tengah ruangan yang menggantung lampu besi merah tertutupi penuh titik-titik lilin yang meninggalkan bekas kerasnya di sana. Aku memberontak dengan kasar sekuatku.
"Lepaskan aku! Lepaskan aku!" teriakku
"Tidak ada yang akan bebas setelah mengetahui sekte pemujaan ini" kata dingin seorang pria
"Bunuh dia!" salah seorang pria kemudian maju dengan sebuah sabit hitam, menjulur keluar dari jubahnya. Mengayun di tengah udara dan bersiap sampai padaku. Aku meronta makin keras sambil menangis kencang sampai tenggorokanku perih. Bunyi gerombolan gagak sekali lagi menggema di seluruh ruangan. Tak berapa lama, ribuan ekor memasuki ruangan dan memenuhinya dengan dengungan mereka. Semua orang itu terdiam kemudian menunduk dan kegelapan menyelimuti seluruh tempat oleh helaian bulu hitam mereka yang melayang di udara.
Aku terbangun dengan gusar, mengamati sekitar penuh kepanikan. Tempat itu berubah, langit-langitnya tertutup beludru hitam dengan pinggiran dari kain keemasan yang dijahit tangan dengan rapi. Aku memandang makin jauh dan mendapati mata galak Sebastian menatapku. Tanpa sempat aku berbicara, tangannya sampai di leherku lebih dulu dan menekan jalan nafasku. Matanya terbakar, tapi ketenangannya membekas
"Sudah kubilang untuk tetap tinggal. Kenapa kau keluar?" ujarnya penuh ketegasan sekaligus kemarahan
"Aku..." kataku dengan nafas terputus dan sakit yang menekan. Mataku berair dan jatuh di ujung mataku sambil menagkap sinar matanya yang gelap dan berembun dipandanganku "Gagak, tadi ada gagak... Sangat banyak!" matanya menyipit dengan alis bertaut. Jemarinya melepaskan batang tenggorokanku. Aku terjatuh ke atas lantai kereta dan terbatuk-batuk. Susah payah aku menghirup udara segar untuk melancarkan kembali nafasku yang tersengal
"Kau menggangu perjamuan kecilku!" aku terdiam tak mengerti maksudnya "Ikut aku!"
"Tapi" kataku dengan gopoh karena rasa takut dan sakit di tubuh dan pikiranku
"Jangan membantah!"