Aku rasa, aku sudah mengetahui jawaban tuan. Kutinggalkan pintu kamar itu, dan memilih menyepi di taman belakang. Malam ini langit begitu gelap, lebih gelap dari malam sebelumnya dan akan lebih gelap setelah malam sesudahnya. Aku duduk terpaku, memikirkan banyak hal mengenai duka masa lalu dan terpojok dalam air mata penyeselan. Kehidupanku adalah kebusukan dan sebuah kesalahan. Sayangnya, setengah mati aku mencoba merubah takdir itu, bahkan sampai melukai diriku sendiri, merobek nuraniku. Semuanya sia-sia, aku hancur dalam kehampaan berulang kali. "Apa yang membuatmu begitu terluka?" aku berbalik. Perempuan itu meletakkan tongkat panjang yang selalu kugunakan ke muka meja. Tak ada yang bisa kukatakan lagi, dan aku pikir dia mengerti dengan baik alasan dari rasa penyesalanku ini. "Kau men

