10 Perjalanan Bisnis Sungguhan

2164 Kata
Mr. Reynolds, klien FL Media Inc. yang dianggap begitu menantang untuk ditangani karena kepribadiannya yang unik mengharuskan Zhao Wei turun tangan. Berbekal julukan 'Gadis Penakluk Segala Tantangan' yang disandangnya sejak SMA, ia mengerahkan segala usaha untuk berurusan dengan pria paruh baya yang sangat merepotkan ini. Dijelaskannya betapa sesuainya konsep terakhir dengan kebutuhan yang dideskripsikan oleh kliennya. Sedemikian rupa ia membujuk pria berkebangsaan Amerika Serikat itu agar konsep final segera dicapai. Namun ternyata memang benar tidak semudah itu untuk berurusan dengan Mr. Reynolds, pemilik villa terkenal di Bali. Ia meminta Zhao Wei untuk datang ke lokasi agar bisa membayangkan apa yang pria itu inginkan. Katanya, akan selalu ada perdebatan jika tidak melihat secara langsung. Awalnya Zhao Wei akan pergi sendiri, tetapi kemudian Fandy justru merasa ada yang kurang benar hingga memaksakan diri untuk ikut tanpa diundang. Selain karena gadis itu belum berpengalaman, ia tidak begitu percaya pada kliennya. Pasalnya Mr. Reynolds meminta Zhao Wei untuk tinggal selama dua hari dengan alasan meriset lokasi, padahal hal itu bisa dilakukan dalam waktu setengah hari saja. "Kalau nanti ada masalah karena kamu datang tanpa diminta, kamu yang tanggung jawab ya." Untuk yang kesekian kalinya Zhao Wei memprotes Fandy. Ia berjalan lebih dulu ke area penjemputan sambil menarik kopernya. Fandy hanya mengangguk. Telinganya panas karena dari Bandung sampai Bali Zhao Wei terus mengomel. "Nona Zhao Wei?" Seseorang memanggil namanya ketika Zhao Wei melewati pintu keluar. Pria yang tampak seumuran dengan Fandy berdiri dengan setelan warna pastel yang rapi. Zhao Wei menatap ke arahnya dan tersenyum. "Pak Jerry?" Ia langsung menebak bahwa pria itu adalah sekretaris Mr. Reynolds. "Ya, betul." Jerry mengangguk lalu menatap Fandy sekilas sebelum kembali pada Zhao Wei. "Saya pikir Nona Zhao Wei sendirian. Ternyata Pak Fandy juga ikut ya?" "Apakah ada masalah?" Zhao Wei menduga bahwa kekhawatirannya terjadi. Jerry menggaruk pelipisnya. "Kalau tahu Pak Fandy ikut, kami bisa menyiapkan dua kamar. Saat ini villa penuh dan hanya satu kamar tersisa," jelasnya. "Nggak masalah. Kami sudah terbiasa," sahut Fandy ringan. "Maaf?" Jerry tidak yakin akan apa yang barusan ia dengar. Dalam sepersekian detik Zhao Wei mengayunkan tangannya dan menghantam punggung Fandy dari belakang. Pria itu sampai terbatuk-batuk singkat. Dia mau buka rahasia ya? Jerry membentuk huruf 'O' dengan bibirnya seketika. "Pak Fandy dan Nona Zhao Wei adalah pasangan?" Ia menyimpulkan dengan cepat. "Ah, kami—" "Suami istri." Fandy menyela perkataan Zhao Wei sebelum sempat menyanggah. Tercengang Zhao Wei mendengarnya. Kenapa dia santai banget buka rahasia ini? "Uh, Pak Jerry, kita bisa ke villa sekarang?" Ia memutus pembicaraan ini agar tidak berlanjut ke arah lainnya. "Ya, ya. Mari, mobil saya ke arah sini." Jerry memimpin keduanya dengan berjalan di depan. Sambil berjalan Zhao Wei menarik baju Fandy. "Apa yang kamu lakukan barusan?" bisiknya. Fandy tidak menoleh pada Zhao Wei dan menjawab, "Thank me later[1]." Wajah Zhao Wei langsung cemberut. Ia tidak mengerti mengapa Fandy melanggar perjanjian mereka di awal. Alhasil ia berharap agar tidak ada kesempatan apapun bagi Jerry maupun Mr. Reynolds menyebut secara tidak sengaja bahwa mereka adalah suami istri kepada orang kantor. Ketiganya masuk ke mobil dan meninggalkan area bandara. Perjalanan menghabiskan waktu empat puluh lima menit untuk sampai ke villa Mr. Reynolds yang terletak di daerah Tanah Lot. Waktu selama itu digunakan sebaik-baiknya oleh Zhao Wei untuk mencari tahu apapun tentang Mr. Reynolds dan seleranya. Sebuah tempat berlatar ornamen khas Bali yang dipadukan dengan gaya minimalis adalah penampakan dari depan villa. Fandy dan Zhao Wei turun di area depan lobi beserta barang-barang mereka. Jerry yang menyerahkan mobilnya untuk diparkirkan oleh staf lain. "Nona Zhao Wei," Mr. Reynolds keluar menampakkan diri di tengah-tengah pintu masuk untuk menyambut. "Selamat datang—ah, ada Pak Fandy juga?" Bahasa Indonesianya begitu fasih tanpa diduga. Zhao Wei mengangguk sekali dengan diiringi senyuman. "Maaf ya, Mr. Reynolds. Seharusnya saya memberitahu lebih dulu," ujarnya bersalah. "Dan ya, kamarnya—" "Kami akan tidur berdua. Jangan khawatir." Fandy berkomentar cepat. Jerry pun turut menambahi, "Mereka ternyata suami istri, Mr. Reynolds." "Oh ya? Sekretaris FL Media nggak memberitahu apa-apa tentang itu." Mr. Reynolds terdengar tidak percaya. Reaksinya benar-benar berbeda dari Jerry. "Sekretaris saya tahu betul hal apa yang perlu dan tidak perlu dibicarakan." Fandy menyanggah dengan alasan yang masuk akal. "Tapi kalian berdua nggak kelihatan kaya suami istri. Berdirinya aja kaku begitu." Jari telunjuk Mr. Reynolds mengarah pada keduanya. Fandy segera menarik Zhao Wei mendekat. Lengannya melingkar di pinggang istrinya. "Setiap rumah tangga bisa melewati masa yang kurang menyenangkan, 'kan? Karena itulah saya ikut ke Bali untuk menghilangkan kepenatan sejenak dan memanjakan istri saya." Senyuman Mr. Reynolds menghiasi wajahnya. "Kalau begitu, semoga dengan tinggal di villa saya dua hari ini bisa membantu ya," ucapnya lalu diikuti kekehan. "Silakan istirahat lebih dulu. Nanti saya akan ajak berkeliling villa dan dilanjutkan dengan makan malam." "Terima kasih, Mr. Reynolds," kata Fandy. Ia berusaha untuk membuat Zhao Wei selalu dekat dengannya. Bahkan ia kini yang menarik koper gadis itu. Dituntun oleh staf villa, Fandy dan Zhao Wei diajak menuju ke sebuah kamar. Angin pantai menembus melalui jendela yang terbuka dan menerbangkan tirainya begitu mereka masuk. Melihatnya, Zhao Wei tampak senang sekali. Ia bahkan melupakan fakta bahwa nanti malam mereka akan tidur dalam satu kamar lagi. "Pak Fandy dan Bu Zhao Wei, silakan menikmati waktu Anda di sini. Jika ada yang diperlukan, jangan ragu untuk menghubungi kami." Staf villa pergi setelah mendapat anggukan dari Fandy. Bergeming di tempatnya, Zhao Wei mengagumi hamparan laut yang terbentang indah di depannya. Ia memang sangat menyukai laut. Fandy menutup pintu lalu membaringkan diri di atas ranjang. "Istirahat dulu. Nanti kita bakalan capek banget," sarannya. Lengannya bertumpu pada dahi. Zhao Wei berpaling pada pria yang sudah mapan sambil menutup mata itu. "Eh? Nanti malam gimana kita tidur?" Ia menyusuri ruangan berukuran 5x5 meter itu. "Di sini nggak ada sofa panjang. Dan tadi nggak sempat minta tambahan bed. Saya harus bilang sekarang." Masih dalam posisi yang sama, Fandy menyahut, "Kamu lupa kita udah ngaku sama mereka kalau kita ini suami istri? Ya udah kali. Tidur aja di ranjang sama-sama. Aku nggak akan pernah sentuh kamu." Zhao Wei mengembuskan napas kesal, tidak mau berdebat dengan Fandy. Ia menarik bantal dan meletakkannya di tengah ranjang. "Jangan lewati batas ini." "Ya." Begitulah sahutan singkat nan malas Fandy tanpa repot membuka mata. Hal itu langsung membuat Zhao Wei geregetan. Ia membentuk berbagai ekspresi kesal dengan wajah dan gestur tangannya. Namun Fandy membuka matanya hingga Zhao Wei berhenti saat tertangkap basah sedang mengejeknya. ~~~ Terbiasa disiplin dan profesional, Fandy dan Zhao Wei sama-sama muncul sedikit lebih awal di tempat yang dijanjikan. Mereka menunggu Mr. Reynolds dan Jerry yang datang tepat waktu. Tanpa berlama-lama, mereka berempat berkeliling villa. Sementara Fandy hanya mendengarkan penjelasan dari Mr. Reynolds, Zhao Wei menggunakan ponselnya untuk mencatat apapun yang penting. Bahkan ide yang muncul di tempat juga langsung dimasukkan ke dalam catatan itu. Keduanya jadi mengerti apa yang kliennya itu minta setelah melihat lokasi secara langsung. Keputusan untuk datang ke sini bukan merupakan suatu hal yang salah. "Mari kita kembali. Sudah ada makan malam yang disiapkan." Mr. Reynolds mengajak setelah observasi selesai. Mereka masuk ke area pribadi milik Mr. Reynolds sendiri. Keempatnya menuju ke ruang makan dimana aroma berbagai masakan tercium sejak dari luar. Masing-masing kemudian mengambil posisi duduk. Awalnya Zhao Wei hendak duduk di dekat Mr. Reynolds, tetapi Fandy buru-buru mendorongnya agar ia duduk di antara mereka. Zhao Wei yang terheran tapi tidak mau membuat kegaduhan pun akhirnya duduk di kursi sebelahnya. Ia menyadari ada yang aneh dari tingkah Fandy. Sesudah dipersilakan makan, Zhao Wei mengambil apa yang ia suka di atas meja sesuai porsinya. Namun Fandy segera berbisik padanya agar bertingkah seperti seorang istri pada umumnya. Maka diberikannyalah piring yang sudah terisi itu kepada Fandy dan ia mengambil lagi untuk dirinya. "Sudah berapa lama kalian menikah?" Mr. Reynolds tiba-tiba mengajukan pertanyaan ini. Zhao Wei melirik ke arah Fandy, memastikan apakah pria itu atau dirinya yang akan menjawab. "Dua setengah bulan." Fandy menjawab dengan mudah. Otaknya bisa melakukan multitasking[2] yaitu untuk makan dan menjawab. "Barusan? Wah. Menarik, menarik." Mr. Reynolds menyesap jus leci di gelasnya. "Istilahnya kalian sedang ada dalam masa honeymoon pernikahan ya. Jadi agak aneh sebenarnya kalau tadi saya dengar kalian sempat bertengkar sampai awkward[3] begitu." Kali ini Fandy tidak menjawab. Selain merasa tidak perlu menyanggah, ia juga kurang tahu bagaimana harus menanggapi. Tetapi Zhao Wei yang merasa kurang sopan jika perkataan Mr. Reynolds tidak ditanggapipun akhirnya menyahut, "Iya. Karena kami sudah lama kenal, jadi bertengkar itu biasa. Karena nggak lama kami pasti berbaikan lagi." Ajaibnya ia bisa mengucapkan perkataan semacam itu. "Mr. Reynolds sendiri sudah menikah ya?" Pria berambut silver itu mengangguk. "Tapi istri saya sudah meninggal dan saya berencana cari istri lagi. Setelah melihat Bu Zhao Wei yang mirip dengan mendiang istri saya, terus terang awalnya saya mau memperistri Ibu," ujarnya blak-blakan. Seketika itu juga Zhao Wei terbatuk-batuk. Ia meraih gelas berisi air putih di dekatnya dan langsung meneguk sampai setengah habis. "Sejujurnya saya agak kecewa dan sempat curiga mengetahui wanita muda yang cantik dan menawan seperti Anda sudah menikah. Saya tidak percaya juga hubungan Anda benar. Jadi saya minta tolong kenalan saya untuk memeriksa apakah benar Pak Fandy dan Bu Zhao Wei sudah menikah. Dan memang pernikahan Anda berdua tercatat." Mr. Reynolds benar-benar membuktikan bahwa dirinya bukan orang sembarangan. Zhao Wei jadi teringat akan ucapan Fandy. Keputusan untuk mengatakan status pernikahan yang mengikat mereka berdua adalah tepat. Jika bukan karena ini, bisa saja pernikahan berjarak usia jauh di Taiwan yang sudah berhasil dihindari akan terulang lagi dengan sendirinya di Indonesia. "You're welcome," bisik Fandy pada Zhao Wei serasa penuh kemenangan karena ia terbukti benar. Sepanjang makan malam mereka akhirnya memperbincangkan lebih banyak hal. Terbuka peluang besar lainnya yang mengarah pada kemajuan perusahaan. Mr. Reynolds menawarkan untuk memperkenalkan FL Media pada pengusaha-pengusaha kenalannya baik yang ada di Indonesia atau Singapura. Mendapatkan hal yang mungkin tidak datang dua kali ini, Fandy dan Zhao Wei sepakat untuk menerimanya. Setelah perut kenyang dan puas, mereka berjalan kembali ke kamar. Namun di tengah perjalanan, Zhao Wei berhenti sejenak dan mengajak Fandy untuk duduk di taman. Keduanya duduk di atas sebuah kursi kayu di bawah langit yang bertabur bintang. "Kalau mau bilang makasih, bisa lakuin sekarang." Fandy memecah suasana hening nan indah dengan perkataan yang mengesalkan Zhao Wei. Gadis itu menoleh pada Fandy dan menjulurkan lidahnya. "Ya, ya. Makasih, makasih." Keengganannya terasa sekali. Di mata Fandy, apa yang Zhao Wei lakukan barusan benar-benar menggelikan hingga ia tertawa. Rasanya ia sangat terhibur dan bisa melepaskan sedikit kepenatan bekerja. "Eh iya. Sakura kasih tahu—" "Jangan bicarain tentang dia." Fandy mencegah Zhao Wei berbicara lebih lanjut tentang cinta lamanya. Zhao Wei menghela napas. "Waktu saya bicara di telepon, kamu kelihatannya semangat sekali. Makanya saya mau beritahu ini. Tapi sekarang, kamu justru minta saya berhenti." Ia menjadi bingung. Fandy menoleh padanya. "Karena aku mau coba ngelupain dia, Zhao Wei. Saat ini kemajuan perusahaan penting banget. Nggak boleh ada rasa sakit hati atau kecewa lagi denger tentang dia yang nantinya bisa mengganggu. Segala macam gangguan harus dihindari." Ia menyatakan maksudnya lalu berpaling ke arah depan. "Sebesar itu ya kamu cinta sama Sakura?" Zhao Wei seperti bisa merasakan kekecewaan di hati Fandy. Pria itu mengangguk. "Dia wanita paling sempurna di mataku. Nggak ada lagi yang kaya dia." Zhao Wei mendengus dalam tawa. "Meskipun status saya adalah istri palsu, kamu membuat saya merasa bukan apa-apa sekarang," ujarnya dengan sedikit perasaan terluka terselip di d**a. Perkataan itu membuat Fandy cukup bersalah. Ia tidak bermaksud menyinggung gadis di sampingnya. "Maaf. Bukan itu maksudku," ucapnya mengklarifikasi sambil memandangnya. Zhao Wei menggeleng dengan senyuman simpul. "Yah, jujur aja saya juga mengakui itu. Saya memang nggak ada apa-apanya dibandingkan Sakura. Ah, maaf. Saya jadi bicara terus tentang dia." "Kalau gitu, bicara aja tentang kamu dan mimpimu." Fandy memberi usulan. "Sebagai bos, aku juga perlu tahu gimana pegawaiku, 'kan?" Kepala Zhao Wei bersandar pada tangannya yang bertumpu pada meja kayu di depannya. "Bukannya kamu sudah cukup tahu semua itu?" "Nggak. Aku baru tahu sedikit tentang kamu meskipun kita udah tinggal bareng beberapa bulan ini." Fandy membantah, dan tersadar bahwa ia berbicara lebih santai. Ia dan Zhao Wei memang lebih banyak membicarakan pekerjaan. "Coba cerita hobi kamu, makanan kesukaan kamu, film apa yang kamu tonton, yah apapun itu." "Nggak mau. Nanti Bapak jatuh cinta sama saya." Zhao Wei menolak. Suara mendesis keluar dari mulut Fandy. "Kenapa kamu jadi kepedean gitu? Yang ada kamu yang jatuh cinta sama aku." "Ih? Bapak juga kepedean. Selera saya itu nggak main-main, Pak. Nggak ada yang bisa memenuhi standar saya." Zhao Wei tidak mau kalah. Fandy tiba-tiba mencondongkan tubuhnya ke arah Zhao Wei. "Oh aku nggak memenuhi standarmu? Pinter, ganteng, mapan, seksi begini?" Zhao Wei mendorong Fandy dengan telunjuknya lalu menanggapi, "Orang narsistik nggak masuk standar saya." "Hei! Kamu—" "Sudah malam. Saya mau istirahat. Besok masih perlu kerja." Zhao Wei memotong ucapan Fandy lalu berdiri. "Bye." Fandy menyusul Zhao Wei dengan menggerutu. "Yang ajak duduk di sini siapa, yang ninggalin siapa. Cewek aneh," omelnya. [MWB] Fandy mulai menunjukkan sesuatu, saudara-saudara... Keterangan: [1] Terima kasih ke aku nanti. [2] Melakukan lebih dari satu hal secara bersamaan. [3] Canggung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN