Sebelas

2189 Kata
Ada hal lain yang menggangu batin gadis itu setelah bertemu dengan tuan. Aku mengira, tuan sudah mengatakan semua yang perlu dikatakannya dan semua ucapannya menjebak gadis itu dalam sebuah kebimbangan, jika dirinya tak memiliki hal yang benar-benar diinginkan olehnya. Aku berharap dalam renungannya sendiri, ia bisa menolak hal ini. Aku berkeinginan gadis naif itu bisa lepas dari cengkraman kegelapan yang akan membuatnya hidup dalam kepiluan dibandingkan hitung kesenangan dunia. Mungkin, ini adalah bentuk lain dari pemberontakan batinku, ketidak patuhanku pada tuan yang aku patuhi selama hitungan waktu yang tak mampu lagi teraba karena jalannya hari yang sudah menumpuk tinggi. Hari-hari terus berlalu, setelah kemarin ada besok dan berubah kemudian menjadi lusa. Anna jatuh dalam renungannya dan menghabiskan waktu bukan lagi dengan potongan kertas dan puisi, tapi dengan bunga-bunga. Dia melihat mawar merah dengan kesedihan, bunga daisy dengan sayu dan bunga violet dengan diam. Lanni selalu menemaninya menatap mawar, dan saat ia melihatku ia terdiam. Aku tahu ada yang ingin ditanyakan mata coklatnya itu, tapi bibir merah mudanya merahasiakan banyak hal. Lebih banyak dari isi lautan paling dalam. Aku hanya perlu menunggu sampai kesabarannya habis, dan selama itu, aku tetap memberinya obat yang akan membantunya lelap dan tertidur, meski setelah terbangun, aku tahu dia tak merasa lebih baik. Pada hari berikutnya, ketika pagi masih berisi embun yang basah di ujung dedaunan dan ilalang. Gadis itu datang menghampiriku yang saat itu sedang menata buku-buku di perpustakan. Aku mendengar langkah kakinya yang ragu-ragu dan ujung gaun merah mudanya yang menyeret berat di atas lantai marmer. Aku melirik sejenak dari ujung mataku tanpa menghentikan kegitanku, sampai ia bicara dengan suara bernada datar, terdengar ragu dan canggung. "Bisa aku bicara denganmu?" setelah berujar demikian aku berbalik dan menatap gadis itu. Saat itu tak ada semangat di matanya. Kedua pasang sorot matanya jatuh memandang ke atas marmer dengan kedua tangan saling merangkul, bergumul penuh ketidak tenangan. Sedalam apa kata-kata tuan sudah membebani gadis itu, aku pun tak mengerti sama sekali. "Silahkan!" ia lalu menarik sebuah kursi dan mencoba membuat dirinya setenang dan senyaman mungkin, meski kupikir itu tak berjalan sesuai keinginannya. "Ini sudah hampir 4 minggu setelah pria itu datang. Dia membicarakan sesuatu kepadaku mengenai sebuah kontrak. Perjanjian! Kau pasti tahu, aku belum menjawab semua itu, tapi aku tahu, aku akan menjawabnya ketika ia datang. Tapi, diam-diam dalam hatiku aku merasa ragu, apakah aku bersedia terikat kontrak dengannya, bahkan dia sendiri belum mengatakan keinginannya dan menunggu aku mengatakan keinginanku lebih dulu" "Apa anda sudah menentukan keinginan anda?" tatap matanya yang ragu-ragu lalu ia lemparkan kepadaku. Sinar matanya penuh kebingungan disertai kediapan mata yang lembut. "Tidak, aku belum tahu apa yang ingin aku minta darinya dan karena itu aku ingin tahu sesuatu. Apa kau juga membuat kontrak dengannya? Apa yang kau minta darinya dan apa yang dia inginkan darimu?" aku terdiam mendengar berondongan pertanyaan yang penuh rasa ketidak sabaran itu. Aku menatap ke jendela yang masih tertutup tirai berwarna merah yang menjuntai lepas ke lantai sambil membayangkan kabut-kabut di hutan. "Saya membuat kontrak dengan tuan sudah sangat lama dan sudah lupa kapan pastinya kontrak itu terjadi. Semua terjadi begitu saja tanpa pertimbangan. Apa yang tuan inginkan bisa berbeda-beda pada tiap satu orang, tergantung kehendak hatinya. Meski sebagian besar kontrak yang ia buat berkaitan dengan jiwa manusia. Sebatas itulah yang saya pahami" "Lalu, apa keinginan terbesarmu sampai kau mau menjual jiwamu?" kata-katanya membuatku terusik dan kembali harus membuka sejarah lama yang ingin kulupakan, meski aku tahu tidak mungkin melupakan sesuatu hanya karena aku merasa kenangan itu terlalu gelap atau menyakitkan untuk digambarkan, meski sudah memakan waktu yang begitu lama. Jika itu merupakan sebatang pohon tua, mungkin sudah lapuk dan hilang di permukaan tanah. Tapi kejadian dalam ingatanku selalu terasa seperti kemarin, tak ubahnya biji yang kemudian tumbuh perlahan menjadi sebuah bibit tanaman yang menanamkan akarnya menghujam dan membusuk ke dalam tanah yang gelap dan lembab. "Saya membuat dua permintaan pada tuan, yang pertama untuk hidup saya sendiri dan yang kedua demi menyelamatkan kehidupan seseorang" "Seseorang?" aku menatap ke arah Anna, aku tahu dia mungkin ingin tahu hal itu lebih banyak. Akantetapi, aku kira aku sudah mengatakan lebih banyak dari yang seharusnya bisa ia pahami dan mengerti. "Saya permisi. Ada hal yang harus saya lakukan!" Aku meletakkan tumpukan buku di atas meja dan meninggalkan ruangan itu dan memasuki koridor. Koridor panjang berisi ingatan masa laluku yang tajam. Aku berusia 8 tahun ketika kontrak pertama aku lakukan dengan menjual jiwaku demi semua kenyamanan hidup yang bisa aku dapati setelah bencana kematian massal dan penyakit pes yang membuat banyak mayat di bakar atau di buang di bawah jembatan. Aku hanya satu dari banyak orang yang bisa bertahan dan keluar dari kegelapan. Rasa takut itu dan kecemasan yang mengikuti setiap orang seperti bayangan gelap yang muncul tiap cahaya mengingatkan pada kematian yang pahit begitu menekan. Aku hidup dengan merasakan begitu banyak kehilangan dan ada sebuah rasa kehilangan yang begitu getir dikemudian hari yang membuatku menyadari jika, takdir dari Tuhan memang selalu mewariskan kebenaran dan bukan nafsu sesat yang mengkhianati. Mengkhianati keinginanku untuk hidup saat ini dan berpikir, jika tak semestinya ada kontrak yang pertama dan membuat kontrak berikutnya dan menyengsarakan, bukan semata aku tapi orang lain sesuadahku juga terseret dalam takdirku. Darahku mengotori kehidupan lain yang lebih suci.Jika masa itu aku menginginkan kematian, tentunya mimpi burukku sudah lama berakhir di musim hujan beberapa abad sebelumnya. Apakah ini hukuman dari Tuhan untukku? Aku bahkan sudah lupa, bagaimana menyebut-Nya dengan baik. Aku lupa dan menyerah, lalu memilih hidup dalam labirin kegelapan di mana aku tak mendapati jasadku lagi. Seperti itulah aku putuskan untuk menghukum diriku sendiri. Tapi hukuman itu tidak memberikan rasa sakit, tapi mewariskan lebih banyak penyesalan. ** Aku menuju ke kamar gadis itu. Ini sudah jam 09.00 malam, sudah waktunya gadis itu untuk meminum obatnya lalu tidur. Saat aku menuju ke kamarnya, pintu masih membuka lebar, ku lihat dia sedang duduk di sebuah kursi goyang dengan sebuah buku di tangannya. Aku mendekat ke arahnya, Lanni berdiri di kursi di samping pintu, hingga aku tak begitu menyadari keberadaannya sampai aku melirik sebentar ke sana dari ujung mataku. "Kau membawa obat untukku?" tanyanya lalu menelungkupkan buku itu dalam pangkuannya yang dibalut gaun tidur dari bahan cotton berwarna putih. "Benar!" ia menggoyangkan kursi duduknya lebih cepat, seperti anak kecil dalam sebuah ranjang buaian kecil. Matanya melirik keluar ke arah taman dari balkon yang pintunya masih belum menutup. Angin malam berhembus dan menerpa gorden putih pucat yang berwarna kekuningan terkena sinar bulan sempurna di atas langit. "Mm, mm, ya... Kau tahu, aku habis membaca buku La parure, untuk sesaat aku pikir aku ini mirip dengan Matilda. Hasrat yang dia miliki sama denganku! Lalu karena hasratnya pada kehidupan, aku mengira membuat dia jadi tidak mampu lagi menikmati hidup sesudahnya" aku mendengarnya membuang nafas berat, jemarinya saling rangkul dan bergumul bersama rasa ragu dalam benaknya. Aku tidak memiliki kalimat menghibur apa pun untuknya. Keputusan adalah hal mutlak dirinya sebelum nanti dia kehilangan kemerdekaan untuk menjalani kehidupan yang diinginkannya dimuka bumi. "Apa anda tidak menikmati hidup anda di sini?" bibirnya berdecak, bunyi kursinya terus berderak menyentuh lantai. "Hidupku selalu sama sejak dulu, dari aku masih berada di St. Petter sampai aku tiba di sini. Yang aku lakukan tiap hari hanya menatap jendela seperti ini. Dulu aku bermimpi untuk melompati jendela lalu berjalan mengelilingi seluruh desa. Sekarang aku memiliki kaki, tetap saja tidak bisa pergi kemanapun. Bukan kah hal itu sangat lucu? Setelah memiliki kaki aku menginginkan hal lain yang lebih. Semakin aku mendapatkan sesuatu semakin aku pikir aku tidak memiliki sesuatu," Anna berbalik dan memberikan sebaris senyum tipis yang hangat dan memandangku dengan mata bersinar terang. Aku merasa dia seperti sedang berterimakasih padaku. Entahlah untuk alasan apa aku menilai arti senyum bibir merah muda gadis itu dengan demikian. "Simpanlah obat itu, malam ini aku ingin berpikir dan merenung mengenai sesuatu!" Aku mengerti keputusannya dan tidak mau memaksakan sebuah kebaikan untuknya. Aku meninggalkan ruangan ini dan mengingatkan Lanni untuk terus menjaganya, jangan sampai ia tertidur dan melupakan gadis itu, atau kami semua akan mendapatkan sebuah masalah besar. Aku menuju ke lantai bawah, akan meletakkan obat dalam botol berwarna gelap itu kemabali ke tempat obat di ruang perpustakaan. Di ujung lorong, aku mendengar langkah dari sepatu kulit milik tuan. Aku menghentikan langkahku ketika sebentar lagi akan tiba di pintu merah yang aku tuju. "Dia belum memberitahu jawabannya?" aku memandangi lantai dengan terpaku ketika pertanyaan itu di lontarkan tuan padaku. Aku tidak mengerti kenapa dia menanyakan hal demikian padaku. Langkah tuan melewati bahuku, dia memasuki perpustakaan saat kemudian aku menyusulnya dan berdiri dekat pintu. Tuan duduk di salah satu kursi dan menyender dengan senyaman mungkin pada kursi kayu jati. Di atas meja masih ada gelas teh milik Anna yang belum dibereskan, masih tergeletak di sana. "Dia belum memberitahu apa-apa, dia masih berpikir. Sampai saat ini dia juga masih berpikir dan tidak ingin beristirahat" samar-samar aku mendengar bunyi gelas mendenting pelan dan suara tuan berdengus tak sabar. "Menurutmu dia akan menerimanya?" aku merasa ragu untuk mejawab pertanyaannya ini "Bicaralah, kau menemani dia sepanjang hari di sini. Dari raut wajahnya, kau seharusnya bisa menebak apayang dipikirkannya" "Mungkin" tak ada lagi suara terdengar setelahnya, sampai kemudian bunyi gelas berdenting pelan lagi di atas meja. Aku tidak mengerti apa yang terjadi. "Teh ini terasa terlalu manis saat dingin, jangan buat teh hitam dengan banyak gula. Buatkan teh teh hijau sesekali tanpa gula!" "Saya mengerti" jemari tuan mulai meletuki meja dengan nada pelan seperti bunyi jarum jam yang sedang menghitung sesuatu dengan hati-hati. Aku tidak mengerti apa yang dipirkannya saat ini. Aku memang tak pernah mengetahui apa-apa tentangnya, jadi harusnya aku tak perlu berpikir keras hanya untuk menilik isi kepalanya. Bunyi meletuk itu mendadak terhenti dan aku tetibanya merasakan kecemasan, pertanda apa ini?. "Aku mengerti bahwa sekalipun kau menjual jiwamu padaku, bukan berarti kau dan nuranimu sepenuhnya mutlak setia padaku. Tapi untuk kali ini, aku harap kau tidak mengkhianatiku. Jika kau punya ambisi dan keinginan lain, sebaiknya kau pendam dalam-dalam, agar kau atau siapa pun tidak terluka lebih jauh. Takdir akan berjalan sebagaimana adanya, jadi biarkan!"dia tidak marah, dia mengingatkanku dengan cara yang sedikit lebih baik dari sebelumnya. Kukira