Sembilan

1519 Kata
Aku tidak tahu apa yang terjadi. Suara teriakan yang memilukan terdengar beberapa kali. Menusuk ketenangan siang hingga tembok-tembok ruangan terasa bergetar namun belum cukup menghilangkan sisa dengungannya yang masih memantul-mantul dan menari di tiap sudut, hingga burung-burung yang bertengger di pinggiran jendela kemudian terburu terbang dan melesat tinggi ke angkasa tanpa berkicau merdu. Aku melihat tuan keluar dari pintu ruangannya dengan terburu-buru. Langkahnya cepat dan terdengar tak sabar. Ia menutup pintu dengan sangat kasar, hingga suara kayu terbanting tak terelakkan lagi, membuat lampu-lampu dan hiasan dinding bergetar. Ia menapaki anak tangga satu persatu dan aku mengikutinya dari belakang dengan perasaan tak tenang. Di pintu kamar gadis itu, sudah berdiri palayan tua Anet dan Lanni, saling pandang dalam ekspresi kalut dan cemas tapi takut. Mereka segera menurunkan pandangan ketika tuan lewat di hadapan mereka. Tuan merangsek masuk. Suara teriakan dan tangis begitu pecah, mengerikan dan menyakitkan pula. Ketika pintu terbuka lebar, aku mengikuti tuan dan berdiri di ujung pintu. Aku menyorot ke sekeliling ruangan dan melihat bayangan gadis itu penuh kekalutan, ketakutan, cemas dan rasa sakit. Ia memegangi lehernya dengan bola mata yang seakan bisa melompat keluar. Tuan memandanginya, ia terpaku dengan sorot mata tajam tak berkedip. Buru-buru didekatinya gadis itu yang meronta kuat-kuat dan memberi perlawanan padanya, namun jelas kekuatan seperti itu sia-sia saja. Tuan mencengkramnya hingga Anna terdiam, tak cukup lama hingga dia memuntahkan begitu banyak darah dari bibirnya. Wajah tuan muram sekaligus geram. Kudapati ia menggigit bibir bawahnya tanpa sengaja. "Keluar kalian semua" perintahnya tanpa ampun. Buru-buru ku tutup pintu sementara yang lain mengikuti. Tak cukup lama setelah kami beranjak pergi, suara teriakan itu menghilang, bersisa ketenangan dan sunyi seperti sebelumnya.Aku seperti biasa menunggui di depan pintu tanpa tahu apa yang terjadi sesudahnya.                                                                                 ~0~ Untuk kali ini aku tak menunggu lama, hanya beberapa jam lalu tuan keluar dari kamar Anna. Pakaiannya penuh dengan darah segar. Suara tuan mendengus kesal dan sesekali mengumpat. Auranya benar-benar gelap hingga angin yang tadinya berembus menyejukkan berubah panas dan meyiksa saat ia lewat sekilas. "Perempuan j*****m itu akan membayar semuanya" kata tuan. Aku tidak bicara apa-apa, bergerak pun aku tidak berani. Keringat menggantung di dahiku karena takut. "Panggilkan pelayan dan minta mereka mengganti pakaiannya" aku baru bergerak setelah ia mengatakan perintahnya dengan nada gusar. "Saya mengerti" aku lekas menuju ke lantai bawah mencari para pelayan wanita barusan yang kuminta pergi. Tuan seperti biasa menemani gadis itu, tapi kali ini aku tak menungguinya karena tuan memintaku untuk datang dan mengingatkannya jikalau telah masuk waktu senja. Aku mengangguk paham dan menjauh. Selama itu pun, aku tak mengerti, apa yang sudah terjadi. Apa yang tuan lakukan hingga tubuhnya penuh darah dan apa makna dari ucapannya tentang permpuan itu. apakah yang dia maksud adalah Anna? Aku menggeleng tak setuju soal itu. aku berharap jika tuan sekali lagi mau bercerita mengenai kejadian itu padaku, meski kupikir kemungkinan untuk hal itu terjadi nyaris sangat kecil. Tanpa terasa,waktu sangat singkat berlalu. Sekarang sudah mendekati senja dan aku harus memberitahutuan seperti perintahnya. Aku mengetuk muka pintu kamar itu beberapa kali, namun tak ada sahutan. Khawatir akan di salahkan karena terlambat, aku merangsek masuk begitu saja dan mendapati pemandangan yang membuatku sedikit terkejut. Dengan segera aku meminta maaf pada tuan karena sudah mengganggu kemesraannya barusan. Tapi, aku benar-benar tak menyangka jika tuan akan bersikap lebih longgar pada seorang manusia, selain itu, ini juga pertama kalinya aku melihat dia seperti pria manusia pada umumnya. Dengan buru-buru aku beranjak keluar pintu, tuan menyusul kemudian. Aku menunduk saat mendengar langkah kakinya mendekat. Aku bisa merasakan sebuah tatapan tajam yang memerhatikanku lekat-lekat. Entah apa yang tuan tengah pikirkan saat ini mengenai kelancanganku. Bulir keringat tak tertahan lagi keluar dari pori kulitku. Aku tercekat khawatir. "Ikut aku Leon" jelasnya melangkah lebih dulu. Aku ikut di belakang. Awalnya kukira ia akan membawaku ke ruangannya yang penuh kegelapan, namun di luar dugaanku, ia pergi ke ruang kerja kesukaannya. Tempat kedua yang tuan sukai. Sebuah tempat dengan perabot berukir dari kayu-kayu terbaik, permadani terbaik, lukisan paling indah dan lampu kristal paling mahal yang berjejer di langit-langit ruangan dengan membujur pada tembok yang di tutup kertas keemasan. Tuan duduk di kursinya, aku berdiri dekat pintu sambil menunggu perintahnya. Dari kejauhan aku bisa mendengar bunyi suaranya berdecak. Semua jendelayang tertutup gorden sutra berwarna hitam berbordir keemasan membuka serempak. Untuk pertama kalinya, tuan berkenan ada cahaya melintas masuk dalam ruangannya. Aku berpikirlagi, apa maksud tuan melakukan demikian. Apa dia sedang marah atau berbahagia? Kuharap ia segera bicara, hingga aku tak lagi perlu menerka-nerka. "Kau tahu Leon, manusia tidak boleh membuat dua kontrak dalam selama ia bernafas. Tidakkah begitu?" "Benar tuan" bunyi jari-jarinya kemudian mengetuki meja. Aku menebak ia tengah memikirkan sesuatu "Sayangnya, kali ini Anna sudah membuat perjanjian lebih dulu sebelum membuat kontrak denganku," aku terkejut pada ucapan tuan. Bagaimana itu? Mungkin ia melakukan semua hal itu. aku ingin tahu, tapi harus berhati-hati pada keingintahuanku. "Kau tidak ingin tahu?" lanjutnya lagi, seolah tuan mengerti isi kepalaku sekarang "Jika tuan berkenan" "Kau memang harus tahu Leon, karena tanggung jawab berikutnya akan kuberikan padamu untuk mengawasi," suara tuan terhenti dan bunyi kursi bergesek lantai menderit kasar dan runcing " Ketika roh Anna pergi, aku yakin orang yang kumaksud sudah memaksakan membuat kontrak dengannya, tapi kontrak itu tak berjalan sepenuhnya karena Anna tak memberi jawaban akan hal itu. Meski demikian, bukan berarti hal itu tak berdampak sama sekali untuknya. Setelah ini, aku yakin dia akan lebih sering menjadi resah dan mengalami mimpi buruk. Aku tak bisa membantu dia sama sekali, karena hanya dirinya sendiri yang mampu memberi sebuah jawaban pada kontrak itu," semua tirai kembali menutup hingga ruangan menjadi temaram kembali seperti sebelumnya. Aku masih tak bergeser dan menunggui tuan untuk melanjutkan ucapannya barusan "Aku bisa membuat kontrak kapan saja saat ia inginkan itu. Tapi, aku harus menunggu satu musim dingin lagi untuknya bisa bersamaku. Aku tidak ragu bisa mengendalikan dia, karena dia menganggapku melindunginya, dia menginginkan aku. Dia mungkin hanya alat untukku, tapi aku juga ingin berlaku adil padanya. Jadi pastikan untuk menjaga dia baik-baik! Setelah aku membuat kontrak dengannya, aku akan membawa dia ke tempat lain. Akan ada banyak orang yang akan menginginkan kematiannya setelah ini" ada nada getir di kalimat terakhir yang tuan ucapkan tentang gadis malang itu. apakah, tuan sedang menunjukkan belas kasihannya pada gadis malang itu? Entahlah, aku tak pernah bisa menangkap isi pikiran tuan dengan baik. Hanya mampu mendengarkan dan patuh pada semua perintahnya. ~0~ Seperti yang sudah tuan utarsksn sebelumnya, benar. Gadis itu menjadi gelisah. Sering aku melihatnya di tengah malam sedang mondar-mandir di perpustakaan, maupun pintu depan kamarnya, seperti tengah mencari sesuatu. Saat aku menyapa dan bertanya keadaannya ia selalu mengaku baik-baik saja. Tapi itu hanya berlaku pada hari-hari awal, di hari selanjutnya ia lebih resah lagi hingga tak mau tertidur sama sekali. Wajahnya tampak sangat pucat dan selalu terdiam. Hal itu berlangsung selama seminggu, hingga aku mencari cara terbaik untuk menenangkan kegelisahan yang tak dimengerti dengan baik oleh jiwanya yang kosong dan penuh rasa gunda yang tak pernah bisa ia katakan. Lalu, kupikir tak ada jalan lain selain memberinya obat tidur. Benar, sebuah obat tidur adalah langkah terbaik menurutku. Kudengar saat ini, orang-orang sering menggunakan o***m untuk menghilangkan kegelisahan, obat itu terkenal di kalangan masyarakat kelas pekerja hingga para bangsawan kelas atas. Bukan hal sulit untuk mendapatkannya saat ini, para pedagang dari kota biasa membawanya. Dengan pertimbangan semua itu, kuputuskan itu adalah langkah terbaik. Gadis itu tak tahu sama sekali mengenai jenis obat yang kuberikan untuknya. Ia hanya paham bahwa obat itu akan membuatnya lebih baik dan lebih tenang. Namun aku tak bisa memberikan obat itu tiap saat padanya, itu tak akan begitu baik untuknya, meski ia nampak segar saat mengonsumsi obat-obatan itu. Aku harus tetap memantau keadaannya. Aku selalu bertanya mengenai keadaannya, tapi seperti biasa, dia gadis yang tak mau banyak bicara dan menjawab sekenanya. Sekali lagi, aku harus belajar mengerti raut mukanya untuk benar-benar memahami kondisinya. Mengingatkanku akan tuan. Penjagaan dirinya lebih lagi dari sebelumnya. Aku mengikuti kemana ia pergi, meski itu masih sebatas dalam rumah, sedangkan ketika malam harinya, Lanni akanberjaga dan menemaninya di kamar hingga pagi hari. Aku tahu dia tampak tak nyaman, namun tak menunjukkan sebuah protes padaku. Dia juga sudah tak bertanya lagi kapan tuan akan datang, kukira ia sudah mulai membiasakan diri dan mengerti keadaan. Meski begitu, ada hal yang berubah dari gadis muda itu. Anna menjadi lebih sering melamun setelah kejadian yang pernah kuutarak sebelumnya. Ia tak murung sama sekali seperti setahun sebelumnya. Raut mukanya lebih mirip selalu berpikir mengenai sesuatu. Saat itu terjadi, kadang ia tersenyum pada rumpun bunga di halaman atau menjadi muram ketika menatap langit yang biru. Jika tak melakukan semua hal itu, ia akan mengambil pena bulu angsa dan mulai menulis beberapa puisi yang di simpannya sendiri. Seperti yang dikatakan tuan, maupun dari apa yang selalu kulihat selama beberapa hari ini darinya. Gadis muda itu mungkin sudah menaruh hati tuan. Aku tak mengerti itu baik untuknya atau tidak, karena perasaan seseorang adalah hal paling misterius yang tidak akan bisa seorang pun ikut campur untuk membendungnya. Mengingatkanku tentang perasaanku sendiri. Aku pernah memiliki hasrat menggebu pada beberapa tahun sebelumnya yang membuat seseorang kemudian menjadi korban. Tuan menyebut itu sebagai sebuah kesalahan. Hingga bukan seorang saja yang terluka, tapi lebih. Sudah bertahun-tahun sejak kejadian itu terjadi dan aku sudah melupakannya perlahan-lahan, meski masih menyisakan beberapa luka yang tak igin ku ungkit lagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN