Ken nyengir ngilu membayangkan pusaka kebanggaannya terpotong. "Tenang saja, Nona. Aku hanya akan membuatnya menangis karena terlalu enak sehingga minta tambah lagi." Dan hadiah sambitan tangan Rika pada kepala Ken hanya direspon tawa renyah gadis bernama Yumi. Teman Rika itu pun pamit pergi, dan dua sejoli ini pun masuk kembali ke dalam untuk kembali meneruskan acara sarapan. Sesudah sarapan, seperti biasa Ken membantu mengangkat barang-barang dagangan yang sekiranya perlu diletakkan di dekat pintu. Ia sama sekali tak memperbolehkan Rika untuk mengangkat apapun. Bahkan untuk membawa sekilo jeruk saja tak boleh. "Nyonya muda Fujisaki, lebih baik kau duduk manis sambil mengipasi wajahmu yang mulai berminyak di belakang kasir, oke?" seloroh Ken cuma menggoda. Wajah Rika masih baik-ba

