Hara dan Athira berjalan menuruni tangga, langakah mereka masih sedikit goyah karena masih mengantuk. Mereka berjalan ke ruang makan, mendapati Mingyue yang sedang memasak sarapan, dan Suiren yang sedang membolak-balikkan sebuah buku.
“Oh, kalian sudah bangun. Ayo sini, sarapan dulu,” ucap Mingyue sambil meletakkan tiga buah mangkuk berisi bubur yang mengepulkan asap. Athira duduk di depan Suiren yang masih fokus pada bukunya, sementara Hara duduk di samping Athira.
“Selamat pagi Nona,” ucap Athira. Suiren menjawab sapaan Athira dengan suara gumaman, tidak mengangkat kepalanya dari buku yang sedang ia baca. Athira menyendok bubur yang terletak di mangkuknya, meniupnya sebelum memasukkannya ke dalam mulutnya. Hara juga melakukan hal yang sama. “Ini kan masih sangat pagi, mengapa kalian berdua sudah bangun?”
“Aku memang sudah bangun dari tadi,” ucap Mingyue. Ia kemudian duduk di sebelah Suiren, menyendok sesendok bubur untuk dirinya sendiri. Baiklah, Suiren akan melakukan hal yang sama.
“Aku juga sudah bangun dari tadi,” ucap Suiren. Ia menyendok buburnya, tetapi karena masih terlalu fokus kepada bukunya, ia tidak memperhatikan kalau bubur yang ia sendok masih panas. Ia memasukkan sesendok penuh bubur yang panas ke dalam mulutnya. Segera saja, Suiren merasakan lidahnya terbakar. Ia ingin memuntahkan buburnya, tetapi itu akan terlalu tidak sopan. Suiren berusaha untuk menelan bubur panas di dalam mulutnya, ia dapat merasakan bubur panas di tenggorokannya.
Mingyue membuat beberapa balok es dari tangannya, memasukkannya ke dalam gelas air Suiren, kemudian memberikannya kepada Suiren yang sedang berusaha untuk mengipasi lidahnya. Suiren mengambilnya dengan segera, meminum segelas air dingin pemberian Mingyue dengan cepat. Mungkin sedikit terlalu cepat, ia terbatuk beberapa kali setelah menghabiskan seluruh isi gelas. Ia lupa kalau lidahnya terlalu sensitif dengan makanan dan minuman panas.
“Lain kali tolong lebih hati-hati Nona,” ucap Mingyue sambil menepuk-nepuk pelan punggung Suiren, dengan harapan untuk menenangkan Suiren yang masih terbatuk-batuk. Hara dan Athira kini sudah sepenuhnya terbangun oleh suara batuk Suiren.
“Maaf. Aku lupa kalau lidahku sedikit sensitif,” ucap Suiren yang kini sudah jauh lebih tenang. “Jadi, aku dapat libur dua hari. Dengan ini aku bisa membantu kalian untuk menangkap pelaku di balik semua ini,” Suiren mengambil sesuap bubur. Kali ini ia sudah memastikan untuk meniupnya sebelum memasukkannya ke dalam mulutnya.
“Aku dan Nona Suiren akan menanyakan kepada Kepala Desa untuk pengunjung yang datang ke desa ini selama beberapa bulan terakhir. Boleh aku minta tolong kepada kalian berdua?” tanya Mingyue kepada Hara dan Athira. Kedua langsung menganggukkan kepalanya bersamaan. Mereka mencapai sebuah kesepakatan tanpa berdiskusi dengan satu sama lain. Sangat kompak, pikir Suiren. “Bisakah kalian tanyakan kepada para penduduk desa kemana saja mereka beberapa bulan terakhir? Tolong diingat juga kalau ada jawaban yang mencurigakan.”
“Apakah cacing ini bisa ditemukan di alam liar? Siapa tahu salah satu anggota keluarga tertular saat sedang berburu, kemudian menularkannya kepada anggota yang lain,” ucap Suiren. Ia mengumpulkan mangkuk-mangkuk yang kini sudah kosong, membawanya untuk membersihkannya.
“Mereka memilih manusia sebagai inang untuk telur-telur mereka, jadi mungkin akan sedikit sulit untuk bertemu mereka di alam liar,” Hara menjawab pertanyaan Suiren. “Terlebih lagi, mereka biasanya meletakkan telur-telur mereka di bangkai-bangkai hewan. Tapi anehnya, jika bangkai yang sudah memiliki telur cacing-cacing itu, mereka akan mati begitu saja.”
“Itu sih mungkin karena mereka membutuhkan ‘energi’ khusus yang dimiliki manusia. Tidak pernah ada kasus hewan, siluman, atau makhluk lain selain manusia yang terjangkit sebelumnya,” Athira melanjutkan apa yang dikatakan oleh Hara.
“Hm ... dan karena kemarin tidak hanya anggota keluarga ... err ... siapa namanya, oh iya, keluarga Anjana ya? Karena kemarin tidak hanya mereka yang terjangkit, seharusnya ini tidak bermotif dan dilakukan secara acak,” ucap Suiren sambil mencuci mangkuk-mangkuk yang mereka gunakan untuk sarapan. “Atau apakah mereka memiliki sebuah kesamaan?”
“Tidak. Ini benar-benar acak. Aku bisa memastikannya saat memeriksa mereka kemarin,” jawab Mingyue. Tidak ada yang mengatakan apapun setelahnya, hanya terdengar suara air mengalir saat Suiren membersihkan mangkuk-mangkuk.
“Baiklah, mari kita mulai berpencar,” ucap Suiren setelah ia selesai membersihkan mangkuk-mangkuknya.
~
Mingyue mengetuk pintu rumah kepala desa. Ia sudah mengetuknya untuk beberapa kali sekarang, tetapi tetap tidak ada yang menjawab. Mingyue menatap Suiren yang berdiri di sebelahnya, Suiren juga kebetulan sedang menatapnya. Saat Suiren mengangkat tangannya untuk mencoba mengetuk, pintu tersebut tiba-tiba saja terbuka, menampilkan seorang wanita cantik. Berdiri di balik wanita tersebut adalah seorang anak kecil yang memakai sebuah jepitan kupu-kupu di kepalanya. Suiren mengenalinya sebagai kupu-kupu es buatan Mingyue.
“Ya ampun, ada Tuan Mingyue dengan Nona Suiren,” ia tersenyum saat melihat kedua tamu yang berdiri di depan rumahnya. Walaupun kerutan di wajahnya sudah mulai, dan beberapa helai rambutnya mulai berwarna putih, ia masih terlihat sangat cantik. Tetapi Suiren penasaran dari mana wanita ini bisa tahu namanya. “Kebetulan suami saya juga sedang kedatangan tamu. Kalian masuk saja dulu.”
Wanita tersebut menuntun Hara dan Suiren ke dalam rumahnya. Suiren dapat mengatakan kalau rumah ini cukup nyaman. Luasnya cukup, dengan perabotan yang terbuat dari kayu dan ditata dengan rapi, memberikan suasana yang terasa seperti rumah. Wanita tersebut menuntun mereka ke sebuah ruangan kosong. Terdapat beberapa kursi kayu yang ditata dengan rapi, dan sebuah meja kayu yang terletak di tengahnya. Wanita tersebut mempersilahkan mereka berdua untuk duduk, kemudian berbicara kepada anak kecil yang sedari tadi memeluk kakinya.
"Astra, boleh tolong buatkan teh untuk Paman Mingyue dan temannya?” dan temannya katanya.
“Baik bunda,” kata Astra. Ia kemudian berlari menuju arah dapur. Beberapa saat kemudian, ia kembali sambil membawa sebuah nampan dengan dua buah gelas di atasnya. Ia meletakkannya ke depan Suiren dan Mingyue. “Ini untuk Paman Mingyue dan ... er ...” ah, ia belum pernah bertemu dengan Suiren sebelumnya ya.
“Aku biasa dipanggil Suiren,” Suiren tersenyum kepada Astra.
“Ah, baiklah. Tante Suiren,” ucap Astra dengan wajah senang. Entah mengapa, Suiren merasa sedikit tertusuk. Ia pernah dipanggil dengan berbagai panggilan dan gelar sebelumnya, tetapi ia tidak pernah dipanggil dengan “tante” sebelumnya. Apakah ia terlihat setua itu? Kalau memang benar, ia seharusnya sudah pensiun sekarang. Tapi bagaimana ia bisa marah kepada gadis kecil yang baru saja membawakannya minuman dan tersenyum manis saat menyebutkan namanya?
“Terima kasih ya Astra,” ucap Mingyue sambil mencicipi teh yang dibuat oleh Astra. “Mm. Teh ini enak sekali.” Suiren kemudian mencicipi teh yang tersedia di hadapannya. Ia menganggukkan kepalanya, memang teh ini enak sekali, mungkin lebih enak dari buatan restoran-restoran yang pernah Suiren kunjungi. Pipi Astra sedikit memerah saat melihat reaksi kedua orang yang beru saja mencicipi teh buatannya.
“Astra, ayo sini,” wanita itu memanggil Astra, dan Astra dengan senang duduk di pangkuan ibunya. “Jadi, ada keperluan apa Tuan Mingyue dan Nona Suiren datang ke sini?”
“Kami ingin bertemu dengan Kepala De—” Mingyue belum menyelesaikan kalimatnya, ia sudah dipotong dengan suara pintu terbuka. Mereka menengok ke arah suara berasal, mendapati seorang pria tua dengan janggut putih, -yang ia kenali sebagai Kepala Desa- dan seorang pria yang keluar dari sebuah ruangan. Mereka menatap satu sama lain untuk beberapa saat, sebelum sang pria membuka suara.
“Ah, apakah ini Tuan Mingyue? Perkenalkan, nama saya Renjana,” pria yang memanggil dirinya sendiri sebagai “Renjana” itu menjabat tangan Mingyue, ia terlihat sangat bersemangat. “Saya sering mendengar tentang obat anda. Saya selalu ingin melihat sendiri seperti apa orang yang bisa meracik obat dengan kualitas sangat tinggi seperti itu, dan ternyata, anda sangat berbeda dengan ekspektasi saya,” ia terus saja berbicara, tidak melepaskan genggaman tangannya dari tangan Mingyue sama sekali.
“Ah, terima kasih Tuan Renjana. Kalau boleh tau, obat apa yang anda cari—”
“Saya sama sekali tidak menduga Tuan Mingyue akan terlihat sangat tampan seperti ini. Saya selalu mengira bahwa anda akan terlihat seperti kakek-kakek tua dengan dengan rambut dan janggut putih,” ucap Renjana dengan nada sangat antusias. Saat mendengar kalimat ini, Mingyue sedikit melirik kepada Kepala Desa, berharap ia tidak akan tersindir dengan perkataan Renjana. Kepala Desa yang ditatap hanya menggelengkan kepalanya, mungkin sedikit pasrah.
“Ah, Tuan Renjana. Kalau boleh tau, anda ada keperluan apa dengan Kepala Desa?” tanya Suiren sambil meletakkan dirinya di antara Renjana dan Mingyue. Entah mengapa, ia merasa sedikit risih dengan kehadiran orang ini. Renjana tiba-tiba saja menjabat tangan Suiren.
“Ah ... saya pernah melihat Nona datang ke klinik Tuan Mingyue selama satu bulan terakhir saya di sini. Sepertinya Nona bukan seorang penduduk di desa ini ya?” Orang ini, bukannya menjawab pertanyaan Suiren malah bertanya kepadanya.