Pertemuan Perjodohan

1259 Kata
Penolakan dari Ailin tidak sanggup membuat Ayahnya berubah pikiran. Justru penolakan itu membuat Ayah Ailin murka. Ailin sudah berusaha semaksimal mungkin agar tetap bisa bertemu dengan Saka, tetapi, Ailin masih belum cukup mengantongi alasannya. Ailin tetap harus mengalah dengan ego Ayahnya. Demi menyelamatkan bisnis keluarga yang sudah puluhan tahun dibangun. Kali kedua Ailin harus menoleransi keinginan Ayahnya. Kedua kalinya pula Ailin harus gagal bertemu dengan Saka. Ibu Rinka, hanya bisa membela sang Ayah, agar Ailin tetap berada di rumah dan mengikuti makan malam yang telah direncanakan tanpa sepengetahuan Ailin. “Kenapa sih di hidup gue hanya ada larangan, larangan, dan larangan? Kenapa nggak ada kebebasan sama sekali?” Batin Ailin mulai protes. Di dalam hatinya, banyak sekali ucapan yang ingin ia utarakan langsung di depan sang Ayah juga Ibu. Namun, Ailin masih sayang dengan nyawanya. Ailin juga masih ingin bertemu dengan Saka, belanja barang-barang mewah, makan enak, dan menikmati hidup yang lebih menyenangkan. “Ailin, sekarang kamu naik ke atas. Ganti baju, dress putih ya, nak,” Ibu Ailin meminta Ailin segera mengganti pakaiannya. Bagaimana bisa menolak lagi jika penolakan adalah awal dari pertengkaran yang akan terjadi di rumah? Ailin kembali mengalah atas keegoisan Ayahnya. Baru beberapa hari di rumah, Ayah Ailin sudah membuat Ailin tidak betah berada di istananya sendiri. Setelah semua kehidupan diatur olehnya, kini larangan dan perintah lebih banyak tercipta. Ailin hanya tangan kosong. Tak memiliki senjata sekecil butiran salju pun, untuk melawan sang Ayah. Jika Ailin nekat, maka akan menjadi celaka bagi orang di sekitarnya. Ailin mengkhawatirkan itu semua. Ailin naik ke atas, menuruti permintaan sang Ayah. Masuk ke dalam kamar, dan ternyata fashion stylist-nya sudah bersiap untuk merubah penampilan Ailin sesuai request dari sang Ayah. Dress berwarna putih, makeup, sepatu, dan aksesoris lainnya telah berada di walk in closet di kamar Ailin. Ailin kesal, kenapa tidak ada yang mengatakan kepadanya jika hal ini akan terjadi. Ailin sudah dengan percaya diri dandan, lalu akan pergi berkencan. Sementara semua staf yang ada di rumahnya telah mengetahui jika Ailin akan menjadi maskot dalam penyelesaian masalah bisnis keluarganya. “Kenapa nggak ada yang memberitahu sih, kalau gitu nggak perlu aku dandan seperti tadi.” Ailin mengetes semua yang ada di dalam ruangan itu. Ingin mendengar seperti apa jawaban mereka tentang kekesalannya. Sayangnya, mereka hanya melempar pertanyaan itu, sampai pada akhirnya tak ada yang menjawab pertanyaan dari Ailin. Semua persiapan telah selesai. Ailin berubah menjadi seorang gadis cantik, seperti seorang Putri kerajaan. Dress putih panjang polos, dengan lengan pendek. Bandana putih dengan aksen mutiara menjadi hiasan di rambutnya. Rambut Ailin dibiarkan terurai cantik, agar jika tertiup angin rambut Ailin bisa bebas untuk berterbangan. Sepatu heels tak terlalu tinggi berwarna hitam menambah penampilan Ailin menjadi sangat elegan dan anggun. Make up yang dioleskan di wajah Ailin pun sangat pas dengan baju yang Ailin kenakan. Ailin terlihat sangat cantik. “Ailin, sudah selesai. Waktunya kamu turun dan menemui Ayah dan Ibumu,” ketua team stylist Ailin yang bernama Acha menyuruh Ailin turun ke bawah menemui Ayah dan Ibunya. Acha melihat Ailin pun terkagum sejenak. Sudah lama Acha dan teamnya tidak melihat kecantikan Ailin. Hari ini, akhirnya wajah Ailin kembali menghiasi rumah megah di salah satu pusat ibu kota. Dengan wajah ditekuk, mulut cemberut, dan hati yang tidak bahagia sama sekali, Ailin turun dari kamarnya. Menuruni tangga besar. Perlahan, Ailin mewati lantai di tangga itu satu per satu. Dalam hati berkecamuk, di kepalanya bertengkar banyak pikiran. “Apa lagi yang akan Ayah rencanakan? Apa aku akan menjadi tumbal bagi keluarga lagi?” Pikiran Ailin berbicara. Ailin tidak bisa memilih pikiran baik untuk sang Ayah. Semua yang ada di otaknya hanya ada rencana sang Ayah yang pasti akan membuat Ailin semakin tersiksa. “Ah, harusnya memang aku memiliki keberanian sebesar Arga. Aku nggak akan seperti ini. Aku pasti sudah bebas dari semua aturan, larangan, dan segala sesuatu yang dibentuk di rumah ini.” Ailin berjalan dengan pandangan kosong. Tangannya memang berpegang pada pinggir tangga, namun, matanya tak melihat ke arah bawah. Tidak memerhatikan apa yang ada di depannya. Mata Ailin kosong, menatap lurus dari pandangannya. Hingga Ailin tidak bisa mengelak lagi bahwa kakinya tergelincir di tangga. Ailin sudah pasrah akan badannya. Pasti jatuh dan berguling. Lalu, ada beberapa bagian dalam tubuhnya yang akan patah. Semua ini karena pandangan kosongnya itu. “Aaaaaa,” teriakan kecil Ailin membuat semua orang yang sedang duduk di meja makan berdiri. Kepanikan melandan semua yang ada di sana. Bahkan pelayan dan para pekerja pun ikut panik. Seperti akan terjadi sesuatu yang besar jika Ailin terjatuh. “Bluk!” Ailin jatuh ke pelukan seorang laki-laki. Badannya harum sekali. Namun, Ailin belum pernah mengenali wangi parfum itu sebelumnya. Ailin masih memejamkan matanya. Menikmati tubuhnya yang jatuh, walaupun tidak ke lantai. Juga menikmati setiap aroma parfum yang tercium dari badan laki-laki yang telah menangkap Ailin. “Kamu baik-baik aja, kan?” suara asing itu mulai terdengar. Ailin tercengang, sekaligus memecahkan lamunannya. “Suara siapa ini? Kenapa aku belum pernah mengenali sebelumnya? Apa ini Arga? Arga kembali ke rumah?” Ailin berspekulasi sendiri dalam pikirannya. Ailin masih belum mau membuka matanya. Ailin ingin menemukan jawaban dari teka-teki suara laki-laki itu. Ailin mendongak, mengangkat badannya. Ada wajah yang asing di hadapannya sekarang. Entah darimana dia berasal. Dalam mimpi pun Ailin merasa belum pernah bertemu dengan laki-laki ini. Tatapannya yang teduh, seperti memiliki hati yang lembut. Namun, tak tahu kebenarannya bagaimana. “Kamu baik-baik aja, kan?” tanyanya kembali kepada Ailin. Ailin masih belum sanggup menjawab. Bingung masih menjadi topik utama di pikirannya. “Ailin, kamu baik-baik saja, nak?” Ibu Ailin ikut cemas melihat anaknya terdiam tanpa menjawab pertanyaan dari siapapun. Ailin terlihat lebih pucat daripada saat pertama Ailin turun dari tangga tadi. “Huhhhh…” Ailin membuang napas terlebih dahulu, sebelum membuka suara untuk menjawab pertanyaan yang telah dilayangkan untuknya. Tarikan napasnya juga membuat Ailin lebih lega. “Ya, aku baik-baik saja.” Jawaban Ailin membuat semua orang yang menatapnya lega. Semua pun kembali duduk di tempat sebelumnya. “Butuh bantuan?” laki-laki itu menawarkan bantuan untuk Ailin. Sebab, Ailin masih terlihat lemas. Ailin ingin menolak, tetapi, ternyata memang Ailin membutuhkan bantuan laki-laki itu. “Yaaa,” jawaban singkat Ailin langsung disusul dengan tangan laki-laki di depannya. “Biar aku bantu kamu jalan,” tangan laki-laki itu membantu Ailin berjalan menuju ke meja makan tempat semua tamu telah berkumpul. Semua wajah di sana bagi Ailin asing. Siapa dia, dari mana asalnya, dan mengapa ada di sini menjadi pertanyaan besar dalam otaknya. “Silakan duduk Ailin, Erland,” ucap Ayah Ailin ketika Ailin dan Erland sudah berada di area meja makan. Mereka sepertinya sangat menanti kedatangan keduanya. Tak sabar ingin membicarakan maksud dan niat. Erland, nama laki-laki asing yang menyelamatkan Ailin dari tangga besar di rumahnya. Ia menarikkan kursi agar Ailin lebih mudah untuk duduk. Setelah memastikan Ailin duduk dengan aman, Erland pun duduk di kursi yang telah disiapkan untuknya. Hening sejenak ketika Erland dan Ailin telah duduk berdampingan. “Kita mulai saja, bagaimana?” Salah satu penghuni kursi di meja makan itu membuka suara. Agar semua acara yang telah direncanakan hari itu segera berjalan dengan lancar. “Mari, kita bicarakan sekarang,” Ayah Ailin mempersilakan. “Halo Ailin, selamat datang di Indonesia kembali. Sepertinya kamu lupa dengan kami semua,” kalimat pembuka yang semakin membuat Ailin bingung. Ailin tersenyum manis meski penuh dengan kepalsuan. “Kami adalah sahabat sekaligus partner kerja keluarga kamu.” Sesuatu akan terjadi hari ini. Mungkin, sesuatu yang besar? Atau memang hanya sekedar pertemuan biasa? Ah, semua itu belum terjawab. Semua terlalu banyak basa basi. Ailin masih bungkam. Sulit membuka suaranya, untuk sekedar bertanya. Ada apa hari ini?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN