Aku terbaring pada sebuah ranjang tertutupi tira-tirai putih tipis, panjang, dan melayang pada tiap sisinya. Menyentuh mukaku dalam sebuah sapuan lembut. Semuanya berwarna putih, tak ada warna lain di sana. Lalu, satu, dua, dan beberapa guguran bulu berwarna hitam melayang di antara udara, jatuh begitu lembut di dekatku, dalam genggaman tanganku. Helaian bulu itu kian menebal dan mengubah semuanya menjadi gelap dan kelam. Di atas wajahku, membentuk penggambaran muka Sebastian. Awalnya dia membentuk barisan senyum yang indah, setelahnya muncul api berkobar berwarna jingga kemerahan, besar, dan pekat membakar tubuhnya. Kulitnya yang nampak bersih berubah di penuhi luka berdarah tak terhitung banyaknya, tetapi api itu tak berhenti dan terus membakar tubuhnya, sekalipun dia berteriak keras s

