“Nama saya Suiren, dan ya, saya bukan penduduk di desa ini. Sekarang boleh saya minta Tuan Renjana untuk menjawab pertanyaan saya?” Suiren menggenggam tangan Renjana, menatap matanya dengan sebuah senyuman. Renjana awalnya terdiam, tetapi ia membalas senyuman Suiren.
“Kemarin saya melihat para warga membakar sesuatu di belakang gunung, sepertinya persediaan makan ya. Saya hanya ingin bertanya, mengapa membakar makanan persediaan musim dingin? Bagaimana kalian akan mengisi kembali persediaan makanan itu?” tanya Renjana. Ia pasti menanyakan apa yang terjadi kemarin. “Dan sepertinya banyak penduduk yang pergi ke klinik Tuan Mingyue setelahnya ya? Kepala Desa mengatakan kalau ternyata persediaan makanan musim dingin yang disimpan sudah busuk. Bagaimana bisa makanan sebanyak itu busuk pada saat yang bersamaan?”
“Sebenarnya di sekitar desa ini terdapat serangga yang dapat menyebabkan makanan membusuk dengan lebih cepat. Mereka biasanya lebih aktif di musim dingin, itulah kenapa persediaan makanan yang sudah disimpan dengan baik membusuk lebih cepat,” sedikit tidak diduga oleh Mingyue, Suiren menjawab dengan kebohongan yang sangat lancar.
“Nona Suiren kan bukan penduduk di desa ini, mengapa Nona Suiren bisa tahu? Kepala Desa saja tidak mengatakan itu kepada saya,” Renjana memegang dagunya, kemudian menengok ke arah Kepala Desa.
“Oh iya? Kalau begitu apa yang dikatakan oleh Kepala Desa kepada anda?”
“Kepala Desa tidak mengatakan apa-apa. Ia bilang saya yang dari luar ini tidak usah tahu,” saat mendengar kalimat tersebut, Suiren langsung berlari menuju Kepala Desa, menundukkan kepalanya berkali-kali.
“Maafkan Suiren, Kepala Desa. Suiren tidak tahu kalau Kepala Desa tidak ingin memberi tahu orang luar tentang serangga ini. Padahal Kepala Desa sudah sangat berbaik hati untuk memberi tahu Suiren yang juga orang luar ini ...” baik Mingyue, Kepala Desa, dan istri Kepala Desa sedikit terkejut dengan sikap Suiren saat ini, sebenarnya tidak pernah ada serangga yang dapat membusukkan makanan lebih cepat. Mingyue hanya berharap kalau Kepala Desa akan melanjutkan apa yang dimulai oleh Suiren. Kepala Desa tiba-tiba saja memegang bahu Suiren yang masih membungkuk.
“Tidak apa Nak Suiren. Itu salah saya juga karena tidak memberi tahu Nak Suiren.” Mingyue diam-diam menghela nafas saat Kepala Desa mengikuti kebohongan Suiren. Ia merasa kalau ia sedang menonton sebuah teater sekarang.
“Ah, kalau begitu, urusan saya di sini sudah selesai. Saya akan kembali ke penginapan saya sekarang, pekerjaan saya masih banyak sekali,” Renjana berjalan menuju pintu keluar sendiri. Saat ia membuka pintu, ia menengokkan kepalanya, menatap Suiren. “Suiren dalam Annaisha Suiren?”
“Siapa itu?” tanya Suiren. Ia sedikit memiringkan kepalanya saat mendengar pertanyaan tersebut.
“Tidak, itu hanya kenalan saya.” Ia dengan tenang berjalan keluar dari rumah Kepala Desa.
“Hm? Annaisha Suiren? Saya sepertinya pernah mendengar nama itu sebelumnya,” Kepala Desa mengelus-elus janggutnya, berpikir dengan keras. “Ah sudahlah. Untuk apa kalian ke sini?” Kepala Desa menatap Mingyue, kemudian kepada Suiren.
“Awalnya kami ingin bertanya tentang sesuatu, tapi sepertinya kami tidak perlu bertanya lagi,” ucap Mingyue sambil melirik Suiren. Suiren menganggukkan kepalanya dengan singkat. “Kami pamit dulu ya, maaf sudah mengganggu. Terima kasih tehnya ya Astra.”
“Kepala Desa, maafkan Suiren tadi ya. Suiren tiba-tiba saja berbohong seperti itu.”
“Tidak apa-apa Suiren. Alasan kamu barusan sangat membantu saya.”
“Ah, Suiren senang bisa membantu. Kami pamit dulu. Terima kasih untuk tehnya ya Astra.” Astra menganggukkan kepalanya kepada Suiren. Kupu-kupu es yang terletak di rambutnya berkilau, terlihat kontras dengan rambut hitam legamnya. Selama perjalanan kembali menuju Klinik Nahua, Suiren tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya memperhatikan jalan yang tertutupi oleh salju ringan. Mingyue memutuskan untuk memecah keheningan.
“Apa yang sedang dipikirkan oleh Tante Suiren?” tanya Mingyue dengan nada sedikit menggoda.
“Aku sedang memikirkan orang tadi, Paman Mingyue,” balas Suiren, tidak mengalihkan pandangannya dari jalan yang tertutupi salju. “Menurutku, kita harus memantau orang itu untuk seharian ini. Bagaimana dengan Paman Mingyue?"
“Terdengar seperti ide yang bagus, Tante Suiren.” Mereka sampai di klinik, bersamaan dengan Hara dan Athira. Hara terlihat sedang mengunyah sebuah apel, sementara Athira sedang melipat tangannya, menatap Hara dengan wajah mengantuknya yang biasa. Saat Hara menyadari kehadiran Mingyue dan Suiren, ia mengangkat tangannya yang memegang apel, melambaikannya ke arah mereka.
“Berita baik atau berita buruk. Mana yang mau kalian dengar terlebih dahulu?” tanya Hara setelah menelan apel yang ia kunyah. Athira menghela nafas saat mendengar pertanyaan Hara.
“Mari dengar berita buruk terlebih dulu,” ucap Mingyue.
“Mungkin aku akan beritahu dari berita baiknya dulu. Karena kalau langsung ke berita baik, kalian tidak akan mengerti konteksnya.” Hara menerima sebuah pukulan ringan di kepalanya dari Athira. Hara meringis kecil saat menerima tamparannya. “Berita baiknya adalah, para penduduk desa memang melihat seorang pria yang datang ke desa ini dua bulan yang lalu. Dan dia pernah pergi ke kediaman keluarga Anjana sebelumnya.”
“Kabar buruknya adalah, kami belum menemukan orangnya,” Athira melanjutkan kalimat Hara. Hara menganggukkan kepalanya saat ia mendengar perkataan Athira. Suiren mengalihkan pandangannya untuk menatap Mingyue, kebetulan Mingyue juga menengokkan kepalanya untuk menatapnya.
“Kami juga memiliki berita baik,” ucap Suiren kepada Hara dan Athira. “Kita bertemu dengan orang yang kalian sebutkan tadi. Dan kita memutuskan untuk memantau dia selama seharian ini. Apakah kalian mau membantu?”
“Tentu saja,” jawab keduanya.
~
Seharian ini mereka habiskan untuk memantau gerak-gerik dari Renjana. Tentu saja, mereka melakukannya secara bergantian agar tidak dicurigai -walaupun Suiren dan Mingyue lebih sering tinggal di klinik karena Renjana pernah bertemu dengan mereka berdua. Walaupun alasan Mingyue dan Suiren tidak sering mengintai adalah untuk tidak terlalu menarik perhatian, tetapi jika dilihat-lihat lagi, siluman yang terdapat di Desa Eira hanya ada dua. Dan keduanya adalah Hara dan Athira, jadi mereka sedikit kurang diuntungkan di sini.
Untuk itu, Hara meminta tolong kepada gadis-gadis di desa untuk mengintai Renjana, sementara Suiren meminta tolong kepada para anak-anak. Mereka kemudian akan melaporkannya kembali saat Hara dan Athira sedang berkunjung. Sejauh ini sama sekali tidak ada pergerakan dari Renjana yang mencurigakan. Ia hanya pergi ke pasar untuk membeli beberapa daging, berjalan-jalan di sekitar pemukiman penduduk, kemudian kembali lagi ke penginapan. Jika ia benar-benar hanya melakukan hal seperti itu tiap harinya, mengapa ia tinggal selama dua bulan?
Hari sudah menjelang sore, dan tidak ada gerak-gerik mencurigakan yang berasal dari Renjana. Mereka berempat sekarang sedang duduk di dalam klinik. Hara dan Athira sedang duduk menyandar pada satu sama lain, Mingyue sedang sibuk dengan mengatur berbagai macam obat pada tempatnya, sementara Suiren sedang berpikir. Ia terlihat sedang berpikir sangat keras, sampai-sampai Mingyue sedikit khawatir melihatnya.
“Apa yang sedang Nona pikirkan?” tanya Mingyue, masih menaruh perhatiannya pada obat-obatannya.
“Aku hanya masih sangat curiga dengan orang itu,” Suiren berdiri, kemudian berjalan menuju pintu klinik. Pada saat yang bersamaan, pintu klinik mengayun terbuka, menampilkan seorang pria yang sedikit lebih tinggi dari Suiren. Pria tersebut langsung memberikan sebuah senyuman ceria saat melihat Suiren.
“Ah, kalau bukan Nona Suiren. Apakah Nona akan keluar?” Renjana membuka pintu klinik dengan lebih lebar, mempersilahkan Suiren untuk keluar. Suiren juga memberikannya sebuah senyuman sebagai tanda terima kasih. Hara dan Athira membenarkan posisi duduk mereka saat Renjana memasukkan kakinya ke dalam klinik, sementara Mingyue memberhentikan seluruh aktifitasnya.
“Apakah anda membutuhkan sesuatu?” tanya Mingyue. Renjana kemudian berjalan mendekati Mingyue, menunjuk tenggorokannya.
“Tenggorokanku sakit akhir-akhir ini, apakah aku membutuhkan obat radang?”