BAB 20 – ES KRIM

2526 Kata
BAB 20 – ES KRIM   Hari ini tepat sebulan setelah kami kembali dari Pekanbaru, beberapa kali aku dan bu Siska saling berhubungan membicarakan terkait perkembangan pekerjaan tim finance di Pekanbaru. Syukurlah semuanya sudah berjalan dengan baik, paling ada sedikit masalah kecil yang juga bisa diatasi dengan cepat. Axel juga masih belum secara resmi menggantikan om Gama. Bisa dibilang statusnya jabatannya di kantor sekarang adalah sebagai anak bos besar yang sedang training untuk menjadi bos besar. Agak ribet ya sebutannya haha. Tapi memang begitulah adanya. Tidak ada jabatan resmi yang bisa diberikan kepada Axel. Pekerjaan setiap hari adalah mengerjakan apa yang seharusnya menjadi pekerjaan om Gama.   “Nes, tolong kamu cek laporan dari Pekanru dan Palembang yang barusan saya email, ya. Saya lagi ngerjain punya Kalimantan, takutnya ngga keburu. Kita bagi-bagi kerjaan ngga apa-apa ya, Nes.” Ujar mbak Laras menghampiriku yang sedang sibuk dengan pekerjaanku di layer monitor. “Oh, iya mbak ngga apa-apa. Nanti saya cek ya mbak, sekarang mau nyelesain kerjaan yang ini dulu.” Sahutku. “Oke ngga apa-apa. Yang penting usahakan selesai dalam minggu ini ya.” Ujar mbak Laras lagi. “Iya mbak.” Jawabku yang hanya bisa pasrah dengan pekerjaan yang lagi-lagi bertambah. Beginilah nasib jadi b***k korporat. Belum selesai pekerjaan yang satu sudah muncul lagi pekerjaan yang lain. Kadang rasanya seperti hampir lupa bernapas saking sibuknya mengejar deadline. Mungkin terdengar agak berlebihan, tapi memang begitulah kenyataannya. Kalau lagi waras, pekerjaannya yang banyak seperti ini akan menjadi semangat untukku untuk meng-upgrade kemampuanku dalam karirku, tapi kalau stresnya sedang kumat, rasanya ingin menjadi istri dari pengusaha kaya raya yang hartanya ngga habis sepuluh turunan biar aku tidak perlu capek-capek bekerja lagi. Oh God, tolong sadarkan Vanesa Laura karena hari ini otaknya sepertinya sedang eror. Mbak Laras kemudian berlalu meninggalkan ruang kerjaku. “Gue liat-liat semenjak balik dari Pekanbaru, lu makin sibuk deh, Nes.” Ucap Fanny dengan suara bebrisik supaya tidak terdengar oleh staf yang lain. “Tau nih, kadang gue juga agak capek deh Fan.” Keluhku pada Fanny. “Sabar ya jeng. Kali-kali lu lagi dipersiapkan buat gantiin mbak Laras.” Sahut Fanny sambil mengelus-elus pundakku. Aku menoleh ke arah Fanny dengan mengerenyitkan dahi. “Kenapa? Kan bagus kalo elu gantiin mbak Laras, jadi gue bisa lebih leluasa kalo minta ijin. Ya ngga?” Ternyata ada udang di balik batu. Bukannya benar-benar prihatin dengan keluhanku, Fanny malah punya maksud lain dari ucapannya barusan. “Yeee! k*****t lu ya.” “Haha lagian gue agak bete dah sama mbak Laras, suka susah gitu kalo gue minta ijin buat ngambil cuti. Suka dipersulit gitu.” Kini giliran Fanny yang menyampaikan keluhannya padaku. “Ya lagian elu juga sih, ngomongnya ijin cuti karena sakit eh malah jalan ke mall sama Regi, mana pas jam istirahat kantor lagi, kan jadi keciduk sama mbak  Laras. Emang suka nyari penyakit sih lu.” Sahutku yang bukannya membela Fanny malah ikut menyalahkannya. Sekitar setahun yang lalu, Fanny pernah meminta ijin untuk mengambil cuti selama dua hari karena sakit. Aku memang sudah tahu kalau itu hanya akal-akalan Fanny karena beberapa hari sebelumnya ia sudah berulang kali mengatakan bahwa ia sedang jenuh dengan pekerjaan dan merasa butuh refresh. Aku sudah menyarankan untuk mengatakan yang sebenarnya saja,  tapi karena Fanny memang suka menguji nyali dan cari perkara, ia malah pura-pura sakit. Parahnya baru hari pertama cuti, Fanny sudah terciduk sedang makan siang di mall dengan Regi oleh mbak Laras yang kebetulan juga makan di tempat yang sama dengan Fanny dan Regi. Hanya saja mbak Laras tidak langsung menegur Fanny saat itu juga karena Fanny tidak menyadari keberadaan mbak Laras, tapi mbak Laras mengirimkan chat untuk Fanny dan memintanya untuk kembali masuk kantor keesokan harinya.  Setelah menerima chat dari mbak Laras, Fanny panik bukan main, ia langsung menelponku saat itu juga, padahal aku juga sedang sibuk membantu menhhandle pekerjaan yang ditinggalkannya. Mendengar cerota Fanny aku juga jadi ikutan panik. Takut kalau-kalau mbak Laras juga akan menginterogasiku dan menganggapku bersekongkol dengan Fanny terkait bolosnya Fanny dari bekerja. Lagian si Fanny sudah ngakunya sakit, malah makan di mall, lengkap dengan outfit ngemallnya. Ya jelaslah mbak Laras semakin tidak percaya. Keesokan harinya Fanny dipanggil oleh mbak Laras dan diinterogasi habis-habisan dan Fanny pun menceritakan yang sesungguhnya pada mbak Laras. Untungnya mbak Laras masih sangat berbaik hati dengan tidak memberikan Fanny surat peringatan tertulis. Fanny hanya ditegur dan diperingatkan secara langsung. Soal bolosnya Fanny pun tidak disebarkan kepada staf dan karyawan lain. Namun, sejak kejadian itu setiap kali Fanny meminta ijin untuk keperluan apapun mbak Laras jadi memberikan aturan yang lebih ketat. Bahkan hal itu berdampak pada staf yang lain, ya walaupun tidak seketat saat Fanny yang meminta ijin. “Ya tapi kan gue…” Fanny berusaha membela diri namun ia tidak bisa menemukan kalimat yang tepat untuk membela dirinya. Sementara aku hanya bisa menatapnya menunggu ia meneruskan kalimatnya. “Ah tau ah. Udah sana lu temenan aja sama mbak Laras.” “Lah kok malah ngambek sih.” “Udah deh gue lagi ngga pengen ngomong sama lu.” Tidak, tidak. Fanny tidak benar-benar marah padaku. Hal seperti ini sudah sangat sering terjadi. Bahkan aku juga bisa melakukan hal yang sama padanya. “Ya udah kalo gitu. Padahal tadinya gue mau traktir makan ayam sama es krim. Tapi karena lu lagi ngga mau ngomong sama gue…” “Eh ngga ngga, gue mau kok ngomong sama lu hehe.” Ia buru-buru memotong ucapanku. “Yeer kalo ditraktir aja cepet lu.” “Ya iyalah siapa yang ngga suka kalo ditraktir. Ntar gue mau es krimnya dua porsi ya yang cokelat sama vanilla.” “Dih banyak maat. Emang bakalan habis?” “Habis kok tenang aja. Soalnya gue lagi ngidam mau datang bulan.” “Kirain ngidam karena ada anaknya Regi di dalam perut lu.” “Heh sembarang lu ya. Lu pikir gue perempuan macam apa? Gue ngga semurah itu kali ya. Tapi ngga tau sih kalo besok.” Aku mebelalakan mataku mendengar ucapan Fanny barusan. “Emang suka banget cari perkara lu ya, Fan.” “Lagian siapa suruh mancing-mancing. Mendingan lu cepetan cari pacar deh Nes, biar lu juga bisa merasakan indahnya b******a haha.” Sekarang malah aku yang kena ejekan Fanny. “Apaan sih. Pacar..pacar. Bikin pusing yang ada.” “Ya tergantung lah. Kalo lu pacarannya sama fuckboy ya emang bakalan bikin pusing. Tapi kalo lu pacarannya sama cowok yang baik, romantis dan penyabar pasti lu bakalan bahagia deh.” “Emang iya?” tanyaku dengan ekspresi yang sengaja meragukan ucapan Fanny itu. “Iyalah. Contohnya kayak Ben tuh. Keliatannya nih ya, dia tu tipe-tipe cowok yang kalo punya pacar bakalan sayang banget sama pacarnya dan dia pasti bakalan memperlakukan pacarnya kayak princess. Duh jadi pengen jadi pacarnya Ben deh.” Ucap Fanny mengarahkan pandangannya ke atas dengan senyum lebar mengembang di wajahnya seperti sedang menghayal dirinya hidup bahagia bersama pangeran di istana seperti di dongeng-dongeng. Sementara itu, aku hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalaku melihat tingkah Fanny yang terkadang imajinasinya suka kelewat batas. Akna tetapi, aku jadi teringat akan sesuatu ketika Fanny membahas soal Ben tadi. Ben memang orang yang sangat perhatian dan memperlakukan perempuan dengan baik, bahkan ia juga bersikap sangat sopamn pada semua orang. Aku jadi ingat beberapa tahun lalu ketika aku masih bekerja di sebuah cafe dimana waktu itu aku sudah mengenal Ben, dan ia pernah mengantarkan makan siang untukku. Ia juga beberapa kali dengan sengaja menjemputku ke tempat kerja untuk kemudian mengantarkanku pulang. Padahal aku baru selesai kerja sekitar tengah malma, dan saat itu ia juga baru selesai lembur dari pekerjaannya di kantor yang mana kantornya bekerja saat itu adalah kantor tempatku bekerja sekarang. Waktu itu aku belum tahu kalau ternyata Ben adalah keponakan dari om Gama, karena saat itu akupun juga tidak begitu akrab dan mengenal keluarga om Gama selain kebanyakan mendengar cerita tentang keluarga mereka dari mendiang ibu. Ben menjadi salah satu orang yang pernah memberiku semangat saat aku patah hati ketika hubunganku dengan cinta pertamaku harus berakhir, ia bahkan menjadi orang yang memelukku dan mendengar tangisku yang tanpa sadar ku tumpahkan semuanya karena aku sudah tidak bisa lagi menahannya dan berpura-pura terlihat baik-baik saja. Ben menjadi orang yang dengan rela menemaniku saat sedang menangisi lelaku lain padahal saat itu ia pun juga memiliki rasa padaku. Ben sempat mengutarakan perasaannya dan bahkan ia mengatakan bahwa ia mau menunggu untuk benar-benar pulih dari patah hatiku karena hubunganku yang berakhir itu, tapi aku bersikeras menolak Ben. Aku harus mengakui bahwa alasan utamanya karena saat itu aku masih sangat menyayangi mantan kekasihku, di sisi lain aku juga tidak ingin menyakiti Ben dengan menjadikannya pelampiasan. Waktu itu berulang kali Ben meyakinkanku bahwa ia bisa menggantikan posisi mantan kekasihku di kehidupanku, tapi berulang kali juga aku meyakinkan Ben kalau aku tidak bisa. Semua berakhir dengan Ben menyerah untuk memintaku menjadi kekasihnya. Sebelumnya Ben sangat sering datang berkunjung ke cafe tempatku bekerja, karena Ben juga berteman baik dengan kak Nina temanku bekerja saat itu yang kini telah menikah dengan kak Dimas si pemilik cafe tempatku bekerja. Tapi semenjak aku memutuskan untuk tidak bisa menerimanya, Ben sudah tidak pernah lagi kelihatan berkunjung ke cafe itu. Bahkan sampai pada akhirnya aku lulus kuliah dan berhenti bekerja dari cafe itu, aku tidak pernah lagi bertemu dengan Ben. Sampai baru beberapa waktu belakangan inilah aku tahu kalau waktu itu Ben sedang sibuk mempersiapkan ujian untuk mendapatkan gelar magisternya di salah satu universitas unggulan di Jakarta, dan setelah berhasil lulus Ben langsung dipindahtugaskan oleh om Gama ke perusahaan cabang yang ada di Palembang untuk membantu meningkatkan kinerja perusahaan yang ada di sana. Dulu aku sama sekali tidak tahu tentang kepindahan Ben ke Palembang, bahakn kak Nina pun tidak tahu. Entahlah, sampai sekarang aku juga belum memiliki kesempatan untuk menanyakan hal itu pada Ben. Lagipula haruskan kita membahas kembali yang sudah menjadi masa lalu itu? Kenapa kita tidak fokus saja dengan apa yang kita jalani hari ini? Setelah mengetahui tentang kelulusanku dari universitas, om Gama berusaha mencari dan menghubungiku. Awalnya aku merasa cukup kaget, karena setelah sekian lama akhirnya aku bertemu lagi dengan om Gama. Om Gama mengajakku untuk bekerja di perusahaanya. Om Gama mengatakan bahwa aku harus menerima tawarannya, karena bagi om Gama mungkin hal ini bisa menjadi salah satu cara untuknya membals jasa ayah dan ibu yang juga sudah banyak membantunya ketika awal-awal ia merintis bisnisnya. Setelah menceritakan hal tersebut dengan kak Nina—teman kerja yang paling dekat denganku bahkan sudah ku anggap seperti kakakku sendiri, dan kak Nina pun menyarankan untuk aku mengambil tawaran itu. Lagipula kata kak Nina sangat disayangkan kalau gelar sarjanaku hanya dipakai untuk bekerja di cafe. Jadilah pada akhirnya aku menerima tawaran om Gama untuk bergabung di perusahaannya. Aku bersyukur Tuhan mempermudahkan jalanku, ketika banyak sarjana di luar sana yang masih kesulitan mencari pekerjaan, setelah lulus kuliah aku malah bisa langsung mendapatkan pekerjaan. Maka dari itu aku selalu berusaha bekerja sebaik mungkin, sekalipun kadan merasa lelah dan jenuh tapi sebisa mungkin aku tetap menghargai pekerjaanku. Ya walaupun kadang suka terpengaruh dengan hasutan Fanny, tapi itu hanya sesekali. Kebanyakan aku yang akan mengingatkan Fanny dan melarangnya kalau ia ingin melakukan hal yang tidak-tidak lagi, seperti bolos dari kantor seperti waktu itu. Selain itu, aku juga harus menjaga nama baik ayah dan ibu di mata keluarga om Gama. Aku tidak mau berulah yang macam-macam di kantor ini. Aku tidak mau ayah dan ibu dicap memiliki anak yang tidak bisa bertanggung jawab dengan pekerjaan dan kepercayaan yang diberikan.   …   “Emmm enak banget sampe mau meninggal.” Fanny terlihat sangat menikmati es krim di hadapannya. Bahkan tidak cukup satu, Fanny memesan dua cup berukuran besar sekaligus. Ia memesan rasa cokelat dan vanilla, rasa favoritnya. Selain karena memang favoritnya tentu saja karena ku tarktir, jadi bisa seenaknya mau pesan lebih dari satu. Iya kan, Fan? Fanny memakan es krimnya secara bergantian. “Kenapa ngga sekalian pesan dicampur aja sih Fan? Kan makannya jadi mesti gentian gitu.” Fanny menggeleng-gelengkan kepala dengan jari telunjuknya yang bergerak mengikuti Gerakan kepalanya. “Kalo gue pesen rasanya dicampur jadinya kan cuma satu cup. Kan gue maunya dua.” Jawabnya kemudian memasukan lagi sendok palstik berisi es krim cokelat itu ke dalam mulutnya. “Ngga enek ya Fan?” “Nope! Gue eneknya kalo ngeliat elu pura-pura ngga liat ada chat dari Ben, terus ntar lu bakalan balas ‘sorry ya Ben baru balas’” Fanny bersuara dengan nada mengejek. “Ha? Apaan?” tanyaku bingung lalu menoleh ke ponselku. Benar saja yang Fanny katakana, ternyata di layer ponselku tertera satu chat baru dari Ben. “Kok lu liat aja sih kalo ada chat masuk? Mana tau lagi chat-nya dari Ben. Gue aja ngga sadar.” Ujarku sembari mengambil ponselku yang terletak di atas meja. “Ya jelaslah. Mata gue kan jeli, apalagi kalo soal cogan kayak Ben. Emangnya elu suka tidak menyadari kehadiran sosok spesial dalam hidup lu.” Lagi-lagi Fanny mengejek sekaligus menyindirku. Semenjak mengenal dan bersahabat dengan Fanny entah sudah berapa kali ia mengejek dan menyindirku dengan hal yang serupan. “Martabak kali pake spesial segala.” Sahutku sembari membagi fokusku untuk membaca isi chat dari Ben. “Ish tu kan, dialihin mulu. Pantesan jomblo.” Aku mengabaikan ucapan Fanny barusan. Saat ini otakku hanya terfokus denga nisi dari chat yang dikirim oleh Ben.   From : Ben Hai Nes, lagi makan siang di luar ya? Soalnya ngga keliatan di kantor hehe Dengan cepat aku mengayunkan kedua jempolku pada layer ponsel untuk membalas chat dari Ben.   To : Ben Hai Ben. Iya, aku lagi makan siang di luar sama Fanny. Ada apa Ben? Urusan kerjaan kah?            Tak perlu menunggu lama, balasan dari Ben langsung masuk ke ponselku.   From : Ben Ngga kok, bukan soal kerjaan. Nanti malam sibuk ngga? Temenin dinner bisa?            Ternyata Ben ingin mengajakku makan malam bersama. Jempolku tertahan di atas layer ponselku. Aku memang tidak ada agenda lain sih malam ini, apa aku harus menerima ajakan Ben ya? Aku lalu menoleh ke arah Fanny yang duduk di hadapanku, seolah berusaha mencari jawaban yang tepat untuk menjawab ajakan Ben walau tidak mungkin juga aku menemukan jawabannya di wajah Fanny yang masih saja asik menikmati es krimnya.   To : Ben Bisa Ben.   From : Ben Kalo gitu jam 7 aku jemput ya. See you   To : Ben See you.   Aku kembali meletakkan ponselku di atas meja. “Kenapa?” tanya Fanny mengangkat kedua alisnya. “Engga apa-apa.” “Kok ngga apa-apa sih? Si Ben ngomong apa?” “Bukan apa-apa Fanny.” Jawabku lalu menyedot milkshake cokelat yang tadi ku pesan. “Kenapa ngga?!” tanya Fanny lagi memaksaku memberitahunya perihal isi chat dari Ben. “Ih apaan sih? Dibilang bukan apa-apa juga.” “Wah parah si lu sekarang udah mulai rahasia-rahasiaan sama gue.”   Dan akhirnya makan siang kami hari itu ditutup dengan perdebatan antara aku dan Fanny yang terus memaksaku untuk memberitahunya isi dari chat yang dikirim oleh Ben. Bahkan ia mengancam akan menanyakan langsung pada Ben jika aku tidak mau memberitahunya, sementara aku tetap bersikeras tidak mau memberitahunya. Bukan karena aku tidak percaya pada Fanny atau benar-benar tidak mau memberitahunya. Aku cuma lagi senang mengusili Fanny. Tetap saja nanti malam aku akan memberitahunya. Entah sebelum Ben menjemputku atau setelah Ben mengantarkanku pulang.      
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN