BAB 18 – FLASHBACK (TAMAN)
Sejak aku datang sampai sekarang aku dan kak Nina masih belum ada biacar barang sepatah kata pun. Sepertinya kak Nina benar-benar marah padaku karena kejadian kemarin malam. Biasanya, baru saja aku memasuki cafe kak Nina sudah memanggil namaku dengan suara nyaringnya, kadang sampai membuat orang-orang ikut menoleh ke arahku. Tapi tidak dengan hari ini, sedari tadi kami hanya sibuk dengan pekerjaan kami masing-masing. Aku benar-benar harus meminta maaf pada kak Nina. Aku akan berbicara padanya kalau pekerjaan kami sudah agak longgar.
“Selamat siang,” ucapku dengan kak Nina bersamaan ketika ada seorang pelanggan yang berjalan menghampiri kami. Spontan aku menoleh ke arah kak Nina, sementara kak Nina langsung membuang muka, menoleh ke arah lain. Akhirnya aku yang melayani pelanggan yang baru datang itu.
“Silahkan kak, mau pesan apa?” tanyaku sambil menyodorkan daftar menu pada pelanggan perempuan itu.
Ia membolak-balik daftar menu yang ku berikan, memeriksa satu demi persatu nama makanan dan minuman yang tertera di dalamnya.
“Ini satu, sama ini satu ya.”
“Baik kak, ditunggu ya. Nanti pesanannya di antarkan.”
Ia lalu berlalu pergi mencari tempat duduknya.
“Kak,”
Aku memberikan bon pesanan pelanggan tadi kepada kak Nina. Kak Nina langsung mengambilnya dari tanganku tanpa berbicara sepatah katapun. Sementara aku langsung menuju dapur untuk membuatkan pesanan makanannya. Tidak enak rasanya seperti ini. Aku jadi merasa sangat bersalah pada kak Nina.
…
Sebentar lagi jam pulang, dan semua orang sudah mulai sibuk merapikan ini dan itu. Pelanggan juga sudah tidak terlalu banyak, hanya tersisa dua atau tiga orang. Aku rasa lebih baik aku meminta maaf sekarang.
“Kak,” aku menghampiri kak Nina.
Kak Nina masih mengacuhkanku, tapi aku tidak menyerah. Aku berusaha lebih mendekat lagi pada kak Nina.
“Kak,” aku memberanikan diri untuk menyentuk tangan kak Nina.
Kak Nina yang sedang merapikan miniatur-miniatur hiasan di atas meja kemudian menghentikan pekerjaan, ia lalu menoleh ke arahku.
“Kenapa?” tanya kak Nina dengan raut wajah dingin.
“Aku… aku mau minta maaf.” Ucapku agak sedikit takut.
“Buat?” tanya kak Nina lagi masih dengan wajah dan nada bicaranya yang dingin.
“Soal kemarin.” Jawabku.
Kak Nina menghela napas kemudian melanjutkan pekerjaannya tadi. Sial, apa kak Nina benar-benar semarah itu sampai ia tidak mempedulikan permintaan maafku? Aku harus bagaimana ini?
“Sorry ya kak kalau aku keterlaluan.” Ucapku lagi dengan menyadari kesalahanku kemarin malam.
“Harusnya elu itu minta maafnya sama Ben, bukan sama gue.” Sahut kak Nina.
Aku cukup terkejut dengan jawaban kak Nina yang malah menyuruhku untuk meminta maaf kepada Ben. Aku terdiam tidak tahu harus menjawab apa.
“Ben udah berniat baik mau jemput lu, karena dia tau lu masih sedih, dan dia juga ngga mau kalo elu pulang sendirian tengah malam kayak gitu. Makanya, walaupun capek abis lembur dari kantor dan belum sempat balik ke rumah, dia tetap berusaha nyempatin buat jemput lu ke sini dan ngaterin lu pulang. Dia kepikiran sama lu, dam begitu dia ada waktu dia sempetin buat ke sini.” Kak Nina menjelaskan yang sebenarnya terjadi.
Aku makin terkejut mendengar apa yang disampaikan kak Nina barusan. Tapi kenapa? Setelah sekian waktu berlalu sejak malam itu, kenapa juga baru kepikiran untuk jemput dan nganterin pulangnya sekarang? Memangnya kemarin-kemarin aku tidak lebih sedih dari kemarin dan hari ini?
“Tapi lu-nya malah gitu. Kalau emang ngga mau dianterin pulang sama Ben setidaknya lu bisa ngomong baik-baik. Bukaannya ketus kayak gitu.” Lanjut kak Nina membuatku semakin merasa terpojok.
Lagi-lagi aku hanya bisa terdiam, aku mulai menyesali perbuatanku kemarin malam pada kak Nina dan pada Ben. Tapi kalau begini ceritanya, aku juga jadi bingung. Kenapa harus baru kemarin Ben datang ingin menjemputku dan mengantarkanku pulang, setelah hampir tiga bulan aku merasa cukup terpuruk. Apalagi kemarin malam moodku benar-benar sedang tidak baik setelah menerima chat dari Marcel soal kepergiannya hari ini ke US. Iya hari ini. Bahkan aku belum membalas chat Marcel. Aku tidak tahu kalimat apa yang paling tepat untuk membalasnya, kalau mengikuti kata hatiku, inginnya aku membalas ‘Boleh batal ngga? Dan tetap di sini sama aku’. Konyol. Tidak akan mungkin hal semacam itu terjadi. Memangnya ini drama romance dimana pemeran pria tiba-tiba membatalkan penerbangannya hanya untuk menjumpai gadis yang ia cintai. Sadar Nes, Marcel bukan lagi milikmu. Kalian sudah berakhir.
“Iya kak, aku tau aku salah udah kasar ke kakak dan juga ke Ben.” Ucapku menyesali perbuatanku kemarin.
“Kalau gue sih mungkin bisa ngerti karena lu baru aja patah hati, tapi kalau Ben…” Ucapan kak Nina terpotong.
“Nin, udah.” Seseorang memotong ucapan kak Nina dengan nada lembut, seolah ingin menenangkan suasan yang menegang di antara aku dan kak Nina.
Aku dan kak Nina menoleh ke arah pemilik suara itu. Ternyata Ben yang baru saja datang, bahkan kami sampai tidak menyadari kehadirannya.
“Udahlah ngga perlu dipermasalahkan lagi. Gue ngerti kok.” Ucap Ben lalu tersenyum padaku.
“Sejak kapan lu di sini?” Tanya kak Nina.
“Barusan.” Jawab Ben santai dengan kedua tangan ia masukan ke dalam saku celananya.
Ben terlihat masih menggunakan setelan pakaian kerjanya. Dengan kemeja putih dengan motif garis vertikal kecil berwarna biru gelap dengan kedua lengannya yang digulung sampai di bawah siku dan dimasukkan ke dalam celana kain hitam model slim flit lengkap dengan sepatu pantofel hitam yang dikenakannya. Sudah hampir tengah malam begini dan ia baru saja pulang dari kantor.
Menyadari Ben yang pasti sudah mendengar percakapanku dengan kak Nina tadi, aku jadi merasa semakin tidak enak pada Ben. Bagaimanapun aku juga harus meminta maaf pada Ben karna sikap kasarku kemarin malam.
“Cafenya udah mau tutup.” Ujar kak Nina agak ketus. Sepertinya kak Nina masih terbawa sedikit emosinya setelah memarahiku tadi.
“Emang ngga mau beli kok.”
Kak Nina tidak lagi menjawab ucapan Ben, melainkan melirik ke arahku. Sepertinya kak Nina tau tujuan Ben datang ke sini lagi malam ini.
“Nes, kalau ngga keberatan aku mau nganterin kamu pulang. Kalau kamu keberatan ngga apa-apa kok. Tapi aku harap sih engga.”
Ketimbang pertanyaan aku keberatan atau tidak, ucapan Ben itu lebih mengarah kepada pernyataan bahwa keberatan atau tidak aku tetap harus mau diantarkan pulang.
Aku menoleh ke arah kak Nina yang juga menoleh ke arahku. Lalu kak Nina mengalihkan pandangannya ke arah lain. Seolah menunggu respon dariku. Aku jadi serba salah, tidak mungkin aku mengulangi hal yang seperti kemarin. Sekalipun menolak dengan cara yang sopan, pasti kak Nina akan tetap marah padaku karena bagimana tidak? Lagi-lagi Ben dengan sengaja meluangkan waktunya untuk menjemputku dan mengantarkanku pulang bahkan saat ia baru saja selesai lembur. Akhirnya aku menyerah. Aku mengangguk.
“Tunggu sebentar ya. Aku siap-siap dulu.” Ujarku lalu beranjak menuju loker untuk mengambil barang-barangku dan bersiap pulang.
Setelah selesai membereskan semuanya dsn mengecek apakah pekerjaanku sudah benar-benar selesai semua, akupun menghampiri Ben dan kak Nina yang sedang mengobrol di depan.
“Udah, Nes?” tanya Ben yang menyadari kedatanganku.
Aku mengangguk.
“Yuk. Nin gue duluan ya.” Ujar Ben pada kak Nina.
“Em hati-hati.” Sahut kak Nina.
“Kak aku pulang duluan ya.”
“Hati-hati.”
Sahut kak Nina dengan ekspresi yang sama seperti ia menjawab Ben.
Aku lalu berjalan mengikuti langkah Ben yang berada di depanku. Kami berjalan menuju mobilnya yabg terparkir di halaman cafe tempatku bekerja. Sesampainya di mobil Ben, ia lalu membuka pintunya untuknya. Tanpa banyak bicara aku langsung masuk ke dalamnya lalu Ben menutupkan pintunya kembali. Ia mengitari bagian depan mobilnya, lalu kini ia sudah berada di sampingku.
Aku menarik seatbelt lalu mengancingkannya. Begitu pula dengan Ben, sebelum menyetir ia terlebih dulu menggunakan seatbeltnya. Ben menyalakan mesin mobilnya, dan kini mobil yang kami tumpangi itu melaju dengan perlahan.
“By the way sorry ya Nes kalau aku terkesan agak maksa buat nganterin kamu pulang.”
“Iya ngga apa-apa, Ben. Malahan harusnya aku berterimakasih karena kamu udah mau bela-belain nganterin aku pulang padahal kamu juga baru pulang lembur kan?”
“Kok tau?”
“Ya tau lah, Ben. Pakaian kamu aja masih pakaian kantor gitu.”
Ia tertawa kecil setelah mengecek pakaian yang digunakannya.
“Ah iya ya. Iya nih, aku baru balik dari kantor juga. Jadinya sekalian deh.”
Aku tersenyum.
“Ben, soal kemarin… aku minta maaf ya. Ngga seharusnya aku nolak kamu buat nganterin aku dengan cara yang kayak gitu.”
“Ngga apa-apa, Nes. Aku ngerti kok.”
Ia tersenyum padaku.
Ben membelokkan mobilnya ke arah jalan yang belum ku ketahui sebelumnya. Menyadari hal itu, aku jadi agak sedikit bingung dan bertanya-tanya dalam hati. Ben ingin membawaku kemana? Kenapa bukan lewat jalan biasa menuju rumahku?
“Kita mau kemana?” tanyaku agak panik.
“Nanti juga kamu tau.” Jawabnya santai dengan pandangan masih fokus pada jalan di depan kami.
“Kamu ngga lagi mau macem-macem kan Ben?” tanyaku yang mulai curiga dan terkesan menuduh Ben.
“Nes, macem-macem apanya sih? Ya engga lah. Bentar lagi juga kita nyampe kok.” Sahutnya dengan tenang.
Aku hanya bisa terdiam namun masih dengan sedikit perasaan takut dan curiga. Setahun lebih mengenal Ben, aku tidak memiliki interaksi yang begitu dekat dengannya, jadi bisa dibilang aku juga belum tahu dengan pssti seperti apa Ben yang sesungguhnya. Siapa yang tahu kalau ternyata dia memang orang jahat?
Aku mengamati keadaan di sekeliling. Agak sepi, hanya beberapa kendaraan yang melintas di sini. Mobilnya mulai memasuki sebuah jalan yang tidak begitu luas namun di sepanjang tepi kanan dan kiri jalan ini dihiasi oleh lampu penerang jalan dengan warna warm white. Beberapa pohon dihiasi dengan lampu-lampu dengan warna yang senada dengan warna lampu jalan. Semakin jauh semakin banyak lampu-lampu hias di sekitar tempat ini. Kenapa bagus sekali tempatnya? Tanyaku dalam hati. Aku masih belum tahu kemana Ben membawaku. Ben pum masih belum mengatakan apa-apa sejak tadi.
Ben memberhentikan mobilnya di salah satu sudut tempat ini. Tempatnya cukup terang karena banyaknya lampu hias seperti yang ku katakan tadi. Dan juga terdapat beberapa kursi panjang dari kayu yang dicat warna putih. Tempat ini lebih terlihat seperti sebuah taman.
“Kita ada dimana sih?” tanyaku pada Ben dengan pandanganku mengelilingi tempat ini.
“Keluar yuk. Kita duduk di situ.” Ujar Ben menunjuk salah satu kursi yang berada tidak jauh di depan kami.
Seolah tidak membutuhkan persetujuan dariku, Ben langsung keluar dari mobil.
“Ish ditanya ngga dijawab malah langsung pergi seenaknya.” Gerutuku yang akhirnya mau tidak mau harus keluar juga dari mobil.
Sebelum menuju kursi yang tadi dimaksud oleh Ben, ia membuka pintu bagian tengah mobilnya lalu membawa kekusr sesuatu dari dalamnya. Terlihat seprrti paperbag.
Ia lalu berjalan menuju kursi itu, mendahuluiku yang lagi-lagi dengan terpaksa harus mengikutinya.
“Ah, akhirnya bisa ke sini juga.” Ucap Ben yang kini tengah duduk di kursi itu sambil menyenderkan bahunya pada senderan kursi itu
“Kamu sering ke sini?”
Ia menepuk-nepuk bagian kosong kursi di sebelahnya.
“Let me tell you.” Ujarnya.
Lagi dan lagi, aku hanya bisa menurut pada Ben.
Ben mengeluarkan sesuatu dari dalam paperbag yang tadi ia bawa. Ternyata isinya dua cup yang mungkin berisi minuman. Ia lalu memberikan satunya untukku.
“Hot Chocolate.” Ujarnya seraya memberikan cup itu padaku. Aku mengambilnya dari tangan Ben.
“Karena ini sudah malam, jadi kita minum cokelat aja. Kalau minum kopi nanti malah ngga biss tidur.” Ujarnya lalu meneguk cokelat panas miliknya.
“Hmm ternyata udah ngga terlalu panas ya.” Ucapnya lagi dengan kepalanya yang sedikit ia miringkan.
Ia lalu meletakkan gelas cokelatnya di sisi lain kursi yang sedang kami duduki. Aku pun ikut mencobai cokelat panas yang diberikan Ben, ternyata benar sudah tidak begitu panas lagi. Mungkin karena Ben membelinya sebelum menjemputku dan terkena AC mobil selama perjalanan jadi sudah mulai dingin. Aku masih memegangi gelas cokelat itu di tanganku.
“Kamu belum jawab pertanyaanku, Ben. Kamu sudah sering ke sini?” aku mengulangi pertanyaanku tadi.
“Iya, dulu waktu kecil. Kalau sekarang sudah agak jarang.”
“Dulu?” tanyaku bingung.
“Iya, dulu. Waktu mama dan papaku masih ada.”
Aku melebarkan mataku, terkejut mendengar jawaban Ben. Jadi selama ini Ben juga yatim piatu sama sepertiku. Bisa-bisanya setelah setahun mengenal Ben aku tidak tahu kalau ternyata ia sudah tidak memiliki orang tua. Bahkan kak Nina pun tidak menceritakannya padaku. Apa mungkin hal itu terlalu sensitif untuk Ben, makanya ia tidak pernah mengatakan hal-hal semacam ini. Tapi kalau diingat-ingat lagi, kamu memang tidak begitu sering bertemu. Hanya ketika Ben datang ke cafe, aku juga tidak begitu sering menemaninya mengobrol, kecuali ketika cafe sedang sepi dan Ben memintaku untuk menemaninya mengobrol. Tapi hal itu pun sangat jarang terjadi, karena bagaimanapun aku harus menjaga etika bekerjaku. Dan sekalipun Ben juga berteman baik dengan kak Dimas, tapi Ben juga tidak mau sembarangan mengajak karyawan kak Dimas mengobrol saat seharusnya aku bekerja. Hanya sesekali hal itu terjadi. Tapi sungguh, aku cukup terkejut mendengar ucapan Ben barusan.
“Mama aku meninggal waktu aku kelas satu SMP. Kanker serviks. Ngga lama setelah mama meninggal, papa aku jadi sakit-sakitan, kena stroke juga. Kata dokter karena terlalu stress akibat tinggal mama. Terus setahun setelah itu, papa nyusul mama,” ucapnya terhenti.
Ia menghela kasar napasnya diiringi dengan tawa kecil.
“Dulu mama yang sering ngajak aku ke sini, sore-sore, sambil nungguin papa pulang dari kantor. Biasanya aku bawa kotak bekal yang isinya cookies atau makanan apa aja yang mama buat sendiri di rumah. Biasanya papa bakalan berhentiin mobilnya tepat di tempat aku markir mobilku sekarang. Terus kami bertiga main-main sebentar di sini habis itu pulang.”
Aku bisa melihat Ben menceritakan kisah kecilnya dengan begitu tenang, namun disaat yang bersamaan aku juga bisa merasakan bahwa ia menceritakannya dengan rasa rindu, yang mungkin tidak bisa ia jelaskan kepada orang lain. Hanya saja aku bisa merasakannya.
“Jadi, rumah kamu ada di dekat sini?” tanyaku.
Ia mengangguk.
“Kalau kita sedikit lebih ke dalam, di sana ada komplek perumahan. Dulu kami tinggal di komplek itu.”
Oh jadi ini taman komplek toh. Pantesan terlihat sangat rapi dan terawat.
“Kalau sekarang? Udah ngga tinggal di komplek itu?” tanyaku.
“Udah engga. Semenjak papa meninggal, aku diasuh sama om dan tanteku. Jadi aku tinggal sama keluarga mereka sampai aku lulus kuliah. Baru deh setelah lulus kuliah dan kerja aku memutuskan untuk tinggal sendiri. Sudah dewasa, butuh lebih banyak ruang sendiri.” Ucap Ben lalu tersenyum padaku.
Aku mengangguk mengerti. Benar kata Ben, semakin dewasa kita akan semakin butuh lebih banyak waktu dan ruang untuk sendiri. Menyendiri, hanya ditemani oleh pikiran-pikiran dan perasaan yang tidak jarang selalu mempertanyakan tentang hari ini, kekhawatiran akan hari esok, atau bahkan tidak jarang penyesalan akan hari lalu.
“Nes,”
Ben meraih tangan kananku, menggenggamnya dengan kedua tangannya. Ia menatapku lekat, matanya seperti sedang menyampaikan sesuatu padaku. Aku larut dalam tatapan itu, tatapan yang tidak ku pahami tentang apa yang ingin atau sedang disampaikannya.
“Aku tau rasanya jadi kamu. Mungkin jalan cerita kita beda. Tapi aku cukup tau gimana rasanya hidup sendiri, kehilangan mereka yang kita sayangi. I really know how does it feel.”
Aku mengalihkan tatapanku dari tatapan mata Ben, menghela napas berusaha menenangkan hatiku untuk bisa mencerna apapun yang akan disampaikan oleh Ben.
“Kamu boleh patah hati, kamu boleh nangis, terpuruk, atau merasa jadi manusia paling menyedihkan di dunia ini. Tapi cuma boleh untuk sementara. Ngga boleh lama-lama apalagi selamanya.”
Mataku kembali tertuju padanya. Aku menatapnya nanar. Kenapa ucapan Ben itu terasa seperti menampar hatiku? Ada perasaan yang tidak bisa ku jelaskan saat mendengar ucapannya itu. Sedih, tapi tidak hanys sekadar itu.
“Kamu harus hidup untuk hari ini, besok, lusa, dan seterusnya dan kamu ngga boleh membawa kesedihan-kesedihan di hari lalu ke hari yang akan datang. Kalau engga, ngga akan ada yang berubah. Hidup akan tetap menyedihkan seperti hari kemarin.”
Aku hanya bisa terdiam, mencerna setiap kata yang keluar dari mulut Ben. Kata demi kata yang kurasa benar.
“Kepergian seseorang dari hidup kita, akan membukan pintu baru untuk orang lain datang dan masuk ke dalam kehidupan kita, Nes. Mungkin orang baru itu akan jauh lenih baik atau mungkin lebih buruk. Tapi ya tergantung bagaimana respon dan cara kita menilai mereka. Mungkin belakang ini kamu lagi ngerasa sedih dan kehilangan. Tapi satu hal yang perlu kamu tau, bukan salah kamu, Nes. Bukan salah kamu kalau pada akhirnya dia harus pergi. You are enough.”
Kalimat terakhir Ben itu, 'you are enough’ kata-kata itu seperti peluru yang ditembakkan pada sasaran yang tepat. Selama ini, tanpa ku sadari aku memang masih menyalahkan diriku sendiri. Aku menyalahkan keadaanku, takdirku, menyalahkan hal-hal yang tidak ku miliki untuk membuatku bisa terus bersama dengan Marcel. Aku merasa tidak cukup. Dan malam ini, tiba-tiba, lelaki yang belum begitu ku kenali ini, mengatakan bahwa aku cukup. Iya, aku dan diriku sendiri dengan semua hal yang ku miliki, ia mengatakannya bahwa aku cukup.
Tanpa ku sadari air mataku mulai berjatuhan mengalit melewati kedua pipiku yang membuatnya menjadi basah. Menyadari bahwa aku mulai menangis, Ben menggeser posisi duduknya menjadi semakin mendekat padaku. Ia lalu menyelipkan rambutku ke belakang telinga karena menghalangi wajahku yang tertunduk berusaha menyembunyikan tangisku.
“Hei, are you okay?” Tanya Ben dengan lembut.
Tangisku semakin tidak bisa ku tahan, dan dadaku terasa sesak karenanya.
“Sstt it’s okay,” Ben menarikku ke dalam peluknya, “Kamu boleh nangis sebanyak yang kamu mau. Kamu sudah kuat menyimpannya sepanjang hari ini. Nangis aja sampai hatimu lega.”
Tangisku semakin jadi ketika Ben memelukku. Aku menyembunyikan wajahku di dadanya. Aku hanya berharap tidak ada orang lain yang melihatku menangis seperti ini. Ben mengusap-usap rambutku dengan sebelah tangannya, sedang tangannya yang satu lagi menepuk-nepuk pundakku dengan perlahan.
Bodohnya aku yang malah berharap bahwa yang memelukku saat ini adalah Marcel, lelaki yang bahkan sejak hari ini tidak lagi tinggal di negara yang sama denganku. Lelaki yang telah pergi jauh ke tempat yang saat ini sama sekali tidak bisa ku datangi. Mengapa aku selalu memanipulasi pikiran dan perasaanku sendiri? Sadar Vanesa, bukan dia yang saat ini memelukmu. Ini adalah Ben, lelaki lain yang saat ini lebih peduli dan paham dengan hatimu. Ia bahkan rela dadanya ku basahi dengan air mataku, ia bahkan rela menahan lelahnya karena bekerja seharian hanya untuk mengajakku ke tempat indah ini sambil menikmati cokelat panas yang keburu dingin karena ia harus menungguku selesai bekerja terlebih dulu. Harusnya aku bisa menghargai usaha Ben untuk menghiburku malam ini. Bukannya aku malah menangis karena mengingat seseorang yang sudah tidak mungkin lagi bisa bersamaku.
Ben masih dengan sabar mendengarkan isak tangisku di tengah malam yang semakin sepi ini. Udara semakin terasa dingin, dan angin malam mulai terasa menjalari seluruh tubuh. Aku tidak sadar sudah berapa lama aku menangis dalam pelukan Ben. Aku merasa hatiku sudah cukup lega. Aku lalu menarik tubuhku dari pelukan Ben. Aku mengusap mata dan pipiku. Memastikan tidak ada lagi air yang menggenang di sana.
“Maaf ya Ben jadi kayak gini.”
“It’s okay kalau dengan kayak gini bisa bikin kamu merasa lebih lega “
Ben tersenyum padaku, dan melihat itu akupun juga tersenyum padanya. Benar kata orang-orang bahwa terkadang dengan menangis, perasaan luka di hati akan sedikit terobati. Walau belum sepenuhnya pulih, tapi cukup untuk membuatnya jauh lebih tenang.
Malam ini aku merasa sangat bersyukur karena Ben membawaku ke tempat ini. Aku bersyukur karena Ben sudah mau memberikan nasihatnya padaku. Aku bersyukur untuk malam ini, untuk tempat ini, untuk Ben lelaki ‘asing’ yang merelakan dirinya menjadi saksi bagi kesedihanku.