Empat

1836 Kata
Setelah sarapan aku berjalan keluar dari ruang makan, pria tua itu sudah menunggu di sana. Sekali lagi dia tidak berkenan menatapku. "Silahkan ikut saya!!" "Kemana?" balasku heran "Anda tidak perlu cemas, di tempat ini ada sebuah perpustakaan dengan semua buku klasik, saya harap anda bisa membacanya. Apakah anda bisa membaca?" "Yah, tentu saja" Tuan Leon berjalan lebih dulu, memimpin jalan dan kembali melewati koridor barusan, setelah itu memasuki koridor lainnya yang cukup panjang tak ada banyak pintu di sana, hanya sarat hiasan dinding dan hiasan keramik berupa vas maupun guci menempel pada meja yang di letakkan pada sisi tembok. Kami terhenti di depan sebuah pintu coklat lebar dengan lukisan beberapa ekor kuda tengah belari dengan gagah, di bingkai kayu berwarna keemasan. Segera saja Tuan Leon menarik muka pintu yang menjorok masuk. Aku mengintipi ke dalam, ruangan itu tak berkarpet tapi di tutupi lantai marmer coklat muda yang berukir. Lampu di sana kemerahan, berwarna sangat terang dengan deretan lemari besar berisi penuh buku dan di tengah ruangan ada beberapa meja dan kursi yang di tata melingkar. Aku sempat melongo sejenak, tempat itu luas dan hanya berisi buku, orang macam apa yang akan membaca buku sebanyak itu. "Silahkan ikut saya!!!" derap kakiku mengikuti di belakang. Tuan Leon mulai mengambil beberapa buku dengan aneka warna sampul yang berukuran cukup tebal. Ia meletakkannya di atas meja. Aku beranjak ke sana dengan perasaan penuh tanya tak tertahan. "Untuk Apa buku-buku ini?" ia berbalik segera. Kali ini dengan tegas ia menatapku. "Mulai sekarang nona akan belajar, semua hal yang harus anda ketahui tentang hal paling mendasar mengenai etika. Etika dan strata sosial adalah hal yang tidak bisa dipisahkan. Orang-orang akan menilai anda bahkan dari cara anda memegang gelas atau menyentuh sendok" "Tapi, untuk apa?" "Tuanku adalah seseorang yang sangat menjunjung etika, dia tidak akan suka hal-hal yang tidak sopan. Saya tidak memperhatikkan bagaimana nona barusan makan, tapi dari banyaknya bunyi denting gelas dan sendok saya rasa hal ini sangat diperlukan" aku mendesah perlahan. Apakah hanya untuk makan merupan hal yang patut dipelajari? Aku memang tahu jika etika bangsawan dan b***k sejauh langit dengan perut bumi. Aku yang dihadapkan pada posisi ini benar-benar sedikit bingung. Aku tak berpikir sampai ke sana. "Tapi buku ini sangat tebal dan sangat banyak. Haruskah aku menghabiskan semua buku di rak ini untuk k****a?" "Tentu, satu hari beberapa lembar buku akan menjadi satu buku. Ada banyak jenis buku di sini jadi anda tidak akan bosan. Ada karya sastra lama dari zaman Renaicance. Sajak Homerus, roman dari Shecspears sampai karya Darwin. Walaupun sejujurnya hal itu hanya di baca kawanan akademisi dan masih dipertentangkan beberapa pihak, tapi karyanya cukup menghibur" aku membuang nafas tanda tak sanggup, tapi sinar matanya yang tadinya teduh berubah drastis seolah di sana sedang ada badai kecil bila aku tak menuruti atau belajar semestinya. Aku menyerah dan menurut, seperti kebiasaan seorang baik. Aku duduk merenung dengan sebuah buku tebal dengan pembicaraan yang membosankan. Berondongan huruf sekecil deretan semut itu lumayan tak kusukai. Aku berharap bisa berjalan-jalan sejenak dan mengmati kastil ini keseluruhan, tapi Tuan Leon mengawasiku, terus manatapku seperti seekor elang asyik mengintai mangsa buruannya. Di masa-masa membosankan ini, mendadak aku teringat pada kamar dan ketenanganku di St. Petter. Entah bagaimana kabarnya tempat itu dan kamarku. Aku yakin yang menghuninya setelah ini hanya serangga, tikus maupun segerombolan kucing liar. Tapi satu hal yang bisa jelas kupahami, Nyonya Hudson sudah bersorak gembira dengan perginya aku dari tempat itu. Meski demikian, aku juga harus sedikit berterima kasih untuknya, aku mendapati semua ini sekarang. Aku tidak yakin bila aku terus di sana, aku hanya aka berakhir dan membusuk bersama sekelompok rayap. Hari-hari berlalu dengan terus belajar dan membaca sejumlah buku, rasanya membosankan menghabiskan hidupku dengan wanita kaku dan pria tua yang mengatur. Serta perasaan tertekan mengenai pria misterius yang menolongku. Lebih buruk lagi, tidak bisa berkeliling tempat ini karena musim dingin masih berlangsung, meski tak ada badai lagi. Sejujurnya aku tidak tahu akan berjalan-jalan kemana, tempat ini hanya di kelilingi pohon-pohon hijau besar berdaun lebat dengan kayu berwarna coklat pekat. Entah di mana jalan keluar dari tempat ini, semuanya terasa sama. aku kadang bertanya-tanya, apakah ini masih berada di dunia manusia atau aku sedang tersesat ke tempat asing. Tapi aku tak berkenan menanyakannya, karena tak ingin terdengar aneh lalu di tertawai, meski kedua orang itu tentu saja tidak akan melakukan hal demikian terang-terangan. Aku membanting kesal sampul buku biru di tanganku. Tuan Leon di depanku yang sedang duduk dengan tenang, nyaris seperti patung beserta sebuah buku ditangannya mengangkat sorot matanya pelan-pelan. Dengan gaya berkelas ia menutup buku itu dan meletakkannya di atas meja. "Apa ada sesuatu nona?" tanyanya tanpa perhatian. Lebih seperti basa-basi "Aku ingin berjalan-jalan" "Di luar salju masih tebal" aku melirik ke arah jendela yang tertutup gorden. Kemudian berbalik dengan pasrah "Di sini sangat membosankan" "Ada yang anda inginkan?" "Aku tidak bisa berjalan-jalan" "Kecuali anda ingin mati beku, pintu terbuka lebar" aku kehilangan tenaga dalam perbincangan ini "Aku ingin tidur sejenak. Rasanya aku lelah" "Silahkan" aku sedikit takjub. Untuk pertama kalinya ia membebaskan aku untuk istirahat di saat sedang belajar. Selama ini dia bahkan tak akan bersikap lembut saat melihatku bermain-main. Tapi sudahlah, aku anggap ini sebuah kesenangan dan kembali ke kamarku. aku ingin tidur karena terlalu lelah dengan semua kebosanan hutan dan rumah besar ini. Aku memang merasa sangat bahagia bisa mendapatkan segalanya, lebih dari yang pernah berani kuharapkan. Tapi apa gunanya saat tak bisa digunakan atau diperlihatkan? Rasanya hampa. Seperti vas tanpa bunga. Aku membuang tubuhku ke atas tempat tidur karena rasa kantuk yang mendadak memberatkan pelupuk mataku. Dengan mudah rasanya jiwaku pergi dan melayang hingga tak tahu aku hidup atau mati. Semua tempat rasanya berwarna putih, terselubungi kain-kain putih transparan yang menjuntai panjang lalu meliuk-liuk menyelubungiku. Aku merasa terperangkap di tempat yang sangat sunyi. Hanya terdengar gemuruh suara angin yang sedang berputar-putar. Apakah aku sedang bermimpi? Mimpi ini aneh. Tapi semua mimpi memang aneh. "Apa kau menyukai semuanya?" suara jernih. Suara air yang berjatuhan menitik ke tengah kolam itu datang lagi. Tapi di mana? Kenapa aku tidak bisa melihatnya di antara tutupan kain ini. Apakah aku bisa keluar dari sini?. "Kau... Kau yang tempo hari itu bukan?" "Bagaimana menurutmu?" balasnya dengan nada tenang, tapi sulit mengambarkan ekspresinya tanpa melihat raut wajahnya. Meskipun aku mencoba mengingat bayangan dirinya sebelumnya, rasanya tetap tak bisa kubayangkan dengan baik. "Kurasa iya. Apakah di dalam badai saat itu juga kau menyelamatkan aku?" "Kau bisa memujiku untuk itu" "Terima kasih. Bagaimana kalau begitu?" suara tawa yang lembut berpadu suara angin dan melingkupiku. "Aku tidak butuh rasa terima kasih karena tidak melakukan segala hal cuma-cuma" "Lalu, apa kau meminta bayaran tertentu? Untuk hal yang kau lakukan, jika itu dalam bentuk koin emas, aku tidak punya" lagi, tawa lembutnya menggema. Sulit untukku menggambarkannya. "Aku memiliki banyak emas dan tidak butuh lebih lagi. Aku menginginkan hal lain" nada suaranya berubah. Bergetar, tegas tapi mengerikan. "Apa itu?" "Akan kuceritakan saat kita bertemu" nada suaranya kembali melembut. "Kapan?" "Kau akan tahu kapan" "Apa aku bisa melihat wajahmu? Aku sangat ingin tahu seperti apa dirimu. Apakah kau menakutkan seperti dalam bayanganku? Aku tahu jika kau bisa melakukan semua ini, kupikir kau bukan manusia biasa" aku menunggu jawaban darinya. Tak ada balasan, kupikir ia telah menghilang, karena hanya ada suara-suara dari angin dan getaran-getaran hampa dari rentetan kain di sekeliling. Bunyi meletup besar, pelan, berulang beberapa kali hingga tak ada suara sama sekali dan kain-kain yang memenjarakanku terkulai lemas. Suasana mendadak terasa begitu dingin, hampa, kosong, muram dan mengerikan. Semua keributan barusan enyah, seperti telah dicuri. Tak terdengar apa-apa. Aku hanya bisa mendengar suara nafasku, dan bunyi debaran jantungku yang meletup-letup seperti bunyi jarum jam. Perasaanku merasa tak enak. Kehampaan ini membuatku pilu hingga ingin menjerit, tapi tidak bisa. Ketakutan mencengkram batinku, tubuhku, mulutku. Aku terkulai, layu seperti sebatang bunga kehilangan air. Tak berdaya dan penuh kecemasan tanpa mengerti perasaan yang serupa bulatan benang kusut dalam dadaku ini. Angin begitu kencang dan menampar tubuhku, datang entah dari mana. Begitu cepat, datang seperti kilat di siang bolong. Membuat helaian kain yang tak berdaya itu kemudian terangkat pelan dan mulai mengamuk bersama angin. Aku mangangkat tanganku dan melindungi wajahku dari sergapan badai yang tiba-tiba. Kain itu terus bergolak seolah akan terampas, satu demi satu melonggar dan terlepas ke udara yang hampa, bertebaran seperti gerombolan burung yang memenuhi udara. Aku tercengang memperhatikan arahnya pergi. Sesuatu membuatku merasa tak tenang, seolah ada objek dari belakangku sedang memaksaku berbalik untuk melihatnya. Tarikan kuat yang tak bisa di jelaskan dan membuatku menyerah pada hasrat dan keingin tahuanku yang seolah berpadu di waktu yang serupa. Mengikuti perasaanku, aku melirik. Seorang pria dalam setelan jas hitam dan kemeja putih berkerah tinggi yang tertutup sebuah bros bulat emas sedang memerhatikanku dari mata hazelnya yang seperti sinar matahari sedang membakar langit. Aku terpaku memandangi wajahnya. Sinar matanya memenjarakanku, membuatku tak berdaya sama sekali. Dia seperti menggenggamku ke dalam sapuan matanya yang berkedip. Aku ingin mendekat padanya, entah demi alasan apa, tapi aku begitu ingin melihat bayangan diriku di sana. Di sudut matanya yang berbianar begitu elok, seperti serpihan daun musim gugur yang menangkan jiwaku tapi mengecilkannya begitu rupa di kesempatan yang sama. Ku beranikan diriku beranjak ke sisinya, tepat saat aku akan meraih wajahnya yang bersinar, kedua mataku membuka lebar. Aku terduduk kesal. Kenapa aku bermimpi begitu tiba-tiba tapi lekas bangun juga begitu tiba-tiba. Tidak bisakah aku tidur lebih lama lagi dan menatap wajah pria itu lebih lama?. "Nona" aku berbalik ke sudut ruangan. Di sana sudah ada seorang gadis muda, berkulit coklat dengan rambut panjang terikat ekor kuda. Mengenakan gaun biru berkerah panjang dengan celemek putih dan sepatu kayu. Wajahnya tampak kasar, dengan mata biru dan rahang tegas dan bibir coklat agak tebal. Aku penasaran padanya. Ini pertama kalinya aku melihat dia di sini. "Siapa kau?" mata birunya berubah sendu, seketika ia menyembunyikan wajahnya dengan merunduk memandang ke lantai "Maafkan saya sudah menggangu. Saya datang untuk membangunkan anda makan malam. Tapi tidak ada jawaban, maka saya lekas masuk. Saya benar-benar menyesal" saat dia mengatakan dia menyesal, aku tahu dia tidak bercanda dan aku tidak mau terlihat sudah begitu jahat pada gadis itu. "Siapa namamu?" "Lanni" jawabnya dengan suara lirih dan sedikit terbatah. "Berapa usiamu?" "17 tahun" aku sedikit terkejut mendengar ia menyebutkan usianya, karena wajahnya tampak lebih tua, bahkan aku pikir ia berusia 20 tahun. Ternyata dia jauh lebih mudah dariku. Tapi aku cukup senang, setidaknya ada seseorang yang berusia hampir sebaya denganku. Tidak seperti nyonya Anet dan Tuan Leon. "Aku Anna, umurku 18 tahun. Aku belum pernah melihatmu di sini. Kapan kau datang?" "Saya pelayan baru, datang beberapa jam lalu, atas perintah tuan" aku terheran sekaligus penasaran saat ia menyebut kata 'tuan'. Rasanya keingintahuanku menggila dan ingin mencaritahu, siapa tuan yang ia maksud dalam hal ini. "Tuan siapa?" balasku mencoba memancingnya bicara, karena aku tidak akan mendapatkan jawaban itu dari Tuan Leon atau Nyonya Anet. Mereka menutup rapat mulut mereka untukku. Aku berharap darinya sekarang. "Saya tidak bisa mengatakannya karena saya dilarang untuk itu" "Ah, sudah kuduga" aku seharusnya tidak terkejut dengan jawabannya. Kedua orang itu juga akan menyebutkan hal serupa saat aku bertanya. Memuakkan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN