BAB 1. PROLOG
POV : Widi
Peluhku membanjir tak terbendung saat pembukaan acara di Markas Besar Militer ini. Ini sudah kali kedua aku mengganti bajuku. Namun pakaian batik bernuansa hitamku kali ini ternyata memang tetap tak mampu menutupi derasnya keringat di tubuhku sehingga akupun terlihat kuyup saat ini.
Fixed.. aku hanya mampu “bersembunyi” di barisan terbelakang Ibu-Ibu Persit yang tampil begitu cantiknya dengan seragam khasnya. Tampilanku sudah pasti jauh dari kata cantik setelah semalaman berjibaku mempersiapkan dekorasi dan tampilan acara besar tersebut. Jiper?? Yuppp, itu kata yang paling tepat menggambarkan situasiku saat ini.
Saat acara pembukaan berlangsung sebelumnya tadi, entah mengapa netraku terpaku pada Sang Pemimpin Upacara yang berdiri gagah di atas podium itu. Bentuk tubuh sempurnanya yang tercetak jelas di balik seragam dorengnya itu mampu membius kesadaranku saat itu.
Jenderal Pramudya Abimanyu..
Hanya nama itu yang sempat mampir di telingaku saat MC meminta Beliau untuk memberikan pengarahan singkat.
“Bapak Ganteng..,” batinku menjulukinya. Kutaksir umurnya sekitar 45 tahunan. Terbilang cukup muda dengan menduduki jabatan tertinggi di Markas, namun harus diakui bahwa karismanya sungguh kuat terpancar. Suaranya yang tegas khas angkatan dengan sebaris senyum yang sangat irit itu ternyata mampu membuatku konsen sejenak menatapnya dari jauh.
Matakupun sibuk menyisir siapakah sosok perempuan beruntung yang menjadi pendampingnya di deretan terdepan Ibu-Ibu berseragam hijau pupus yang tengah berbaris di belakang podium. Akupun menunggu kemunculannya di samping Bapak Ganteng tersebut menyusul ke atas podium. Namun hingga upacara selesai, sosok wanita tersebut tak kunjung dipanggil maupun hadir di sisinya.
“Hmm.. Pasti cantik...!!” dugaku saat itu.
Saat Upacara Pembukaan selesai, Para Petinggi lainnya lantas menuju meja-meja berisi hasil karya para istri tentara. Mulai dari makanan, minuman, hingga barang-barang kerajinan, tersaji rapi di setiap mejanya. Walau sudah terlihat sempurna di mataku, namun masih terselip kecemasan jika ada satu atau dua hal yang mungkin nantinya membuat Para Petinggi tersebut menjadi kurang puas. Akupun hanya berjalan pelan di barisan paling belakang di belakang meja mengikuti rombongan Para Petinggi tersebut. Sesuai pesan Ibu Ketua, aku harus terus mendampingi Beliau jikalau diperlukan penjelasan dadakan nantinya.
Tiba-tiba rombongan tersebut menyingkir segera demi memberi jalan sesaat ketika terlihat sosok “Si Bapak Ganteng” itu berjalan ke arah rombongan.
“Hebat ya Si Bapak Ganteng...!!! Wibawanya itu loh.. gak ada bandingnya..!!!” batinku memuji sosok itu.
Dari dekat, wajahnya mengingatkanku pada Jin Goo, yang memerankan Wakil Kapten dalam salah satu drama Korea terkenal yaitu Descendant Of The Sun.. Hanya saja Si Bapak Ganteng ini terlihat lebih gelap kulitnya dan tubuh kekarnya memang kurasa lebih besar. Damned!! Tokoh favoritku itu seakan muncul nyata di depan mataku saat ini!!!! Tanpa sadar, aku tersenyum memandangnya dan terus terpaku menikmati “pemandangan indah” tepat di depanku kini.
“Siapa yang membuat dekor semua ini?” tanyanya tiba-tiba mengagetkan seluruh yang hadir saat itu.
“Siap.. Bu Widi, Jenderal!” jawab Ibu Ketua saat itu.
“Mana Bu Widi?” tanyanya kembali.
Pandangan mata Ibu Ketuapun langsung tertuju padaku dibarengi para hadirin di sana. Setelah sekian detik tanpa respon, Sang Jenderal pun mengangkat wajahnya dan langsung menatapku tajam. Hingga remasan dan bisikan dari salah seorang anggota Persit di lenganku untuk menjawab pertanyaan Pak Jenderal itupun lantas segera menyadarkan lamunanku.
“Sa.. saya, Pak,” gumamku tergagap pelan tidak jelas.
“Ditanya kok malah bengong cengar-cengir begitu?” tukasnya tegas dengan tatapan datar tanpa senyum terpancar dari wajahnya saat itu.
“Ma.. maaf, Pak..” jawabku masih tergagap.
Saat dengan takut-takut aku membalas menatap tatapannya yang menusuk, seketika itu juga ia hanya membuang muka dengan dingin. Terlebih-lebih saat matanya seperti memberikan kode tertentu kepada salah seorang yang hadir di situ. Kuduga ia adalah salah satu orang kepercayaannya. Akupun hanya bisa menunduk pias menyesali kebodohanku.
“Mati aku!!!!!” batinku menjerit cemas. Saat-saat genting begini kok masih sempet-sempetnya aku malah terhanyut pada kegantengannya sihhhhh...!!!!!
Apalagi seketika itu juga, Sang Jenderal langsung meninggalkan tempat acara tanpa basa-basi lagi. Makin berkurang nyawaku rasanya saat itu ditambahi tatapan tajam dari Ibu Ketua dan para jajarannya...
POV : Pram
Malas aku sebenarnya menghadiri acara-acara kesatuan non formal seperti ini. Bukan apa-apa, karena seharusnya aku didampingi oleh seorang istri yang turut membuka acara. Lagi-lagi skandal 10 tahun lalu pasti kembali jadi bahan kasak-kusuk di belakangku nanti. Saat itu, Maya, wanita yang masih jadi istriku, meminta cerai dariku karena ketidakmampuanku memberikan momongan alias mandul. Belakangan aku baru tahu ternyata selama ini ia telah berselingkuh di belakangku. Duniaku hancur saat itu. Hampir saja aku mengajukan Surat Pengunduran Diri akibat tak tahan menerima malu yang menderaku. Aku beruntung memiliki Damar, satu letingku dan juga sahabat dekatku, yang terus memberiku semangat untuk terus bertahan dan terus fokus pada karirku di angkatan tanpa perlu mendengar omongan orang. Namun dengan pangkatku saat ini, tetap saja omongan miring orang tentang kondisiku akan terus berdengung bagai lebah di telingaku.
Pagi itu sengaja aku datang lebih awal beberapa jam sebelum acara karena adanya rapat mendadak dengan beberapa bawahanku. Saat mobilku memasuki gerbang, kulihat sosok perempuan berkaos hitam dengan bercelana jeans sedang sibuk menghias gapura dengan bunga dan pelbagai hiasan menarik. Aku belum pernah melihat wajahnya sebelum ini. Entah mengapa mataku seperti tersihir hingga terus menatapnya dalam sunyi. Tangannya yang kemudian sibuk menggelung rambut panjangnya ke atas disertai tawa renyahnya saat bercengkerama dengan pekerja lainnya ternyata mampu membuat satu lengkungan senyum di bibirku. Bahkan laporan Damar yang duduk di sebelahku sepertinya hanya berhasil melewati telingaku saja tanpa sempat kurekam di otakku.
Damar sempat terhenti menyampaikan laporannya saat tiada respon apapun dari mulutku. Iapun lantas menengok ke arahku dengan tatapan penuh tanya. Saat mulutku terkunci tak jua meresponnya, netranya pun turut mengikuti arah mataku dan iapun tersenyum penuh arti.
Ia sepertinya menanyakan sesuatu dan aku hanya menjawabnya tanpa sadar.
“Ndan.. are you okay?” kejutnya dengan suara agak keras kali ini yang berhasil menarikku dari alam bawah sadarku.
Sial.. Damar ternyata menangkap basah aku yang sedang menikmati pemandangan sesaat tadi. Terbukti dengan wajah konyolnya yang kini terus menatapku jahil. Ia malah tertawa terbahak-bahak sesaat kemudian.
Saat aku keluar dari mobil, sesaat aku memandang kembali sosok itu yang sedang memunggungiku. Berharap sesaat ia dapat menengok ke arahku.. Namun impian itu gagal total saat Damar mulai berdehem keras untuk menggodaku.
Aku hanya melengos dan pergi menemui para bawahanku yang sedang menunggu saat ini.
Saat Upacara Pembukaan dimulai, mataku kembali mencari-cari sosok itu di keramaian. Entah mengapa, aku ingin sekali menatapnya sekali lagi.
Doaku seakan terkabul saat aku naik ke podium dan melihatnya di belakang deretan meja saji. Ingin rasanya aku segera menyelesaikan pidatoku saat itu dan menghampirinya.
Saat acara pembukaan selesai, Damar menghampiriku di belakang podium dan membisikiku sedikit informasi tentang perempuan itu. Aku sedikit tersenyum sembari mengangguk senang.