Pagi berikutnya Fandy bangun lebih dulu daripada Zhao Wei. Semalam gadis itu menolak tidur sebelum dirinya terlelap. Namun daripada mendongkol karena masih tidak dipercayai, ia memutuskan untuk bersikap masa bodoh. Entah jam berapa istri gadungannya itu tidur, yang penting ia bisa tidur nyenyak.
Janji temu mereka dengan Mr. Reynolds adalah pukul sepuluh. Masih ada tiga jam sebelum waktunya tiba. Fandy merasa tidak perlu membangunkan Zhao Wei sekarang dan membiarkannya terlelap sebentar lagi. Karena itu ia keluar untuk makan pagi sendiri.
Namun satu jam kemudian setelah ia sarapan dan berjalan-jalan di sekitar, Fandy masih mendapati Zhao Wei berbaring di atas ranjang. Ia terheran bagaimana gadis itu belum bangun.
"Emang dasar kebo deh cewek ini." Fandy menggeleng-geleng. Ia menghampiri Zhao Wei dan menyenggol lengannya.
Tetapi Zhao Wei menggeram malas dengan suara lemah.
"Bangun woi. Udah jam delapan. Cewek kan mandi sama dandannya lama. Kita nggak boleh sampai terlambat karena udah janjian. Jaga image FL Media dari hal-hal kecil kaya datang on time." Fandy berkomentar cukup panjang.
Zhao Wei bergeming di tempatnya. Badannya tertutup selimut sepenuhnya dan hanya tersisa kepalanya yang terbuka.
Fandy menjadi gemas menghadapi pegawai sekaligus istrinya ini. Dengan paksa ia menyingkapkan selimut dari tubuh Zhao Wei. Namun karena itulah ia terkejut melihat lengan gadis itu tampak memeluk badannya seperti kedinginan. Ia segera menempelkan punggung tangannya di dahi Zhao Wei.
"Astaga. Panas banget," komentarnya. Dikembalikannya selimut ke posisi semula menutupi seluruh tubuh Zhao Wei.
Fandy keluar dari kamar dan meminta staf untuk membawakan handuk dan es batu. Beruntung ada ice bag[1] tersedia di villa itu. Dipesannyalah juga seporsi bubur untuk Zhao Wei dan obat penurun demam. Setelah itu ia segera kembali ke dalam kamarnya.
Kursi yang ada di dekat meja ditariknya mendekat ke ranjang. Fandy meletakkan ice bag itu di atas dahi Zhao Wei, tetapi ia menggeliat dan tangannya menyingkirkan benda itu dari kepalanya.
"Diem dulu dong. Kamu tuh demam." Fandy memprotes lalu meletakkan ice bag ke posisi yang benar lagi.
Zhao Wei akhirnya tenang dan menerima kompres di kepalanya itu. Yang Fandy lakukan setelah itu hanyalah diam menanti sampai staf membawakan pesanannya. Keheningan pun tercipta beberapa menit setelahnya.
"Mm, mm, mm." Zhao Wei bergumam tidak jelas, memecah kesunyian.
"Apa?" Fandy tidak bisa menangkap ucapannya. Ia mendekatkan telinganya ke mulut Zhao Wei untuk mendengarkannya lebih jelas.
"Wǒ bùyào![2]" Tiba-tiba Zhao Wei berteriak dalam bahasa Mandarin.
Fandy sontak menjauhkan telinganya yang kini terasa berdengung. "Cewek gila! Tadi ngomong nggak jelas, sekarang teriak nggak mau. Nggak mau apa?" Ia turut mengomel dengan suara keras, tidak khawatir jika gadis itu bangun.
Setelah berteriak, kini Zhao Wei mulai terisak. "Wǒ xiǎng yào kuàilè.[3]" Ungkapan itu seperti isi hatinya.
Mendengar itu emosi Fandy mereda perlahan. Ia tidak tahu benar apa yang Zhao Wei alami, tetapi ia bisa merasakan kepedihan yang sama di hati gadis itu. Ia pun mendambakan kehidupan yang bahagia, tetapi nyatanya hidupnya tidak semulus itu. Bahkan ia pernah berharap untuk dilahirkan di keluarga lain yang harmonis.
"Tolong." Perkataan Zhao Wei yang selanjutnya benar-benar menyiratkan keputusasaan. Air matanya mengalir.
Tangan Fandy otomatis terulur untuk menghapus air mata Zhao Wei. Tetapi kemudian kepala gadis itu bergerak ke arah tangan Fandy, seakan menempatkan posisi yang nyaman di telapak tangannya yang besar.
Yah, yah, kenapa dia jadi tidur di tanganku? Fandy membatin bingung. Ia ingin menarik tangannya tetapi tidak tega, apalagi setelah mendengar ungkapan keputusasaan Zhao Wei.
Di tengah kebingungannya, Fandy menyadari sedekat apa kini posisinya dengan Zhao Wei. Diperhatikannya setiap garis wajah gadis berkulit putih dan bermata lebih sipit darinya itu. Keriangannya yang biasa ia tunjukkan seakan topeng yang kini melebur dan menampakkan sosok yang polos dan membutuhkan pertolongan.
"Kamu berhak bahagia, Zhao Wei," bisik Fandy.
Zhao Wei mengangguk seperti ia mendengar perkataan Fandy. Karena itulah Fandy sontak menarik tangannya hingga kepala Zhao Wei jatuh ke ranjang dengan keras.
"Ah ...." Zhao Wei langsung merajuk. Kepalanya terasa pusing seketika karena guncangan keras itu.
Bersalah karena membuat Zhao Wei seperti itu, Fandy hendak membetulkan posisi kepalanya. Namun ia ingin memastikan lebih dulu bahwa gadis itu tidak benar-benar sadar. Akan memalukan baginya jika ternyata dirinya didapati oleh Zhao Wei melunak.
Setelah yakin bahwa Zhao Wei masih di alam bawah sadarnya, Fandy membetulkan posisi kepalanya. Naasnya gadis itu mengayunkan tangannya yang kini dikalungkan di sekitaran leher Fandy.
"Uh, Zhao Wei. Hei, hei. Lepasin." Fandy berusaha melepaskan dirinya tapi jemari Zhao Wei cukup kuat saling mengait.
Ketukan tiga kali di pintu terdengar. Bisa dipastikan bahwa staf villa sudah datang membawakan pesanannya. Tidak ada pilihan lain, Fandy melepas paksa tangan Zhao Wei dari lehernya hingga terbangun dan merajuk. Ia membiarkannya dulu dan menuju ke pintu. Setelah berterima kasih atas nampan dengan bubur dan obat penurun demam di atasnya, ia menutup pintu kembali dan meletakkan semuanya di meja.
"Bangun dulu. Kamu perlu makan." Fandy memerintah. Ia membantu Zhao Wei duduk dengan memasang bantal di belakang punggungnya.
Badan Zhao Wei terasa lemas dan matanya berkunang-kunang. Kerutan di dahinya terbentuk saat ia mendapati cahaya matahari yang terik masuk melalui jendela. "Boleh agak ditutup jendelanya? Saya nggak kuat cahayanya."
Fandy melakukan seperti yang diminta tanpa menunggu. Pada saat melangkah kembali, ia sempat terhenti sejenak menyadari perannya saat ini. Kok aku jadi kaya babu sih?
"Pak Fandy, ini jam berapa? Kita ketemu Mr. Reynolds jam sepuluh ya?" Zhao Wei berusaha beranjak dari ranjang.
"Eh, eh! Jangan turun." Fandy berseru mencegah. Ia mendorong kaki Zhao Wei yang sudah menggantung di tepi ranjang kembali ke atas. "Makan dulu, terus minum obat. Kamu demam tahu."
Jemari lentik Zhao Wei menggaruk sisi dekat telinga kirinya. "Oh ya? Pantas saja saya rasanya lemas sekali."
"Makanya, kamu makan dulu." Fandy mengulangi perintahnya. Ia duduk di kursi yang sama dengan membawa mangkuk berisi bubur di tangannya.
Pandangan mata Zhao Wei terarah ke bubur itu. "Sepertinya saya masih belum kuat pegang sendiri mangkuknya, Pak. Boleh bantu saya?" pintanya.
"Maksudnya suapin?"
Zhao Wei menggeleng lemah. "Pegang mangkuknya, saya yang menyendok buburnya sendiri," jelasnya.
Fandy pun melakukan apa yang Zhao Wei minta. Ia mendekatkan mangkuk itu kepada gadis yang mengulurkan tangannya meraih sendok. Tetapi baru mencoba menyendok saja Zhao Wei tidak punya daya. Fandy tidak ingin mengambil resiko bubur itu jatuh kemana-mana.
"Udah, aku aja yang suapin. Berantakan nanti berabe." Fandy mengomel tapi mulai menyendok bubur itu yang disuapkan kepada Zhao Wei. "Jadi pekerja profesional tuh harus ngerti kapan berhenti untuk istirahat biar nggak sakit gini. Apalagi kamu nggak ada keluarga yang bisa bantu. Kalau sekarang posisinya kamu sendirian di sini, pasti udah bawa masalah dan ngerepotin orang-orang tahu nggak?"
Zhao Wei menarik napas dalam-dalam sambil mengunyah. Ia perlahan menelan bubur yang tidak ada rasanya di lidahnya. "Pak, marah-marahnya bisa ditunda nggak? Kira-kira sampai besok. Otak saya masih belum aktif."
"Kalau otak kamu belum aktif, kamu nggak akan bisa ngomong gitu. Buka mata aja nggak bisa." Fandy menjadi kesal karena Zhao Wei secara langsung menolak diwejangi. Ia menyuapkan sendok kedua pada gadis itu.
Merasa perkataan Fandy masuk akal, Zhao Wei mengangguk-angguk. Kepalanya saat ini memang tidak bisa diajak bekerjasama. Berpikir jernih terasa sulit. "Iya juga ya." Matanya menerawang ke langit-langit lalu ia membuka mulut. "Pak, sudah habis."
Melihat kekonyolan dan sikap kekanak-kanakan Zhao Wei, tiba-tiba Fandy tertawa. Gadis itu di matanya tampak bodoh sekali.
"Kenapa tertawa, Pak? Seharusnya disuapin lagi. Kan waktu kita nggak banyak." Cara bicara Zhao Wei dengan suara yang membuat orang mengantuk membuat Fandy bertambah geli.
Sel-sel keisengan di dalam Fandy pun muncul. Ia meletakkan mangkuk di atas bagian ranjang yang kosong dan mengambil ponselnya. Dengan cekatan ia mengambil foto Zhao Wei yang menggelikan dan bisa dipakai sebagai senjata untuk menyerang gadis itu suatu kali diperlukan.
Lirikan tajam dilemparkan Zhao Wei pada Fandy. "Ah ... !" Ia merajuk dengan keras. "Pak Fandy! Jahat."
Fandy justru menjulurkan lidah pada Zhao Wei. Ia puas sekali mendapatkan foto itu. Diambilnya kembali mangkuk dari atas ranjang dan ia menyuapi gadis itu lagi. "Ssh. Udah makan sampai habis, terus kamu minum obat. Nanti aku aja yang ketemu sama Mr. Reynolds."
"Dabi babag nandi hayus jerasin ke shaya ragi." Zhao Wei berkomentar sementara mulutnya masih penuh. Ucapannya sama sekali tidak bisa dimengerti.
"Makan tuh ya makan. Telen dulu baru buka mulut," sergah Fandy.
"Apa?" Zhao Wei justru balik bertanya. Ia belum mengerti bahasa Indonesia yang Fandy ucapkan.
Fandy mendesah tidak mau tahu. "Diem. Makan sampai habis." Ia memerintah lalu menyuapkan sesendok besar lagi ke dalam mulut Zhao Wei.
Setengah jam kemudian bubur akhirnya habis. Zhao Wei pun meminum obat penurun demamnya dan dibiarkan beristirahat.
Baru hendak melangkah meninggalkan ruangan, ketukan di pintu terdengar. Fandy membukakan pintu dan Jerry tampak sedang berdiri dalam balutan kemeja warna hitam.
"Oh, halo, Pak Jerry." Fandy menyapa. "Saya baru mau ke tempat janjian."
Jerry tersenyum. "Saya dengar dari staf, katanya Bu Zhao Wei sakit ya?" Ia mencoba mengonfirmasi apa yang ia dengar.
"Ah ya," sahut Fandy dengan sudut bibir kanannya bergerak naik. "Saya sudah suapin bubur dan kasih minum paracetamol. Maaf kalau dia nggak bisa ikut dulu."
Tangan Jerry menepuk lengan Fandy. "Nggak masalah. Justru Mr. Reynolds bilang ke saya kalau memang Bu Zhao Wei sedang sakit, Pak Fandy bisa bikin sampel ilustrasinya dari konsep final kemarin. Lalu nanti dikirimkan ke email seperti biasanya," beritahunya.
"Tapi bukannya tujuan kami sampai datang ke Bali adalah untuk langsung berinteraksi dengan Mr. Reynolds? Apa nggak masalah begitu?" Fandy mencoba memastikan sekali lagi. Ia tidak ingin pada akhirnya nanti ada keluhan yang diajukan.
"Sejujurnya Pak Fandy, awal Mr. Reynolds itu meminta Bu Zhao Wei datang kemari hanya karena mengira dia masih single. Yah seperti yang dibilang kemarin malam, beliau berniat memperistri Bu Zhao Wei. Tetapi sebenarnya beliau sudah cocok dengan konsep kedua terakhir, saat Bapak dan Ibu masih di Bandung." Pengungkapan rahasia yang Jerry sampaikan menggelitik perut Fandy. "Mohon maafkan situasi ini ya, Pak. Karena itu anggap saja hari kedua ini sebagai liburan khusus untuk Pak Fandy dan Bu Zhao Wei."
"Ya, ya. Nggak masalah, Pak Jerry. Ini juga jadi kesempatan untuk kami lepas dari kepenatan kerja." Fandy menjawab dengan santai.
"Terima kasih ya, Pak." Jerry hendak melangkah pergi tetapi ia teringat sesuatu. "Ah ya. Saya mau kasih saran sedikit untuk Pak Fandy sih."
Fandi memiringkan kepalanya. "Apa ya, Pak?"
"Bukan terkait pekerjaan sih. Ini lebih mengenai kesembuhan Bu Zhao Wei," ucap Jerry.
Kedua alis Fandy naik. "Oh? Apa itu, Pak?"
Jerry tersenyum, senang karena niatnya disambut baik oleh pria yang sedikit lebih muda darinya itu. "Biasanya kalau istri saya demam begitu, saya biarkan dia tidur di pelukan saya. Ada hormon-hormon bahagia yang tercipta dan mempercepat kesembuhan. Coba saja, Pak. Nanti malam pasti sudah sembuh." Ia menepuk lengan Fandy.
Namun Fandy berdehem demi menyingkirkan pikirannya yang sudah menciptakan bayangan dari ucapan Jerry. Hawa panas tiba-tiba terasa, mulai dari tengkuk lalu menyebar ke wajah dan seluruh tubuh. "Ya, terima kasih, Pak Jerry, atas sarannya."
"Kalau begitu saya dikabari lagi ya, Pak. Kalau Bu Zhao Wei belum siap pulang malam ini, silakan pulang besok nggak masalah. Saya antarkan ke bandara kapanpun siap." Jerry melambai singkat pada Fandy dan meninggalkannya dalam keadaan tertegun.
Perlahan Fandy berbalik lalu menutup pintu. Ia tidak segera berjalan mendekati Zhao Wei tetapi berdiri di balik pintu dan menatap gadis itu.
Pikirannya setuju bahwa istri palsunya itu memang berparas cantik. Sebagai seorang laki-laki, wajar jika ia jatuh hati. Bahkan terlintas di kepalanya bahwa ia beruntung bisa menjadi suaminya, meskipun hanya pura-pura.
Ah, udahlah. Jangan mikir aneh-aneh. Lagian saran Pak Jerry bakalan bener-bener berguna kalau beneran suami istri. Kan nggak ada cinta di antara kami. Percuma nanti. Fandy menggeleng-gelengkan kepalanya untuk membuang pikiran itu. Ia berjalan menuju ke meja dan membuka laptop. Diarahkannya pikirannya pada pekerjaan.
[MWB]
Keterangan:
[1] Kantong kompres
[2] Aku nggak mau!
[3] Aku mau bahagia.