Perkataan Natalia seperti merupakan sebuah ultimatum yang mematikan. Semenjak malam itu Fandy dan Zhao Wei bekerjasama dengan sebaik-baiknya. Mereka membuat rancangan ke depan untuk bisa memenuhi target bulanan. Harus selalu ada perubahan yang signifikan setiap bulannya.
Kekompakan Fandy dan Zhao Wei sebulan penuh ini membuat para pegawai mulai mengeluh. Pasalnya ritme kerja menjadi semakin lebih cepat dari sebelumnya. Bahkan sebagai sekretaris handal yang sudah bekerja selama bertahun-tahun dan terbiasa dengan bagaimana Fandy bekerja, Cecilia merasa kewalahan dengan tugas demi tugas yang bertambah.
"Cindy, Cindy. Kamu bisa tolong bantu saya?" Cecilia yang sedang memijit-mijit kepalanya memanggil pegawai termudanya saat lewat di depannya.
"Ya, Bu? Apa yang bisa saya bantu?" Cindy berhenti melangkah dan berbalik menghadap sang sekretaris.
"Kamu sibuk?"
"Nggak terlalu, Bu."
Cecilia mengangguk sekali. "Oke. Kalau gitu kamu cek Slack, saya akan kirim beberapa folder yang isinya proyek dari klien-klien terbaru. Saya sudah pilah berdasarkan deadline. Minta tolong kamu dan Wawan atau siapapun yang lagi kosong untuk bikin daftar, supaya Nona Zhao Wei mudah untuk memikirkan dan membuat konsepnya," pintanya. Air mukanya menunjukkan kelelahan yang tiada tara.
"Ah, iya. Saya akan bantu." Cindy menerima permintaan itu dengan sedikit enggan. Jika sudah berhubungan dengan Zhao Wei, pasti ada pekerjaan yang tidak akan berakhir. Begitulah yang ia rasakan sebulan terakhir ini, terlebih karena gadis itu sudah pindah ke ruang kantor terbuka bersama yang lain.
Kembali dengan langkah gontai ke tempat kerjanya, Cindy memberitahu Wawan tentang permintaan Cecilia. Sama sepertinya, Wawan pun mendesah diam-diam. Karena itulah pegawai lain yang ada di sekitar mereka ikut menimbrung. Masing-masing menyatakan keluhan mereka melalui bisikan atau hanya sekadar memimikkan kata-kata tanpa suara.
Mendengar orang-orang berbicara di belakangnya, Zhao Wei menghentikan pekerjaannya sejenak. Ia berbalik sambil masih duduk kursinya yang berada tepat di ujung bagian tengah hingga semua pegawai bisa melihatnya. Setelah itu ia berdiri lalu membungkuk sekali. "Maaf ya, semuanya. Saya yang sudah merepotkan kalian semua dengan banyaknya pekerjaan ini. Mohon maaf." Ia membungkuk sekali lagi.
Terkejut akan apa yang dilakukan Zhao Wei, para pegawai itu terbungkam. Beberapa merasa bersalah, beberapa penasaran, dan yang lainnya curiga. Memang benar selama ini mereka menganggap bahwa sumber beban yang berlebih ini datang dari pegawai berkewarganegaraan asing ini.
"Klien demi klien, proyek demi proyek semakin bertambah." Suara Fandy yang khas menarik perhatian semua pegawai hingga mereka berpaling dari Zhao Wei ke sang CEO perusahaan. "Semua hal yang menambah beban kalian adalah demi membawa perusahaan kita dikenal di ranah internasional, bukan hanya internasional. Mulai dari Asia Tenggara, lalu seluruh dunia."
Zhao Wei bergeming di posisinya, memandang Fandy yang berdiri tegap di seberangnya. Dalam hati ia berharap agar pria itu tidak mengucapkan sesuatu yang menyinggung para pegawai. Demi kesuksesan rancangan enam bulan yang sudah mereka tetapkan, semua pegawai justru harus dipertahankan baik-baik.
"Progres perusahaan cukup lambat selama tiga tahun terakhir ini. Kehadiran Zhao Wei justru merupakan pemicu bangkitnya FL Media. Memang statusnya masih tenaga kerja asing dan hanya orang baru di sini. Tetapi kontribusi dan semangatnya sebenarnya sudah menyelamatkan kita semua dari kemunduran. Kalian pasti tahu saingan kita semakin bertambah." Pidato Fandy membuka pemikiran baru bagi semua yang ada di sana.
Keadaan menjadi benar-benar hening di ruangan ini. Semua mata tertuju pada orang nomor satu di FL Media itu.
"Maafkan saya juga karena keadaan mendesak, saya lalai memberitahukan peran Zhao Wei yang sudah saya anggap penting di sini sampai saya memintanya untuk meng-handle banyak proyek dan menempatkan kalian di bawahnya." Ia membungkuk sedikit di hadapan semuanya hingga mereka terperanjat akan fenomena aneh ini.
Wawan tiba-tiba bangkit dari tempatnya. "Maafkan kami semua, Pak Fandy. Nona Zhao Wei juga. Saya pribadi berjanji untuk mendukung kemajuan perusahaan ini. Saya yakin yang lain juga begitu setelah mendengar penjelasan ini." Menyusulnya yang lain langsung berdiri dari kursi mereka dan membungkuk bersama-sama ke arah Fandy dan juga Zhao Wei.
Dalam hati Zhao Wei terheran-heran akan pengaruh yang bisa Fandy berikan. Ia tersenyum pada semua pegawai itu.
"Zhao Wei, bisa ikut saya sekarang?" panggil Fandy.
Agak merasa bingung karena konsepnya untuk proyek terbaru minggu ini belum selesai untuk bisa dipresentasikan, Zhao Wei ragu-ragu mengangguk. Ia menyimpan semua pekerjaannya untuk dilanjutkan lagi nanti lalu berjalan menyusul Fandy yang lebih dulu pergi.
Saat masuk di ruangan berlabel CEO itu, Zhao Wei mendapatkan panggilan masuk di ponselnya. Di layarnya nama Sakura tertera. Semenjak ia ada di Indonesia, mereka belum pernah berkomunikasi. Karena begitu semangatnya, ia sampai lupa bahwa ia masih berdiri di ambang pintu.
"Hei, masuk," perintah Fandy. "Buang-buang freon AC aja sih?"
Kesal dengan ucapan ketus Fandy, Zhao Wei mendapatkan ide untuk membalasnya. Sambil berjalan menuju ke kursi di depan Fandy, ia menjawab panggilan dari sahabatnya itu dengan suara keras. "Sakura! Ya ampun, kangen banget."
Begitu mendengar nama Sakura disebut, mata Fandy membelalak. Ia tampak penasaran tapi gengsi menunjukkannya.
"Iya, baik. Dan ya, bahasa Indonesiaku semakin bagus. Belajar dari teman-teman," lanjutnya. "Hm? Udah hampir dua bulan kayanya. Bosnya? Oh tipenya dingin dan cuek. Kalau aku salah, dimarahin habis-habisan." Diliriknya pria di hadapannya yang seperti hendak menyanggah tapi tertahan.
Fandy tidak ingin dirinya dideskripsikan buruk pada cinta lamanya. Ia terburu-buru menulis sesuatu di sembarang kertas yang kemudian disodorkannya pada Zhao Wei.
'Jangan cerita hal yang jelek tentang aku ke Sakura. Awas kamu.'
Zhao Wei hanya meliriknya dan tetap asik mengobrol dengan sahabatnya. Ia semakin merasa tergelitik untuk mempermainkan bosnya. "Oh ya? Wah nggak salah kamu lebih memilih menikah sama Andrew. Dia memang pengertian sekali. Belum lagi caranya bicara yang lembut tapi berwibawa. Beda dari orang yang aku kenal. Suatu kali aku mau punya suami yang kaya dia. Pria idaman lah."
Seperti lintah yang ditaburi garam, Fandy tidak nyaman duduk di kursinya. Ia berdiri lalu menghadap ke arah jendela sambil kakinya menghentak-hentak lantai.
"Kapan kamu ke Bandung lagi? Sekarang kamu di Jepang ya? Honeymoon lagi? Kalian romantis banget." Zhao Wei terkekeh-kekeh, tetapi bukan murni karena obrolannya dengan Sakura. Ia benar-benar puas karena bisa mengerjai Fandy.
Fandy langsung berbalik menghadap Zhao Wei. Ia tidak bisa tahan lagi mendengar semua obrolan mengenai Sakura dan Andrew. Hatinya membara penuh emosi. Mulutnya langsung memimikkan permintaan agar gadis itu berhenti menelepon.
Namun Zhao Wei berpura-pura tidak mengerti. "Baguslah, Sa. Nanti beritahu kalau kamu pulang ya. Kita bisa hangout. Aku udah kangen banget sama Hana dan Louis." Ia memalingkan wajah ke arah lain demi tidak mengindahkan Fandy.
Karena diabaikan, Fandy merasa kesal. Ia berjalan mendekati Zhao Wei untuk berbicara dengannya, tetapi gadis itu terus berputar dengan kursinya untuk menghindari dirinya. Pada akhirnya ia menahan putaran kursi Zhao Wei dengan tangannya menggenggam erat lengan kursi tersebut.
Zhao Wei langsung terpaku karena kini wajahnya dekat sekali dengan wajah Fandy. Suara Sakura yang masih terus terdengar di telinganya tidak lagi menjadi fokusnya.
"Berhenti telepon," ucap Fandy dengan suara lirih.
Menelan ludah satu kali, Zhao Wei terburu-buru berkata pada sahabatnya, "Sa, aku harus kembali kerja. Nanti kita ngobrol lagi ya. Take care." Ia menurunkan ponselnya dari telinga dan membiarkannya tetap dalam genggaman tangannya yang ada di pangkuannya.
"Harus selalu aku giniin supaya kamu nurut ya?" Fandy masih belum beranjak. Ia berdecak tiga kali dengan interval pelan. "Atau kamu emang sengaja? Udah jatuh cinta sama aku?"
Zhao Wei berdehem. "Bisa kita bicara formal seperti biasanya? Kamu bos dan saya pegawai," pintanya.
"Tapi tingkah kamu bikin aku harus perlakukan kamu beda. Gimana dong?" Fandy tidak hendak berpaling dari Zhao Wei cepat-cepat. Ia ingin membalas perbuatan gadis itu.
"Pak Fandy, ini adalah perbuatan yang nggak layak di kantor. Apalagi orang-orang bisa lihat dari luar." Telunjuk Zhao Wei teracung ke arah pintu dan jendela yang terbuat dari kaca.
Senyuman menggoda Fandy terpampang di wajahnya. "Ruangan ini ada di tempat yang lebih tinggi, orang-orang nggak akan segampang itu lihat ke dalam. Atau kamu lagi kasih kode supaya aku bikin ruangan ini lebih privat? Tinggal tekan remote dan semua kaca tembus pandang itu bakalan tertutup sih." Usahanya benar-benar maksimal untuk membuat Zhao Wei jera.
"Nggak perlu. Terima kasih." Zhao Wei berusaha bangkit dari kursi tetapi Fandy masih tidak ingin beranjak. "Pak, mohon jangan membuang-buang waktu. Bukannya Bapak sendiri yang bicara di depan semua pegawai kalau keadaan mendesak?"
Menyeringai seperti lelaki penggoda, Fandy menghela napas panjang. "Zhao Wei, Zhao Wei. Kamu kan tahu sendiri keadaan mendesak ini cuma alasan yang kita buat demi kepentingan kita. Jadi boleh lah, kita istirahat sebentar," ucapnya.
"Pak Fandy Lim yang terhormat, tolong minggir." Kedua tangan Zhao Wei mencoba untuk menyingkirkan tangan Fandy. Sayangnya genggaman pria itu terlalu kuat. "Minggir, atau saya racuni sarapan dan makan malam Bapak diam-diam?"
Ancaman itu justru langsung menggelitik Fandy. "Cewek gila." Ia akhirnya melepaskan genggaman tangannya dan berdiri sambil memegangi perutnya yang sedikit kram karena tertawa. "Yang namanya mau ngeracunin itu nggak bilang-bilang."
Zhao Wei sendiri turut merasa geli. Ia juga tidak berpikir jauh saat mengatakannya tadi. Apa yang terlintas di kepalanya begitu saja lah yang ia sampaikan. Tidak disangka perkataannya begitu konyol.
Fandy kembali duduk di kursinya. "Besok lagi, kamu harus belajar ancam orang. Udah. Sekarang kita harus bahas ini. Ada sedikit masalah." Pada akhirnya ia mengakhiri aksi membuang-buang waktu ini.
"Masalah apa?" tanya Zhao Wei penasaran. "Apa ini tentang Mr. Reynolds?"
Anggukan singkat dipertontonkan oleh Fandy. "Permintaannya terlalu rumit dan orangnya indecisive[1] banget. Kalau kita ladenin orang begini, kerjaan kita yang lain bisa-bisa terhalang," beritahunya. "Kamu punya ide apa untuk atasin ini?"
"Sebentar. Apa maksud kamu konsep final yang terakhir kemarin minta direvisi lagi?" Zhao Wei mengonfirmasi.
"Iya. Ini udah yang keempat kali. Bukannya lebih baik batalkan aja proyek ini?"
"Tunggu, tunggu." Telapak tangan kanan Zhao Wei terangkat setengah tiang. "Mr. Reynolds itu salah satu klien paling berpotensi yang nggak mudah kita dapatkan. Kita nggak boleh menyerah begitu aja. Bisa jadi dia pergi ke perusahaan lain saingan kita dan pada akhirnya merugikan." Ia menyampaikan pendapatnya.
"So? Kamu ada saran apa? Cecilia yang sabarnya minta ampun aja sampai capek urusin dia." Fandy sudah habis akal bagaimana menangani kliennya yang satu ini.
Jemari Zhao Wei mengetuk-ngetuk di meja. Ia memikirkan pertimbangan demi pertimbangan yang mungkin terjadi jika ia sendiri yang harus turun tangan. "Boleh nggak saya coba untuk bicara sama dia? Kayanya saya bisa mempengaruhi dia untuk tetapkan hasil akhir yang benar-benar final."
"Kerjaan kamu udah banyak, Zhao Wei. Akhir-akhir ini kamu kelihatan jauh lebih capek daripada biasanya," ungkap Fandy yang kemudian ia sesali. Barusan ia terdengar perhatian pada gadis itu. "S-saya nggak suka lihat pegawai itu kerjanya nggak maksimal. Jadi kamu nggak boleh sampai sakit. Itu mengganggu banget ritme kerja yang udah terbentuk."
Kupikir dia memang perhatian. Ternyata maksudnya itu. Hampir aja aku tersentuh. Zhao Wei memasang wajah tidak suka. "Ya, ya. Saya usahakan untuk nggak sakit," katanya. "Tapi yang pasti kita nggak boleh lepaskan Mr. Reynolds. Besok saya akan bertemu dengan dia. Saya akan minta tolong Bu Cecil untuk atur jadwal pertemuan ya."
"Oke. Pastikan kamu nggak maksain kalau situasi memang nggak memungkinkan." Fandy menyetujui sambil memberi wejangan. "Sekarang udah jam makan siang. Pesenin makan siang yang sehat dong."
"Kenapa nggak minta tolong Bu Cecil?"
"Nggak lihat wajah dia pucet tadi? Dia udah pusing banget ikutin kerjaan kita. Jangan tambahin sama hal-hal yang nggak penting." Fandy menolak. "Lagian kamu juga nggak bawa makan siang, 'kan? Pesen aja untuk kamu sekalian."
Zhao Wei mengerutkan dahi, heran bagaimana suami gadungannya itu tahu. "Kamu diam-diam memperhatikan saya ya?" Ia menyimpulkan.
Fandy agak kelabakan mendengarnya. "Perasaanmu aja. Siapa juga yang mau perhatiin kamu? Udah sana. Cepetan. Saya lapar. Nggak bisa konsentrasi kan gawat." Tangannya melambai, menyuruh Zhao Wei segera melaksanakan perintahnya.
"Tukang paksa." Zhao Wei memanyunkan bibirnya lalu berpaling pergi.
[MWB]
Keterangan:
[1] Sulit memutuskan, cenderung plin plan