dia akan menghukumku saat ini. Di luar dugaanku, dia bersikap lebih ramah, setidaknya untuk saat ini ku kira begitu. "Saya mengerti" tuan berlalu pergi kemudian setelah mengatakan semua itu. Tapi setelahnya aku berpikir, apakah kedatangannya adalah untuk mempertanyakan mengenai kontrak itu? apakah tuan benar-benar sudah begitu kehilangan kesabarannya sejak ia datang pada beberapa waktu sebelumnya? Aku tidak bisa memastikan lebih jauh keadaan ini. Tapi seperti yang sudah diingatkannya padaku, aku tidak bisa ikut campur lebih jauh dan hanya bisa menunggu mengenai kejadian di hari berikutnya. ** Sulit untuk menutup mata saat seseorang terjebak dalam kerasahannya untuk semua pertanyaan yang tak mampu di jawab oleh diri sendiri. Tidak mampu mengendalikan hasrat akan pengetahuan hari esok yang gelap gulita tak ubahnya malam yang tak akan menemukan fajar. Aku ingin tahu apa yang akan terjadi setelah hari ini berlalu, setelah kegelapan ini sirna utnuk mengetahui takdir sesudahnya. Dan pagi itu datang juga, lebih cepat dari yang kuharapkan sebelumnya. Anna bertemu dengan tuan di meja makan pagi ini. Masih terlalu pagi menurutku dan gadis itu tampak tak begitu segar,matanya sayu dengan kulit di bagian bawah matanya yang lebih gelap dan langkahnya yang jauh lebih pelan dari biasanya, tanpa tenaga dan antusias. Aku yakin ia tak tidur sama sekali. Itu buruk untuknya. Saat ia melihat tuan di meja makan, mata gadis itu bersinar terang, dan antusias mendadak muncul di sinar matanya yang coklat terang dan menyala, seperti anak kecil mendapati sebuah hadiah yang ia sukai di depan matanya. Tapi kesenangan itu hanya sementara, sesuatu menghilangkan rasa gembira yang ia perlihatkan dan berubah pada raut wajah murung yang selalu diperlihatkannya tempo hari setelah terakhir kali bertemu dengan tuan. Mendadak aku ingin tahu, apakah gadis itu sudah memiliki jawaban mengenai keinginannya? Apakah dia siap membuat kontrak ataukah ia bersedia kehilangan segalanya? Ada apa denganku, kenapa aku begitu tertarik pada semua yang bukan lagi menjadi urusanku, tidak bisakah aku berhenti merepotkan diriku dengan hal ini?. Aku tidak bisa kehilangan rasa peduliku karena... Aku memperhatikan dari ujung tembok interaksi mereka yang tak ada artinya sama sekali. Anna selalu murung dan tuan diam saja. Ia hanya duduk sambil menunggu gadis itu menghabiskan menu sarapan roti gandum dan telur goreng di piringnya, tapi dari raut wajahnya, sama sekali tak ada selera. Ia menutup bibirnya sesekali, kupikir ia akan memuntahkan makanannya sebentar lagi. Tapi kelihatannya dia begitu menahan diri di depan tuan sambil mencengkrami jemarinya kuat-kuat di atas meja. "Ikut aku!" tuan berdiri dari duduknya tiba-tiba, hingga suara kursinya bersinggungan kasar kelantai dan membuat bunyi menderit yang sangat tajam. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi sekarang, namun Anna yang bahkan belum menghabiskan seluruh sarapannya mengikuti langkahnya dengan berat yang terdengar menyeret ke lantai. Aku mengikuti mereka, namun mendadak aku merasakan tuan menatap sangat tajam ke arahku, hingga aku menghentikan langkahku di ujung lorong. Tuan ingin berbicara secara pribadi, dan aku tidak tahu apa yang akan terjadi sampai semuanya terjadi. Aku hanya bisa menungginya di sini dan berharap anak itu bisa membebaskan dirinya dari perasaan apa pun yang ia miliki dan menjalani hidup sebagai manusia yang masih merupakan manusia. Aku peduli padanya, jauh di dalam lubuk hatiku, aku mencintainya. Aku tidak bisa lagi berdoa pada Tuhan, tapi bila seandainya bisa, aku harap dia akan menyelamatkannya sungguh... Ini adalah ketulusan terbesar yang pernah aku miliki dalam hidup kepada manusia lainnya sejak aku tak lagi merdeka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN