Tiga

2106 Kata
Samar sekali, sebuah bayangan tipis dengan cahaya samar di ujung ruangan memberondong kedua mataku. Kepalaku pusing dan mataku terasa begitu berat untuk membuka. Apa ini, di mana aku berada. Apakah ini yang di sebut surga, tempat tinggal para malaikat?. Udara dingin berembus perlahan ke kulit wajahku entah dari arah mana ia datang. Rasanya sangat dingin, dingin mengeringkan. "Kau sudah terbangun?" suara berserat, dan berdengung merdu seperti bunyi jernih aliran air menyusup ke telingaku. Suara yang asing. Sekilas lalu terdengar langkah sepatu bersinggungan lantai menciptakan bunyi berderap. Dari jauh makin dekat. Seseorang dalam bayangan gelap nampak berdiri. Berdiri di sebuah tempat yang sangat terang terselubungi kain transparan, putih, suci, bersih seperti kelopak bunga lili yang bersinar keemasan. Serupa sebuah cermin tengah memantulkan sinar bulan kala purnama. Mataku merambati pelan figur wajahnya, ingin memandangi tampilannya. Entahlah, matanya bersinar sangat elok. Tapi gelap dengan sedikit rasa angkuh di sudut terdalam matanya. Rahangnya tegas dengan bibir sedikit berisi, berwarna merah muda seperti warna kuncup kelopak mawar. Hidungnya tinggi, mungil, lurus sama sekali. Sementara alisnya tebal, berwarna hitam seperti warna malam yang sangat pekat. Helaian rambutnya menjuntai di antara alisnya, berantakan, menutupi warna matanya yang seperti matahari tapi lebih gelap, lebih. Seperti senja sedang terbakar di langit utara tepat ketika akhir musim gugur. Langkah itu kembali berderap, aku kehilangan wajahnya. Hanya tersisa pundak tegak yang berjalan pelan, tanpa bergoyang. Langkah itu terenti dan perasaan hangat itu memenuhi pipiku. Kulit bertemu dengan lapisan kulit lainnya. Nyaman tenang, penuuh perlindungan. Tapi dingin, hampa dan misterius. Siapa orang ini, siapa pemilik cahaya senja itu. Siapa pemilik jemari hampa ini. Apakah dia malaikat, seperti itukah bentukan malaikat?. "Bangunlah!," suaranya begitu lembut, jatuh seperti tetesan air. Jernih. "Bangunlah!!!" kata itu menggema beberapa kali, seperti beterbangan di udara lalu mengelilingiku dan berputar, terus berputar, terus sampai. Sampai kemudian menjauh makin lihir dan... Aku membuka kedua mataku lebar-lebar. Kedua pasang mataku langsung membentur langit-langit berbentuk kubah melengkung tinggi berwarna biru muda dengan sentuhan warna putih lembut seperti gumpalan awan yang menenangkan. Di tengahnya menggantung sebuah lampu berbentuk bunga lili terbalik berwarna putih s**u. Apakah sekarang aku memang sudah berada di surga dan tempat ini kediamanku? Aku mulai menarik pandanganku ke arah lain. Ke sekeliling tembok yang dilukis aneka corak simetris dengan 4 buah lukisan menggantung di dinding yang berada cukup jauh dariku. Untuk memperjelas pandanganku, aku bangkit dan duduk di atas tempat tidurku. Aku merasa semua rasa sakitku sebelumnya sirna, hilang sama sekali. Ruangan itu sangat cantik, membuatku semakin penasaran untuk mengamatinya. Di sebelahku, tepat beberapa langkah dari ranjang temparku berbaring ada deretan kursi berukir berwarna gelap dengan sebuah vas bunga jernih yang nihil tanpa bunga. Di belakangnya menyala sebuah perapian kecil yang pinggirnya berukir gothic, begitu hangat sementara di sisi temboknya terdapat juntaian kain gorden berwarna merah tua, lebar. Kontras dengan warna karpet berbulunya yang keemasan. Di samping tempat tidurku ada sebuah meja dengan lilin beraroma wangi. Dan di samping tubuhku lainnya, ada sebuah lemari kayu berukir. Aku terhenyak dengan semua pemandangan yang kudapati. Tempat itu mewah, seperti kamar dalam sebuah istana. Aku mencubit pipiku untuk meyakinkan diri sekaligus ingin tahu, apakah aku masih hidup, atau sudah mati. Dan benar saja, aku merasa nyeri saat mencubiti tanganku yang tertutup selimut violet lembut tanpa motiv. Dari luar, pintu diketuki beberapa kali. Aku menatapi penasaran ke arah pintu itu. Siapa seseorang yang mungkin akan aku temui di balik pintu itu. "Boleh saya masuk nona?" sura berat merambat pelan menembus pintu. Aku berpikir sejenak sebelum mengiyakan. "Silahkan masuk!" jawabku sedikit ragu. Pintu membuka lebar-lebar. Seorang pria berkulit putih bersih dengan setelan jas lengkap berwarna abu-abu dan syal hitam kecil melingkar diantara kemejanya melangkah masuk, memperlihatkan sepatu kulitnya berwarna hitam yang mengkilap. Ia seorang pria tua dengan rambut abu-abu, bermata coklat garang tertutup kacamata bulat dan hidung bangir yang runcing. Menggenggam sebuah tongkat berwarna coklat dengan pegangan di ukir berwarna emas. Ia tak menatapku. Pria itu kaku tanpa ekspresi, tanpa senyum dari bibirnya yang agak lebar dengan sebuah kumis mulai memutih. "Anda sudah baikan?" lanjutnya dengan nada tegas tanpa basa-basi. "Iya, terima kasih sudah menolongku" balasku dengan sedikit sungkan. "Tidak sama sekali, saya tidak menolong anda. Tuan saya yang menyelamatkan anda" aku sedikit heran mendengarnya. Dan mulai timbul keingin tahuan dalam benakku "Tuan? Lalu, di mana dia, apakah aku bisa menemuinya sekarang?" "Tidak, tuan sudah pergi beberapa waktu yang lalu setelah menitipkan anda" tegasnya. "Kapan dia akan datang, apakah dia akan datang setelah ini?" "Entahlah, tuan hanya datang saat dia ingin saja," seseorang yang hanya datang saat dia ingin. Orang seperti apa dia. Rasa ingin tahu menggelitikku, tapi pria tua di depanku tampak tak nyaman sekali. Dalam hal ini aku harus tahu diri dan sebaiknya menguburi keingintahuan yang tak pada tempatnya itu. "Silahkan anda beristirahat" saat baru beranjak beberapa langkah aku memanggilnya. "Tunggu!!" ia terhenti dan membalik seluruh badannya. "Apa ada hal lain?" "Aku ingin tahu di mana tongkat kayuku dan semua barang yang kubawa bersamaku" masih beku dan bergeming, ia melirik sejenak. "Tongkat itu sudah tidak anda perlukan lagi. Anda juga sudah tidak memerlukan semua benda itu. Di sini ada lebih banyak barang dengan kualitas terbaik" aku mengernyit dan sedikit tersinggung dengan ucapannya. "Tapi, aku memerlukannya agar bisa berjalan" sergahku menegaskann padanya. "Anda sudah bisa berjalan sendiri" "Mustahil" bantahku dengan yakin "Anda bisa mencobanya sekarang" "Tidak..." kataku masih tak yakin "Silahkan" jemarinya seolah mempersilahkan, hingga rasanya aku sulit menolak. Meski sedikit ragu, aku mencobanya demi membantah ucapan pria tua di depanku. Kugerakkan perlahan jemari kakiku, satu demi satu dengan gerak pelan-pelan. Sendiku yang dulu terasa hampa bisa terasa pasti, sekali lagi aku hanya tercengang. Aku melirik pada pria itu yang memasang ekspresi datar tanpa keingin tahuan sama sekali. "Aku bisa merasakan kakiku sekarang. Kakiku bisa bergerak lagi, tapi bagaimana mungkin?" tanyaku dengan nada penasaran, terkejut, haru dan bahagia. Yah, kupikir seperti itulah yang sedang kurasakan meski sejujurnya di dalam hatiku, demi menjelaskannya jauh lebih rumit. "Tuan akan mengatakan semuanya pada anda bila ia datang. Saya tidak bisa menjelaskan apa-apa. Sarapan anda akan siap beberapa menit lagi. Saya permisi" Pria tua misterius itu berlalu, bahkan sebelum sempat aku menanyakan namanya. Ini benar-benar sebuah keajaiban, seperti mimpi yang benar-benar nyata. Tidak, apakah ini adalah sebuah kenyataan?. Saat aku masih diliputi rasa bimbang dan pertanyaan sekali lagi, ada ketukan lembut tiga kali dari arah pintu. "Boleh saya masuk" kali ini adalah suara seorang wanita. "Masuklah!" kataku setengah berteriak. Sosok wanita tua yang tidak lebih muda dari pria barusan masuk. Penampilan wanita ini berbeda. Dia mengenakan gaun terusan biru sederhana tanpa motiv, berlengan panjang dengan kerah meligkar putih dan celemek senada di tubuhnya. Mata abu-abunya sayu, dengan kerutan di keningnya. Rambutnya yang berwarna kuning tembaga di gelung rapi ke belakang. Bibirnya tipis tanpa senyum dan muram dengan kesedihan dan rasa lelah yang menyorot ke arahku. Dalam genggamannya ia membawa sebuah kain berwara merah dengan kotak hitam kecil di atasnya, berukir bunga mawar perak. "Apa itu?" wanita itu berjalan ke sisi ranjang di mana aku sedang duduk sambil menselonjorkan kakiku ke atas lantai yang tertutup karpet. "Ini pakaian anda, dan saya akan membantu anda berpakaian" aku terkesima, dan menatap gaun cantik berbordir tebal dengan bahan yang begitu lembut saat aku memegangnya tanpa sadar. "Benarkah gaun cantik berbordir itu untukku" "Benar" balasnya sangat datar "Lalu, apa isi kotak itu?" "Silahkan anda buka" aku meraihnya dengan sedikit ragu. Kotak itu amat lembut berlapis beludru. Saat aku menarik penutupnya nampak kalung mutiara dengan emas putih berbentuk bulat berukir wajah seorang wanita menyamping. Indah sekali, berkilau di kenai cahaya. "Apa ini juga untukku?" kataku mengalihkan pandanganku pada wanita tua itu. ia mengangguk. "Silahkan anda berpakaian!" "Boleh aku bertanya sesuatu?" aku tak merasa yakin pada pria barusan. Maka aku mencoba mencari tahu dari wanita ini. Aku berharap dia akan menjawab rasa penasaranku yang begitu mengganjal dalam pikiran dan benakku. "Silahkan" balasnya dingin dengan nada bergetar. Lebih suram dan kaku dari pria barusan. "Di mana ini?" "Hutan Desa Chrimpson" aku mengangguk puas pada jawabannya. Aku putuskan bertanya lebih jauh. "Seperti apa pria yang... ah, maksudku tuan. Pria seperti apa dia?" kataku buru-buru memperbaiki kata-kataku. "Saya tidak tahu seperti apa beliau. Saya minta maaf" jawabannya membuatku semakin heran da terkejut. Dia tidak tahu seperti apa pria itu, sementara dia sudah bekerja di sini. Yang benar saja. "kapan kau bekerja di sini?" balasku semakin ingin tahu "Silahkan, saya akan membantu anda berpakaian" diluar dugaanku. Ternyata dia sama saja dengan pria tadi. Aku menjadi lesu dengan penolakan yang sudah kudapat untuk mencaritahu bagaimana dan siapa pria yang sudah menolongku itu. Aku bangkit perlahan dari dudukku sambil membuang nafasku lunglai. Tapi setidaknya ada sedikit rasa senang dalam benakku. Aku bisa berdiri sekarang, tanpa goyah atau takut akan terjatuh. Tidak perlu lagi menyulitkan orang lain dan merasa malu terhadap tatapan merendahkan orang-orang akan keadaanku. Tapi, aku ingin tahu bagaimana bisa semua ini terjadi padaku setelah bertemu pria itu? Pria macam apa dia. Wajahnya, penampilannya dan bahkan keajaibannya yang mengubah hidupku. Setelah berpakaian lengkap, untuk pertama kalinya aku akan keluar dan berkeliling serta melihat rumah megah ini. Tepat ketika pintu merah di hadapanku membuka. sebuah koridor yang terpampangi lukisan menyambut mataku. Di tiap dinding itu terdapat sebuah pintu dan masing-masing di antaranya tertempel sebuah lampu cantik berukir di temboknya yang kuning pucat. Aku berjalan mengikuti pelayan wanita itu, menuju ke balkon dalam berbentuk setengah melingkar yang luas. Dari balkon ini sudah nampak kemegahan ruangan yang membentuk kubah dengan tiga buah lampu kristal sedang menggantung. Dari bawah sudah ada deretan kursi dari kayu mahoni, karpet-karpet persia, karpet berbulu, lukisan, keramik, patung dari gading yang di letakkan sepanjang dinding ruangan yang menghadap ke arah jendela berbentuk setengah melingkar yang masing-masing sisinya menjorok ke dalam dengan diukir gothic. Sangat cantik, indah, berkilau dan luas. Bahkan tempat ini jauh lebih luas dari St. Petter yang bisa menampung sampai 100 anak-anak. "Silahkan ikut saya nona" kembali aku mengikuti wanita itu, menuruni anak tangga lebar tertutup karpet merah polos. Pegangannya dari batu granit yang juga diukir dan di tempeli dengan hiasan batu berwarna-warni. Tiba di ujung tangga, dekat koridor, pria tua tadi sudah menunggu. Masih dengan sikap kaku dan sangat formal. Memperlakukan aku seperti seorang terhormat. "Silahkan ikut saya ke ruang makan!!" "Boleh aku bertanya?" ia menghentikan derap kakinya, berbalik denga sikap resmi. "Silahkan" "Aku tidak tahu, apakah kalian tahu tentang aku atau tidak. Aku mendapatkan semua ini dalam semalam. Bahkan sebuah keajaiban aku bisa berjalan seperti keinginanku, apa yang sebenarnya terjadi di sini. Padaku?" "Saya tahu anda ingin tahu, tapi ini bukan hal yang bisa saya jelaskan. Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, saat tuan kembali anda boleh bertanya apa yang menurut anda perlu. Untuk sekarang, sebaiknya anda menikmati kehidupan baru di tempat ini dan mulai membiasakan diri dengan aturan tempat ini" timpalnya dengan lugas. Aku hanya mendengarkannya, nyaris tanpa berkedip. "Ikut saya" ajaknya sekali lagi. Aku menurut saja dan berjalan mengikuti pria tua itu menembus koridor panjang yang di tempeli lukisan dan lampu-lampu ukir di atas kepalaku. Di kanan dan kiriku terdapat banyak pintu. Di ujung pintu berwarna merah, ada pintu lain membuka lebar. Di sana ada sebuah ruang makan luas yang sangat terang dengan deretan kursi dan meja yang berjejer rapi. Di atasnya ada tiga buah tempat lilin yang diukir dari perak dengan deretan alat makan dari keramik, maupun gelas kristal, cawan emas, sendok dan garpu dari perak. Di atas meja itu sudah tersedia roti gandum, telur, ayam kalkun, daging, mentega, aneka buah dan kue yang sangat banyak. Aku beranjak ke meja makan yang juga di tutupi karpet merah lembut. Aku duduk di salah satu kursi dengan sedikit bingung. "Apakah kita akan menunggu seseorang lainnya untuk sarapan?" tanyaku pada pria tua barusan. "Tidak, ini disediakan untuk anda" balasnya sambil beranjak ke sisiku. "Apakah kita semua akan makan di sini" pria tua itu menarik kacamatanya dan memperbaiki letaknya. "Tidak, ini untuk anda sendiri" aku bergidik, bagaimana bisa memakan semua ini sendiri. "Tapi ini terlalu, banyak" "Saya tidak tahu apa yang anda sukai, maka tukang masak membuat semua menu yang mugkin anda sukai. Anda juga tidak perlu menghabiskan semuanya" aku mengangguki ucapannya tanpa kehilangan rasa takjub dan heran di waktu yang sama. "Apa aku boleh tahu sesuatu?" "Silahkan!!" "Siapa nama anda?" ia kembali memperlihatkan sikap tegad dan kakunya "Nama saya Leon Marcal" "Aku Anna. Anna Spencer" "Saya mengerti. Pelayan wanita yang akan melayani anda bernama Anet" "Ah, wanita itu" tebakku. Tuan Leon mengangguk tanpa arti "Silahkan nikmati sarapan anda" dia undur diri dari ruangan dan meninggalkanku sendiri di ruangan berwarna kekuningan karena rentetan cahaya lampu kemerahan. Rasanya sedikit mengerikan dan dingin juga hampa. Mungkin karena terlalu luas. Selain itu aku tidak bisa mendengar bunyi apa pun dari sini, bahkan suara angin atau bisa saja di luar sedang badai, tapi suaranya tak sampai kemari. Seberapa tebalnya mereka membangun tembok tempat ini. Luar biasa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN