Chapter 8 - Makan Malam

1215 Kata
Mingyue meletakkan kedua Kotak Mahkota Merah yang ia bawa ke dalam lubang kecil yang baru saja ia gali. Disebut menggali mungkin tidak tepat, Mingyue menggunakan kekuatannya untuk mengangkat sebagian tanah untuk membuat lubang. Saat menyalakan api untuk membakar kotak di dalam lubang pun, Mingyue kembali menggunakan kekuatannya.   Api yang menyala terlihat lebih merah dari api yang biasa dilihat oleh Suiren. Panasnya lidah api m******t wajahnya dengan lembut, meskipun begitu, ia mengambil beberapa langkah mundur karena ia kurang menyukai suasana panas. Dengan jarak ini, ia bisa melihat lidah api yang menari-nari dengan lebih jelas.   Bunga api yang dihasilkan terlihat seperti gerombolan kunang-kunang yang berterbangan, terbang sangat tinggi, perlahan menghilang seperti menjadi satu dengan bintang. Suiren kembali menatap langit, kali ini bukan untuk menikmati kepingan salju yang mendarat di wajahnya, tetapi untuk mengamati bintang-bintang yang berpendar. Beberapa berpendar lebih terang dari yang lain, menarik perhatian untuk mereka sendiri, tidak memberikan yang lain kesempatan untuk bersinar.   Sedikit mengingatkannya pada kedua perhiasan yang selalu dipakai oleh Mingyue. Saat dilihat sekilas, yang paling menarik perhatian adalah kristal amethyst yang tergantung di dahinya. Setelah dilihat lebih dekat, maka seseorang akan menyadari sebuah anting-anting sapphire yang tergantung di telinganya. Keduanya sama-sama berpendar, tetapi amethyst yang tergantung di dahinya berpendar lebih terang, sehingga lebih menarik perhatian.   “Tuan Mingyue, bolehkan aku bertanya sesuatu?”   “Tentu saja Nona,”  “Menurut Tuan, bintang itu apa?” Mingyue tidak menduga pertanyaan yang ditanyakan oleh Suiren akan menjadi tentang bintang.  “Mengapa Nona menanyakan itu?”  “Mengapa Tuan malah bertanya balik? Tapi yah, aku selalu diberitahu kalau bintang-bintang itu adalah jiwa-jiwa pendahuluku. Kalau mereka akan selalu memperhatikan apa yang aku lakukan, mungkin marah-marah saat aku melakukan hal yang mereka anggap salah. Terkadang aku khawatir, tapi akhir-akhir ini aku jadi kurang peduli dengan apa yang mereka pikirkan,” ucap Suiren, masih mengangkat kepalanya untuk menatap bintang-bintang di langit malam. Menatap Suiren yang seperti ini, ia terlihat sedikit kesepian.   “Sebenarnya aku juga kurang tahu,” jawab Mingyue. Ia berjalan mendekati Suiren, berdiri di sebelahnya sambil menatap langit malam  “Wah, sesuatu yang bahkan Tuan Minyue tidak tahu,” ucap Suiren dengan nada sarkas. Mingyue tertawa mendengarnya, asap putih tipis keluar dari hidungnya dan mulutnya.   “Dulu malah aku selalu diberi tahu kalau bintang itu—” belum sempat Mingyue mennyelesaikan kalimatnya, sebuah suara pintu dibanting terdengar. Saat Mingyue menengok, ia melihat Hara dengan rambut berantakan dan wajah mengantuknya. Di belakangnya berdiri Athira denga rambut yang jauh lebih berantakan, tetapi dengan wajah sama mengantuknya. Hara mengerjapkan matanya, kemudian mengusap matanya beberapa kali, dengan usaha menjaga dirinya terbangun.  “Oh iya, air mandi kalian sudah siap. Aku baru saja ingin membangunkan kalian.” Bohong. Entah mengapa Suiren bisa tahu kalau itu bohong. Ia yakin kalau Mingyue lupa membangunkan kedua asistennya, atau mungkin ia tidak punya hati untuk membangunkan mereka yang kelihatan sangat kelelahan.   “Bu ... kan, ini ...” Hara mengangkat sebuah buku dengan sampul berwarna biru tua. Mingyue berjalan mendekati Hara, mengambil buku yang dipegang olehnya, kemudian membukanya.   “Daftar pengunjung klinik?” tanya Mingyue.  “Tadi ... waktu aku ... mau pindah posisi, aku ... lupa kalau Athira ... tidur di atas ... aku. Jadi, aku ngga sengaja ... jatuhin Athira ...” ucap Hara dengan usaha untuk melawan kantuknya. Athira yang berdiri di belakangnya menggeram, tetapi bukannya seram, malah terdengar lucu karena nada kantuknya. Mingyue memiringkan kepalanya, sedikit tidak percaya dengan apa yang ia baru saja dengar. Berdiri jauh di belakang Mingyue, Suiren berusaha dengan keras untuk menahan tawanya.  “Terus, waktu aku jatuh, aku ngga sengaja nabrak kotak yang isinya dokumen-dokumen. Terus Hara nemu itu,”Athira menunjuk buku yang sekarang dipegang oleh Mingyue. Athira sudah mengumpulkan sedikit kesadarannya untuk bisa berbicara dengan lebih lancar. “Itu daftar pengunjung selama beberapa bulan terakhir. Siapa tahu bisa dipakai untuk mencari tahu siapa yang membuat Keluarga Anjana terkena cacing-cacing itu.”  “Hm ... ide yang bagus. Tapi sebelumnya kalian mandi dulu ya. Nanti aku masakkan makan malam,”    ~   Mereka sekarang berada di rumah Mingyue yang berada tepat di sebelah kliniknya. Hara dan Athira sudah tertidur di kamar mereka masing-masing yang terletak di lantai dua, sementara Suiren sedang membereskan peralatan makan yang baru saja mereka pakai. Kejadian lucu -setidaknya untuk Suiren- yang terjadi saat mereka sedang makan malam tadi, dikarenakan ekor Athira yang panjang, ia tidak sengaja meletakkannya di atas meja makan. Saat Mingyue ingin menurunkannya, Athira malah mendesis, membuat Mingyue menurunkan niatnya dengan segera.   Walaupun Hara dan Athira baru saja selesai mandi, mereka berdua tetap terlihat sangat mengantuk. Saat Hara ingin makan dari piringnya, ia tidak sengaja mengambil ekor Athira yang terletak di atas meja makan. Athira yang merasakan ekornya tiba-tiba digigit, sontak saja berteriak, dan berniat untuk mencakar Hara dengan kukunya yang tajam. Untung saja, dikarenakan suara teriakan Athira yang sedikit terlalu kencang, Hara langsung terbangun dan menghindar dengan cepat. Cakaran Athira tidak melukai Hara, tetapi merobek pakaian tidurnya.  Suiren yang sedang minum tiba-tiba menyemburkan minumnya saat melihat kelakuan dua siluman mengantuk itu. Mungkin ia sedikit terlalu keras menyemburkan minumnya, sampai-sampai air yang ia minum masuk ke hidungnya. Ia batuk beberapa kali, tetapi pada saat yang sama berusaha menahan tawanya. Mingyue hanya bisa menghela nafas melihat kelakuan tiga manusia di hadapannya. yah, walaupun tidak semua dari mereka adalah manusia. Suiren sedikit tersenyum saat mengingatnya kembali.  Sebenarnya Mingyue yang akan membereskan peralatan makannya, tetapi Suiren memaksakan dirinya akan membereskan, ia akan merasa sangat bersalah kalau ia tidak melakukan apa-apa. Awalnya ia ingin membantu Mingyue memasak, tetapi ia cukup sadar diri untuk menyadari kalau apapun yang dibuat oleh tangannya tidak akan bisa dimakan.  Sebenarnya ini pertama kalinya Suiren mencicipi masakan Mingyue. Dan dia bisa bilang, masakan buatannya sangat enak. Bisa dibilang juga ia sedikit iri. Walaupun ia tidak bisa memasak, tetapi ia bisa memotong. Bahkan Mingyue memuji kemampuan memotongnya.  “Nona sungguh tidak bisa memasak? Potongan sayuran  dan daging milik Nona bahkan lebih rapi dari punyaku,” adalah apa yang diucapkan oleh Mingyue saat ia melihat sayur-sayuran dan daging yang dipotong oleh Suiren. Mulut Mingyue terkadang bisa sangat manis -bohong kalau Suiren bilang ia tidak menyukainya.  Lagipula, bisa memotong dengan rapi tidak berarti ia bisa memasak, ia hanya memiliki banyak pengalaman dalam memotong.  Setelah selesai membersihkan peralatan makan yang mereka gunakan, ia pergi menuju ruang makan, mendapati Mingyue sedang membaca kertas yang tadi diberikan oleh Hara. Suiren mengambil tempat duduk di depan Mingyue, berusaha melihat apa yang ia lakukan.  “Apa itu?” tanya Suiren.  “Oh ini. Daftar pengunjung yang datang ke klinik dalam beberapa bulan terakhir. Siapa tahu pelaku dibalik semua ini pernah berkunung ke sini,” Mingyue membolak-balikkan buku tersebut beberapa kali. “Besok aku akan tanya ke Kepala Desa apakah ada pengunjung baru yang berkunjung. Kalau memang benar pelakunya pernah berkunjung ke klinik ini ya, salahku karena tidak menyadarinya.” Menyalahkan diri sendiri. Suiren juga punya kebiasaan itu.  “Sini aku bantu,” Suiren mengambil buku lain yang terletak di samping Mingyue.  “Tidak usah Nona. Nona tidur saja,” Mingyue berusaha merebut kembali buku yang diambil oleh Suiren, tetapi Suiren dengan gesit menghindar.  “Aku sudah terbiasa tidak tidur selama lima hari berturut-turut. Tidak tidur selama satu hari saja tidak akan terlalu berat,” Suiren kemudian mendudukkan dirinya. “Lagipula, Tuan Mingyue sendiri menapa tidak tidur saja?” tanya Suiren, yang dijawab oleh Mingyue dengan sebuah tawa kecil.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN