“Hari ini, Ayah akan mempertemukan kamu dengan calon suami kamu. Kita semua, akan menjadi satu keluarga. Bukan lahinhanya sekedar sahabat, ataupun rekan bisnis. Kalian berdua lah yang akan mempersatukan. Dalam ikatan pernikahan.”
Ayah Ailin telah menyiarkan apa tujuan pertemuan pada sore hari itu. Senyum menghiasi meja makan kala itu. Sayangnya, tidak dengan Ailin. Sorot matanya menyimpan banyak pertanyaan. Ada kemarahan juga yang tersimpan di sana. Ailin tak habis pikir, nasib percintaannya akan diambil alih oleh sang Ayah.
“Apa-apaan ini? Apa Ayah nggak puas sudah mengambil semua kehidupan aku? Bahkan kebebasan aku? Sekarang tentang percintaan pun harus direnggut?” Ailin menyimpan kemarahan besar dalam hatinya. Ingin mengutarakan semua di meja makan itu. Mungkin dengan menggebrak meja sebagai permulaan. Namun, semua itu masih bisa Ailin tahan. Karena Ailin masih menghargai sang Ayah juga keluarga dari Erland.
“Biar Ayah yang memperkenalkan calon suami dan calon keluarga kamu,” Ayah Ailin kembali bersuara. Kali ini ingin memperkenalkan keluarga Harold kepada Ailin. Sebenarnya, Ailin tidak ingin mengenalnya. Tapi apa boleh buat, Ailin di sana hanya sebagai pendengar. Tak ada satu pihak pun yang akan mendengarnya.
“Om Tama Harold, sahabat Ayah sejak masih kecil. Sekarang, kita sudah sama-sama memiliki keluarga dan bisnis yang besar. Tapi, Ayah dan Om Tama masih bersahabat, tidak pernah putus. Ini istri Om Harold yang nantinya akan jadi Ibu mertua kamu. Namanya Tante Yeri, sama cantiknya bukan dengan Ibu kamu?” Ayah Ailin memberikan sedikit hiburan ditengah perkenalan itu. Semua pun tertawa, menghargai usaha Ayah Ailin.
“Sekarang, Ayah akan serahkan kepada Nak Erland. Dia yang akan memperkenalkan dirinya sendiri kepada kamu, nanti. Sekarang, lebih baik kita makan hidangan yang sudah disiapkan. Bagaimana?” Sebelum mengakhiri biaranya, Ayah Ailin mengajak semua untuk makan bersama di meja makan besar yang ada di rumah Ailin. Suara piring dan gelas saling bersentuhan menjadi backsound pertemuan keluarga. Semua sibuk dengan makanan yang ada di piringnya masing-masing.
Ailin hanya memainkan sendok dan garpunya. Rasanya, tidak ingin makan di sana. Meskipun sebenarnya Ailin sangat lapar. Ailin ingin makan bersama kekasihnya. Saka, pasti Sama sudah menunggu Ailin di tempat mereka janjian.
“Astaga!” Ailin teringat sesuatu. Ailin bangun dari tempat duduknya, lalu berlari kecil menuju ke kamar untuk mencari handphonenya.
“Ailin, ada apa?” Ayah Ailin memanggil anaknya dan memastikan tidak ada sesuatu serius yang terjadi. Erland, diminta kedua orang tuanya untuk mengikuti Ailin. Erland pun mengikuti permintaan kedua keluarga yang sedang menikmati hidangan di meja makan.
Erland berjalan, mengikuti Ailin dari belakang. Erland tidak berniat membuntuti. Bahkan, Erland tidak mengejar Ailin. Ia membiarkan Ailin menyelesaikan urusannya terlebih dahulu. Setelah selesai, Erland baru akan menemui Ailin lagi.
“Kenapa aku bisa lupa? Saka, kasihan sekali. Pasti dia sudah menunggu lama.”
Ailin mencari keberadaan handphone miliknya. Setelah menemukan, Ailin bergegas menghubungi Saka. Benar saja, Saka telah berada di tempat janjiannya. Saka sudah menunggu sekitar 2 jam di sana. Karena Saka ingin sekali bertemu dengan kekasih hatinya, yang selama 2 tahun berada di Amerika.
“Halo?” Suara Saka menyapa Ailin ketika Saja menjawab telepon dari Ailin.
“Saka…”
Ailin membuka pembicaraan, mencoba berbicara setenang mungkin. Ailin tidak ingin membuat Saka kecewa untuk kedua kalinya.
“Iya, ada apa? Sudah di jalan kan? Atau ada masalah?” Suara Saka tenang, tidak ada kemarahan dala pertanyaannya itu. Saka justru khawatir dengan Ailin. Karena Ailin tidak memberinya kabar setelah sepakat dengan janji mereka 3 jam yang lalu. Ailin merasa bersalah. Namun, Ailin juga tidak ingin ada di posisi ini. Ini bukan keinginan Ailin, jika Ailin bisa memilih untuk pergi, maka Ailin akan pergi. Sayangnya, pilihan itu sendiri pun tidak ada sama sekali.
“Ai?” Saka memanggil Ailin lewat telepon. Saka takut terjadi sesuatu dengan kekasihnya itu. Ailin masih belum menjawab, tak tahu harus dengan alasan apalagi.
“Ya? Aku baik-baik aja. Nggak ada sesuatu yang terjadi sama aku. Aku Cuma….”
Ailin tak sanggup melanjutkan omongannya. Semua ini pasti akan membuat Saka kecewa untuk kedua kalinya. Jika Ailin ada diposisi Saka, Ailin juga akan merasakan hal yang sama. Mungkin, Ailin akan marah. Karena janji tidak pernah ditepati.
“Iya, ada apa?” Saka masih tetap sabar, tenang. Saka terdengar seperti orang yang tidak pernah menyalahkan keadaan.
“Aku nggak bisa datang lagi.”
Ailin akhirnya jujur atas kondisi hari ini. Keadaan yang membuat Ailin tak bisa menepati janjinya lagi kepada Saka.
“Ada masalah?” Saka tetap tidak memperdengarkan kemarahan di sana.
“Iya, ada masalah yang harus aku dan keluarga aku selesaikan. Ini bukan kemauan aku. Aku minta maaf,” Suara Ailin mewakili rasa bersalahnya.
Saka sama sekali tidak marah ketika mendengar Ailin mengingkari janjinya lagi. Saka pun tak menghakimi Ailin, justru Salah mensupport Ailin agar masalah yang sedang dialaminya segera terselesaikan. Rasa bersalah Ailin bertambah besar. Hatinya tak tega mendengar Saka memberikan dukungan lewat kalimat yang menyimpan sejuta kasih sayangnya.
“Ahhh, semua ini memang salah Ayah,” Ailin menyalahkan Ayahnya atas keadaan ini.
Kekesalan Ailin terlihat oleh Erland. Erland sudah berada di depan pintu kamarnya. Tanpa Ailin ketahui, ternyata Erland sudah memperhatikan Ailin sejak tadi.
“Sejak kapan kamu di sana?” Sedikit kesal melihat Erland berdiri di depan pintu kamarnya. Seperti ada orang asing yang sedang menguntit Ailin. Untung saja, Erland masih bersikap baik. Belum masuk ke kamar Ailin sebelum Ailin persilakan.
“Ada yang perlu aku jelaskan,” Erland membuka jawabann. Erland pikir, Ailin ingin mempersilakannya masuk ke kamar Ailin. Ternyata, Ailin mengajak Erland ke suatu tempat di rumahnya.
“Ikut aku!” Ailin berjalan di depan Erland. Tangannya menyingkap dress putih panjangnya itu. Padahal, tidak menyeret hingga lantai. Tetapi, Ailin sudah kesulitan berjalan.
Ailin dan Erlan masuk ke perpustakaan di rumah Ailin. Salah satu ruangan favorit Ailin di rumah. Jika sedang tidak ada kesibukan sama sekali, Ailin akan berada di sini sampai seharian.
“Duduk,” Ailin menyuruh Erland duduk. Sambil mengambil salah satu buku, Ailin mempersilakan Erland mengutarakan niatnya.
“Apa yang mau kamu jelaskan? Silakan! Aku akan mendengarkan, meskipun sambil membaca buku,” Ailin membuka lembar demi lembar buku yang dipegangnya, sambil menunggu penjelasan yang telah Erland janjikan.
“Nama aku Erland. Jika menggunakan nama keluarga, maka namaku menjadi Erland Harold. Aku sama seperti kamu, menuruti kemauan orang tua untuk kuliah di luar neger. Namun, bedanya aku lebih memilih London sebagai negara belajarku. Kamu Amerika, kan?” Erland bercerita tentang dirinya kepada Ailin tanpa Ailin minta.
“Jujur, aku belum pernah merasakan jatuh cinta kepada siapapun. Dari aku kecil hingga dewasa, aku belum pernah menaruh hati kepada satu wanita. Entah kenapa, karena yang ada di pikiranku wanita itu nantinya akan meninggalkan aku ketika tahu aku berasal dari keluarga Harold.”
Ailin tercengang mendengar cerita Erland barusan. Ada hal yang lebih sulit dijalani oleh orang lain daripada Ailin. Selama ini, Ailin merasa dia yang paling terpuruk.
“Maka dari itu, tidak ada orang yang mau dekat denganku, karena keadaan keluargaku. Aku sempat dijauhi teman, karena keluargaku terkenal dengan sangat keras jika menegur. Itulah, sampai saat ini aku masih sendiri dan sama sekali tidak memiliki seorang teman,” Erland mengakhiri obrolannya sejenak. Erland bangun dari duduknya, berjalan ke sekeliling perpustakaan. Melihat buku-buku yang bertengger di raknya. Lalu, sesekali mengambil buku, berharap ada yang menarik perhatiannya.
“Lalu?” Ailin ternyata penasaran dengan Erland. Apa lagi yang selanjutnya akan Erland ceritakan kepada Ailin?
“Aku datang ke sini, karena aku tahu kamu tidak akan meninggalkan aku. Atau, menjauhiku seperti yang lainnya.”
“Dari mana kamu tahu?” Ailin mengerutkan alisnya, bersikap sinis setelah Erland mengucapkan kalimat barusan.
“Karena keluarga kamu, sedang membutuhkan keluargaku.”
Jawaban dari Erland sangat membuat Ailin tercengang. Kenapa ini harus terjadi kepada Ailin, mengapa bukan orang lain saja yang berada di posisi ini?