Delapan

2151 Kata
Aku berada dalam sebuah kegelapan yang sangat pekat di mana aku bahkan tak bisa melihat wujud ragaku lagi, hanya mampu merasainya dengan kulitku. Aku tidak tahu di mana keberadaanku sekarang, entah ini hidup atau sebuah bentuk kematian baru hingga aku berakhir dalam sebuah kesendirian. Aku hanya merasa takut. Sangat takut, tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Maka aku hanya duduk dalam kegelapan itu sambil memeluk erat kedua lututku dan mendengarkan desahan nafas dan jantungku yang masih tersisa untuk meyakinkanku, bahwa aku masih hidup. Aku membuka mata tapi merasa kedua mataku tetap menutup dalam mimpi yang samar-samar. Dalam perasaan genting ini, aku harap seseorang datang menyelamatkanku dari rasa takut dan kegelapan yang aku benci. Lama sekali aku menunggu, tubuhku mulai terpikat perasaan dingin yang menyelimutiku dalam kegelapan. Perasaan dingin yang tidak sejuk sama sekali, melainkan mengerikan, seolah akan memakanku sebentar lagi. Perasaan ini begitu beku, lebih beku dari es. Sulit untuk menjabarkannya. Aku tidak mengerti dan lebih memilih pasrah untuk merasa lebih baik. "Ikut aku" suara seperti rintik air yang jatuh. Suara bening yang familar dan tertanam dalam mimpi dan benakku, terdengar begitu dekat. Suara yang membuatku terkadang lupa pada bedanya malam yang terang dan siang yang misterius. Saat itu aku berpikir dan kemudian merasa ragu, apakah ini sebuah kenyataan atau sebatas harapan hampa, karena aku tidak bisa melihat wajahnya. Semua terselubungi kemuraman dan pertanyaan yang tak pernah usai bersamanya. "Kau siapa? Apa kau adalah kematian? Yang menyerupakan suaramu seperti yang paling aku inginan?" setelah menyelesaikan ucapanku. Suara tawa yang lembut pecah beriringan seperti butir-butir kapas tertiup angin lembah. "Aku adalah kehidupan. Kehidupanmu, maka ikutlah denganku" "Aku tidak bisa melihatmu" "Tapi aku bisa menyentuhmu" buku jemari yang lebih lebar dari jemariku menyentuh punggung tanganku. Ada perasaan hangat, akrab, terlindungi, tapi misterius dan mencekam dari kulitnya yang menypu jemariku. Tangan ini adalah tangannya,aku tak ragu lagi untuk meyakini bahwa ini adalah dia. Dia lagi, dia menyelamatkan aku lagi? Kenapa? Kenapa dia selalu datang saat aku merasa takut, tapi tak pernah datang saat aku hendak bertemu. Aku tidak tahu apa yang terjadi sampai aku membuka mataku lagi. Sinar matahari langsung memberondongiku, membuat mataku sakit akan silau karena pendar pekat cahayanya. Aku memejamkan kelopak mataku sesekali, tubuhku merasa sakit dan aku merasa bingung seketika. Aku tahu aku tidur, tapi aku tidak tahu mengapa aku lelah, seolah aku barusan merasa mati dan bangkit lagi. Aku membuang nafasku dan menatapi atap kamarku yang menggantung lampu kristal. Menatapnya hingga aku bisa menajamkan lagi ingatan dan perasaanku yang sempat terasing ini. "Kau sudah bangun" aku terhenyak sesaat. Suara itu, apakah aku sedang bermimpi dan mendengar ia bicara lagi? Untuk meyakinkan diri, aku bangkit dari tidurku dan duduk sejenak. Sesuatu menarik perhatianku untuk menoleh ke sana, ke sebelahku, di mana ada deretan kursi berjejer dengan sebuah perapian. Mata hazel yang berkilau pucat mengamatiku. Aku terpaku mengamati sinar mata itu. Wajah yang meresahkan malamku, bahkan pagiku. Yang merenggut mimpi dari pemiliknya yang hakiki tanpa izin. "Iya" "Kau tidur cukup lama. Tapi kukira sekarang kau sudah lebih baik" balasanya dengan raut muka dingin, tanpa senyum. Diam dalam misterinya sendiri dan aku adalah penonton yang menikmati pertunjukannya. "Kau baru datang sekarang" timpalku dengan nada sedikit kecewa. Aku menarik pandanganku ke arah selimut yang menutup tubuhku. Rasanya aku tidak kuasa lebih lama menatapnya. Ada getaran beserta harapan yang aku takutkan akan mencuat seperti sebuah dosa dari anak adam. "Ada hal lain yang harus aku lakukan" "Begitu" kataku dengan sayup. Sunyi menangkap ruangan tiba-tiba. Aku ingin bertanya banyak hal padanya, tapi entah mengapa aku mendadak lupa pada semua hal, semua pertanyaan yang pernah ter-rangkum padat dalam isi pikiranku. "Istirahatlah" ia beranjak bersama bunyi langkahnya yang meletup. Aku mengangkat wajahku dan mengamati punggungnya yang tegap nampak begitu kokoh. Perasaan tak sabar memenuhi hatiku. "Tunggu" panggilku dengan tiba-tiba. Ia berhenti dan berbalik sejenak. Sekilas aku melempar pandanganku ke arah lain karena gugup. "Bisakah, kau tinggal di sini lebih lama. Maksudku..." aku belum sempat menyelesaikan ucapanku. Raut mukanya berubah, sinis. Kutangkapi begitu. "Aku tidak pernah diperintah dan tidak menerima perintah. Beristirahatlah!" ada kemarahan dan keangkuhan dalam ucapannya. Kutangkapi kekuasaannya demikian, sementara dia pergi tanpa berbalik. Aku merasa kecewa pada tanggapannya. Benar, aku mungkin berharap lebih karena dia pernah bersikap sangat baik padaku. Tapi aku kira, itu hanya keramahan yang sesaat. Aku membuang tubuhku dengan hati-hati ke atas tempat tidur. Rasanya, perasaan lelahku makin menjadi. Aku menarik sedikit selimut sutraku. Saat pakaian tidurku tersingkap, aku mendapati bekas merah dikedua tanganku. Membentuk sebuah lilitan panjang yang aneh dan menjalar terus hingga ke leherku. Aku menyentuhnya, tak terasa apa-apa. Hanya saja, aku merasa aneh dan terus bertanya-tanya. Apa yang terjadi, kenapa aku bisa mendapati tanda aneh seperti itu. Perasaanku yang tenang berubah panik dan menyergap penuh ketidak tenangan. Leherku merasa tercekik tiba-tiba. Entah kenapa aku tidak bisa bernafas. Dalam darahku dari kaki hingga kepalaku kurasakan sesuatu bergerak cepat, rasanya menggulung dan panas. Mencoba mendobrak keras permukaan kulitku. Saat aku memandangi lenganku, semua nampak baik. Tapi tekanan yang kudapati seolah akan merobek tubuhku seperti sebuah belatih sebentar lagi. Tubuhku menggigil, tenggorokanku serasa terjepit dan bulu kudukku meremang. Aku memegangi leherku, memukul-mukul jantungku. Tekanan itu semakin mendesak keluar dari dalam perutku seperti menggelitik panas, lalu merambat naik ke tenggorokanku. Panas. Sangat panas. Seluruh ruangan berubah kelabu, bau dupa dan tanah kuburan yang basah menyengat dengan selubung asap tipi-tipis yang busuk memenuhi sudut setiap inci kamarku. Bayangan gelap kemudian muncul, awalnya begitu samar, berwarna kecokelatan kemudian makin jelas dan berubah hitam. Berada di dekatku, berdampingan tubuhku! Sangat dekat. Nyaris menempel di wajahku. Aku semakin meremang, dan cemas. Kupandangi bayangan itu dari sudut mataku, matanya merah, sangat merah dengan wajah yang begitu gelap tertutupi mantel berwarna hitam yang sobek di beberapa tempat. Ia menatapku sangat lekat, hingga aku berharap bisa menyembunyikan diri dari tatapan pucatnya. Nafasnya busuk seperti bau bangkai. Terdengar memburu, berdengus seperti serigala lapar di samping telingaku. Tangannya yang kasar penuh luka berada di tenggorokanku, mencengkramnya kuat-kuat. "Kau akan datang padaku. Aku akan menang dan keluar dari neraka. Menukar tempatku dengannya" suaranya mengerikan, persis seperti bunyi kaleng yang menyeret di atas batu-batu tajam. Lebih dari itu aku tak mengerti apa maksudnya. "Tunggulah aku" ujarnya dengan suara yang perlahan samar bersama bayangannya yang mulai menghilang bersama asap tipis-tipis yang datang berdampingan dengan dia. Aku mengepalkan kedua tanganku kuat-kuat sambil mengumpulkan tenaga, lalu berteriak keras-keras, bersama buliran air mata yang jatuh di atas pipiku karena rasa takut dan sakit yang menyergap bersamaan. Aku terus berteriak tanpa henti, meski merasa tenggorokanku sebentar lagi bakal terluka, aku tak peduli. Rasa sakit ini membakarku, sampai dalam sendi dan tulangku yang rasanya akan remuk sebentar lagi. Aku menggeliat seperti cacing. Terus menggeliat hingga aku jatuh terjerembab ke atas lantai tanpa bisa bergerak. Aku menuggu beberapa lama hingga derit pintu berbunyi, derap kaki menghujam lantai. Bayangan itu datang lagi, berdiri dengan matanya yang berwarna merah di depanku. Aku mendorong tubuhku dengan sisa kekuatan yang aku punya, seperti seekor ular merayap di atas lantai, mencoba menjauh sambil terus menangis, tapi bayangan asing itu terus mendekat hingga membuatku terjebak membentur tembok. Wajahnya terus mendekat seperti barusan, dan aku terus menangis sambil berteriak-teriak dan memberontak sekuat dan sebisaku. Namun dia meraih kedua lenganku kemudian mencengkramnya begitu rupa. "Ini aku" teriaknya beberapa kali sambil menggoncangkan tubuhku. Samar-samar bayangan hitam itu menjelma menjadi pria dalam tidurku. Air mataku mendadak terhenti, aku terdiam untuk menghayati wajahnya. Rasa ragu dan bingung seperti sedang mempermainkan dan menutup bola mataku. Muntahan darah mendadak keluar dari celah bibirku. Sangat deras, mengotori pakain berwarna putih yang aku kenakan. Aku balik mencengkram tangannya, untuk pertama kalinya aku merasa sungguh-sungguh menderita seperti ini. "Semua keluar" begitu ucapnya. Aku tidak tahu siapa yang dia maksud kala itu. Pandanganku sangat sayu hingga semua nampak tak nyata dan samar. Yang bisa aku lihat dengan baik hanya wajahnya di depanku dan tangannya yang hangat dalam jemariku. Tangannya yang lebar menyentuh wajahku, menarik daguku berhadapan matanya. Aku menatap wajahnya dalam jarak lebih dekat dari sebelumnya, bau cendana yang bercampur mint menyeruak dari nafasnya. Dia menatapku lekat-lekat, ada rasa takut dan bimbang kudapati di sinar matanya. Aku berkedip beberapa kali, mataku terasa sangat berat tapi kucoba melawannya. "Tidurlah" ujarnya dengan sangat lembut. Seperti kapas yang berjatuhan bersinggungan udara, tapi lebih lembut lagi dari itu. "Bagaimana jika aku tidak akan bangun setelah itu" kataku dengan suara tercekat. Lalu kembali memuntahkan darah. Dia menyapu gumpalan darah itu dengan tangannya. Raut wajahnya berubah lagi, ada rasa jengkel dan geram di sana, membuat alisnya yang hitam dan tebal mengernyit nyaris manyatu. "Aku bersumpah demi malam yang aku lahir dalam kegelapan. Kau akan bangkit kembali" mendengarnya mengatakan itu, ada rasa tenang dalam benakku. Aku menjatuhkan diriku dalam pelukannya yang hangat dan menenangkan. Beberapa hari setelah hari itu aku tidak pernah lagi bertemu dengannya, dia pergi tanpa mengatakan kapan dia kembali. Dan selama itu aku terus memikirkan mengenai dirinya dan saat itu terjadi, rasa tak sabar memenuhi kepala dan hatiku. Aku sangat ingin bertemu dengannya dan bersama dirinya, tanpanya aku merasa kesepian. Aku tidak tahu apa yang aku rasakan, tidak mengenal perasaan seperti ini sama sekali. Aku yang terbiasa sendiri dan bertemu dengannya yang membuatku merasa nyaman dan yakin pada keberadaannya mulai mengajarkan tentang harapan dan hayalan yang membumbung tinggi dalam hatiku, akantetapi di saat yang sama aku merasa takut, takut bila apa yang aku harapkan tak sesuai keinginginanku. Aku takut bermimpi lebih jauh tapi lebih sulit untuk tak mengharapkan apa-apa. Aku terjebak dalam lingkaran dilema dari sebuah keterasingan. Namun saat aku merasa ragu, sebagian dari hatiku yang lain mencoba meyakinkanku untuk tetap bermimpi. Mengingat apa yang terjadi sebelum dia pergi, seperti memberi harapan tinggi. Benar, saat itu. Pikiranku melambung jauh saat aku baru terbangun dalam tidurku. Saat itu aku melihatnya duduk di sebuah kursi di samping tempat tidurku. Dia terlelap dengan wajah tenang, kelopak matanya mengatup serupa mawar putih yang bersih. Untuk sesaat aku tertegun dan mengamati figur wajahnya. Hanya sesaat sampai aku merasa ingin tahu seberapa lama waktu berlalu di ujung jendela. Ku bangunkan tubuhku, meski berat dan sedikit ringkih, bertopang pada kasur di mana aku berbaring. Tanpa aku sadari, matanya membuka lebar-lebar. Tak ada antusias apa pun di sana saat aku bertemu pandang dengannya, meski begitu aku tetap gugup. 'Aku minta maaf sudah membuatmu terbangun' kataku dengan tak enak hati. Tapi seperti biasa ia tak langsung menanggapi 'Aku tidak tertidur,' balasnya dengan nada dingin 'kenapa kau bangun' lanjutnya lagi 'Aku ingin tahu sudah jam berapa sekarang' 'Seseorang yang hampir mati masih tertarik untuk mengetahui runut waktu, itu tidak perlu' balasnya dengan sedikit mencemooh. Aku tidak bicara lebih jauh lagi saat itu. 'Aku akan mencari tahu nanti' kataku lalu berusaha tidur kembali. Entah apakah saat itu ia sedang menunjukkan perhatiannya padaku atau merasa kasihan. Dirangkulnya bahuku, hingga sekali lagi tak ada jarak di antara kami. Aku memandangi wajahnya yang begitu dekat, tapi dia tak melirikku sama sekali, pandangannya ia jatuhkan ke arah lain. Ketika itu, darah dalam tubuhku terasa mendidih dan jantungku berdebar sangat kencang, hingga perasaan hangat menyeruak dari sana, menembus punggungku lalu melesat ke seluruh ragaku. Ada keberanian muncul dari sana, memberiku dorongan serta paksaan padaku, sesuatu yang tak bisa kutolak lagi. Aku mendekatkan wajahku pada mukanya, kuraih wajahnya dengan jemariku. Dia memandangku tanpa bicara. Jantungku berdetak semakin kencang kala itu, hingga rasanya sebentar lagi ia akan meledak jika aku tak melakukan sesuatu. Benar, aku melakukan sesuatu. Aku mencium bibirnya yang lembut. Aku gila, benar. Itu sudah gila. Dia tak bicara apa-apa, tak ada ekspresi apa-apa yang bisa kutangkap dari wajahnya hingga aku merasa takut dan gelisah, tapi masih terus tanpa putus memandangnya. Wangi nafasnya mendekat ke arahku, aku tak mengelak dari aroma itu. Bibirnya yang lembut dan manis menyentuh bibirku. Lebih lembut dari sutera lebih manis dari madu. Aku menyecapnya dengan tak sabar, perasaan gembira tapi hangat dan menegangkan berseloroh dalam batinku. Aku pikir hasratku sudah menemukan tempatnya. Aku bersorak sorai, batinku yang kekanakan. Perasaan canduku yang memabukkan. Bibirnya seperti air laut, benar air laut yang tak peduli seberapa banyak aku meminumnya, aku semakin haus dan semakin menginginkannya. Kurangkulkan lenganku ke pundaknya, bau nafasnya berpadu bersama udara. Aku melemparkan jiwaku bersamanya dan melupakan dunia di mana aku berpijak, dalam ciumannya yang mencuri ruhku. "Nona" aku tersadar begitu saja, saat Lanni memanggil namaku. Aku berbalik sambil mengamatinya yang menatap penasaran ke arahku. Ia berdiri di ujung meja bersama Tuan Leon dengan membawa nampan dan teko keramik, sementara aku duduk di kursi kayu, ruang perpustakaan. "Ada apa?" kataku menimpali "Gelas itu kosong" aku terhenyak dan memandang buru-buru ke arah gelas keramik berwarna biru di tanganku. Dasarnya putih, kosong dan mengilap. Aku tertegun. Kuletakkan gelas itu ke atas piring kecil pelapisnya, rasanya semburat rasa malu memenuhi wajahku. Tapi aku pura-pura tak mau peduli. "Tambahkan tehnya kalau begitu" mereka kompak mendekat ke arahku dan berdiridi sebelah tubuhku, sementara kulemparkan pandanganku ke arah lain sambil pura-pura sibuk membaca buku di atas meja. "Apa anda ada keluhan nona?" suara tuan Loen menggema di udara, aku tak meliriknya. "Aku tidak apa-apa" kataku menepis ke khawatirannya. Akhir-akhir ini, pria tua itu sering bertanya padaku dan aku menjawab sekenanya saja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN