Tiga Belas

1607 Kata
Aku terbangun di tempat yang berbeda. Kamar itu masih cukup luas, tapi tidak semegah kamar yang pernah kutempati. Tak ada perapain di sini. Hanya ada meja rias, jendela yang tertutup gorden merah bata yang menjuntai turun menyentuh lantai marmer abu-abu. Di sebelahnya ada meja rias dan di samping ranjang ada sebuah lemari dan meja kecil di mana ada sebuah lampu hias kecil berwarna jingga kekuningan masih menyala. Tak ada karpet lagi maupun lampu kristal. Tapi di depanku masih ada beberapa lukisan berukuran sedang yang menutup kertas dinding berwarna kuning pucat dan sebuah kursi panjang berwarna keemasan yang tertutup beludru lembut. Aku mendekati jendela, dan membuka sebaris kecil tirainya, tak ada balkon dan hutan. Di bawah, ada sebuah jalan besar dengan orang lalu lalang yang tak begitu padat, tapi lebih ramai dari jalan di desa St. Petter. Ada taman di bawah, dengan beberapa bunga sederhana yang bersebelahan pagar rumah berbatasn langsung dengan jalan. Ada banyak bangunan megah di tikungan jalan, tapi tak terurus, nampak kosong dan cukup tua. Bangunan dengan pilar-pilar tinggi dihias banyak jendela, bangunan bernuansa gothic yang suram dengan dinding coklat tanah yang megah. "Nona?" aku berbalik segera. Lanni dan Nyonya Anet tengah berdiri saling bersebelahan dengan membawa pakain dalam genggaman mereka.  "Di mana ini?" kataku dengan nada tak sabar. Mereka saling memandangi sekilas. "Tuan Leon meminta anda berpakaian dan sedang menunggu anda di bawah. Beliau akan menjelaskannnya nanti nona" Anet mendekat ke arahku, dan membantuku membenahi rambut dan pakaianku. Lekas setelah itu aku menuruni tangga-tangga coklat panjang dari kayu. Di atapnya yang datar melengket lampu hias besar dengan beberapa lukisan. Ruang tamunya cukup luas dengan sebuah piano di sudut ruangan. Ada beberapa guci dan lemari hias dari kaca berukuran besar-besar. Di ujung tangga, pria tua itu sudah menunggu dengan wajah tertunduk. Aku berdiri di depannya seperti seorang hakim sekarang. Apakah seseorang benar-benar membuangku saat ini? Dan jika begitu, di mana pengasingan yang diberikannya untukku. "Aku harap semua ini memiliki penjelasan?" "Apa kah anda ingin teh?" tawarnya sambil menunjukkan tangannya mempersilahkan duduk ke kursi kayu yang nampak nyaman dengan meja coklat di hias bunga lili.Di atasnya sudah ada gelas keramik yang menyembulkan asap tipis-tipis. "Aku membutuhkan penjelasan, bukan secangkir teh" balasku dengan nada ketus. "Duduk sambil mengobrol adalah sikap seorang bangsawan nona"  Aku duduk melegakan diri, meski perasaanku jauh dari kata itu. Entah seperti apa aku harus menjelaskannya, mungkin bingung dan marah. Itu mengesalkan, bagaimana mereka memperlakukan aku dengan semua rahasia itu benar-benar mengerikan sama sekali. Aku menyoroti Leon, dia berdiri di samping Lanni dan Anet dengan tatapan menjurus ke lantai. "Katakan padaku jam berapa sekarang?" "Menjelang sore nona"  "Apa kah sekarang aku sudah bisa mendengarkan penjelasanmu tuan Leon?" "Kalian pergilah!" setelah yakin hanya kami berdua di ruangan itu, ia mulai buka suara. Awalnya dia hanya berdehem berat seperti biasa dan berdiri dengan posisi kaku yang berkelas. "Kita berada di London sekarang nona. Kita memang tidak tinggal dipusat kota, tapi berada dekat dengan sungai Themes sebagai pemukiman. Ini adalah tempat yang bagus, karena ada sebuah ruangan untuk melihat lampu-lampu terang dari pinggir sungai maupun dari kapal-kapal kecil yang sedang melintas. Tempat ini masih sangat sederhana, karena beberapa barang baru belum dikirim dari toko mabel dikota. Saya dengar mereka menggunakan bahan-bahan bagus dalam membuat meja, kursi dan..." "Aku rasa bukan itu yang aku maksud! Aku ingin tahu apakah dia membuangku, maksudku pria asing itu. Di mana dia?" "Saya mohon anda tenang Miss!" alisnya bertaut dengan kening mengernyit. Peringatan pertama paling halus, saat aku mulai kehilangan kesabaran dan tatakrama. "Tuan tak berada di sini, tapi dia mengantarkan anda kemari. Sejujurnya upaya anda yang terakhir itu benar-benar membuat tuan marah, tapi saya tidak bisa mengatakan bahwa ini adalah alasan kenapa tuan membawa anda kemari. Beliau memiliki pertimbangan sendiri. Anda mungkin tak ingat saat beliau membawa Anda kemari. Anda tidur selama dua hari dan itu waktu yang cukup panjang," bicaranya terhenti sejenak dan aku bisa mendengar bunyi nafasnya yang berat sebagai pria tua "silahkan nikati minuman di atas meja agar anda merasa lebih baik. Saya akan membereskan beberapa barang lebih dulu" Aku diam dan terpaku sambil berpikir. Ini bukan jawabannya. Apakah dia sudah membuangku? Dari apa yang dikatakan Tuan Leon barusan, bukankah dia mengatakan kalau pria itu sangatlah marah. Tapi kalau dia begitu benci pada tindakanku yang terakhir kali, kenapa dia masih membiarkan pelayannya melayaniku dan aku bahkan masih bisa berjalan. Tapi meski begitu, bisa saja dia tidak menemuiku lagi, mungkinkah itu?. Siapa peduli, selama aku masih bisa hidup nyaman dan tidak hidup diluar sebagai seorang gelandangan yang hidup dari belas kasihan. Apa yang dia lakukan untukku seperti ini sudah cukup membantu. Meski begitu, aku harus memikirkan hal yang harus aku lakukan berikutnya, langkah pentingku. Saat aku tengah begitu serius berpikir, mendadak terdengar suara kayu membanting dari belakang punggungku, hingga aku melonjak kaget seketika. Aku berbalik ke arah bunyi dentuman tak begitu besar itu dan melihat penutup tuts piano lah yang sepertinya tengah terbanting keras-keras. Aku tidak tahu kenapa, tapi aku merasa tengkukku mendapati sensasi dingin yang melayang dan aneh, hingga bulu romaku berdiri dengan tegak seperti bulu ayam jago yang tengah marah. Aku meninggalkan segera tempat itu dan berlari ke lantai atas dengan buru-buru lalu menutup pintu. Tanpa terasa telah hampir tiga minggu aku berada di rumah ini. Aku tak begitu menyukai tempat ini karena selalu merasakan seseorang sedang memandangiku dari tembok, cermin, lukisan bahkan dari minuman di depanku. Aku sangat gusar belakangan ini dan tak mau menghabiskan waktu di rumah.kupilih berjalan-jalan di sekitar taman yang berada 5 bangunan dari sini, atau berjalan ke sekitar sungai Themes untuk melihat airnya yang bersinar saat senja. Ketika senja habis dan malam merangkul langit, ketakutan itu menghampiriku. Langkah-langkah berat dari bawah tangga, suara tawa dan tangisan yang datang bergantian seperti akan membunuhku. Saat aku mengatakan hal itu pada Tuan Leon, Lanni dan Nyonya Anet, mereka mengatakan dengan begitu meyakinkan, bahwa tak ada bunyi seperti itu. Aku merasa sudah semakin asing pada kerawasan pikiranku. Sejak aku bertemu laki-laki itu, hal-hal aneh dan tak masuk seringkali aku alami tanpa bisa mendapati penjelasan pasti. Aku seperti dipaksa menerima ilusi sebagai sebuah kenyataan dan kenyataan adalah sebuah ilusi. Tuan Leon yang melihat kegelisahanku akan memberikan obat untukku agar aku bisa tenang. Obat itu tidak berguna, hanya memaksakan ketenangan untukku, tapi aku sepenuhnya bergulung dalam keresahan. Aku memuntahkan sirup obat itu diam-diam dan kemudian ketika waktu malam tiba dan bunyi-bunyi aneh mulai menggelisahkanku. Aku bersembunyi di bawah kolong tempat tidur yang gelap dan menutup telingaku rapat-rapat agar tak mendapati lagi kesakitan dalam malam yang panjang. Malam ini hujan turun dengan deras. Titik-titik airnya mengalir di muka jendela, cerah dan bening seperti air mata yang jatuh pelan. Aku duduk tak mengatup mata, hanya melihat lilin putih di depan cermin yang meleleh sambil terus menyala. Badanku terpaku bersama bunyi guntur mengerikan, dan menunggu malam yang akan mengakhiri rasa frustasiku. Dalam ketenangan itu, suara teriakan menghentak jantungku. Aku bangkit dari kursiku sebentar. Dari pintu diam-diam aku menguping suara yang beredar di antara tembok. Seorang perempuan sedang menjerit. Suara perempuan itu selalu sama sejak aku datang kemari, penuh kebencian dalam histerisnya yang menyayat. Aku ingin tahu siapa perempuan yang selalu menjerit dan meminta kematian demikian dan kenapa hanya aku yang bisa mendengar bunyi suaranya. Aku meraih lilin dari meja dan membuka pintu kamarku begitu hati-hati sambil mengendap-endap menuruni tangga kayu. Bunyi teriakan itu selalu terdengar dari lorong belakang. Aku mengumpulkan keberanianku. Aku sudah tidak bisa menahan kegusaranku karena bunyi aneh di rumah yang selalu menangis ini. Saat di ujung lorong menuju ke kamar belakang, jendela-jendela membuka. Air hujan dan angin segera menyambarku membuat lilin di tanganku padam. Seluruh ruangan dipenuhi kegelapan. Aku tak berkutik, aku takut pada kegelapan. Tubuhku bergetar. Belum selesai kecemasan itu, dari arah jendela di belakangku, aku merasakan bayangan yang berlalu. Aku berbalik dan hanya mendapati tirai yang sedang tertiup angin basah. Aku berlari segera untuk menuju ke kamar. Sesuatu kemudian menyandung kakiku hingga aku tergeletak di lantai kayu dengan rasa sakit. Jemariku tanpa sengaja mendapati cairan yang basah dan mengguyur tanganku seperti air dari atap yang tak ada celah bocor sama sekali. Bersama ketakutan dan ingin tahu yang besar, kuletakkan jemari telunjukku di depan hidungku dan mendapati bau amis yang menusuk. Guntur terhelak tiba-tiba membawa sinar cerah utuk sesaat, kemudian bayangan perempuan muncul. Sedang tergantung di depan mataku dalam balutan gaun lusuh. Kepalanya berputar dan muka pucatnya mengumbar senyum kaku disertai sinar mata yang sepenuhnya hitam. Darah keluar dari hidungnya, semakin banyak dan memnuhi tanganku. Aku hendak lari, tapi badanku terasa berat dan muka kapur itu mendekat di depan mukaku tanpa sempat aku menyadari keberadannya. Aku berteriak-teriak dengan sekuat tenaga dan menangis semampuku.  Aku membuka mata dalam pelukan seseorang. Aku mencoba menjauhkan diriku darinya tapi lengannya menahan pundakku dengan kuat dan memerangkapku hingga tak bisa menggeser tubuhku sama sekali. Aku tidak cukup siap dengan keterkejutan seperti ini. "Ini aku ada apa denganmu!" bunyi suaranya yang lembut menari pelan dalam kegelapan. Rintik hujan mereda, hanya sisa kilat-kilat yang datang sesekali dan memenuhi ruangan dengan sinar menyilaukan mata, hingga aku bisa melihat tubuhnya. "Sesuatu menakutiku" kataku mengadu padanya. Aku merasakan jemarinya yang lebar menekan kepalaku dalam kulit dadanya dan mengelus helaian rambutku dengan amat lembut. "Aku di sini. Karena itu aku di sini!" kedua lengannya membalutku seperti selimut dan aku merasakan ketenangan dalam hatiku, hingga aku bisa bernafas dengan bebas sesukaku dan ketakutan perlahan tenggelam begitu saja tanpa bekas. "Kau akan pergi ketika aku terbangun!" "Tidak, aku akan di sini!" bau kulit badannya memenuhi hidungku. Aku menenggelamkan mukaku di sana. Kulitnya yang hangat lebih lembut dari sutera. "Kukira kau marah padaku?" aku mencoba mendengarkan bunyi detak jantungnya. Tapi ia seolah tak bernafas dan tak memiliki debaran seperti hal nya manusia. Datar, hanya tubuh semata. "Aku tidak mau membicarakan itu, segeralah tidur dan kita akan ke suatu tempat!" ucapannya tegas tak tergoyahkan. Aku mendengarkan dan menutup sepasang mataku perlahan-lahan sambil menikmati sentuhan lembutnya yang kadang tak pernah kuduga.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN