Jika hidup adalah sebuah pilihan, maka itu sama sekali tidak berlaku untuk Ailin. Hidupnya di dunia hanyalah sebagai boneka yang dimainkan oleh Ayahnya sendiri. Entah boneka Barbie yang cantik, menawan, dan menarik banyak perhatian. Atau boneka yang menyeramkan, yang menakutkan bagi sebagian orang. Tapi ada juga pemilik nyali besar sebagai kolektor boneka menyeramkan itu. Kalau dapat pertanyaan, boneka mana yang cocok untuk Ailin, Ailin juga tidak bisa menjawab. Jawaban itu hanyanada diakhir cerita nanti. Bahagia atau justru menderita seterusnya. Lebih menyeramkan daripada boneka horor yang ditakuti banyak orang. Kekayaan dan kekuasaan terkadang memang bisa merebut segalanya. Sang pemilik kekuasan serta kekayaan itu bisa mengatur sesuatu seperti yang mereka mau. Termasuk Ayah Ailin sendiri. Ayah Ailin adalah salah satu pengusaha besar yang sukses. Keluarganya mendapat julukan sebagai keluarga bisnis kaya raya. Kaya akan materi, uang, dan harta. Namun, bagi Ailin Ayahnya tidak kaya akan hari dan perasaan. Ailin membenci semua perasaan yang dimiliki oleh Ayahnya. Termasuk kerakusan. Rakus akan memiliki semua yang belum ada. Padahal, jika ingin bahagia dengan apa yang ada, sudah sangat cukup. Bahkan lebih dari cukup. Sayangnya, Ayah Ailin tidak ingin bahagia dengan apa yang ada. Beliau ingin terus memiliki semua yang beliau ingin.
“Kamu kenapa melamun? Apa aku ada salah ucapan?” ujar Erland tidak enak dan merasa bersalah setelah melihat Ailin yang tiba-tiba diam. “Eee, enggak. Nggak ada apa-apa. Aku hanya heran aja. Kamu salah satu cowok yang sempurna Dimata banyak perempuan. Yaa kamu cukup tampan, kamu kaya raya, dan yang aku lihat aku juga memiliki attitude yang sangat bagus sebagai seorang laki-laki. Tapi, kenapa tidak ada perempuan yang bisa memikat hati kamu? Apa Ayah kamu nggak cukup memiliki teman untuk sekedar menjodohkan kamu dengan salah satu anak dari sahabatnya?” Ailin panjang lebar berbicara. Erland hanya tertawa. Berdiri, kembali berkeliling melanjutkan mencari buku yang ingin ia baca saat itu. “Kenapa ketawa? Akus serius, aku bukan pelawak yang harus kamu tertawakan setiap jokes nya,” Ailin mendengus kesal. “Iya maaf,” Erland berhenti sejenak. “Aku tidak seperti yang kamu bayangkan. Kehidupanku sungguh kelam. Tidak seperti pangeran yang memiliki timbunan harta dan bisa tinggal dimana saja sesuai keinginannya,” Erland menyambung ucapan panjang dari Ailin tadi. “Tunggu!” Ailin ingin memprotes sesuatu. “Ya?” Erland begitu siap mendengarkan bentuk protes dari Ailin. “Aku nggak bilang kamu pangeran. Aku hanya bilang kamu ini seperti laki-laki yang sempurna Dimata wanita di luar sana,” Ailin mengucapkan protesnya dengan lancar. “Tapi, memangnya menurut kamu pangeran itu tidak sempurna kah?” ujar Erland memberikan pertanyaan kepada Ailin. “Kamu mau tau nggak jawabannya?” Ailin memberikan pilihan kepada Erland. Tentu saja, Erland ingin tahu jawaban dari Ailin. Erland terlihat seperti pendengar yang baik. Ia pun sangat menghargai setiap Ailin sedang berbicara.
“Pangeran itu sempurna, di mata sang Putri. Begitu juga sebaliknya. Mereka akan memandang pasangannya sempurna, karena mereka saling menemukan dan mereka juga saling melengkapi,” Ailin berhenti di sejenak. “Mereka menemukan apa?” kini Erland bertanya tentang penjelasan Ailin. “Saling menemukan apa yang mereka cari. Eee tunggu tunggu, lebih tepatnya yang hati cari,” Ailin menutup jawabannya. “Tapi, bukankah itu hanya ada di negeri dongeng saja? Buktinya, jika aku sempurna kenapa tidak ada seorang Putri yang mau berjuang bersama aku atas nama cinta?” pertanyaan Erland kali ini cukup berat untuk Ailin jawab. “Ya mana aku tau!” Ailin sedikit ngegas dengan jawabannya. “Kenapa jadi aku kamu sih,” Ailin membatin dalam hati. Ia baru sadar, barusan Ailin selalu mengatakan aku dan kamu ketika sedang ngobrol dengan Erland. “Ada apa lagi?” Erland menatap Ailin dari bolongan rak buku yang bukunya diambil olehnya. “Nggak papa,” Ailin menjawab singkat.
Ailin sudah merasa canggung dan tidak memiliki pembahasan lain bersama Erland. Ia pun memutuskan untuk berkeliling ke perpustakaan mini di rumahnya, agar terlihat sibuk dan tidak harus memikirkan pertanyaan apa selanjutnya yang menjadi pembahasan mereka selanjutnya. “Kalau kamu sendiri bagaimana?” Erland ingin mengenal Ailin lebih dalam. “Aa aku?” Ailin sedikit terkejut dengan pertanyaan mendadak dari Erland. “Apanya yang bagaimana? Apa yang kamu ingin tau dari aku?” Ailin menutup mulutnya sejenak, ia teringat mengapa harus mengulang dengan ucapan aku dan kamu. “Lo mau tau apa tentang gue?” ucapan Ailin setelah diralat. “Kenapa jadi Lo gue? Bukannya lebih nyaman aku dan kamu?” Erland memang terdengar sangat lembut. Dari tutur katanya juga tingkah lakunya.
“Sebenernya,” Ailin menggantungkan kalimatnya sejenak. Ia ingin berterus terang kepada Erland tentang hubungannya dengan Saka. Siapa tahu ini adalah jalan agar Ailin bisa bersama Saka dan menolak perjodohan dengan Erland. Ailin menggunakan sifat Erland yang selalu menghargai orang lain dan mungkin ia akan merasa sangat sungkan jika merebut perempuan yang sudah memiliki pasangan. “Ya, sebenernya?” Erland menagih lanjutan kalimat dari Ailin. “Ehem hmmm,” salah satu bodyguard yang ada di rumah Ailin berdehem. Dilanjutkan dengan suara ketukan pintu. Meski pintunya terbuka, namun, mereka memang terbiasa dengan sikap seperti itu. Agar semua privasi semua orang yang ada di rumah ini terjaga, dan merasa saling dihargai. “Ada apa?” Ailin peka dengan kedatangan bodyguardnya. “Maaf, non. Tuan memanggil Non Ailin dan Den Erland untuk turun ke bawah,” ujarnya dengan sopan. Meski badannya besar dan pakaiannya sangat gagah, tutur katanya dibiasakan sopan. Apalagi jika lawan bicaranya lebih tua. “Ada apa kata Ayah?” Ailin memberi sinyal jika ia menolak turun ke bawah. “Maaf, Non. Saya tidak tau. Mari ke bawah, Non,” ajak sang bodyguard kepada Ailin. “Pak, biar Ailin turun sama saya, saja. Bapak cukup tunggu di bawah, ya. Bilang saja sama Ayah, kami akan segera turun,” Erland memberika solusi agar Ailin bisa menata moodnya terlebih dahulu. “Baik,” bodyguard itu berlalu begitu saja dari hadapan Ailin dan Erland.
“Lo aja ya yang turun duluan. Bilang aja, nanti gue nyusul,” ujar Ailin dengan wajah yang sudah bisa ditebak. “Kenapa gitu? Kan yang dipanggil kita berdua. Lagian nggak baik ah, berbohong dari hal hal kecil kayak gitu. Nanti, jadi kebiasaan kita,” ujar Erland sambil merapikan buku yang tadi ia baca. “Ihh kenapa sih pengatur hidup gue tambah lagi,” Ailin kesal sekali dengan ucapan Erland barusan. Meskipun sebenarnya ucapan Erland memanglah benar. Tapi, entah mengapa bagi Ailin itu sangat menyebalkan. “Mari Nona Ailin, turun bersama,” Erland meledek Ailin sedikit. Sisanya ia memang sengaja mengajak Ailin untuk turun bersama. “Gue sendiri aja, silakan jalan di depan gue,” Ailin menekuk wajahnya. Ia bete sekali dengan situasi sekarang ini. Tidak ada pilihan yang bisa Ailin pilih. Hanya ada aturan dan perintah yang harus Ailin jalani.