"Mandi kok lama banget sih?" Begitulah Fandy menyapa Zhao Wei yang baru keluar dari kamarnya. Ia tampak segar kembali setelah melepaskan kepenatannya di bawah guyuran air.
Namun gadis itu tidak peduli. Ia melenggang mendekati meja makan dan bergabung dengan Fandy yang sudah lebih dulu duduk di sana tapi belum menyentuh satupun makanan yang mereka beli saat perjalanan pulang.
"Kenapa belum makan?" tanya Zhao Wei bingung. Di pemandangannya hal ini tidak biasa pria itu lakukan.
Fandy menurunkan lengannya dari meja dan meletakkannya kedua telapak tangannya di atas paha. "Oke, Zhao Wei. Duduk dulu," pintanya sambil menepuk kursi di sebelahnya.
"Di sini?" Di wajah Zhao Wei ekspresi penuh keheranan tampak. Ia tidak mengerti apa yang Fandy ingin lakukan.
"Ya." Fandy mengangguk.
Zhao Wei kemudian melakukan apa yang Fandy katakan. Ia duduk di sebelah pria itu meskipun dengan gerakan ragu-ragu.
"Good. Sekarang kamu denger baik-baik apa yang aku mau bilang dan jangan disela sebelum aku selesai." Fandy memberikan instruksinya di awal.
Dengan mata memicing penuh selidik, Zhao Wei mengangguk sekali. Ia membiarkan Fandy memberitahukan maksudnya karena ia juga merasa penasaran melihat keseriusannya.
"Kamu tahu kan ilustrasi untuk Hari Valentine ini bakalan untuk kontennya si Youtuber itu? Artinya dia pasti minta ilustrasi yang bener-bener tepat menggambarkan tema yang dia minta." Mata berapi-api dan stok energi pada level tertinggi, itulah yang gambaran tepat untuk Fandy sekarang. "Konseptor utamanya itu kamu dan kamu sama sekali nggak punya pengalaman apa-apa tentang gimana mesranya di antara suami dan istri. Padahal kamu udah punya suami. Aku." Telunjuknya mengarah pada dirinya sendiri.
Tangan kanan Zhao Wei naik setengah tiang dan ia hendak mengatakan sesuatu.
"Nope. Kamu nggak boleh sela aku. Inget?" Fandy mencegahnya untuk berbicara. "Ya, kita memang suami istri settingan. Tapi seenggaknya untuk proyek ini, kamu harus punya pengalaman nyata sendiri gimana hubungan antar suami istri yang nyata. Supaya apa? Ya supaya bisa terjemahin itu ke dalam ilustrasi."
Tidak mau terjebak di dalam permainan yang tidak diketahuinya, Zhao Wei menyanggah ucapan Fandy segera. "Nggak. Saya nggak mau kalau disuruh tidur sama Bapak dan melakukan yang itu. Saya resmi menolak." Ia menyilangkan kedua lengannya di depan d**a.
Desahan panjang yang diikuti decakan diperdengarkan oleh Fandy. Ia menggeleng-geleng. "Aku nggak akan pernah maksa kamu ngelakuin itu, oke? Udah aku bilang, aku cowok yang menghargai wanita." Ia menegaskan kembali bagaimana dirinya. "Yang aku maksudkan sebelumnya itu adalah sebatas demonstrasi aja. Contoh. Ngerti kan?"
Bibir Zhao Wei mengerucut dan hanya alisnya yang bergerak ke atas pengganti sebuah anggukan.
"Tapi yang pasti harus ada kerjasama juga dari kamu sendiri. Kalo nggak ada, ya jadinya percuma aja. Kamu nggak bisa rasain atau bayangin, mana bisa terjemahin itu ke ilustrasi?" Tangan kiri Fandy yang terbuka ada di atas meja terangkat sejenak.
Zhao Wei masih tidak percaya. Bahkan badannya mendukung hal itu dengan arahnya yang condong menjauh dari Fandy. "Ini bukan akal-akalan Bapak untuk memanfaatkan saya kan? Bapak jatuh cinta ya sama saya?" Pernyataannya mirip seperti tuduhan berat yang dijatuhkan kepada seorang kriminal.
"Kalau aku orang yang kaya gitu, udah dari awal aku manfaatin kamu. Tapi buktinya udah tiga bulan kita satu rumah, kamu masih dalam keadaan yang aman-aman aja kan?" Fandy menyerocos tidak terima. "Dan asal kamu tahu, Sakura masih nomor satu di hatiku."
"Eh? Nggak boleh! Sakura udah punyanya Andrew. Biarkan dia bahagia," sanggah Zhao Wei cepat. "Move on!"
"Gimana bisa move on kalau kamunya aja nggak mau?"
Sejenak keheningan tercipta di antara mereka. Zhao Wei terperanjat akan apa yang Fandy katakan, sementara Fandy sendiri berusaha mencerna perkataannya barusan yang muncul begitu saja.
"A-ah, jangan salah sangka kamu!" Fandy meluruskan ucapannya. "M-maksudnya kamu bisa jadi pengalihan untuk aku move on dari Sakura. Uh, bukan. Aku perlu fokus ke yang lain untuk nggak inget-inget dia lagi. Ish, gimana ya? Ah, pokoknya itu." Ia kebingungan menyatakan apa maunya. Posisi tubuhnya beralih dari Zhao Wei ke meja, kemudian siku tangannya bertumpu di atas meja sambil menggaruk-garuk rambutnya.
Canggung dan senyap. Itulah dua kata yang tepat untuk menggambarkan situasi di antara Fandy dan Zhao Wei setelahnya. Namun di tengah-tengah situasi itu, ia meninjau tingkah Fandy yang memang menunjukkan ada kebenaran di sana. Zhao Wei suka menilai orang dengan hati-hati. Pertanyaan demi pertanyaan menjebaknya yang sudah dilontarkan kepada pria di sampingnya ini cukup berhasil membantunya memahami karakter Fandy. Ia merasa bahwa tidak salah untuk mencoba mempercayai seseorang.
"Oke. Kita mulai dari mana?" Ucapan Zhao Wei sontak menarik perhatian Fandy.
Tatapan tak percaya tergambar jelas di wajah Fandy. "Kamu ... nggak salah ngomong kan?"
Zhao Wei menggeleng. "Lagi pula tinggal tiga bulan lagi kan? Dan customer kita kali ini berpengaruh sekali. Saya sudah cek saluran Youtube dia punya sepuluh juta subscribers. Ini batu loncatan yang baik sekali untuk membawa nama FL Media ke posisi yang lebih tinggi." Diungkapkannya alasan yang masuk akal mengapa ia setuju akan ide Fandy.
"Beneran? Kamu nggak lagi ngerjain aku kan?" Fandy memastikan lagi. Barangkali ini hanyalah balasan dari Zhao Wei.
"Iya. Saya serius."
Senyuman lebar mengembang di wajah Fandy dilengkapi dengan manik matanya yang berbinar. Ia menarik salah satu tangan Zhao Wei dan menggenggamnya erat dengan kedua tangannya.
Awalnya Zhao Wei ingin menarik tangannya, tetapi dalam sedetik ia teringat akan keputusannya sendiri. "O-oke. Kita makan ya. Perut saya sudah lapar."
Fandy mengangguk-angguk. "Ayo. Aku sengaja nungguin kamu selesai mandi supaya kita bisa makan sama-sama," ungkapnya.
Entah bagaimana ucapan itu menggerakkan hati Zhao Wei. Semenjak perusahaan papanya menjadi besar, kebersamaan yang hangat di meja makan sudah tidak pernah dilakukan. Semuanya terbiasa untuk makan lebih dulu daripada yang lain. Hanya ketika acara spesial saja semuanya berkumpul untuk makan bersama, tepat seperti saat ia dan Fandy menghabiskan waktu seminggu setelah pernikahan di sana.
Tanpa sengaja genangan air terbendung di mata Zhao Wei. Ia buru-buru memalingkan muka dan menghapusnya segera agar tidak terjatuh.
"Hei, kamu nggak papa?" Kebungkaman Zhao Wei dan tingkahnya yang aneh membuat Fandy bingung. Tangannya memalingkan wajah gadis itu padanya. "Kamu ... nangis? Kenapa?"
Zhao Wei merutuki situasi ini karena membuat air matanya tidak berhenti mengalir. Berulang kali ia menghapus tetesan demi tetesan yang membasahi pipinya.
"Ada masalah yang kamu mau ceritain?" tanya Fandy, menawarkan jika Zhao Wei membutuhkan telinga yang bisa mendengar keluh kesahnya.
Hidung Zhao Wei mengeluarkan suara tarikan ingus yang mulai terbentuk. "Saya ... rindu orang tua saya yang dulu." Ia terisak-isak. "Mereka yang sekarang lebih suka uang. S-saya hampir dijual dalam pernikahan demi kemajuan bisnis." Tangisannya pecah seketika dan ia tidak malu menampakkan wajahnya yang tidak cantik.
Fandy merengkuh gadis itu ke dalam pelukannya. Ditepuk-tepuknya punggung Zhao Wei pelan. Ia membiarkan Zhao Wei puas menangis tanpa satupun kata terucap.
Zhao Wei sendiri merasa nyaman menumpahkan emosinya yang selama ini tertahan. Ia tidak pernah menyangka bahwa hari ini akan datang, dimana keluh kesah tersembunyinya didengar oleh suami palsunya. Dalam lubuk hati kecilnya ada perasaan bahwa mungkin pertemuannya dengan Fandy bukan merupakan sebuah kebetulan.
Setelah tangisan Zhao Wei agak mereda, Fandy merenggangkan pelukannya. Ia mendorong bahu gadis itu hingga bisa melihat wajahnya. Dihapusnyalah air mata dari pipi Zhao Wei. "Walau gimanapun, kamu masih beruntung kok punya orang tua. Mereka saat ini bisa aja lupa peran mereka sebagai orang tua, tapi aku yakin mereka masih sayang kamu. Buktinya mereka ijinin kamu kuliah desain visual dan menikah sama aku kan?"
Ucapan penghiburan Fandy menyentuh hati Zhao Wei. Ia mengangguk sambil tersenyum memandang pria itu meskipun dengan pandangan kabur karena air mata. "Saya harap suatu kali nanti mereka tahu kalau keluarga itu lebih penting daripada kekayaan atau ketenaran," ujarnya meluapkan harapan terdalamnya.
"Nggak ada yang mustahil bagi orang yang percaya." Fandy mengucapkan perkataan yang pernah ia dengar dari Sakura. Tidak disangkanya ia akan meneruskan ini pada Zhao Wei.
Diawali sebuah tarikan napas panjang, Zhao Wei mengangguk lalu berkata, "Aku percaya."
Fandy mengulurkan tangannya membelai kepala Zhao Wei. Ia menatapnya dengan intens sambil tersenyum lega.
Kesedihan yang tadinya mendominasi hati Zhao Wei kini tergantikan oleh perasaan tersipu yang tiba-tiba datang. Hawa panas menyebar ke seluruh tubuh, hingga kulit pipinya yang putih kini merona. "Yah, waktunya kita makan sekarang." Ia mengalihkan topik untuk menutupi apa yang sedang melandanya.
Satu server dengan gadis itu, Fandy juga berpaling pada makanan yang ada di meja. Digesernya piring-piring mendekat kepada Zhao Wei dan dirinya. Keduanya kemudian mulai menikmati makanan dari restoran kecil di dekat perumahan mereka.
"Pak Fandy, dari update terakhir ada berapa persen tingkat kenaikan perusahaan dalam segi finansial?" Zhao Wei membuka percakapan baru demi menghindari keheningan. Topik seperti ini mudah sekali membuatnya dan Fandy menyambung, karena itulah yang menjadi subyek utama percakapan mereka sehari-hari.
Setelah menyelesaikan kunyahan di mulutnya sebentar lalu menelannya cepat, Fandy tidak sabar untuk angkat bicara menjawab pertanyaan Zhao Wei. "Oh ya, aku belum beritahu kamu yang aku lihat dari laporan Cecilia ya." Ia meletakkan sendok dan piringnya lalu menghadapkan tubuhnya sedikit ke arah Zhao Wei. "Ini gila sih, tapi dalam waktu tiga bulan persentase kenaikannya sampai dua puluh empat persen."
"Masa? Wah!" Zhao Wei bersorak gembira. Mimik wajahnya begitu cerah sehingga kedua matanya yang sudah sipit semakin tidak nampak.
"Nah, nah. Karena aku udah komunikasi sama beberapa temen aku yang ada di Singapore sama Australia, kita coba untuk perlebar fokus kita ya bulan depan. Bisa jadi nanti kita ke dua negara itu untuk visitasi lokasi. Mereka itu usahanya di bidang fashion, kuliner sama literatur. Toko buku gitu."
Akibat terlalu senang mendengar berita ini, Zhao Wei tidak fokus menyuapkan makanan ke mulutnya sendiri dengan benar. Di pipinya menempel sebiji kecil nasi.
Maka dari itulah adegan tipikal di drama Korea yang biasa terjadi di antara pria dan wanita terjadi pula pada mereka. Fandy mengulurkan tangannya meraih nasi itu dan menyingkirkannya dari pipi Zhao Wei tanpa berpikir. Namun dengan begitu matanya bertemu dengan mata Zhao Wei dan terpaku beberapa lama sebelum akhirnya tersadar akan apa yang dilakukannya.
Fandy berdehem lalu menurunkan tangannya. "Kamu seneng banget sampai makan belepotan gitu," komentarnya tanpa melihat wajah Zhao Wei dan bertindak seolah melanjutkan makannya.
Kekehan malu juga diperdengarkan Zhao Wei sambil menggaruk belakang telinganya. "Iya senang dong. Itu artinya tujuan kita semakin dekat kan?" ucapnya yang langsung disambut dengan anggukan persetujuan dari Fandy.
"Ah iya. Dari kemarin aku mau beritahu ini tapi lupa terus." Suara jentikan jari Fandy menarik perhatian Zhao Wei. Ini merupakan salah satu caranya untuk mengalihkan situasi agar tidak canggung. "Kamu punya SIM internasional kan? Kamu pakai aja mobil yang ada di garasi itu. Jarang aku pakai, sayang mesinnya nanti. Repot juga manasin mesin tiap pagi, jadi lebih baik kamu pakai."
Zhao Wei merasakan perubahan bertubi-tubi pada Fandy. Ia ingat betul di awal pria itu begitu posesif tentang barang-barang miliknya. Namun memperbolehkan dirinya memakai mobil Fandy seakan merupakan sebuah keajaiban. Ini seperti sebuah titik balik seorang pria dingin dan cuek menjadi pria yang ternyata hangat dan menyenangkan.
"Oke, oke. Makasih," sahut Zhao Wei penuh syukur. Ia tidak lagi harus mengeluarkan uang untuk transportasi dan lebih leluasa untuk mendapatkan mobilitas tinggi.
Fandy mengacungkan jempolnya. "No worries. Yuk dihabisin. Habis itu kita istirahat. Besok kita punya banyak kerjaan yang harus selesai," ajaknya.
[MWB]