bc

Ruang Rindu [END, FREE]

book_age16+
404
IKUTI
2.7K
BACA
second chance
friends to lovers
badboy
confident
neighbor
drama
twisted
sweet
bxg
first love
like
intro-logo
Uraian

MIMOSA Jolie masih kecil ketika dia melihat pertengkaran hebat orangtuanya karena kehadiran wanita lain. Dan di malam yang sama, di depan matanya, dia melihat ayahnya mati berdarah-darah. Selama ini dia hanya tahu ayahnya adalah ayah yang baik, tapi setelah kejadian itu ibunya mengisi otaknya dengan cerita kejahatan ayahnya. Cerita yang membuat dia merasa tidak membutuhkan lelaki sebagi pendamping bahkan sampai usianya menjelang tiga puluh.

Lalu Shaquille Rajendra datang sebagai tetangga baru. Lelaki yang berkelakuan lebih parah dari ayahnya ini menjadi tempat dia menjatuhkan hati.

Ibunya meradang. Mengingatkan kebejatan ayahnya. Dan di depan mata Mimo, Shaq pergi. Tak berkabar sama sekali.

Bila kisah cinta ini dimulai?

***

Cover:: Zia

chap-preview
Pratinjau gratis
Prolog
Di pingggir Jakarta . “Lagi, Ayah… lagi....” Aku melihat seorang anak kecil berteriak dari atas ayunan. Anak kecil itu mungkin berusia tiga atau empat tahun. Dia tertawa terkekeh-kekeh sambil memegang rantai ayunan sekuat mungkin di sebuah taman. “Ini sudah terlalu tinggi, Mimo…” Tapi seorang pria yang berdiri di belakang ayunan terus mengayun, membuat ayunan semakin tinggi. “Memang Mimo nggak takut?” “Nggak, Ayah… Mimo nggak takut. Lagi…” Anak kecil itu terus berteriak kegirangan. Rumput hijau, matahari cerah, langit biru, dan sejumput awan menjadi latar yang indah bagi kebahagiaan itu. Gadis kecil dengan rambut ikal dikuncir dua berhias pita berwarna merah menyala. Senada dengan gaunnya. Gaun merah muda berhias bunga-bunga merah menyala. Rambutnya rapi, ikatan pita rambut dan di belakang punggungnya pun rapi. Flat shoes merah dengan kaus kaki putih berenda di atas mata kaki. Dia anak yang dirawat dengan baik. Dan kulihat, seorang wanita muda berdiri dengan wajah berbinar bahagia melihat keakraban gadis kecil dan ayahnya. “Ibu… Ibu…” Gadis kecil berteriak memanggil wanita itu. Dan wanita yang ternyata ibunya berjalan perlahan menghampiri ayunan dengan senyum yang sangat lebar. “Anak Ayah memang pemberani ya.” Lelaki itu—si ayah—terus mengayun sambil terkekeh. “Tapi ini sudah terlalu tinggi, Mimims Sayang…” Dia berhenti mengayun, membuat ayunan semakin melambat. Setelah beberapa saat, akhirnya ayunan semakin melambat lalu berhenti. Walau memasang muka merengut, si anak tetap tersenyum ketika melihat wajah ayahnya. Kemudian si ayah mengangkat anak kecil itu, melemparnya satu kali ke atas membuat si anak berteriak ketakutan dan kegirangan. Sang ayah menangkap anaknya, lalu membungkusnya dalam dekapannya. Lalu tiba-tiba aku merasa sesak. Dekapan itu menyesakkan dadaku. Mungkin dekapan itu terlalu kuat. Tapi, bukankah yang dipeluk itu adalah si anak? Aku hanya melihat si anak dipeluk ayahnya. Kenapa aku yang merasa sesak? Tapi kegelapan ini begitu mirip. Sesak dan gelap. Aku takut. Ketika dekapan itu hilang, tiba-tiba aku berada di tempat lain. Aku melihat si anak yang terbangun terkejut. Langsung duduk di tengah ranjang dan bersiaga. Matanya mendelik ketakutan. Teriakan-teriakan itu mengganggu tidurnya. Kepalanya menoleh ke kiri dan ke kanan. Mencari sumber suara dan mencari perlindungan. Aku mengerti ketakutan itu. Aku ingin menghiburnya, menenangkannya, menemaninya. Bergegas aku mendekat dan mendekapnya. Dekapan yang kuat dan melindungi seperti dekapan si ayah di taman. Tapi ketika mendekap itulah aku merasa tubuhku luluh, melebur masuk bersatu dengan tubuh si bocah. Aku bisa merasakan ketakutan si bocah. Aku terus berusaha menghibur dan menemaninya. Tapi perlahan, aku merasa, akulah bocah itu. Aku yang tadi melebur seutuhnya menjadi dia. Butuh beberapa saat agar aku sadar bahwa aku adalah si bocah. Dan sadar bahwa si bocah—aku—terbangun karena terusik teriakan-teriakan marah. Aku menjadi si bocah, tentu aku merasakan apa yang dia rasakan. Aku adalah bocah itu. Ini kejadian pertama, sebelumnya tidak pernah. Itu membuatku sangat terkejut dan ketakutan. Aku meringkuk mengecilkan diri, begitu takut dan tak mengerti apa yang mereka ributkan. Suara itu bersahut-sahutan. Sesekali aku mengerti kalimatnya. Tapi aku tak mengerti maknanya. “TEGANYA KAMU…” suara Ibu ditingkahi isakan. “BISA-BISANYA…” Aku mencoba mengingat waktu. Yang kuingat hanya aku lelap setelah Ibu meninabobokan aku seperti biasa. Berarti ini sudah malam. Kenapa mereka berteriak? Bukankah Ibu selalu menyuruhku bersuara pelan takut mengganggu tetangga? Suara teriakan Ibu pasti mengganggu tetangga. Lalu suara Ibu kembali terdengar. Dia menyebut-nyebut kata ‘jalang’ berkali-kali. Aku tak tahu arti kata itu, tapi sepertinya itu kata yang buruk dan Ibu membenci kata itu. Itu aku si bocah yang tidak mengerti. Tapi aku yang dewasa bisa mengerti semua. Aku merekam semuanya. Sebagai bocah dan sebagai manusia dewasa. “KENAPA DIA, MAS? KAYAK NGGAK ADA PEREMPUAN LAIN AJA. SELERA KAMU RENDAH SEKALI. MALU-MALUIN!” Sangat terasa suara Ibu begitu merendahkan siapa pun atau apa pun itu yang mereka bicarakan. “AWAS KAMU MENGHINA DIA YA. KAMU YANG MALU-MALUIN. JADI ISTRI NGGAK BISA NGAPA-NGAPAIN.” “NGAPA-NGAPAIN GIMANA? AKU BERENTI KERJA KARENA HARUS NGURUS RUMAH. SEKARANG KAMU BILANG AKU NGGAK BISA NGAPA-NGAPAIN. MEMANG DIA BISA APA?” Setiap kali Ibu menyebut kata ‘dia’, suara Ibu terdengar bergetar, antara marah dan jijik. “NGGAK PENTING DIA BISA APA, YANG PENTING AKU MAU SAMA DIA. SEKARANG TERSERAH KAMU.” Sebenarnya aku ingin keluar, aku ingin tahu ada apa, setidaknya, aku bisa mengintip sedikit dari celah pintu. Tapi kakiku mati rasa. “AKU NGGAK AKAN PERNAH MAU DIMADU. SIAPA PUN ORANGNYA, AKU NGGAK MAU!” “BODOH!!!” Bentakan itu begitu kasar. Aku yang tak pernah mendengar kata-kata makian semakin ketakutan. “AKU MEMANG BODOH, DAN NGGAK AKAN NGULANGIN LAGI!” suara Ibu semakin meninggi. “PERGI KAMU!” Apa ini? Kenapa mereka saling berteriak? Apa telinga mereka sudah tuli? Telingaku pekak. Jantungku berdetak kencang. Ini terasa sangat berbeda. Aku ingin berteriak memanggil Ibu, agar Ibu datang dan aku bisa bersembunyi aman di ketiaknya, tapi yang kudengar adalah teriakan balasan dari Ayah. “INI RUMAH AKU, KAMU YANG PERGI!” Dan Ibu meraung, membuatku semakin meringkuk memeluk bantal di bawah selimut. Bagaimana mungkin aku memanggil Ibu jika mereka sudah tuli? “Baik, aku pergi…” Suaranya terdengar datar. Dan tak lama kulihat Ibu menerjang pintu kamar. Ibu hanya melirik sekilas ke arahku, mengabaikanku, lalu langsung menyambar koper besar di atas lemari. Dia sangat tergesa, melempar masuk baju-bajuku ke dalam koper itu. Lempar aku ke dalam koper itu, Ibu. Aku takut di sini. Isi koper sesak berantakan, Ibu harus berusaha keras menutupnya. Lalu dia keluar kamar sambil membanting pintu. Aku terlonjak, sampai aku keluar dari tubuh si bocah. Tapi ketika aku keluar, aku tidak berada di ruangan itu. Aku kembali melihat si bcah berada di taman. Tetap bersama sang ayah. Kali ini mereka berlarian. Si anak berlari sambil memegang tiga buah balon beraneka warna sementara ayahnya mengejar di belakangnya. Mereka tertawa begitu lepas. Lapangan rumput itu sungguh luas. Hijau menghampar dan cuaca begitu cerah. Sampai akhirnya sang ayah berhasil menangkap si gadis kecil, mereka bergulingan di rumput di samping si ibu. Membuat balon-balon itu terlepas dari pegangan si gadis kecil. Si ibu yang tadi hanya duduk dan tertawa kali ini ikut menangkap anaknya. Bertiga mereka bergumul. Aku ikut tersenyum melihat keakraban itu. Gadis kecil terkekeh-kekeh ketika ayahnya menggelitiki pinggangnya sementara wajahnya berpindah-pindah di sekujur tubuh anaknya, menciumi bagian tubuh manapun yang bisa dia raih. Sampai akhirnya mereka berhenti karena si gadis kecil sudah tidak bisa lagi bergerak. Lelah tertawa. Lalu dia mencari balon-balonnya. Wajahnya pucat pasi menoleh cepat ke kiri dan ke kanan. Dia menoleh ke atas, melihat balon-balonnya sudah melayang ke langit. Dan ketika dia menoleh ke samping, pemandangan yang dia lihat sudah berubah total. Alam yang cerah menjadi mendung. Dan mendung itu menaungi sebuah kamar. Kamar dengan sebuah koper terbuka lebar terisi penuh dan berantakan tergeletak di atas ranjang. Dia melihat ibunya berusaha keras menutup koper itu. Lalu si ibu pergi dengan membanting pintu. Membuat dia merasa sangat kehilangan dan ketakutan. Dia ingin mengejar ibunya, tapi ketakutan itu membuat tulangnya luluh dan tak bisa bergerak. Aku yang berdiri di dekatnya kembali berusaha menghiburnya. Kalau aku tidak bisa menghiburnya, paling tidak aku bisa menemaninya. Dengan Ibu yang seperti itu, dia ketakutan dan butuh teman. Kembali aku mendekat dan kembali aku melebur. Luluh masuk ke dalam tubuhnya, menjadi dia. Kembali aku bisa merasakan semua yang dia rasa. Aku semakin ketakutan dan bingung. Tapi tak lama Ibu kembali dengan menggeret satu koper besar lainnya. “Ayo, Mimo, kita pergi!” Tangannya terulur mengajakku pergi. Aku yang tak mengerti apa-apa tentu sangat ingin pergi bersamanya. Tapi aku begitu ketakutan. Ini seperti aku yang dimarahi Ibu. Kemarin dulu Ibu menemukan aku berhujan-hujan sampai penuh lumpur. Ibu memarahi dan langsung menarikku dari kubangan lumpur. Terus menarikku ke kamar mandi dan memandikan aku dengan tergesa. Saat itu kakiku tak bisa bergerak karena sepanjang memandikan Ibu memarahi aku. Kali ini bukan aku yang dimarahi, tapi aku begitu takutnya sampai sulit bergerak. Ibu bergegas menarik tanganku, kasar. Aku mengaduh ketika sakitnya tarikan itu terasa di bahu. Ketika itulah aku melihat lebih jelas wajah Ibu. Rambutnya berantakan, wajahnya penuh air dan matanya sembab. Itu seperti wajahku ketika kehilangan Ibu di tempat bermain.Menangis panik dan ketakutan. Seorang bocah dan dua koper besar. Entah kekuatan apa yang membuat Ibu bisa mengendalikan tiga benda itu sampai kami bisa berdiri di depan rumah. Aku tak tahu jam berapa saat itu, tapi kurasa sudah malam. Jalanan sepi, saat itu tak ada kendaraan yang lewat sama sekali walau rumah ini berada di tepi jalan utama. Aku hanya sempat melihat Ayah duduk di kursi kayu kaku, menunduk meremas rambut dengan kedua tangan menumpu di lutut. Dia tak melihatku. Aku berlalu di hadapannya begitu cepat. Dia mengabaikan suara pintu yang terbuka kasar. “Ayah…” Aku ingin berteriak meminta bantuan Ayah, tapi itu hanya desah lirih seorang bocah ketakutan. Suaranya hilang tertelan gelap malam dan ketakutan. Hilang bersama tarikan keras Ibu. Sebuah angkot melintas dari arah kiri dan dengan kekuatan bulan Ibu melambai bersemangat menghentikan angkot. Kami harus menyeberang. Dua koper, satu bocah, dan seorang wanita yang hancur. Hanya berpikir segera sampai di seberang jalan. “MIMOOOOOO…!!!” “AYAAAHHH…” Yang aku tahu aku melayang terlempar lalu jatuh. Malam terasa semakin gelap. Semakin gelap ketika aku melihat tubuh Ayah terbanting keras ke aspal dengan kepala berlumur darah. Aku melayang meninggalkan semuanya. Inilah puncak ketakutanku malam itu. Ketika tubuh ayah terlempar, aku pun terlempar keluar dari tubuh si gadis kecil. Gadis kecil itu adalah aku di tahun 1992. Dan sekarang, aku duduk terbangun terkejut di tengah ranjang. Napasku memburu dengan keringat mengalir deras. Mimpi itu. Masih sering menggangguku. Penggalan-penggalannya begitu nyata karena itu adalah benar kenyataan yang dulu pernah kualami. “Mimo…” Suara pintu menjeblak terbuka bersamaan dengan suara Ibu. Aku masih terus terpuruk dengan napas memburu. Tanganku menggapai ke segala arah mencari pegangan. Dan ketika Ibu memegang tangan itu, aku bisa merasa lebih tenang. Aku tak jatuh melayang seperti Ayah, ada Ibu yang memegangku erat. Dan Ibu selalu ada di sampingku. *** Dan malam-malam selanjutnya, walau tanpa mimpi dan tanpa bayangan kelam, dan Ibu yang selalu ada untukku, aku harus terus berteman dengan malam itu. *** . Bersambung . Author's note: Seperti janji saya di Pak Ian, saya akan publish MimoShaq di sini free sampai end. Saya beneran nggak enak sama yang sudah nungguin Pak Ian berbulan-bulan di sini. Semoga MimoShaq bisa menghibur kalian ya. Yang suka ngebucin, baper, merapat di sini ya. ?

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Suamiku Bocah SMA

read
2.6M
bc

Pernikahan Rahasia sang CEO: Menyerah pada Cinta yang Menggila

read
1.0K
bc

Keyra, Gadis Kecil Kesayangan Om Dirga

read
213.6K
bc

Satu Atap Tanpa Cinta

read
28.8K
bc

Tentang Cinta Kita

read
231.3K
bc

Sentuh Aku, Daddy!

read
175.1K
bc

Demo Dulu, Jatuh Cinta Kemudian

read
12.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook