“Bolehkah saya melihat tenggorokan anda?” tanya Mingyue. Saat mendengar pertanyaan Mingyue Renjana sedikit mengerutkan dahinya. Mingyue langsung mengerti dengan ketidaknyamanannya. “Tidak apa-apa jika anda tidak mau. Tetapi itu lebih baik, untuk mengantisipasi kalau anda terkena penyakit yang lebih parah.”
“Sayangnya saya tidak mau. Tidakkah anda memiliki obat untuk menyembuhkan seluruh penyakit? Bukankah ini klinik yang memiliki obat yang dipuji-puji sampai ke Ibu Kota?” Nada bicara yang digunakan Renjana terdengar sedikit lancang. Mingyue hanya tersenyum saat mendengar perkataan Renjana. Sebenarnya ia sudah terbiasa. Tidak sedikit jumlah orang dari Ibu Kota yang datang ke kliniknya dengan ekspektasi terlalu tinggi. Cara terbaik untuk mengatasi mereka adalah dengan memberikan obat sesuai dengan kebutuhan mereka.
“Obat seperti itu tidak ada, belum ada lebih tepatnya. Untuk itu, saya harus memeriksa tenggorokan anda terlebih dahulu,”
“Bukankah sudah ada? Kau tahu, darah dari Nuan. Darah mereka kan bisa bisa digunakan untuk menyembuhkan segala penyakit,” ucap Renjana dengan entengnya. Senyuman di wajah Mingyue langsung menyusut seketika, amethyst yang tergantung di dahinya berpendar dengan lebih cepat. Saat melihat ekspresi wajah Mingyue, Hara dan Athira langsung berdiri pada saat yang bersamaan, pergi ke arah Mingyue untuk berusaha menenangkannya.
“Nuan” yang tadi disebutkan oleh Renjana adalah sebuah jenis iblis. Mereka memiliki kemampuan untuk mengendalikan seluruh elemen, dan darah mereka dapat menyembuhkan seluruh penyakit. Satu botol kecil darah mereka dijual dengan harga yang sangat mahal di pasar gelap, dan termasuk salah satu barang yang sangat langka. Mengapa dihargai dengan sangat mahal? Dikarenakan dengan kemampuan bertarung yang sangat kuat, juga dikarenakan dengan kemampuan regenerasi mereka, akan sangat sulit untuk mengalahkan mereka. Terlebih lagi mereka abadi.
Walaupun mereka abadi, itu bukan berarti mereka tidak dapat dibunuh. Mereka memiliki sebuah kelemahan, yaitu Bunga Darah Bulan, sebuah bunga yang hanya mekar saat gerhana bulan merah. Hanya berada di dekat sebuah Bunga Darah Bulan dapat membuat seorang Nuan lemah seketika. Mengoleskan s*****a dengan nektar dari bunga tersebut dapat langsung membunuh seorang Nuan. Bunga Darah Bulan juga dapat dikeringkan dan dijadikan bubuk, walaupun efeknya tidak sekuat dan seefektif mengoleskan nektarnya langsung.
“Saya sangat menghindari menggunakan darah Nuan dalam obat saya,” ucap Mingyue setelah berhasil mendapatkan kembali ketenangannya. “Penggunaan darah Nuan yang terlalu banyak juga tidak baik untuk tubuh seorang manusia. Saya hanya ingin membuat pengguna obat yang saya buat merasa lebih baik.”
“Hah, baiklah. Kalau begitu saya tidak jadi membeli obat di sini,” ia kemudian berjalan ke pintu klinik. Sebelum ia ingin membuka pintu klinik, pintu tersebut terbuka, menunjukkan Suiren. “Nona Suiren. Kita bertemu lagi.” Saat Suiren melihat Renjana, ia memberikan sebuah senyuman manis, mempersilahkan Renjana untuk berjalan keluar dari klinik.
“Aku bilang apa, dia mencurigakan,” ucap Suiren. Hara dan Athira menganggukkan kepalanya bersamaan, sementara Mingyue hanya menatap Suiren.
~
Hari sudah sangat gelap, Mingyue memutuskan untuk menutup kliniknya. Saat Mingyue sedang mengunci pintu klinik, Suiren melihat sesuatu yang menarik perhatiannya. Ia berjalan mendekatinya, melihat sebuah benda yang jarang ia lihat. Benda tersebut memiliki gagang yang terbuat dari kayu, dengan bagian kepala dengan bentuk aneh yang terbuat dari besi. Suiren mencoba untuk mengayunkannya beberapa kali, dan ia memutuskan, ia sangat menyukai s*****a ini.
“Hati-hati dengan kapak itu Nona,” ucap Mingyue dari kejauhan. Jadi nama s*****a ini adalah kapak. Suiren mengayunkannya beberapa kali lagi. Abaikan fakta bahwa ia sedang mengayunkan sebuah kapak, ia terlihat sangat indah, seperti sedang menari di atas salju. Salju-salju berterbangan bersamaan dengan ayunan kapak Suiren, terlihat seperti ia sedang mengendalikannya. Mingyue memperhatikan Suiren ‘menari’ dengan kapaknya. Ia sedikit khawatir, tetapi ia tidak akan menghentikan Suiren melakukan apa yang ia suka.
“Bolehkah aku membawanya?” tanya Suiren kepada Mingyue. Ia mengangkat kapak tersebut dengan satu tangan, tetapi ia tidak terlihat seperti sedang memegang benda yang sangat berat di tangannya, ia terlihat seperti sedang memegang sebuah batang kayu.
“Tentu saja Nona,” Mingyue menjawab dengan sebuah senyuman maklum. Mereka kemudian berjalan menuju rumah Mingyue yang terletak di sebelah klinik. Tanpa mereka sadari, sebuah bayangan seseorang diam-diam berjalan ke kebun tanaman obat di belakang klinik.
Walaupun saat ini sedang musim dingin, tanaman-tanaman obat milik Mingyue tetap terlihat hujau dan segar. Bayangan tersebut mendekati sebuah barisan tanaman, ia mengamati tanaman-tanaman terebut untuk sementara, kemudian mengeluarkan sebuah kantung dari dalam bajunya. Kantung tersebut terbuat dari katun berwarna merah, dengan beberapa ornamen yang disulam menggunakan benang emas.
Ia membuka kantung tersebut, melihat isinya untuk beberapa saat. Sebelum ia dapat meletakkan isi dari kantung yang ia pegang, sebuah kapak tiba-tiba saja terbang tepat di sebelah pipinya. Kapak tersebut terbang sangat dekat, sedikit meninggalkan sebuah luka gores di pipinya, kemudian menancap di batang sebuah pohon yang ada di taman obat. Orang tersebut menengok ke arah asalnya kapak terbang tersebut, mendapati Suiren dan Mingyue yang sedang memegang kipas lipatnya dengan ekspresi kaget.
Suiren melipat tangannya, memasang wajah kesal, kemudian mengatakan, “Cih, meleset.”
Di sebelahnya, Mingyue masih memasang wajah terkejut, walaupun yang terlihat hanya matanya dan amethyst yang tergantung di dahinya. Sementara sisa wajahnya tertutupi oleh kipas lipatnya. Orang tersebut menyadari kalau ia sudah tertangkap basah, ia berusaha untuk kabur ke dalam hutan, berharap tidak ada yang bisa mengejarnya.
Ia sudah berlari selama beberapa saat di dalam hutan, dan tidak ada tanda-tanda seorang pun yang mengejarnya. Ia berlari dengan lebih cepat, walaupun salju yang tebal sedikit menghambat larinya. Yang tidak ia sadari adalah, ada sepasang manik biru yang memantaunya dari ketinggian pohon.
Mengambil ancang-ancang, pemilik manik biru tersebut melompat dari ketinggian, menerkam orang tersebut tepat pada lehernya. Pada saat yang bersamaan, seekor serigala abu-abu berlari ke arahnya, menggigit kakinya. Tidak terlalu kencang sampai terluka, tetapi tidak terlalu longgar sehingga ia bisa kabur. Ia terjatuh dengan suara yang kencang, mencium salju di atas tanah.
Saat serigala abu-abu tersebut berhasil menggigit kakinya, gigitan macan tutul salju di lehernya sedikit melonggar, sebelum terlepas seluruhnya. Ia mengira bahwa ini adalah kesempatannya untuk kabur, tetapi serigala abu-abu yang menggigit kakinya menggeram, mengencangkan gigitannya yang sudah pasti akan menimbulkan sebuah luka.
Ia berteriak kesakitan, darah yang keluar dari lukanya meresap ke pakaiannya yang tebal. Dari kejauhan, ia melihat dua orang berjalan mendekatinya. Pria yang mendekatinya sedang memegang sebuah kipas lipat, mengipasi dirinya walaupun saat ini sedang musim dingin. Rambut hitamnya yang panjang melambai bersamaan dengan tiap kipasannya. Sementara wanita yang berjalan di sebelahnya sedang memegang sebuah kapak, terkadang mengayunkannya dengan sangat ringan.
Saat mereka sudah sampai di depannya, gigitan serigala abu-abu di kakinya melonggar, dan -ada akhirnya lepas. Pada saat yang bersamaan, tanaman-tanaman rambat keluar dari dalam salju, merambat untuk mengikat orang tersebut. Mingyue mengambil kantung katun di tangan orang tersebut.
“Sudah lebih dari satu bulan berlalu, dan telur-telur ini belum mendapatkan tempat untuk menetas. Mereka seharusnya sudah mati,” ucap Mingyue sambil membolak-balikkan kantung katun tersebut beberapa kali. Renjana yang terikat oleh tanaman rambat diam saja, tidak mengatakan apa-apa. Suiren memperhatikannya untuk beberapa saat, kemudian menjatuhkan kapaknya tepat di sebelah pipi Renjana, untuk yang kedua kalinya. Renjana mengeluarkan suara memekik saat melihat besi tajam yang jatuh di sebelah pipinya.
Suiren berlutut di hadapannya, membuka mulutnya dengan paksa. Ia memeriksa mulut Renjana, mulai dari gigi-giginya, tenggorokannya, bahkan sampai lidahnya. Tiap kali Renjana mencoba untuk menggigit jari-jari Suiren yang mengeksplor mulutnya, Suiren akan memaksa mulutnya untuk terbuka dengan kekuatan yang dapat merobek mulutnya jika ia tidak hati-hati.
Menyadari triknya tidak akan berhasil, bahkan membahayakan nyawanya sendiri, Renjana mengubah triknya. Ia m******t jari-jari Suiren yang “mengutak-atik” mulutnya untuk membuat ia jijik. Yang tidak ia duga adalah, Suiren sama sekali tidak terpengaruh. Ia hanya dapat berharap pada gelapnya malam, berharap agar Suiren tidak melihat apa yang ada di mulutnya.
Setelah beberapa saat mengeksplor mulut Renjana, Suiren akhirnya berdiri. Ia kemudian memberikan tangannya kepada Mingyue, tanpa mengatakan apa-apa. Butuh beberapa saat untuk Mingyue selesai memproses apa yang ia lihat. Ia membersikan tangan Suiren yang tertupi dengan air liur Renjana menggunakan airnya, kemudian mengipasinya untuk mengeringkannya.
“Potong lidahnya,” ucap Suiren setelah tangannya kering.