“Nama samaran ya ... kalau begitu aku akan menggunakan ‘Teratai Putih’,” ucap Suiren. Ia kemudian menaikkan tudung pada jubahnya, menutupi surai hitam-peraknya. Mingyue melakukan hal yang sama, menutupi surai hitam panjangnya. “Baiklah Nona Teratai Putih, Nona bisa memanggilku dengan ‘Bunga Malam’,” ucap Mingyue. Mereka menuntun tali kekang kuda mereka, berjalan melewati kerumunan orang. Dikarenakan tidak sedikit jumlah orang yang melakukan transaksi sambil membawa kuda mereka, Mingyue dan Suiren tidak menarik perhatian sama sekali. Walaupun sekarang sudah menjelang dini hari, kegiatan di pasar gelap tetap berjalan. Mingyue mengedarkan pandangannya, melihat benda-benda yang dijual. Ia juga tetap harus memastikan Suiren tidak hilang di kerumunan, atau tertinggal. Saat ia melihat ke arah

