BAB 16 – FLASHBACK (THE LAST NIGHT_PART 2)

2030 Kata
BAB 16 – FLASHBACK (THE LAST NIGHT_PART 2)     Hening dan canggung menjadi kata paling tepat untuk menggambar suasana di antara aku dan Marcel. Sejujurnya, banyak hal yang ingin ku sampaikan padanya. Tapi bibirku seolah terkunci oleh sesuatu yang bahkan tidak bisa ku pahami. Aku tidak bisa mengatakan apapun.   “Aku… aku minta maaf karena beberapa waktu ini menghilang tanpa kabar,” Ia menjeda kalimatnya. Suaranya agak sedikit bergetar seolah ada satu ketakutan yang tersembunyi di dalam dirinya, “Aku terlalu sibuk mempersiapkan sidang kelulusan. Aku pengen hasil yang terbaik, Nes. Makanya aku ngga bisa ngeluangin banyak waktu untuk hal-hal lain diluar skripsi.” Ia berusaha memberiku pengertian. “Iya, aku ngerti. Karena… jangankan banyak, sedikit waktu aja ngga bisa kan? Pasti kamu sibuk banget.” Ia melirik ke arahku lalu kembali membuang pandangannya ke arah depan, menatap dengan kosong lampu-lampu jalan yang sinarnya sedikit menembus masuk ke dalam mobil. “It’s okay. Yang penting kamu lulus dengan nilai yang baik. Itu jauh lebih penting.” Ujarku lagi, membuatnya merasa semakin terpojok dengan ucapanku. Aku tidak tahu keberanian ini muncul dari mana sehingga aku mampu mengucapkan kalimat-kalimat sindiran semacam itu. Mungkinkah ini berasal dari kekesalahan di hatiku yang sudah cukup ku pendam selama dua bulan ini. Ia kembali menghela napas dalam-dalam seolah sedang berusaha mengumpulkan keberanian untuk melanjutkan ucapannya, yang entah apapun itu namun aku yakin pasti akan menyakitkan. “Soal mami…” Dua kata yang keluar dari mulutnya itu berhasil membuatku melebarkan mata yabg tadinya sudah mulai sayu. Detak jantungku berubah menjadi lebih cepat, tanganku mulai gemetar. Aku tahu dengan pasti kemana pembicaraan ini akan mengarah. Tuhan, tolong, aku sebenarnya belum siap mendengarnya langsung dari mulut Marcel. Haruskah malam ini? “Aku benar-benar minta maaf karena apapun perkataan mami waktu itu, pasti menyakiti perasaan kamu. Aku minta maaf karena mami harus datang dengan cara seperti itu. Aku minta maaf, Nes. Aku minta maaf kalau harus…” Ia menundukkan kepalanya. Aku bisa melihat bahunya yang gemetar. Aku hanya bisa terdiam dan membiarkannya menyelesaikan setiap kalimat yang ingin ia sampaikan. Aku berusaha sekuat tenaga untuk menahan air mataku agar tidak terjatuh. Aku tidak ingin kelihatan cengeng di depan Marcel malam ini. Kalau aku menangis, pasti akan lebih memberatkannya. Tidak, aku tidak ingin lebih mempersulitnya lagi. Marcel memalingkan badannya menghadap ke arahku. Sejenak ia menatapku. Perlahan ia mengambil tanganku, dengan kedua tangannya, ia menggenggam erat tangan kananku. “Nes, kamu percaya kan kalo aku sayang sama kamu? Kamu percaya kan kalo aku benar-benar cinta sama kamu, Nes?” Aku tidak bisa menjawab pertanyaannya dan sialnya kini air mataku sudah mulai berjatuhan membasahi pipiku. “Aku minta maaf, Nes,” Ucapnya dengan suara yang semakin bergetar, “I can’t handle it anymore.” Suaranya yang bergetar itu kini berubah menjadi isak tangis.   Ini kali pertamanya aku melihat Marcel menangis, setelah selama ini justru ia lah yang selalu dengan suka rela menyaksikanku menangis, karena rindu dengan orang tuaku, karena lelah dengan tugas yang menumpuk sementara aku harus tetap bekerja, karena sakit dan tidak ada orang tua yang menemaniku, dan ia lah yang tulus akan memelukku, meyakinkanku bahwa aku kuat dan aku bisa melewatinya, ia lah yang akan mengelus kepalaku sambil berulang kali mengucapkan bahwa aku masih memilikinya dan aku tidak perlu takut akan apapun. Tapi kali ini, aku bahkan tidak bisa membalasnya dengan perlakuan yang sama, aku sama sekali tidak bisa meyakinkannya bahwa semua akan baik-baik saja. Karena memang, semua tidak akan baik-baik saja. Aku dan dia, tidak baik-baik saja. Maaf, aku tidak bisa melakukan hal yang sama. Karena waktu itu aku lemah dan kamu kuat. Tapi hari ini kita, bukan saja lemah, kita berdua sama-sama sedang patah dan hancur hati. Tangisnya kian menjadi dan ia semakin menggenggam erat tanganku. “I miss you, Nes. I miss you so much.” Ia lalu menarikku ke dalam pelukannya. Kali ini aku sudah benar-benar tidak bisa menahan tangisku. Aku menyembunyikan wajah dan tangisku ke dalam pelukannya. “Maaf karena aku ngga bisa menjaga janjiku. Maaf. Aku gagal.”   Memang tidak ada lagi yang perlu dijelaskan di antara kami. Marcel sudah tahu tentang apa saja yang hari itu tante Liana katakan padaku. Kami sudah sama-sama mengerti betul apa yang terjadi pada hubungan kami. Kami tahu bahwa akhir yang harus terjadi tidak sama dengan apa yang selama ini kami inginkan. Terima kasih karena telah meyakinkanku bahwa kamu benar-benar mencintaiku, hanya saja semesta memang tjdak memberi restunya pada kita. Dan maaf karena telah menganggapmu pengecut. Air matamu itu, cukup menjadi alasan untuk aku percaya kalau kamu lelaki yang berani mengakui semua perasaanmu. Aku tahu dan aku bisa merasakan ketulusan itu.   “It’s okay. Kamu ngga salah, mami kamu juga ngga salah. Aku bisa ngerti kenapa kita harus kayak gini dan aku akan belajar untuk menerima semua yang terjadi.” Beberapa saat kami tenggelam dalam tangis tanpa satu katapun yang keluar dari mulut kami, hanya suara tangis itu yang terdengar. Seolah kami sedang menikmati kesedihan dan kesakitan itu. Aku menarik tubuhku dari peluknya lalu menghampus air mataku. Kini aku bisa melihat dengan jelas matanya yang memerah dan masih ada air yang menggenang di pelupuk matanya.   “Cel, makasih ya sudah mau menemani aku melewati banyak hal. Makasih juga karena kamu sudah mengajari aku untuk lebih percaya sama diriku sendiri. Terima kasih untuk semua kebaikan dan kasih sayang yang selama ini kamu berikan. Maaf, aku belum sempat memberikan hal yang sama. Aku seringnya cuma ngerepotin kamu doang. Maaf ya.” Aku menatapnya lalu aku berusaha untuk tertawa menutupi kesedihanku yang tentu saja hal itu tidak akan berhasil, karena air mata masih saja mengalir melalui ujung mataku. “No, you’re not. Kamu justru salah satu hal terbaik yang pernah aku temukan di hidupku. Justru dari kamu aku belajar menjadi orang yang kuat menghadapi kesulitan dalam hidup.” Jemarinya dengan lembut merapikan anak-anak rambutku yang berantakan. Bahkan saat ia berada tepat di depanku seperti ini, aku masih saja merindukannya. Apalagi nanti, aku pasti akan sangat merindukannya. “Terima kasih karena sudah menjadi perempuan yang hebat. Terima kasih karena hatimu yang terlalu baik untuk mau maafin aku.” Tangannya mengelus pipiku. “Nes, kamu juga pasti sudah tau kalau aku bakalan ngelanjutin studiku di Amerika kan?”   Aku mengangguk pelan.   “Jaga diri kamu baik-baik ya. Jangan biarin orang lain mempengaruhi rasa percaya kamu terhadap dirimu sendiri. Tetap jadi Anes yang kuat dan baik hati…” napasnya kembali tercekat membuatnya tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Ia kembali mengatur napasnya, berusaha menahan tangisnya agar tidak kembali pecah.   “I’m gonna miss you.”   Aku tersenyum nanar menanggapi ucapannya. Kalau aku berkata-kata pasti aku akan menangis. Dadaku saja masih terasa sangat sesak. Ditambah lagi membayangkan hari-hari setelah malam ini. Perasaanku tidak mungkin berganti secepat itu. Pasti akan ada malam dimana aku akan kembali menangis karena merindukan sosok lelaki keras kepala di hadapanku ini. Aku selalu menyebutnya keras kepala ketika ia mengatakan bahwa ia hanya berusaha menjelaskan pendapat menurut sudut pandanganya. Aku pasti akan merindukan caranya memanggilku dari depan pintu rumah ketika menjemputku ubtuk pergi ke kampus. Aku pasti akan merindukan tatapan antusiasnya ketika melihatku dari balik pintu cafe ketika menjemputku seusai bekerja. Aku pasti akan merindukan setiap perlakuan-perlakuan kecilnya yang justru mampu membuatku merasa dicintai. Terlebih, aku pasti akan merindukan waktu-waktu yang kita habiskan untuk belajar bersama di perpustakaan kampus. Ketika kamu akan mulai mengusiliku karena bosan dengan buku-buku bacaanmu tentang hukum yang memiliki banyak sekali halaman itu. Setiap hal kecil tentangmu, aku pasti akan sangat merindukannya. Aku akan sangat merindukan waktu dimana saat aku sedang sedih dan kamu akan berkata “hei anak cantik, udah jangan nangis lagi. Kan ada aku. You have me here. Everything will be fine” lalu kamu akan mengacak-acak rambutku, menarikku dalam pelukmu, lalu kamu menepuk-nepuk pundakku dan saat itu perasaanku akan berubah menjadi lebih tenang. Tapi, setelah malam ini, you are not here anymore.   “Kamu baik-baik ya di sana. Aku doain yang terbaik untuk masa depan kamu. Good luck ya.”   Ia mengangguk lalu kembali menarikku dalam peluknya.   “Let it be the last,“ ucapnya “Nes, kamu harus janji kalau setelah ini kamu akan jadi orang yang lebih hebat.” “Iya, aku janji.” “Sampai ketemu di waktu dan tempat yang lebih baik ya, Nes.”   Aku mengeratkan tanganku yang melingkar pada tubuhnya, dan Marcel pun melakukan hal yang sama. Kami menikmati pelukan terakhir itu sebagai kenangan terakhir yang bisa kami bawa untuk melanjutkan kembali perjalanan yang tidak lagi searah ini.   “Besok aku ada ujian. Aku harus pulang sekarang.”  Ujarku sambil melepaskan pelukanku. “Aku anterin ya?” Dari tatapannya aku bisa melihat bahwa ia berharap aku akan mengiyakan tawarannya. Tapi aku tidak bisa. Ben sudah menunggu dari tadi, bahkan aku hampir saja lupa dengan keberadaan Ben. “Dia sudah nunggu dari tadi, Cel.” Seolah mengerti dengan maksudku Marcel pun hanya bisa mengangguk dengan raut wajah penuh penyesalan. “Aku balik sekarang ya. Kamu hati-hati di jalan.” Baru saja aku ingin membuka pintu mobilnya, tiba-tiba Marcel menarik tanganku, ia lalu mencium keningku. Aku memejamkan mataku, menikmati ciuman pertama yang ku terima dari seorang lekaki. Iya, ini kali pertamanya. Marcel tidak pernah melakukan hal-hal semacam berciuman atau hal di luar batas lainnya selama denganku. Ia bilang, lelaki yang mencintai perempuannya adalah lelaki yang tau bagaimana cara menjaga dan menghormatinya. Dan ya, Marcel sudah melakukan sesuai dengan yang diucapkannya. Aku tersenyum padanya yang masih menatapku dengan tatapan nanarnya. Aku tak lagi berkata-kata. Aku membuka pintu mobil kemudian berlalu meninggalkan Marcel. Aku mempercepat langkahku menuju tempat mobil milik Ben terparkir, aku menyadari sudah cukup lama aku membiarkan Ben menungguku. Mungkin ia merasa jengkel karena harus menungguku menyelesaikan permasalahan hubunganku dengan Marcel. Ternyata pintu mobilnya tidak dikunci, jadi aku bisa langsung masuk ke dalamnya.   “Maaf banget ya. Maaf~ banget.” Ucapku dengan ekspresi sungguh-sunggug meminta maaf. “No problem, Nes. Aku ngerti kok.” Jawabnya dengan santai dan malah tersenyum padaku. Aku cukup terkejut dengan respon yang diberikan Ben. Karena kalau aku jadi Ben, bisa-bisa aku akan mengomel habis-habisan. Bagaimana bisa aku dibiarkan menunggu dua orang yang sedang patah hati menyelesaikan masalah percintaan mereka. Apa Ben cuma tidak enak saja kalau harus menunjukkan kekesalannya padaku? Ah, semoga Ben benar-benar tidak marah. Aku membenarkan posisi duduku lalu menarik seat belt dan memasangkannya. “Are you okay?” Tanya Ben. “Hm?” aku memalingkan wajahku menoleh ke arah Ben, aku mengangguk “I’m okay.” Jawabku. Ben juga pasti tahu kalau aku baru saja memberikan jawaban bohong. Mataku yang merah dan masih berair juga pasti cukup untuk memberitahunya bahwa aku sedang tidak baik-baik saja. Aku baru saja mengakhiri hubunganku dengan seseorang yang selama setahun ini sangat aku cintai, kamu pasti tau kalau aku sedang tidak baik-baik saja. Hatiku sedang patah, Ben. Seperti tidak ingin membahas lebih jauh, Ben menyalakan mesin mobilnya. Perlahan ia mulai menyetir kekuar dari halaman cafe tempatku bekerja. Dari kaca spion mobil Ben, aku bisa melihat mobil milik Marcel yang masih terparkir di tempat yang sama. Rupanya ia belum juga pergi, entah karena ia menungguku untuk pergi duluan. Maaf ya Cel, tidak bisa menerima ajakanmu untuk pulang bersama, padahal itu akan menjadi terakhir kalinya kamu mengantarku pulang. Tapi aku juga tidak bisa setega itu pada Ben. Mulai sekarang, aku tidak bisa melagi mengikuti perjalananmu, Cel. Aku hanya bisa mendoakanmu dari sini. Semoga kamu bisa menemukan kebahagiaan baru di sana. Semangat untuk mencapai masa depanmu, walau sudah tidak ada lagi aku di dalamnya.   Aku pasti akan sangat merindukanmu dan maaf karena pada akhirnya aku tidak cukup untuk menemani kamu dalam perjalanan itu. Terima kasih untuk semua hal yang oernah terjadi di antsra kamu dan aku, Cel. Terima kasih karena telah memilihku di antara banyaknya pilihan lain yang jauh lebuh baik dariku. Terima kasih sudah pernah mempercayakan hati dan perasaanmu untukku. Aku berharap semoga yang kamu ucapkan tadi akan terjadi, bahwa kita akan bertemu kembali di waktu dan tempat yang lebih baik, di mana ketika kita bertemu nanti, tidak lagi ada luka di dalam hati kita karena perpisahan ini. Semoga. Aku tahu, terlalu banyak terima kasih yang ku ucapkan. Tapi sungguh aku benar-benar berterima kasih sudah pernah datang walau tidak bisa bertahan sampai akhir. But, it was beautiful.    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN