Zhao Wei mondar mandir di depan pintu kamar Fandy yang sudah ditutup. Ia merasa tidak tenang karena keputusan Natalia tidur di rumah mereka terlalu mendadak. Pasalnya tidak ada kesempatan untuk memasukkan sofa atau matras ke kamar itu agar bisa tidur terpisah.
"Kamu bisa duduk aja nggak sih? Pusing lihat kamu bolak balik kaya gitu." Fandy memprotes. Badannya yang kini sudah terbalut sepenuhnya dengan pakaian tidur dibaringkan di atas ranjang. Tangannya yang memegang buku menghantam bantal yang ada di sampingnya.
Lirikan tajam dilemparkan Zhao Wei pada si tukang protes. "Saya nggak minta Bapak untuk memperhatikan saya kok," sahutnya kesal.
"Ya tapi kamu ada di depan saya. Mau nggak mau saya bisa lihat."
"Silakan pakai penutup mata kalau begitu."
"Gimana bisa pakai penutup mata? Orang saya lagi baca. Kamu kira saya punya kemampuan tembus pandang?" sergah Fandy heran akan istri gadungannya yang tidak jelas bicaranya kalau sudah panik.
Zhao Wei berjalan mendekat pada Fandy. "Masih banyak hal yang bisa dilakukan supaya nggak lihat saya. Jadi biarkan saya melakukan urusan saya." Ia berkata tegas. Yang ada di pikirannya saat ini adalah mencari cara agar tidak harus tidur di satu ranjang dengan bosnya.
"Masalahnya kamu mengganggu."
"Kalau begitu bantu saya berpikir, Pak," sahutnya ketus. "Bapak tahu sendiri saya tidak bisa tidur seranjang dengan Bapak."
"Ogah. Udah malam gini, ngapain susah-susah mikir sih?" Fandy mengambil guling yang ada di belakang punggungnya lalu diletakkan di tengah-tengah ranjang. "Nih pembatas. Kamu tidur di kiri, saya di kanan."
Zhao Wei bersedekap sambil menggeleng-gelengkan kepala terhadap ucapan Fandy. "Saya nggak bisa mempercayai Bapak. Bagaimanapun juga Bapak itu laki-laki dan saya perempuan. Saya nggak mau Bapak mengambil kesempatan sedikitpun." Jari telunjuknya teracung dan digoyangkan ke kanan dan kiri. "Jangan sangka saya sudah lupa bagaimana Bapak mencuri kesempatan dengan memeluk dan mencium pipi saya tadi. Belum lagi cerita palsu tentang ... Ugh. Saya sendiri jijik untuk menceritakan ulang."
Fandy ingin memberikan penjelasan mengenai alibi yang dipillihnya tadi demi membuat Natalia percaya, tetapi ia lebih merasa tersinggung mendengar kata 'jijik'. Ia menutup buku tebal di tangannya itu dengan keras hingga menimbulkan suara, lalu beranjak dari ranjang. Didekatinyalah Zhao Wei sambil memberikan tatapan tajam. "Oh, jadi kamu merasa ... jijik?" Ia terus berjalan maju mendesak gadis berkuncir satu itu.
Zhao Wei pun terus melangkah mundur untuk menghindari Fandy. "I-iya. Saya nggak suka." Ia terus berjalan sampai akhirnya tersudut. Tidak ada ruang lagi untuknya bergerak.
Ditambah lagi kedua tangan Fandy kini mengunci gadis itu. Ia memandangnya dengan intens dan mendekatkan wajahnya. "Seburuk itukah saya di mata kamu sampai kamu merasa jijik?"
Napas hangat milik Fandy dan tampangnya yang menggoda memberikan esensi panas membakar wajah Zhao Wei, lalu menyebar ke seluruh bagian tubuhnya. Kaosnya yang panjang dan temperatur ruangan sama sekali tidak membantu. Ada titik-titik keringat seperti embun yang muncul ke permukaan kulitnya.
Zhao Wei menurunkan tubuhnya lalu menyelinap lepas dari kurungan tangan Fandy. Namun gerakannya tidak terlalu cepat hingga pria itu menarik tangannya. Ukuran dan berat tubuhnya yang tidak sebanding menghantam tubuh atletis milik Fandy. Pinggangnya terkunci sampai tidak bisa bergerak dengan kedua lengan sang bos.
"Kita udah terikat dalam pernikahan sah, bukan kontrak. Kalau ada sesuatu yang terjadi di antara kita, hal itu wajar, wifey[1]." Fandy bermain-main lebih lagi dengan gadis yang terpaku memandang dirinya itu. "Bukannya memang seharusnya sesuatu terjadi?"
Air muka Zhao Wei semakin lama semakin berubah. Ia tidak tampak sekesal sebelumnya, tetapi kali ini justru seperti ketakutan.
Fandy bisa menangkapnya dan merasa ada sesuatu di balik ekspresi itu. Ia akhirnya melepaskan ikatan tangannya. "Saya orang yang bermartabat dan menghormati wanita. Jadi kamu nggak perlu ketakutan seperti itu," katanya. Desahan napasnya menandakan sedikit kekecewaan. "Nggak ada matras di sini, tapi ada kursi malas. Nanti kalau Bu Natalia sudah tidur, saya masukin ke sini." Ia berjalan meninggalkannya dan masuk ke dalam kamar mandi.
Ditinggalkan sendirian di sana, Zhao Wei bernapas lega. Kenangan buruk masa lalu berkaitan dengan pria yang terkubur sangat dalam di hati kembali ditutupnya rapat-rapat. Ia mengharapkannya agar tidak pernah kembali dan mengganggu kehidupannya yang sudah nyaman sekarang.
Perut Zhao Wei yang berbunyi tiba-tiba mengingatkannya bahwa ia masih lapar. Ia keluar meninggalkan kamar dan pergi menuju dapur. Sup buatannya sudah pasti menjadi dingin.
Terkejut sampai melompat adalah apa yang Zhao Wei lakukan ketika ia menginjakkan kaki di dapur. Seorang wanita dengan rambut terurai tampak sedang duduk di meja.
"Bu Natalia!" seru Zhao Wei dengan nada rendah sambil mengelus-elus d**a. Ia berpikir bahwa wanita itu sudah tidur dan keadaan menjadi aman "Akhirnya Ibu makan juga. Ibu lapar ya?" Ia berbasa-basi demi menutupi perasaannya yang sebenarnya.
Natalia menyelipkan rambutnya di belakang telinga. "Masakan Bu Zhao Wei enak," pujinya singkat dengan nada datar.
Zhao Wei tersenyum dan berjalan mendekat. "Panggil Zhao Wei saja, Bu Natalia," pintanya. Ia menggeserkan mangkuk yang di dalamnya masih ada sup hingga mendekat padanya. "Supnya sudah dingin. Nggak dihangatkan lagi, Bu?"
"Nggak perlu. Saya lebih suka begini," sahut Natalia.
Memangnya enak? Aneh juga Bu Natalia. Sementara batinnya berkomentar, alisnya sedikit naik. "Kalau begitu, ibu mau tambah lagi? Saya akan sisihkan dulu karena sisanya saya mau hangatkan kembali."
Natalia menggeleng. "Saya sudah kenyang. Terima kasih," ucapnya menunjukkan mangkuknya yang kosong. Ia beranjak dari meja dan membawa peralatan makannya untuk dicuci di bak.
Zhao Wei pun memasukkan wadah sup itu ke dalam microwave. Dipasangnya waktu dua menit lalu ia duduk di meja sambil menunggu. "Bu Natalia asalnya dari mana?" Ia mengajukan pertanyaan basa-basi agar situasi tidak terlalu canggung dan sepi.
"Bekasi," jawab Natalia singkat. Tangannya masih bergerak lembut menyabuni peralatan makannya. "Bu Zhao Wei kenal Pak Fandy dimana?"
Pertanyaan balasan itu tidak disangka akan diberikan. "Dia teman sahabat saya. Awalnya kami bertemu di Perancis. Lalu setelah lama nggak bertemu, kami bertemu lagi sebagai bos dan pegawai." Meskipun ia bisa menjawabnya dengan mudah, Zhao Wei merasa bahwa akan ada kelanjutannya setelah ini.
"Apa yang membuat Bu Zhao Wei memutuskan untuk menikah dengan Pak Fandy?" Baru saja memikirkannya, kekhawatirannya kini sungguh-sungguh terjadi.
Berusaha berakting natural, Zhao Wei menggaruk-garuk kepalanya. Bunyi berfrekuensi tinggi menandakan sup sudah selesai dihangatkan memberinya sedikit waktu lebih untuk berpikir. Ia meninggalkan meja dan membuka microwave. Aduh, mau jawab apa ya? Masa jawab karena terpaksa?
"Kenapa lama menjawabnya? Ini bukan pernikahan setting-an seperti yang saya curigai, 'kan?" Natalia menyatakan dugaannya. Ia selesai dengan cuciannya lalu menyandarkan tubuhnya di kitchen counter sambil memandang gadis itu.
Zhao Wei menoleh sambil memindahkan wadah sup perlahan kembali ke atas meja. "Nggak, Bu Natalia," sahutnya cepat. "Kami, uh, saling suka."
Kepala Natalia miring dan matanya tajam menyelidik. "Hanya saling suka? Cukup untuk menikah?"
"Bukannya cinta itu tanpa logika, Bu?" Suara Fandy terdengar dari arah masuk dapur. Ia berjalan mendekat kepada Zhao Wei. "Sayang, aku lapar. Suapin dong."
Zhao Wei bernapas lega. Bantuan akhirnya datang. "Kamu mau makan ini juga?" Ia memanfaatkan situasi untuk mengabaikan pertanyaan Natalia. "Mungkin nggak akan cukup untuk kita berdua. Kamu kan makannya banyak."
Kekehan buatan diperdengarkan Fandy. "Ya ampun, kamu perhatian banget sih?" Rahangnya mengeras ketika ia membalas ucapan Zhao Wei. Ia geregetan karena gadis ini selalu saja mengambil kesempatan untuk mengejeknya.
"Iya pasti. Apa yang nggak untuk kamu?" Zhao Wei memasang senyuman palsu.
"Kebetulan Pak Fandy di sini. Sekalian saja jawab pertanyaan saya. Apa yang membuat Pak Fandy menikahi Bu Zhao Wei?" Natalia tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk menyelidiki pasangan suami istri ini.
Tangan Zhao Wei meraih bagian belakang baju tidur Fandy dan menariknya. Wajahnya terarah pada pria itu dan membelakangi Natalia agar ia bisa mengirimkan kode SOS[2] dengan gerakan mata dan alisnya. "Bagaimana, sayang? Apa yang membuat kamu mau menikahi sa-aku?" Otaknya cepat mengingatkannya agar tidak terdengar formal.
Fandy memandang Zhao Wei dan meletakkan lengannya di bahu si gadis. "Masa kamu nggak tahu? Padahal kamu bisa beritahu Bu Natalia alasannya sendiri," katanya. "Aku aja tahu kenapa kamu mau menikah sama aku. Apa aku aja yang beritahu?"
Zhao Wei menelan ludah. Ia khawatir jika pria itu masih tersinggung dan kecewa padanya dan kini ingin membongkar rahasia keduanya. Ia tidak menginginkan hal itu terjadi karena ia tidak mau pulang ke Taiwan. "Ah, itu karena kamu baik. Lalu, kamu juga perhatian. Dan, uh, ganteng." Ia terburu-buru memberi jawaban.
Mendengarnya Fandy merasa sangat tergelitik. Tak disangkanya ada pujian tersembunyi yang diberikan sang gadis. Ia ingin tertawa tapi ia harus menahannya. Alhasil hanya senyuman yang nampak di wajahnya. "Oh, jadi ini yang selama ini ada dari lubuk hati kamu?" Ia mengangguk-angguk.
"Giliran kamu." Zhao Wei berdehem. Ia merasa terjebak dengan jawabannya sendiri.
"Aku? Hm, itu sih gampang." Fandy tampak percaya diri. Ia sama sekali tidak berpaling kemanapun seolah hanya ada mereka berdua saat ini. "Kamu itu aset berharga. Udah kreatif, pinter bersosialisasi, bisa masak, rajin bersih-bersih. Orang kaya kamu nggak boleh dilepasin gitu aja."
Natalia mendesah. Ia bangkit dari kursinya dengan lengan kanan bertumpu di atas meja. "Sudahi sandiwara ini, Pak Fandy, Bu Zhao Wei," ujarnya ketus.
Fandy dan Zhao Wei bertukar pandang dalam keterkejutan. Mereka tidak menduga Natalia benar-benar mengerti apa yang terjadi sebenarnya.
"Mungkin kalian berdua bisa membodohi orang lain, tapi bukan begitu dengan saya. Sudah bertahun-tahun saya bekerja di bidang penyelidikan pernikahan palsu seperti ini. Segala macam trik dan tipuan sudah saya ketahui. Banyak orang yang bersandiwara lebih baik dari kalian dan saya tetap bisa membongkarnya. Apalagi sandiwara amatir seperti ini." Pernyataan yang cukup panjang dari Natalia berhasil membungkam kedua insan yang rahasianya terbongkar itu.
Fandy yang sedari tadi hanya berdiri akhirnya menurunkan tangannya dari bahu Zhao Wei dan duduk di kursi yang ada di sebelahnya. Ia meletakkan kedua lengannya di atas meja sambil memandang Natalia. "Terus, Bu Natalia mau apa? Melaporkan kami dan membatalkan pernikahan ini?"
Ucapan itu terdengar kasar di telinga Zhao Wei. Ia cemas jika Natalia tersinggung dan benar-benar melaporkan hal ini pada papanya. Jika berita ini terdengar sampai ke telinga orang tuanya, maka pupus harapannya untuk mengejar mimpi.
"Tentu saja. Itu tujuan saya disewa untuk menyelidiki," sahut Natalia.
"Bu Natalia, maaf. Tapi saya mohon jangan laporkan ini pada papa saya." Zhao Wei memohon. "Kalau saya kembali ke Taiwan, hidup saya akan berakhir."
Natalia bergeming seakan tidak peduli.
Sebelum angkat bicara, Fandy menghela napas panjang. Ia harus mengatur emosinya agar tidak mengucapkan perkataan yang buruk. "Memang benar saya dan Zhao Wei menikah bukan atas dasar cinta. Saya butuh dia untuk mengembangkan perusahaan sekaligus membantu saya melupakan cinta masa lalu yang terus menghantui saya. Sejujurnya kehadiran dia cukup membantu melepaskan pikiran saya yang tersiksa."
Baru kali ini Zhao Wei mengetahui ada alasan selain Fandy menganggapnya aset perusahaan. Ia tidak menyangka bahwa cinta pria itu kepada sahabatnya begitu mendalam. Perkataannya pun terdengar tulus, berbeda dari sebelumnya.
"Dan saya perlu Pak Fandy untuk membantu mewujudkan mimpi saya." Zhao Wei turut memberikan pernyataan dukungan. "Mungkin ini terdengar egois, tapi terus terang saya merasa mendapat tempat di perusahaan Pak Fandy. Mimpi saya juga terasa semakin dekat. Kalau saya harus kembali ke Taiwan—"
"Nggak. Saya nggak mau kamu kembali ke Taiwan," potong Fandy. Ia berpaling dari Zhao Wei kepada Natalia. "Bu, saya benar-benar mohon supaya Ibu nggak melaporkan ini. Apapun caranya, saya akan mempertahankan dia. Bahkan kalau sampai harus menyuap Ibu, saya akan lakukan."
Natalia masih sekeras batu. Ia tidak tersentuh sama sekali dengan perkataan tulus yang keluar dari hati keduanya. "Saya orang yang berdedikasi terhadap pekerjaan saya dan berkomitmen pada satu klien sampai akhir. Nggak akan pernah ada kesempatan untuk seorangpun menyuap saya," sahutnya.
Zhao Wei hampir-hampir menangis mendengarnya. Ia ingin menyanggah tetapi tenggorokannya tercekat tidak bisa bicara.
"Tapi saya pernah ada di posisi Bu Zhao Wei, jadi saya tahu rasanya waktu meraih mimpi di lingkungan yang nggak mendukung." Perkataan Natalia yang ini memberikan secercah harapan. "Karena itu saya akan berikan enam bulan untuk Pak Fandy memajukan perusahaan serta move on dari masa lalu dan Bu Zhao Wei meraih mimpinya. Setelah itu, saya akan tetap melaporkan hal ini."
Enam bulan adalah waktu yang terlalu singkat bagi Fandy dan Zhao Wei. Namun itu jauh lebih baik daripada kondisi sebelumnya. Tidak ada pilihan lain selain menerima keputusan ini.
"Oke. Saya sudah capek. Untuk malam ini saya tetap menginap seperti yang saya bilang. Jadi kalian berdua tetap tidur di kamar lainnya berdua. Selamat malam." Natalia tidak berbasa-basi. Ia meninggalkan pasangan yang terbongkar rahasianya ini dengan perasaan tercengang.
Fandy juga turut beranjak dari kursinya. "Kamu lanjut aja makan. Saya akan bawa masuk kursi malas ke kamar dan tidur duluan. Tolong jangan nyalakan lampu nanti kalau nyusul masuk ya. Masih ada penerangan dari lampu tidur." Ia berjalan pergi setelah Zhao Wei mengangguk.
[MWB]
Keterangan:
[1] Panggilan sayang, artinya 'istri'.
[2] Kode permintaan bantuan