Sepuluh

1897 Kata
Aku tahu, pria tua itu nampak cemas dengan keadaan diriku belakangan ini. Aku juga tak mengerti apa yang sedang terjadi padaku sejak siang hari di mana aku bertemu seorang asing bermata merah itu. Sesekali ucapannya kala itu, masih tergambar jelas dalam dengungan daun telingaku dan terus terulang dalam pikiranku, hingga selalu tersirat hal tersebut terjadi pada hari sebelumnya dan hari setelahnya. Ketakutan mulai terlalu sering melingkupi malam-malamku, sekali pun begitu aku menyembunyikannya baik-baik sebagai sebuah kengerian yang coba aku selesaikan sendiri.Tapi sampai detik ini, aku masih belum mampu mengenyahkan kecemasan yang merantaiku. Dalam diamku, aku mengamati tuan Leon dan Lanni yang selalu menjagaku. Hari ini aku jengah dan ingin menghirup udara pagi. Tapi aku tak tahu, apakah tuan Leon akan mengijinkanku keluar berjalan-jalan. Dia terlalu membatasi ruang gerakku, seolah aku akan melarikan diri. Dia harusnya tahu jelas, jika itu tidak akan terjadi. "Aku ingin keluar berjalan-jalan" aku melirik ke arah tuan Leon yang tengah berdiri tepat di depanku. Sekilas ia melirik dan wajah tuanya yang sudah berusia setengah abad itu terdiam dengan menatap sekilas ke arah tembok. "Saya akan menemani anda keluar berjalan-jalan" ujarnya dengan dilingkupi nada keraguan-raguan dari suaranya yang serak dan terdengar berat. Kuraih gelas teh yang telah di isi Lanni, pelayan setia sekaligus kawan baikku. Ia berdiri di sebelahku dan menyajikan kudapan kue pie hangat. Hanya beberapa menit aku menikmatinya karena ingin lekas keluar mansion, menghirup lekat bau musim semi dan sinar matahari yang hangat. Nyonya Anet mengambilkan mantelku, memakaikannya sebelum aku pergi. Tuan Leon berjalan di depanku, menuntun arah ke luar mansion berbatu abu-abu kecoklatan dengan kubah-kubahnya yang tinggi, pilarnya yang kokoh, jendelanya yang lebar berukir dan asap tipis-tipis dari cerobong asapnya. Aku menatapnya sejenak, mansion yang mirip dengan gambaran rumah para dewa dalam mitologi Yunani. Untuk pertama kali kulihat tempat itu setelah tiba dan tinggal semasa setahun di sini. Waktu yang cukup lama hanya untuk tahu bentukannya, sama seperti pemiliknya. Memasuki hutan, kami melintasi pohon hijau cemara, eucarytus, oak, maple dan beberapa pohon buah yang tumbuh subur dan liar. Ketika sampai di tengah hutan, kami berjalan di sepanjang jalan setapak berbatu kecil terselubungi rumput hijau yang kemudian jatuh terkulai ketika kakiku menginjakknya. Sepanjang jalan aku hanya sibuk memandangi tempat itu yang sedikit cerah dengan bias-bias matahari di celah daunnya. Suara burung bertengger dan mengipas sayapnya begitu ramai di pucuk-pucuk pohon yang tinggi. Mereka nampak asing padaku saat kupikir mereka megamatiku dengan tajam. Aku melangkah cepat dan menyusul tuan Leon di depanku karena mendadak merasa cemas pada tatapan itu. Pria tua itu hanya memandangiku sejenak. Aku memasang wajah tenang dan memandang ke bawah kakiku. Hanya menengok sesekali. "Akan kemana kita?" kataku ingin tahu pada pria pria tua yang selalu nampak serius dan tanpa senyum. "Ada danau tak jauh di pinggir hutan, saya kira anda akan senang jika melihantya" aku berdiam setelahnya dan tak bertanya lagi. Aku tidak tahu apakah aku benar-benar akan gembira setelah melihat tempat itu atau tidak, karena sejujurnya apa yang kupikir adalah kesenangan adalah melihat sinar mata hazel yang selalu membakarku. Tiba di ujung jalan setapak masih ada rimbun pohon, meski tak sepadat barusan namun, pohon di tempat itu lebih tinggi dan berdaun jarang dengan batangnya yang berwarna abu-abu pucat, panjang dan kurus. Setelah melintasinya, dari jauh bayangan air yang berkilau di terpa sinar matahari keemasan memantul-mantul dan menyambar di ujung mataku. Warnanya menyilaukan tapi indah, seperti warna emas yang sedang berhamburan. Airnya benar-benar jernih saat aku mendekat, hingga ikan-ikan di dalamnya tampak jelas berenang dan kadang bersembunyi di antara sela batu dan rumput-rumput hijau yang menjuntai turun dari pinggir cekungan danaunya. Di seberang danau yang biru, masih tertutupi hutan yang lebat dan nampak lebih gelap dan hijau dari hutan yang kulalui barusan tadi. Suasananya sangat sejuk dengan iringan angin bulan Maret, beberapa daun kekuningan jatuh ke atas air, membuatnya beriak saat aku bekaca di sana. Untuk sesaat aku merasa hanyut pada kesenduan dan sunyi yang menenangkan tempat ini, hingga aku lupa pada semua gelisahku pada hari-hari sebelumnya. Tempat ini seolah memiliki sihirnya sendiri semakin aku memandanginya semakin aku terjebak di dalamnya. "Anda menyukai tempat ini?" suara serak, berat itu terdengar dari balik punggungku. Langkahnya terdengar ribut ketika menginjaki tanahnya yang berhamburan beberapa batu kerikil kecil. "Iya tempat ini sangat indah. Apa kau sering kemari?" "Terkadang, bersama tuan" mendengar ucapannya, ada rasa ingin tahu kemudian menyeruak dalam batinku mengenai kehidupan pria tua ini. Dia begitu setia pada pria itu. "Saat aku datang kemari dan mendapati semua keajaiban ini. Aku tahu, pria itu bukan orang biasa, meski aku tak paham lebih banyak mengenai dia. Mungkin tak sebanyak dirimu dan lainnya yang sudah bekerja selama bertahun-tahun dengannya" dalam sunyi itu aku mendengar nafasnya membuang pelan tanpa tenaga. "Tidak, saya tidak begitu banyak tahu mengenai tuan saya. Saya hanya bekerja untuknya dan mematuhi kata-katanya" Aku kemudian berbalik tiba-tiba dan menatap pria tua itu. Tak ada ekspresi apa pun melintas di raut mukanya yang dingin. Matanya melihat ke arah aliran air danau yang tenang dengan bergelimang sendu yang menyedihkan. Raut wajahnya di penuhi kemuraman yang tak terkatakan dan terkatup rapat di bibirnya yang berkeriput. "Lalu, seperti apa hidupmu sebelum kemari? Maksudku, bukankah semua orang pasti punya masa lalu sebelum berada di masa depan?" lelaki tua itu diam saja. Ia beranjak beberapa langkah ke depan dan memetik sebuah bunga merah muda dari daun putri malu yang tersembunyi di antara rumput liar lainnya. Aku berbalik dan ikut mengamati. Kediamannya, seolah menyiratkan kemalangan yang tak ingin di utarakan olehnya. Aku masih diam dan mendengarkan sayup-saayup bunyi angin yang menggetarkan dahan pohon dan rerumputan yang kaku. "Saya tentu memiliki masa lalu, sama seperti ucapan nona. Masa lalu yang penuh dengan penyesalan yang tak bisa diutarakan, karena mengingatnya sudah cukup menyesakkan d**a" aku terdiam, rasa ingin tahuku menjadi sirna, berubah rasa penyesalan atas kelancanganku. Aku tidak bermaksud membuatnya bercerita lebih jauh. "Aku..." belum sempat aku mengutarakan permintaan maafku, ia berbalik dan memberikan bunga puteri malu itu padaku. "Orang-orang selalu mengira jika bunga merah muda puteri malu adalah dendelion karena mereka serupa. Sebaiknya kita kembali nona!" pria itu bergegas pergi. Aku memandangi bunga merah muda lembut itu sambil mencoba menebak maksud ucapannya. Di saat yang sama, kukira aku sudah membuat ia merasa tak nyaman akan pertanyaanku barusan saja. ** Tiba kembali ke depan mansion aku mendapati kereta kuda berwarna merah dengan ditarik dua ekor kuda hitam berukuran besar dengan surai-surai panjang yang berkilau. Tubuhnya berdiri angkuh dan menonjolkan otot-ototnya yang kuat pada paha dan dadanya. Suaranya memekik tinggi sesekali, hingga burung-burung yang bertengger di pohon-pohon memilih lari dan kupu-kupu di taman bunga pergi menjauh. Kuda itu berdiri di depan pagar besi bercat hitam dengan ukiran rumit penghiasnya. Aku mengamati kuda itu, sambil bertanya sendiri, siapa yang datang ke mansion ini? Aku tak berpikir jika akan ada orang lain yang tahu atau bisa sampai ke tempat ini. Mengingat aku sendiri tidak tahu bagaimana bisa berada di tempat misterius ini. Kulangkahkan kakiku ragu-ragu menginjak hamparan rumput hijau. Tepat di muka pintu kudapati pria misterius dengan mata hazel itu sudah berdiri dan sedang berbicara pada tuan Leon. Jantungku berdetak kencang saat melihatnya bahkan dari jarak yang cukup jauh. Bagaimana gerak-geriknya, sorot matanya, gerak jemarinya sungguh mempengaruhi batinku yang hanya mampu memendam dalam perasaanku. Aku tidak tahu apakah sebuah sentuhan tempohari membuat perasaanku sampai padanya, atau dia hanya akan berpikir jika itu sebuah ketidak sengajaan. Lalu, apa pula yang dipikrkannya tentangku, apakah dia akan menilai tindakanku sebagai sebuah kelancangan dan tanpa moral? Kenapa aku baru menggugat pertanyaan itu sekarang, mengapa bukan sedetik sebelumnya atau berminggu sebelumnya?. "Bagaimana keadaanmu?" aku terkejut. Nafasku terasa akan berhenti. Bau tubuhnya menyeruak ke tengah udara, tubuhnya berdiri tepat di depan mataku. Aku gugup dan tak tahu akan melakukan apa. "Aku tidak apa-apa" terangku tanpa berani menatap sinar matanya yang akan membuatku tergelincir dalam kesalahan seperti sebelumnya. Tanpa kuduga, jemarinya yang hangat menyentuh wajahku. Sentuhan hangat, melindungi dan misterius itu seketika menyebar ke tubuhku. Jantungku, tubuhku, seluruhnya bergetar olehnya. Dia menghapus keresahanku dalam satu sapuan hangat jemarinya. Aku terpaku dan kehingan kekuatanku. "Masuklah" dia menarik jemarinya pergi dan ketenanganku pun ikut pergi dariku. Kuikuti langkahnya kala itu yang menerobos ruangan demi ruangan, pintu demi pintu dan terhenti di sebuah pintu merah besar. Pintu itu membuka begitu saja, dan bau bunga camelia menyeruak ke hidungku. Ruangan besar dengan sebuah kursi dan meja kerja yang tertata rapi degan tirai-tirai tinggi penutup jendela. Kuinjakkan kakiku pada karpet persianya yang lembut berwarna merah, seperti sedang menginjak awan di langit. Pria tanpa nama itu, membuang tubuhnya ke atas kursi, sorot matanya ia tujukan tepat ke arahku. Aku memerhatikan ke arah lain demi menyembunyikan rasa gugup yang merajai batin kecilku. "Duduklah!" menurut ucapannya, aku berjalan ke sisinya. Duduk dengan berhadapan langsung menatap wajahnya dan mata hazelnya yang seperi warna pada daun musim gugur. Aku terlena sesaat. "Kau pasti sering bermimpi buruk belakangan ini" aku terhenyak mendengar tebakannya saat itu. kupandngi raut wajahnya yang tenang dan sulit k****a. "Tuan Leon dan Lanni menjagaku, aku tidak lagi sering bermimpi buruk" terangku dengan hati-hati dan sedikit canggung sambil leat-lekat mengepal tanganku untuk menghilangkan kegugupan. "Aku tahu tidak demikian, kau mungkin tak bermimpi buruk tapi akan selalu merasa tak tenang. Jika kau merasa tak nyaman pada sesuatu, kau boleh mengatakannya padaku" mataku perlahan menyendu dan menatap kuku jemarinya yang mengilap. "Kau jarang berada di sini" "Apa itu membuatmu kecewa?" aku terdiam dan tak berani menjawab pertanyaannya karena merasa sangat malu mengakuinya. "Katakan padaku, kenapa ini terjadi padaku? Sejak kau datang, kau belum menjelaskan apa pun padaku" jelasku dengan nada menuntut. Kutatap wajahnya yang tampak tanpa dosa sama sekali, mengamati raut wajahku. Entah apa yang coba ia cari di sana. "Ah, jadi kau ingin tahu?" "Kau pikir aku tidak mau tahu?" ditariknya jemari panjangnya menopang dagunya dengan tanpa beban sama sekali. "Baiklah, kupikir ini juga merupakan waktu yang tepat untuk membicarakan hal ini. Pertemuan pertama kita bukanlah hal yang menyenangkan. Jadi apa yang ingin kau ketahui?" "Kenapa kau menyelamatkan aku, dan siapa kau, bagaimana bisa kau mengubah hidupku seperti itu?" suara tawanya yang lembut membahana ke seluruh penjuru ruangan. Suara tawa yang merambat dan jatuh dengan lembut seperti helaian kapas "Seperti ucapanku tempo hari, aku menolong bukan cuma-Cuma, ada harga yang harus kau bayar untuk semua yang kau miliki detik ini. Dan siapa aku, bukanlah hal penting, aku tidak tertarik dan tidak memiliki kewajiban menjelaskan diriku padamu. Yang bisa kau ketahui adalah, aku memiliki kuasa. Kuasa untuk mengubah hidupmu sesukaku! Selama kau bisa patuh pada keinginanku, hidupmu akan sangat sempurna!" ujarnya dengan begitu angkuh. Aku terhenyak, perasaanku seketika menjadi hambar mendengar kata-katanya barusan. Yah, aku tahu dia sudah pernah mengatakan hal itu, tapi mendengar ia mengulanginya lagi, aku kehilangan kata-kata "Lalu, apa yang kau inginkan dariku?" "Kau yang harus lebih dulu menemukan hal yang paling kau inginkan, setelah itu akan aku katakan keinginanku. Ini adalah sebuah perjanjian, ikatan kontrak yang akan terjalin antara kau dan aku, selamanya" "Kontrak?" balasku makin heran dan aku mendapati ia mendengus dengan nada tak sabar. Jemarinya mengetuki meja dengan tak tenang. "Seperti yang kau ketahui, kontrak adalah ikatan perjanjian di antara kita berdua, di mana aku akan menjamin semua hal yang kau perlukan untuk menunjang hidupmu, termasuk keselamatanmu" "Jika aku menolak?" sorot mata hazelnya yang tadinya penuh ketenangan berubah bergolak, menatap begitu tajam ke arahku seperti sebuah belatih yang dilempar tepat ke arahku. Di sertai raut wajah yang begitu sinis yang membungkam mulutku rapat-rapat. "Kau akan kehilangan segalanya. Tapi aku tidak akan segera memaksamu, kau bisa memikirkannya lebih dulu. Jika ada yang ingin kau ketahui, kau bisa tanyakan itu pada Leon!" ia pergi begitu saja setelah mengatakan semua itu. Aku bisa mendengar bunyi langkah sepatunya mengetuk lantai, di depan pintu, makin jauh dan meninggalkan aku seorang diri penuh tanya, bimbang dan perasaan takut yang sulit kukendalikan oleh batin kecilku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN