Hari-hari ini kecanggungan di antara Fandy dan Zhao Wei cukup berkurang. Mereka lebih banyak menghabiskan waktu bersama, bukan hanya membahas pekerjaan seperti sebelumnya tetapi berbagai hal lainnya. Hubungan mereka menjadi seperti layaknya sahabat yang tinggal dalam satu rumah.
Ada perubahan demi perubahan baik yang mereka alami. Jika Fandy biasanya berkutat pada pekerjaan demi melupakan Sakura, kini pikirannya justru menjadi jauh lebih santai dan tenang. Begitu pula dengan Zhao Wei yang akhirnya memiliki tempat untuk bercerita jika ia merasa kesepian, bosan, atau dilanda semangat yang patah akibat tekanan dari orang tuanya.
Hampir empat bulan berada dalam status pernikahan, tentu saja tidak lepas dari monitor orang tua Zhao Wei. Mereka sudah mulai menanyakan perihal keturunan. Tentu saja itu tidak mungkin bagi dirinya dan Fandy yang tidak mengarah pada pernikahan yang sesungguhnya.
"Kenapa lagi kamu, Zhao Wei?" Fandy berjalan masuk ke dalam kamar Zhao Wei yang terbuka.
Gadis itu sedang terduduk lemas dengan kepala terbaring di atas meja. Ia mendongak pada Fandy dan menunjukkan ponselnya, dimana pesan singkat dari mama Zhao Wei terbuka. Isinya adalah beberapa artikel tentang kehamilan.
"Mungkin kita harus kasih alibi kalau kita sengaja program satu tahun untuk nggak punya anak dulu." Fandy duduk di tepi ranjang yang ada di dekat meja.
Zhao Wei mengangguk. "Pak Fandy—"
"Fandy aja. Kamu nih, selalu lupa," sela sang pemilik nama. Ia sudah meminta Zhao Wei agar tidak terlalu formal di rumah.
"Ya, ya. Fandy."
"Nah, gitu. Kenapa?"
"Saya suntuk di rumah hari Sabtu begini. Pekerjaan sudah beres semua. Mau apa-apa rasanya nggak semangat," beritahu Zhao Wei. Ia mengangkat kepalanya lalu menopangnya dengan kedua tangan.
Kedua lengan Fandy terlipat di depan d**a. "Mau ke supermarket belanja bulanan sama aku?" Ia menawarkan.
"Nanti kalau ada pegawai kantor yang lihat bagaimana?" Zhao Wei tidak yakin. "Probabilitas bertemu mereka itu sekitar empat puluh persen."
Fandy tertawa geli. "Survei dari mana coba? Ngarang aja kamu," ucapnya pada Zhao Wei yang langsung menyeringai. Ia kemudian beranjak dari ranjang. "Ayo pergi. Pakai masker sama hoodie aja kalau nggak mau ketahuan."
"Bisa sih. Oke, lima menit ya." Zhao Wei mendorong Fandy pergi sampai keluar pintu.
Fandy tertawa kecil di depan pintu kamar Zhao Wei. Ia mampir ke dapur sebentar untuk meminum segelas air dan melangkah ke luar rumah. Cuaca sudah cukup terik di hampir jam sepuluh pagi ini. Ia masuk ke dalam mobil dan memanaskan mesinnya sembari menunggu Zhao Wei.
'Fandy, kamu di rumah nggak? Aku mau nanti siang mau mampir sama Tommy. Baru balik dari Vietnam, aku beliin oleh-oleh buat kamu. Aku anterin sekalian mau main lah. Udah lumayan lama nggak ketemu kan. - Benita'
Pesan masuk di w******p dari sepupu Fandy mengejutkannya saat ia tengah memeriksa catatan berisi daftar belanjaan di ponsel. Ia sama sekali tidak menceritakan siapapun mengenai pernikahan ini, bahkan pada Benita yang merupakan satu-satunya kerabat. Memikirkan alibi termudah, ia membalas pesan itu.
'Hai, Nit. Aku lagi nggak ada di rumah. Kamu bisa titip aja di satpam perumahanku. Maaf banget ya. - Fandy'
Fandy baru saja bernapas lega setelah mengirim pesan ini. Tetapi balasan Benita berikutnya membuat tenggorokannya tercekat.
'Tujuanku mau ketemu kamu, bukan cuma antar barang, Fan. Besok aja kalo gitu aku ke rumahmu. Kamu nggak boleh pergi soalnya aku udah bilang. - Benita'
"Gawat. Besok aku sama Zhao Wei harus beres-beres rumah dan sembunyiin foto nikahan." Ia berkata-kata pada dirinya sendiri.
Pintu mobil di sisi kiri terbuka. "Ada apa? Wajah kamu serius." Zhao Wei duduk di jok penumpang depan sambil kembali menutup pintu dan memposisikan dirinya senyaman mungkin.
Fandy menoleh padanya dan berkata, "SOS, Zhao Wei." Diceritakannya apa yang barusan terjadi dan rencananya besok.
"Oke, oke. Kalau gitu nanti malam kita beres-beres ya. Sekarang kita urus apa yang harus kita urus." Zhao Wei mengusulkan dan langsung disetujui.
Mobil melaju meninggalkan area rumah. Ini baru pertama kalinya mereka berada dalam satu mobil pergi ke suatu tempat. Jika hubungan mereka masih kaku seperti dulu, sudah pasti keheningan akan mendominasi. Namun nyatanya sekarang mereka bicara hampir tanpa henti di sepanjang perjalanan.
Sekitar seperempat jam keduanya sampai di supermarket ternama di Bandung. Mereka meninggalkan mobil dengan penampilan seperti pasangan agen misterius, lengkap dengan hoodie dan masker. Keduanya memasuki gedung itu dan langsung mendapat perhatian dari orang-orang di sekitar.
"Hei, kita diperhatiin sama orang-orang nih. Aku lepas aja ya tudung hoodie aku?" Fandy merasa tidak nyaman dengan posisi seperti ini. Namun ia meminta ijin pada Zhao Wei lebih dulu karena takut gadis itu mengomel nantinya.
Zhao Wei mengangguk. Selama Fandy masih menutup sebagian wajahnya, seharusnya orang akan kesulitan menebak siapa dirinya. "Tolong ambil cart-nya, Pak—eh, Fan." Ia menunjuk pada keranjang dorong berwarna biru yang tersusun rapi di tempatnya.
Fandy mengambil salah satunya dan mendorongnya sambil berjalan berdampingan dengan Zhao Wei. "Mulai dari sayur ya. Ini kamu pegang yang hapeku. Lihat list-nya di Google Keep." Ia menyerahkan benda persegi panjang dengan case silikon putih yang ia ambil dari saku celananya.
Dengan leluasa Zhao Wei mengakses ponsel Fandy seakan ia sudah sering melakukannya. Dilihatnya catatan belanjaan yang cukup panjang. "Ternyata selama ini kamu detail banget ya. Pantas saja di rumah selalu tersedia semuanya."
Dua jemari tangan kanannya membentuk pose keren ala rapper. "Kalau terbiasa hidup sendiri ya gitu," sahutnya diikuti tawa kecil.
Zhao Wei juga tertawa dan mengangguk-angguk. "Makanya kamu juga bisa masak ya, walaupun sederhana." Pikirannya teringat pada tempo hari dimana Fandy memasak nasi goreng seafood yang menurutnya lezat. "Eh, ternyata ini ada diskon!" Telunjuknya teracung pada sebuah papan tipis bertuliskan 30% off.
Geli melihat Zhao Wei, Fandy menggeleng-geleng. "Ternyata orang bule suka diskon juga ya. Dimana-mana cewek sama dalam hal ini," komentarnya.
"Itu nggak diragukan lagi." Zhao Wei bergerak menuju rak sayuran dan buah. Ia mengambil beberapa jenis sesuai dengan kesukaan mereka berdua dan memasukkannya ke dalam keranjang.
Mereka terus berjalan menyusuri rak demi rak, lorong demi lorong, sesuai dengan apa yang ada di daftar. Keranjang itu hampir penuh dengan belanjaan ketika semua yang diperlukan sudah diambil. Keduanya kemudian berjalan menuju kasir untuk membayar semuanya.
"Fandy?" Suara familiar di telinga Fandy membuatnya menoleh dengan kejutan seperti listrik di dadanya.
Yang dipanggil namanya pun menelan ludah, tidak menyangka akan bertemu dengan Benita di sini. Usahanya untuk menghindari sepupunya itu menjadi sia-sia.
"Benita? Kok kamu bisa tahu ini aku?" Itulah yang pertama kali bisa terucap dari mulut Fandy.
Decakan mengawali sahutan Benita. "Jelas dong. Kita udah hidup tahunan sama-sama ya. Cara jalanmu, gerakan tanganmu, semuanya aku ngerti banget." Ia memberikan jawabannya. Matanya kemudian beralih dari Fandy ke Zhao Wei. "Ini siapa? Pacar ya? Kamu udah bisa move on dari Sakura? Kok nggak bilang-bilang?" Pertanyaan-pertanyaan itu bertubi-tubi ditembakkan pada Fandy hingga tidak bisa berkutik.
Zhao Wei yang ada di samping Fandy hanya bisa mematung. Kemampuan bahasa Indonesianya luntur seketika hingga ia kesulitan untuk menyanggah Benita dengan sebuah alasan buatan.
"Uh, dia ... pegawai di kantorku." Fandy menyampaikan jawaban sesuai dengan kenyataan yang paling cepat didapat dan bisa diterima.
Benita memicingkan kedua matanya tidak percaya. Ia mengamati Fandy dan Zhao Wei bergantian serta keranjang dorong yang penuh barang itu. "Ada yang aneh. Kamu nggak akan pernah belanja sama siapapun, Fan. Aku tahu kamu. Jangan-jangan dia istrimu ya? Kamu menikah nggak bilang-bilang?" Ditunjuknya Fandy dengan jari telunjuknya disertai tatapan tajam.
Benita emang belum tobat-tobat. Kemampuan cenayangnya itu masih ada. Jantung Fandy berdetak kencang sekali karena ketahuan menikah tanpa memberitahu. Namun ia tidak mau mengakuinya. "K-kamu ngomong apa sih?"
"Nah, nah!" Benita menuding-nuding sepupunya. "Tahu aku. Kamu lagi boong. Jangan kira kamu bisa boongin aku kaya kamu boongin orang lain ya. Aku nih keluargamu, Fan." Ia menjadi kecewa dan kesal saat itu juga.
Fandy menggenggam pergelangan tangan Benita dan menyuruhnya diam agar tidak membuat keributan. "Zhao Wei, tolong kamu bayar ya. Nih, pakai kartu kredit aku. PIN-nya hari kemerdekaan Indonesia." Ia berbisik sambil menyodorkan kartu yang ia ambil dari dalam dompetnya pada istrinya itu. "Aku mau urus ini cewek satu."
Zhao Wei mengangguk. Ia tidak punya pilihan apapun selain menuruti permintaan Fandy. Dalam hati ia benar-benar berharap bahwa perkara ini tidak menjadi besar.
Sementara Zhao Wei mengurus belanjaan, Fandy membawa Benita keluar dari area supermarket. Ia menyuruh gadis yang perutnya membuncit untuk kedua kalinya itu berdiri di sudut tembok kaca.
"Inget janin. Nggak usah marah-marah." Fandy mengingatkan sepupunya yang wajahnya sudah bermuram durja. Ia mengerti mengapa Benita bersikap seperti itu, tetapi ia tidak ingin kehamilannya terpengaruh. "Aku jelasin kamu semuanya dari awal. Jangan dipotong. Oke?"
Kedua lengan terlipat di depan d**a menunjukkan betapa Benita benar-benar kecewa. Ia mengerakkan dagunya ke depan satu kali, mengisyaratkan Fandy agar segera memulai ceritanya.
Dengan perlahan dan runtut Fandy menjelaskan duduk perkaranya dari awal sampai akhir. Ia mempercayai Benita yang bisa berpikir secara jernih dan dewasa, maka ia tidak menahan-nahan satu informasipun. "Tapi sekarang aku sama Zhao Wei lagi berusaha untuk gapai impian kami dulu. Masalah pernikahan ini bakalan diurus setelah lewat bulan keenam target kami," katanya.
"Udah?" Nada suara Benita kaku dan menegang.
Fandy mengangguk.
"Nggak suka aku, Fan, sama apa yang kamu lakuin ini. Pernikahan itu sakral. Bisa-bisanya kamu mainin kaya gini. Gampang banget gitu? Emangnya habis impian kalian tercapai, kalian terus pisah? Wah, parah, parah." Benita menyerocos meluapkan emosinya. "Masih nggak percaya sama cinta? Bukannya kamu pernah cerita kalau karena Sakura kamu mau belajar untuk percaya kalau cinta sejati itu memang ada? Tapi kenapa sekarang kamu gini lagi? Atau istri kamu itu sama juga kaya kamu, anggap enteng pernikahan?"
Fandy mengangkat tangan setengah tiang, meminta Benita berhenti bicara. "Nit, kalau kamu ada di posisi aku, kamu nggak akan ngomong kaya gitu. Ngerti nggak?" Emosinya ikut tersulut tetapi ia tidak membiarkan dirinya terbakar. "Cara ini memang salah. Oke aku akui itu. Tapi kalau kamu lihat posisi Zhao Wei dan rasain apa yang dia alami, kamu bakalan mau bantu dia."
"Yakin itu alasannya? Bukannya kamu juga ambil keuntungan dari dia karena kamu mau majuin perusahaan?" Benita mengungkapkan keraguannya yang besar. "Parah, parah. Kalau Sakura sampai tahu, dia pasti kecewa berat."
Mendengar nama itu disangkutpautkan dalam situasi ini, Fandy langsung tidak terima. "Nit, Nit, tunggu ya. Dari tadi aku tuh udah tahan-tahan supaya nggak meledak marahnya. Tapi kenapa kamu malah makin jauh ngelewatin batas?" Ucapannya setajam tatapannya pada Benita sekarang.
Tarikan-tarikan kecil di lengan kemeja Fandy terasa. Ia berpaling ke arah dimana itu berasal. Dilihatnya Zhao Wei berdiri di sana dengan keranjang dengan belanjaan yang sudah dibayar.
"Biar saya yang bicara ya." Zhao Wei meminta kesempatan itu demi menghentikan emosi Fandy.
Desahan napas singkat mengindikasikan keputusan Fandy untuk mengikuti kemauan Zhao Wei. "Aku bawa ini ke mobil dulu." Ia kemudian mendorong keranjang itu pergi menjauh.
Kini tinggal Zhao Wei dan Benita berdiri berhadapan. "Kita duduk sebentar di sana ya." Zhao Wei mengarahkan wanita hamil itu ke tempat duduk terdekat.
Keduanya bergerak menuju ke bangku kayu dan duduk bersebelahan. Zhao Wei membantu Benita yang tampak kesulitan duduk di awal karena ketinggian bangku itu.
"Benita ya kan?" Zhao Wei mengonfirmasi jika namanya benar sesuai yang ia dengar sebelumnya. "Kamu ingat tiga tahun lalu saya ada di pernikahan Sakura?"
Si pemilik nama mengangguk. "Inget lah," katanya. "Tapi waktu itu kamu belum bisa bahasa Indonesia."
"Maafkan kami karena situasi ini ya. Kami nggak bermaksud untuk nggak undang kamu atau keluarga Fandy yang lain ke pernikahan kami." Zhao Wei memulai penjelasannya. "Semuanya serba mendadak. Tapi sejujurnya dengan adanya Fandy, saya merasa tertolong. Seharusnya saya sekarang seperti burung yang terkurung di sangkar emas dengan om-om di Taiwan, tapi sekarang saya masih bisa terbang meraih mimpi. Dan pada saat yang sama saya merasakan kembali betapa hangatnya keluarga melalui Fandy. Jadi, tolong jangan salahkan dia ya."
Kemarahan Benita sedikit mereda. Ia menyelipkan helaian rambutnya yang menutupi wajah karena tertiup angin ke belakang daun telinga kirinya. "Ada dua pilihan yang kamu punya sekarang. Satu, tinggalin dia sekarang sebelum kejauhan atau dua, jangan pernah tinggalin dia." Ia memberikan wejangan sekaligus permintaan. "Fandy udah pernah sakit hati dan kecewa karena cinta dua kali. Kalau kamu sekali lagi bikin dia patah hati, aku bakalan salahin kamu habis-habisan. Ngerti?"
Dengan itu Zhao Wei tidak bisa memberikan jawab apapun. Ia memang tidak menginginkan hal itu terjadi pada Fandy, tetapi bayangannya mengenai hidup selamanya dengan Fandy tidak pernah ada di pikirannya. Pernikahan ini hanyalah sebuah status untuknya mendapatkan kartu izin tinggal permanen di Indonesia dan melanjutkan mimpinya.
"Zhao Wei, kita pulang." Fandy muncul kembali dan ia menarik pergelangan tangan Zhao Wei. "Kamu nggak perlu urusin sedalam itu tentang kami, Nit. Fokus aja sama kehamilanmu ini. Kamu udah pernah gagal di kehamilan pertama." Ia tidak menunggu sepupunya untuk menanggapi dan membawa istrinya pergi.
[MWB]