Dua hari kemudian, setelah Jo menghabiskan banyak waktu dan kesenangan bersama adiknya, Feli. Saat baru saja pulang ke rumah, Jo mendadak lemas dan dilarikan ke rumah sakit. Tangis ketakutan terpancar jelas pada wajah gadis belia tersebut, ketika mengikuti langkah para medis saat berjalan cepat, bersama roda-roda kecil yang membawa tubuh Jonathan. "Kak, Kakaaak!" teriak Feli parau dengan wajah yang sudah basah. "Maaf, tunggu di sini ya!" pinta salah satu perawat sambil menatap penuh iba. Tubuh mungilnya menggigil hebat, ia seperti tengah berada di dalam salju dan dikepung hujan badai dalam waktu bersamaan. Tidak ada satu pun yang ia inginkan lagi di atas bumi ini, kecuali kakaknya, Jonathan. Bagi Feli, Jo adalah kakak terbaik dan dia belum siap kehilangan. Setelah 60 menit menunggu d

