BAB 17 – FLASHBACK (FINALLY, YOU GO)

1826 Kata
BAB 17 – FLASHBACK (FINALLY, YOU GO)   Aku mendorong pintu utama Eighteen Cafe. Tidak begitu ramai, hanya ada dua orang perempuan yang sepertinya sedang menghabiskan waktu istirahat kantor mereka. Sepertinya begitu, dari setelan pakaiannya seperti seragam salah satu bank swasta yang terletak tidak jauh dari cafe ini. Selainitu ada seorang lelaki yang sedang sibuk dengan laptopnya. Selebihnya, hanya beberapa orang yang datang dan pergi karena mereka hanya sekadar memesan tapi tidak makan dan minum di tempat. “Hai Nes, gimana ujiannya?” tanya kak Nina ketika aku baru saja datang menghampirinya. “Lancar kak.” Jawabku datar. “Syukur deh kalau gitu. Eh, di dapur ada nasi ayam betutu. Tadi Ben ngaterin.” “Ha? Ben nganterin makanan? Buat siapa?” “Ya buat elu lah Anes. Buat gue juga ada sih, tapi udah habis gue makan hehe. Punya lu gue taruh di samping kulkas ya. Buruan makan dulu gih. Pasti lu belum makan siang kan?” Aku mengangguk membenarkan tebakan kak Nina. “Ya udah sana.” Aku tidak banyak protes. Aku langsung saja beranjak menuju dapur, karena kebetulan perutku juga sedang lapar. Energiku rasanya sudah habis terkuras karena harus berpikir keras untuk mengerjakan soal ujian tadi. Untungnya hari ini sudah hari terakhir. Selanjutnya adalah libur akhir semester, dan tinggal menunggu nilai-nilai keluar. Semoga hasilnya memuaskan. Mataku langsung tertuju pada paper bag di atas meja di samping kulkas. Aku mengambil paper bag itu, kemudia membawanya ke meja makan yang memang disediakan di dapur cafe ini. Aku mengeluarkan kotak plastik dari dalam paper bag itu. Wangi dari bumbu ayam betutu khas Bali langsung tercium, dari wanginya saja sudah sangat enak. Apalagi rasanya. Tidak hanya kotak berisi nasi dan lauknya saja isi di dalam paper bag itu. Ada selembar kertas kecil di dalamnya. aku mengambil kertas itu. Ternyata sebuah note kecil yang sepertinya ditulis tangan sendiri oleh Ben. “Hai Nes, aku ngga tahu kamu sukanya makan apa jadi aku beliin nasi ayam betutu aja ya hehe. Dimakan ya, Nes. Walaupun bukan dimasak sendiri tapi semoga kamu suka. Semangat kerjanya”   Kalimat itu lalu diakhiri dengan tanda baca titik dua dan kurung tutup. Tanpa ku sadari bibirku telah berbentuk seperti bulan sabit. Bisa-bisanya Ben kepikiran mengantarkan makan siang untukku. Tidak berlama-lama, aku membuka kotak yang berisi nasi juga kotak satu lagi yang berisi ayam betutunya. Sebelumnya aku hanya pernah mendengar ayam betutu khas Bali ini, dan belum memiliki kesempatan untuk mencobanya. Berkat Ben, aku jadi tahu bagaimana rasanya makanan khas Bali ini. Sesuap demi sesuap aku memasukan makananku ke dalam mulut. Wah, selera kuliner Ben boleh juga, ayam betutunya enak sekali. Setelah beberapa saat, nasi dan ayamnya habis tak bersisa. Enak dan aku suka. Setelah membereskan semuanya, aku beranjak untuk mengambil air minum dari dalam kulkas. Setelahnya aku mencuci piring dan gelas kotor bekas pelanggan yang datang.   …   Tiga bulan berlalu sejak malam itu, saat akhirnya Marcel datang dan secara tidak langsung memutuskan untuk mengakhiri hubungannya denganku. Malam itu semua perasaan bercampur jadi satu. Ketika sepasang kekasih yang sudah lama tidak bertemu dan akhirnya memiliki kesempatan untuk bertemu dan menghabiskan waktu bersama dengan cara melakukan banyak hal menyenangkan, tapi tidak dengan kami. Setelah sulitnya mengajak hati untuk berkompromi dan mengalah dengan rindu, pada akhirnya setelah waktu mengijinkan temu itu menjadi milik kami, namun akhirnya yang terjadi justru kami harus menerima bahwa malam itu adalah pertemuan terakhir kami. Waktu terakhir untukku bisa memelukknya sebagai seorang kekasih, waktu terakhir untukku bisa menatap lekat matanya, waktu terakhir untukku bisa menyentuh wajahnya, waktu terakhir untukku bisa menggenggam erat tangannya, waktu terakhir untukku bisa menyebutnya sebagai milikku. Setelah malam itu, cinta pertamaku berakhir. Jatuh cinta yang ku kira akan menjadi pertama dan terakhir itu akhirnya harus menemui titik usainya. Tadinya aku ingin menyalahkan takdir yang tidak berpihak. Takdirku, takdirnya, takdir yang terjadi di antara kami. Namun pada akhirnya aku menyadari bahwa tidak ada yang salah, hanya saja dia tidak lagi untukku. Waktuku untuk menemaninya dalam perjalanan singkat ini sudah berakhir. Kami telah sampai di persimpangan jalan itu, ketika aku harus berjalan ke arah yang satu dan ia ke arah yang lainnya. Jalan yang tidak lagi bisa kami lalui bersama itu. Sekarang aku dan dia harus berjalan masing-masing. Semoga kamu selalu menemukan hal-hal menyenangkan dalam perjalananmu.   Drett…drett Ponselku bergetar. Sebuah chat baru masuk.   From : Marcel “Hai Nes, I hope you doing well. Aku cuma mau ngasih tau kalau besok aku berangkat ke US. Sampai ketemu lagi Nes.”   Setelah membaca isi chat itu aku langsung memasukan kembali ponselku ke dalam kantor apron yang sedang ku pakai. Aku menghela napas dalam-dalam, berusaha mengatur emosi dan perasaanku. Jangan sampai moodku jadi berantakan karena kabar yang diberikan Marcel. Aku masih harus bekerja, aku tidak mungkin meminta ijin pulang ke rumah untuk menangis semalaman. Tidak, aku tidak boleh terpengaruh.   Aku melirik jam di tanganku, sebentar lagi jam pulang. Aku masih berusaha untuk baik-baik saja. Aku berusaha mengalihkan pikiranku dengan pergi membersihkan mesin kopi yang sepertinya tidak akan digunakan lagi malam ini. Aku membersihkan dan merapikan apa saja yang terlihat oleh mataku. “Loh kok baru datang sih? Kita udah mau tutup tau.” Aku mendengar suara kak Nina berbicara dengan seseorang yang sepertinya baru datang saat cafe sudah mau tutup. “Iya tau kok udah mau tutup.” “Terus ngapain ke sini? Mesin kopinya udah pada dibersihin tau, udah tinggal sepuluh menit lagi juga. Bener-bener lu ya bikin kerjaan gue aja deh. “Siapa yang mau pesan kopi sih Nina.” “Terus?” “Mau jemput dia.” Aku mengenali suara itu. Siapa lagi kalau bukan suara Ben. Lagipula tidak mungkin kak Nina akan mengomel pada pelanggan kalau pelanggan itu bukanlah Ben. Tapi siapa yang Ben maksud dengan dia yang ingin dijemputnya? “Hhmm makin sering aja nih gue liat-liat. Nes, udah dijemput nih.” Ujar kak Nina. Aku memutar badan. Benar saja, itu Ben. Setelah tadi siang tiba-tiba mengantarkan makan siang, sekarang tiba-tiba datang hanya untuk menjemputku bahkan tanpa basa-basi nongkrong minum kopi dulu. Ia sengaja datang di jam mendekati cafe tutup dan ingin langsung menjemputku. Cuma perasaanku atau memang ada hal lain, kenapa Ben bersikap semakin berlebihan padaku? “Aku bisa pulang sendiri kok.” Ucapku dengan wajah dan nada bicara datar. Tanpa memperdulikan respon dari Ben dan juga kak Nina aku pergi meninggalkan mereka menuju dapur. Seperti biasa, sebelum pulang aku akan memastikan semua pekerjaan sudah selesai dikerjakan. Kemudia melepas apron yang ku gunakan dan menggantungkannya pada gantungan khusus tempat kami menyimpan apron. Lalu aku beranjak menuju loker, mengambil barang-barangku. “Nes,” Kak Nina datang menghampiriku. “Elu kenapa? Ngga biasanya jutek banget kayak gitu.” “Jutek apanya sih kak? Biasa aja kok.” Jawabku sembari memasukkan ponselku ke dalam tas. “Nih, barusan. Lu ngga biasanya ngomong dengan nada jutek gitu ke gue. Lu kenapa sih?” kak Nina memegang tanganku. “Ngga kenapa-kenapa kak.” Jawabku dengan nada malas sembari menepis pelan tangan kak Nina. “Lu lagi ngga enak badan ya?” tanya kak Nina lagi berusaha menerka-nerka apa yang sebenarnya sedang terjadi padaku. “Engga kak, aku sehat kok.” Aku masih menjawab dengan cara biacara seperti malas menanggapi kak Nina. Sebelumnya aku memang belum pernah berbicara dengan nada kasar atau bahkan sekadar berbicara dengan ketus kepada kak Nina bahkan kepada semua teman kerjaku. Entah kenapa suasana hatiku benar-benar sedang tidak baik dan tanpa sadar aku malah melampiaskannya ke kak Nina dan mungkin kepada Ben. “Ben nungguin di depan tuh, Nes.” “Ngga ah, aku bisa pulang sendiri kok.” “Ya tapi kan dia udah bela-belain ke sini buat jemput elu.” “Kan ngga ada yang nyuruh dia ke jemput aku. Jadi ngapain repot-repot ke sini? Kan ngga ada yang minta.” “Nes, lu kenapa sih? Ngga biasanya gini.” “Kak, aku berhak nolak kalau aku ngga mau, kan?” Kak Nina hanya terdiam menatapku dengan heran. “Kerjaannya udah beres semua, aku duluan ya kak.” Aku lalu beranjak pergi meninggalkan kak Nina yang masih merasa kebingungan dengan sikap yang ku tunjukkan barusan. Rupanya Ben masih berada di tempatnya semula, berdiri membelakangi meja barista dengan salah satu sikunya ia tumpukan pada meja itu. Aku tidak mempedulikannya dan langsung berjalan melewatinya menuju keluar cafe. Bahkan aku tidak berpamitan pada teman-teman kerjaku yang lain seperti yang biasanya ku lakukan. “Nes,” Aku mendengar Ben memanggilku tapi aku tidak mempedulikannya. Aku terus berjalan sampai akhirnya aku sudah berada di depan pintu keluar. “Nes,” Ia memanggilku lagi, tapi aku masih tidak mempedulikannya. Sepertinya ia mulai berjalan menyusulku. Aku mempercepat langkahku, walaupun aku tahu Ben akan tetap bisa menyusulku. Tapi aku harap tidak.   “Anes!” Benar saja, Ben berhasil menyusulku. Ia memegang pundakku membuatku dengan terpaksa mengikuti arahan tangannya itu untuk membuatku bisa berhadapan dengannya. “Apa sih Ben?” tanyaku sedikit kesal. “Kamu kenapa? Kamu marah karena aku tiba-tiba datang buat jemput kamu?” “Ya menurut kamu?” Ben terdiam. Dari wajahnya aku bisa melihat sepertinya dia cukup terkejut dengan jawabanku barusan. Tapi entah kenapa aku bahkan tidak peduli kalau dia akan tersinggung atau tidak dengan ucapanku kitu. “Ke…kenapa?” tanyanya lagi. “Kenapa? Kamu yang kenapa tiba-tiba datang cuma buat jemput aku doang.” “Ya aku kan cuma pengen ngaterin kamu pulang, Nes. Ini kan udah malam juga.” “Terus kenapa? Biasanya juga aku pulang malam sendirian. Ngga kenapa-kenapa kan? Aku masih baik-baik aja, masih bisa balik ke kampus dan ke tempat kerja.” tanpa ku sadari nada bicaraku semakin tinggi. “Nes, are you okay?” Ben berusaha meraih tanganku, tapi aku berhasil lebih dulu menepisnya. “Udah deh Ben, aku bisa pulang sendiri.” Aku tetap bersikeras tidak ingin diantarkan pulang oleh Ben. Baru saja aku ingin melangkahkan kakiku, namun kemudian aku teringat akan sesuatu. “By the way, makasih untuk makan siangnya.” Setelah mengucapkan kalimat itu aku langsung melanjutkan langkahku dan meninggalkan Ben yang masih saja diam mematung menyaksikanku pergi meninggalkannya. Aku memutuskan untuk berjalan agak jauhan dari cafe, barulah aku memesan ojek online untuk mengantarkan ku pulang. Memang akan lebih aman kalau aku memilih pulang diantarkan oleh Ben, tapi entah kenapa aku hanya sedang tidak ingin melihat Ben atau berada di dekatnya. Tiba-tiba saja aku menjadi merasa ingin marah pada siapapun yang ebrada di dekatku. Aku merasa seperti ada sesuatu yang harus ku keluarkan dari dalam dadaku, karena dadaku terasa sangat sesak. Seperti ingin berteriak dan menangis di waktu yang bersamaan. Mungkin karena chat yang dikirim oleh Marcel tadi? Mungkinkah hatiku hanya tidak siap menghadapi kenyataan bahwa pada akhirnya ia akan benar-benar pergi? Mungkinkah selama beberapa waktu ini setelah malam perpisahan itu, aku hanya sedang mengelabui hatiku sendiri, memaksanya untuk baik-baik saja ketika sebenarnya ia sedang benar-benar sakit dan hancur? Mungkinkah aku sudah terlalu keras pada diriku sendiri dengan memaksa diriku untuk terlihat baik-baik saja ketika yang ingin ku lakukan hanyalah menangis di sudut kamarku sampai aku puas dan menyembunyikan wajahku di balik bantal agar tidak ada yang mendengarnya. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN