BAB 19 – FLASHBACK (MENGHILANG)
Masalahku dengan kak Nina dan Ben tentang perilaku kasarku malam itu sudah selesaim kak Nina juga sudah bersikap seperti semula padaku. Tapi yang menjadi masalah sekarang adalah aku masih terngiang-ngiang akan kejadian di taman malam itu. Ketika aku menangis dalam pelukan Ben. Ah, aku benar-benar merasa malu saat mengingatnya.
“Eh, kenapa lagi lu?” kak Nina menyikutku membuyarkan lamunanku.
“Em? Ngga… ngga kenapa-kenapa kak.” Jawabku.
“O iya, besok lu off day kan?” tanya kak Nina.
Aku mengangguk membenarkan.
“Katanya Ben mau ngajak lu keluar. Lu bisa ngga?”
“Hm? Keluar kemana?”
“Ya mana gue tau. Kan yang ngajak Ben, bukan gue.”
“Kenapa ngga bilang langsung sih? Harus lewat kak Nina segala.”
“Cieee jadi sekarang pengennya diajak langsung nih? Ngga pake perantara lagi? O jadi gue udah ngga diperluin di sini?”
“Ish apaan sih kak? Bukan gitu maksudnya. Ya kan dia ngajak aku, terus kenapa ngomongnya harus lewat kak Nina.”
“Iya deh ntar gue sampein ke Ben ya biar dia ngomong langsung ke elu.” Ujar kak Nina dengan nada seperti sedang mengejekku.
“Kak, bukan gitu maksudnya…”
“Iya de hiya paham gue mah.”
“Ih kak Nina dengerin dulu bukan gitu.”
Kak Nina mengacuhkanku dan langsung pergi meninggalkanku sendirian di meja kasir.
“Kebiasaan nih kak Nina.” Gerutuku.
…
Hari ini langit Jakarta sangat cerah, bahkan saat jam sudah menunjukkan pukul setengah enam sore matahari belum sepenuhnya tenggelam. Berkas cahaya jingga kemerahan menghiasi langit bagian barat. Cantik sekali.
Sejak sepuluh menit yang lalu aku duduk di bangku teras. Beberapa kali aku merapikan rambutku yang ku biarkan terurai menggunakan jemariku, merapikan blouse navy dengan model v-neck yang ku kenakan, memastika tidak ada bercak kotoran pada celana putihku, dan memastikan flat shoes berwarna beige yang ku pakai bersih dari noda.
Itu dia.
Aku bangkit dari tempatku duduk, berjalan beberapa langkah menghampirinya yang juga sedang berjalan menghampiriku setelah turun dari mobilnya yang ia parkiran di depan rumah.
“Hai, udah lama nunggunya?”
“Engga kok. Baru aja.”
“Yuk.”
Tidak seperti beberapa kali ketika aku berjalan di belakangnya ketika mengikuti menuju mobilnya, kali ini ia berjalan di sampingku, dan tetap, membukakan pintu mobilnya untukku.
…
“Thank you ya Nes, udah mau diajak keluar. Tapi maaf banget karena ternyata jalanannya macet banget jadi pulangnya agak kemalaman gini. Harusnya pas lagi off day kamu bisa istirahat lebih cepat.”
“Engga apa-apa, Ben. Kan bukan kamu yang bikin jalanannya macet.”
Ben tertawa mendengar jawabanku itu. Kami masih berada di dalam mobil Ben yang terparkir di depan rumah. Sebenarnya kami hanya makan malam di salah satu restoran Jepang. Tapi karena macet di jalanan yang kami lewati cukup parah pulangnya jadi kemalaman. Mungkin karena besok adalah hari Minggu, jadi banyak orang yang memanfaatkan malm weekendnya dengan menghabiskan waktu di luar rumah.
“Nes, ada yang mau aku sampein ke kamu.” Ucap Ben tiba-tiba.
“Hm? Ng-ngomong apa?”
Tiba-tiba aku menjadi merasa serba salah.
“Mungkin ini terlalu cepat untuk kamu yang baru aja mengakhiri hubungan kamu dengan orang lain. Tapi, aku suka kamu since the first day I met you. Dan setelah selama ini, perasaan suka itu berubah jadi lebih dari sekedar suka.”
Ben mengakhiri ucapannya dengan tatapan matanya yang terarah padaku dengan begitu lekat. Aku terkejut denga napa yang diungkapkan Ben. Aku tahu kalau hal-hal semacam ini mungkin saja akan terjadi, dengan semua perhatian dan perlakuan Ben yang selama ini ia tunjukkan, perempuan manapun yang menerima hal yang sama pasti juga akan menduga bahwa setidaknya sedikit apapun itu Ben pasti memiliki rasa. Tapi, aku tidak menyangka kalau Ben akna benar-benar mengatakannya. Tadinya aku berpikir mungkin Ben cuma iseng, dengan menunjukkan perhatian yang lebih, mungkin ia hanya melakukan hal yang biasa lelaki lain lakukan di luar sana. Tajdinya aku berpikir mungkin Ben juga melakukan hal yang sama pada perempuan lain. Tapi kalau Ben sudah samapi mengungkapkan perasaannya seperti ini, apa mungkin ia hanya bercanda?
“Kamu… bercanda ya?”
“No. I’m not.” Jawabnya dengan yakin.
“Ben, aku…”
Belum saja aku menyelesaikan ucapanku Ben langsung memotongnya.
“Kamu ngga perlu jawab sekarang, Nes. Aku bisa tunggu ja…”
“Aku ngga bisa.”
Dengan cepat aku yang gantian memotong ucapannya.
“Jangan ditunggu. Aku ngga bisa.”
Seketika tatapan itu berubah menjadi tatapan yang menggambarkan perasaan kecewa.
“Kamu bisa pikirin nanti, aku ngga perlu jawabannya sekarang kok, Nes.”
“Iya aku tau. Tapi aku juga ngga perlu waktu untuk jawab nanti, Ben. Karena sekarang, besok atau lusa atau minggu depan bahkan bulan depan, jawabannya akan tetap sama. Aku ngga bisa.”
“Aku bisa nunggu kamu untuk sembuh dari lukamu sama dia, Nes.”
Ia masih saja mencoba untuk melakukan penawarannya.
“Ben, bukan hal yang bijak untuk aku membiarkan kamu menunggu aku sembuh dari luka yang disebabkan oleh orang lain. Aku ngga bisa, Ben. Maaf.”
Ia terdiam mendengar jawaban yang ku berikan. Akupun terdiam. Suasana menjadi hening, seolah kebekuan tengah menyelimuti kami.
“Terima kasih sudah mau mengutarakan perasaan kamu. Aku sangat menghargai hal itu. Tapi maaf, aku ngga hisa Ben.”
Aku menoleh ke arahnya yang kini tak lagi menatapku. Aku tahu jawabanku ini pasti membuatnya kecewa. Tapi kurasa tidak pilihan lain yang lebih tepat, daripada aku akan membuatnya jauh lebih kecewa dari ini dan bahkan aku juga akan membuat diriku sendiri kecewa.
“Aku minta maaf, Ben.” Ucapku lagi.
Ia masih terdiam tidak menjawabku. Mungkin sekarang bukan waktu yang tepat untuk berkata-kata lebih banyak lagi, jadi aku memutuskan untuk segera turun dari mobil.
“Makasih ya untuk makan malamnya. Aku… masuk dulu.” Ucapku seraya melepaskan seatbelt.
“Em, iya, Nes. Ngga apa-apa. Makasih juga udah ngeluangin waktunya.”
Ia tersenyum padaku. Walau aku tau bahwa itu bukan senyuman yang sesungguhnya. Aku membalas senyumannya lalu segera beranjak keluar dari mobil.
Aku berdiri di depan pagar rumahku, menunggu sampai Ben menyalakan kembali mesin mobilnya dan pergi pulang.
Tak lama kemudian Ben menyalakan mobilnya, namun ia menurunkan kaca mobilnya terlebih dahulu.
“See you next time, Nes.” Ucapnya sambil melambaikan tangannya.
Aku membalas melambaikan tangan padanya. Ben kembali menutup kaca mobilnya dan perlahan mobilnya mulai menjauh dari rumahku. Aku segera masuk ke dalam rumah.
Aku menggantung tasku pada stand hanger yang terletak di salah satu sudut kamarku. Lalu aku duduk di tepi tempat tidur, melepaskan jam yang melingkar di pergelangan tangan kiriku dan meletakkannya di atas nakas yang di samping tempat tidur. Aku benar-benar merasa bersalah pada Ben karena telah mengecewakannya. Tapi aku benar-benar tidak memiliki pilihan lain. Lagi pula benar, aku belum benar-benar sembuh dari luka di hatiku karen harus mengakhiri hubunganku dengan Marcel, ditambah lagi dengan Marcel yang harus pergi ke luar negeri, bahkan sekarang aku tidak algi memiliki kontak yang digunakan Marcel di sana. Aku tidak lagi bisa mengetahui bagaimana kabarnya di sana, bagaimana hari-harinya di tempatnya yang baru, atau mungkin hal sesederhana bertanya ia sedang apa. Aku tidak bisa lagi mengetahui apapun tentangnya. Bukan hanya terlalu cepat untukku jika harus menerima perasaan Ben, aku bahkan tidak tahu apakah aku memiliki perasaan yang sama dengannya atau aku hanya merasa sekadar nyaman dengan kebaikan dan perhatian yang diberikan oleh Ben. Aku tidak mau menyalahartikan perasaanku yang akan berujung dengan menyakiti Ben karena aku tidak bisa membalasnya dengan perasaan yang sama.
…
Sebulan sudah berlalu sejak malam di mana Ben menyatakan perasaannya padaku, dan aku belum pernah lagi melihatnya mampir di cafe tempatku bekerja. Bahkan beberapa kali kak Nina menanyakan perihal Ben yang tak lagi terlihat berkunjung. Kak Nina sempat menanyakan tentang agenda jalan kami malam itu, dan aku menjawab kami hanya makan malam lalu pulang. Seperti biasa, kak Nina tidak langsung percaya dengan jawaban semacam itu, tapi aku berusaha meyakinkannya. Kak Nina juga tidak menunjukkan gelagat yang berbeda padaku, sepertinya Ben juga tidak menceritakan tentang malam itu pada kak Nina. Kalaupun Ben bercerita pada kak Nina, tentu saja kak Nina tidak akan sesantai ini padaku. Entah dia akan mengomeliku atau bahkan mendiamiku selama sebulan, karena aku tahu kalau sebenarnya kak Nina pasti juga bermaksud menjodohkanku pada Ben. Entah sudah berapa banyak kebaikan dan hal positif tentang Ben yang diceritakan kak Nina padaku. Terkadang jika sedang ada hal lain yang ku pikirkan, tidak jarang aku mengabaikan cerita-cerita kak Nina tentang Ben karena aku terlalu fokus dengan pikiranku sendiri.
Apa mungkin Ben sudah tidak mau lagi datang kemari karena jawaban yang ku berikan malam itu? Apa mungkin Ben tidak mau lagi bertemu denganku? Apa mungkin dia marah? Tapi apa harus sampai segitunya? Bahkan kak Nina yang sudah berteman sejak lama dengannya pun tidak mau ia temui. Haruskan aku meminta maaf lagi pada Ben?
Kenapa selalu saja ada masalah dalam hidup ini? Tidak bisakah aku hidup dengan tenang bahkan untuk beberapa bulan saja. Kenapa masalah selalu datang bergantian seperti ini. Ayolah, aku butuh beristirahat sejena. Sampai aku benar-benar merasa bahwa aku sudah ’baik-baik saja’.