12 Perasaan Aneh

1929 Kata
Proyek dengan Mr. Reynolds berakhir sukses. Pemilik villa di Bali itu merasa puas dengan hasil akhir ilustrasi berbentuk video yang ia gunakan untuk mempopulerkan usahanya lebih lagi di situs web atau media sosial lainnya. Karena dia juga, beberapa pengusaha perumahan kenalannya juga direkomendasikan untuk menggunakan jasa FL Media untuk produksi materi promosi usaha mereka. Memasuki bulan ketiga bergabungnya Zhao Wei progres signifikan benar-benar terlihat. Pamor FL Media semakin melejit sampai banyak ilustrator lepas mengirimkan email kepada tim HRD untuk melamar pekerjaan. Demikian pula universitas-universitas berusaha mengajukan kerjasama agar bisa mengirimkan mahasiswa mereka untuk mendapatkan kesempatan magang di sana. Yang dulu hanya dianggap perusahaan desain visual kebanyakan, FL Media kini mulai mendapatkan namanya. Melihat betapa kewalahannya para pegawai yang sudah ada, Zhao Wei menyarankan agar Fandy menerima kerjasama dengan universitas-universitas. Perusahaan tidak perlu mengeluarkan biaya lebih untuk mempekerjakan pegawai-pegawai baru, tetapi mereka bisa menggunakan tenaga anak-anak magang. Fandy menyetujui ide itu dan FL Media resmi membuka peluang magang untuk mahasiswa dari universitas manapun. Hanya beberapa hari setelahnya ada cukup banyak mahasiswa dari beberapa universitas di Bandung mengajukan untuk magang di FL Media. Karena Fandy tidak mau ada terlalu banyak mahasiswa magang di kantor, maka Zhao Wei dan Cecilia bekerjasama untuk membuat seleksi kecil agar bisa mendapatkan mahasiswa terbaik. Dua mahasiswa dan tiga mahasiswi terpilih untuk bergabung selama tiga bulan. "Permisi, Pak Fandy." Cecilia datang mengetuk pintu ruangan CEO FL Media. "Masuk, masuk." Fandy mempersilakan. "Hari ini ya anak-anak itu mulai kerja? Gimana? Mereka oke?" Cecilia yang berdiri di depan meja Fandy mengangguk. "Tiga dari mereka membantu hal-hal administrasi, satu yang paling bagus skill desainnya ada bersama Nona Zhao Wei dan yang satu lagi diperbantukan di bagian konseling pelanggan." Ia memberi laporan singkat. Fandy mengangguk. "Bagus kalo gitu. Makasih," katanya. "Saya minta tolong kamu panggil Zhao Wei ke sini ya. Tapi kalau dia lagi free aja. Kalau masih sibuk, ya udah biarin dia lanjut kerjaannya." Cecilia merasa hal itu aneh di telinganya. Ia mengenal sosok bosnya yang tidak pernah mempertimbangkan hal itu sebelumnya terhadap siapapun. Jika ia meminta tolong sesuatu kepada siapapun, orang itu harus selalu bersedia baik ia sedang sibuk atau senggang. "Baik, Pak." Cecilia mengangguk lalu pergi meninggalkan ruangan. Di ruangan kantor terbuka, semua pegawai sibuk bekerja. Masing-masing sudah bisa mengikuti ritme cepat yang tercipta sejak sebulan lalu. Perkembangan yang pesat dibuktikan dengan kecekatan para pekerjanya. Cecilia melihat Zhao Wei sedang berbicara dengan mahasiswa yang ditempatkan untuk membantunya. Ia berjalan mendekat dan bertanya, "Permisi, Nona Zhao Wei." Sang pemilik nama langsung berpaling pada yang memanggilnya. "Oh? Bu Cecil. Ada apa ya?" "Ibu lagi sibuk kah?" Zhao Wei menggeleng. "Nggak kok. Ini lagi menjelaskan sedikit tentang alur kerja di sini ke dia." Telapak tangannya terbuka ke arah mahasiswa lelaki yang duduk di sampingnya. "Ada yang bisa dibantu, Bu?" Tangan Cecilia melambai ke kanan dan kiri seraya ia berkata, "Bukan saya, Nona. Pak Fandy yang memanggil." Kepala Zhao Wei bergerak agak miring dan kedua matanya menyipit. Ia merasa tidak ada tugas dari Fandy yang harus diselesaikannya. "Oke, Bu. Terima kasih ya." Cecilia tersenyum lalu berbalik pergi. "Kamu coba praktekkan apa yang sudah saya jelaskan ya. Nanti saya kembali dan cek pekerjaan kamu." Zhao Wei memberi instruksi lalu meninggalkan tempatnya. Zhao Wei berjalan menuju ke ruangan Fandy. Namun sebelum sampai, ia melihat mahasiswi magang berdiri di depan pintu ruangan sang CEO sambil memperbincangkan sesuatu. Ia sengaja tidak mendekat dan ingin mendengarkan apa yang mereka bicarakan. "Pokoknya aku mau berusaha untuk diterima di sini. Bosnya gantengnya bikin hati melting gini." "Sama. Kira-kira udah punya pacar belum ya? Kayanya masih muda. Kalau dibandingin sama kita mungkin nggak jauh-jauh amat kan. Jadi ngebayangin gimana kalau aku jadi istrinya." Seharusnya perbincangan semacam itu tidak berarti apa-apa untuk Zhao Wei. Tetapi ia tidak mengerti mengapa ada rasa gelisah di dalam hatinya. Ia seperti merasa tidak suka mendengarkan para gadis itu membicarakan Fandy seperti itu. Alhasil, intuisinya mendorong kakinya melangkah mendekati mereka berdua. "Ada apa di depan ruangan, Pak Fandy? Ada yang bisa dibantu?" Pertanyaan basa-basi itu lancar sekali diucapkan oleh Zhao Wei. Kedua mahasiswi itu tersenyum sambil menggeleng. Tanpa berlama-lama, mereka beranjak pergi dari sana. "Gadis-gadis muda jaman sekarang, suka sekali membicarakan suami orang lain," komentar Zhao Wei tidak suka. Ia berkata seolah-olah jarak usianya cukup jauh dari mereka. "Siapa yang bicarain suami orang?" Fandy muncul dari balik pintu dan mengejutkan Zhao Wei. Desahan terkejut Zhao Wei terdengar cukup keras sampai Wawan yang ada di ujung koridor mendekat. "Kenapa Nona Zhao Wei?" tanya lelaki lemah gemulai itu. Kenapa suaraku keras sekali sih? Air muka Zhao Wei mempertontonkan sedikit rasa malu saat ia membatin. "Nggak ada apa-apa," sahutnya. "Silakan kembali bekerja." Fandy mendengus dalam tawa kecil. "Aneh," komentarnya. "Ngapain sih kamu? Ayo masuk." Ia menahan pintu dan membiarkan Zhao Wei melangkah masuk. Zhao Wei langsung duduk menempatkan diri di kursi yang ada di depan meja Fandy. "Ada apa panggil saya kemari, Pak?" "Mau ngobrol aja." Fandy menjawab santai. Ia kemudian duduk di kursinya. Pandangan mata menajam, alis menyatu dan dahi berkerut membentuk ekspresi terheran di wajah Zhao Wei. "Pak Fandy, jangan bercanda. Ini jam kerja." Fandy menggeleng. "Siapa yang bercanda?" "Lalu, kenapa di situasi sibuk begini Bapak mau mengobrol saja sama saya?" Zhao Wei membentuk tanda petik di udara saat mengutip jawaban Fandy. "Nggak boleh ngobrol sama istri sendiri?" "Ssh!" Zhao Wei menghardik Fandy agar tidak mengatakannya. "Bapak ini mau memberitahu semua orang tentang status kita ya? Ingat perjanjian kita ya." Sudut bibir Fandy sebelah kanan bergerak naik. "Bercanda. Aku cuma agak bingung sama konsep yang kamu bikin terakhir ini," ungkapnya menyatakan maksud sebenarnya. "Coba kamu lihat ini." Ia menarik monitornya dan menghadapkannya ke arah dimana Zhao Wei bisa melihat dengan jelas. "Oh, ini. Apa yang buat kamu bingung?" tanya Zhao Wei penasaran. Ia merasa tidak ada yang salah atau aneh dari konsep itu. "Bukannya kemarin kamu nggak ada keberatan waktu saya presentasikan?" Fandy mengiyakan. "Waktu aku coba cek lagi, aku kaya ngerasa memang ada sesuatu yang kurang di sini," beritahunya. Jemarinya bergerak membentuk lingkaran tidak terlihat di depan bagian bawah monitor. "Kamu lihat ini?" Zhao Wei mengangguk. "Ini ilustrasi untuk hari Valentine pasangan yang baru menikah. Tapi kalau dilihat-lihat, nggak ada keintiman di sini. Perhatiin deh. Namanya suami istri kan pasti kelihatan deket. Di sini mereka kaya orang asing yang terpaksa menikah. Awalnya aku nggak ngeh tentang ini." "Ngeh?" Zhao Wei menunjukkan ekspresi tidak mengerti. "Nggak ngerti." "Oh." "Waktu aku coba cek sama anak-anak, termasuk Cecilia, mereka semua bilang gitu. Jadinya aku coba cek sendiri. Baru sadar deh kalau mereka betul juga." Fandy memberitahukan hasil pengamatannya. "Ini tuh kaya ... kita." Mata Zhao Wei mengerjap-ngerjap saat menoleh ke arah Fandy. "A-apa hubungannya sama kita?" Bibir Fandy tertarik hingga membentuk satu garis lurus. "Ilustrasi ini lebih tepat untuk kita. Karena kita memang ada jarak." Ia menjelaskan lebih lagi. "Yah, karena status pernikahan kita memang didasari dengan tujuan yang saling menguntungkan, bukan cinta. Iya kan?" Zhao Wei memberikan kesimpulan sesuai fakta. Fandy tidak bisa membantah hal itu. Tetapi hatinya merasa ingin mengungkapkan sesuatu yang lain. "I-iya memang. Tapi masalahnya ilustrasi ini bukan tentang kita, tapi tentang suami istri yang bener-bener cinta satu sama lain." Yang keluar dari mulutnya bukanlah apa yang mengganjal di hatinya. Semenjak pulang dari Bali, Fandy terus merasakan sesuatu yang aneh dalam dirinya. Setiap kali melihat Zhao Wei, ada sesuatu yang menggelitik di perutnya. Jika gadis itu sibuk sekali sampai interaksi di antara mereka menjadi sedikit, ia menjadi ingin melihatnya. Zhao Wei mengangguk-angguk. "Betul juga. Lalu mau diganti seperti apa? Ada ide, Pak?" "Hm, mungkin kita bisa obrolin ini di rumah? Udah hampir waktunya pulang nih. Setengah jam lagi." Fandy melirik ke arah jam dinding lalu kembali ke Zhao Wei. Zhao Wei melihat pada jam tangannya. "Oh iya. Kamu benar. Kalau begitu saya kembali dulu untuk membereskan pekerjaan saya, lalu sampai bertemu di rumah ya." "Uh, kita pulang sama-sama aja." Fandy mengusulkan. "Tapi nanti orang-orang mulai berpikiran tentang kedekatan kita." Zhao Wei memprediksi apa yang mungkin terjadi di masa depan. Senyuman Fandy mengembang. "Sekali ini aja. Mereka nggak akan pikir aneh-aneh kok." Ia percaya akan ucapannya sendiri. Dengan bibir mengerucut dan manik mata berputar setengah lingkaran Zhao Wei menimbang-nimbang. "Hm, oke. Sekali ini ya." Ia berpikir bahwa perkataan Fandy masuk akal. Lagi pula akan menguntungkan baginya untuk pulang bersama. Fandy mengangguk. "Jam lima langsung ke parkiran bawah ya. Mobilku ada di deket lift." Zhao Wei mengacungkan ibu jarinya lalu ia berpaling pergi meninggalkan ruangan Fandy. Dengan sedikit waktu yang tersisa, Zhao Wei memeriksa pekerjaan mahasiswa magang tadi dan juga beberapa hal lainnya. Ia juga memasrahkan draft final dari beberapa ilustrasi yang sudah disetujui oleh Fandy kepada pegawai yang bertanggung jawab untuk finishing. Sebelum lewat jam lima semuanya sudah diselesaikan, maka ia bisa meninggalkan tempat. Namun ia menunggu sampai semua pegawai pergi lebih dulu. Zhao Wei mengirimkan pesan pada Fandy agar jangan terburu-buru. Ia menuju ke pantry untuk minum jus jeruk peras segar yang tadi dilihatnya masih ada di lemari es. Sedikit kesegaran memang ia perlukan untuk membuka matanya yang agak mengantuk itu. "Oh, kamu di sini?" Fandy muncul dan berjalan ke dekat lemari es. "Masih khawatir tentang anggapan orang-orang ya?" Deretan gigi diperlihatkan oleh Zhao Wei di wajahnya. "Maaf ya. Saya nggak mau ambil resiko apapun saat ini. Gangguan sekecil apapun lebih baik kita hindari," katanya. "Well, no problem. Aku ngerti kok." Fandy membuka lemari es dan melihat apa yang bisa dikonsumsinya. Saat ia melihat s**u kotak di sana, ia teringat dengan persediaan yang ada di rumah. "Oh ya, Zhao Wei. Kamu inget nggak di rumah s**u kotaknya masih ada atau udah habis ya?" Kerutan di dahi Zhao Wei menandakan dirinya berusaha mengingat-ingat. "Seingat saya tinggal sedikit. Tadi pagi saya menuangkan segelas penuh untuk kamu dan saya." Ia memberitahu. "Kalau gitu nanti mampir ke minimarket sebentar ya." "Oke. Kamu aja kan yang keluar dari mobil? Saya nggak perlu. You know why." Suara klik yang disuarakan oleh lidah Fandy terdengar. "Ngerti banget kok." Ia mengambil gelas yang ada di tangan Zhao Wei. "Minta dong. Nggak ada minuman tersisa nih di lemari es." "Eh, eh." Zhao Wei tidak terima. Ia berusaha merebut kembali gelas itu dari tangan Fandy. "Itu gelas saya. Kamu pakai gelas lain." Fandy mendesah tidak mau tahu. "Aku nggak punya penyakit TBC. Tenang aja." Ia hendak meneguk gelas itu tapi Zhao Wei berhasil menyentuhnya lebih dulu. Hanya saja sentuhan Zhao Wei terlalu keras dan Fandy kurang erat menggenggamnya hingga gelas itu terlepas. Air jus tumpah ke baju Fandy dan gelasnya terjatuh ke lantai. Untung saja gelas itu tidak terbuat dari kaca. "Ups." Merasa bersalah, Zhao Wei menggaruk belakang telinganya. Lengan Fandy terlipat di depan d**a. "Tanggung jawab." Zhao Wei mengangguk. "Iya, saya bersihkan semua ini." Ia mengambil gelas di lantai dan meletakkannya di bak cuci. Fandy melangkah mendekati Zhao Wei dan berdiri di belakangnya. "Gelas sama lantai udah ada yang urusin. Harusnya kamu tahu maksudku adalah kamu tanggung jawab ke aku." Napas Fandy terasa di tengkuk Zhao Wei hingga ia merasakan esensi panas yang kini menyebar ke seluruh tubuhnya. "Bapak bisa nggak kalau agak jauh berdirinya dari saya?" pintanya tanpa memutar balik badannya. "Nggak mau. Kalau aku kotor, kamu juga." Kedua tangan Fandy berpegangan pada tepi bak cuci dan mengunci gadis itu. Zhao Wei berdehem. "Pak, minggir. Ini di kantor. Nanti ada orang bisa salah paham." Ia memerintah. "Orang-orang udah pulang kok." "Kalau gitu sekarang kita pulang saja." Sudut bibir kanan Fandy naik. "Oke. Tapi setelah ... ini!" Tangannya membuka keran dan air yang mengalir dicipratkan ke pada Zhao Wei. Ia membuat gadis itu basah. Zhao Wei tidak terima lalu membalas hal yang sama. Mereka kini berperang air seperti anak kecil. Untuk sesaat kepenatan mereka terhanyut dalam kesenangan kecil ini. [MWB]
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN