Rumah sakit kembali menjadi tempat Kalla menginap. Meski bukan kemauan dari Kalla, namun, ini yang harus Kalla hadapi. Yang ada di samping Kalla kini bukan lagi Gibran seperti waktu itu. Meira dan Aksa menunggu di luar. Masih menanti bagaimana keadaan Kalla. Dokter masih memeriksa di dalam ruangan. Aksa sudah tidak sabar, ingin segera mengetahui apa yang Kalla alami. Perasannya sangat tidak tenang. Marah, gelisah, cemas, khawatir, semua jadi satu. Tak ada yang mau mengalah dalam pikiran Aksa. Semua ingin menang. Aksa sampai ingin menyerah. Wajahnya terlihat sangat lesu, matanya berkaca-kaca. Melihat Kalla diam saja tak berdaya, membuat hati Aksa sakit. “Kalla kenapa ya, Sa? Kenapa yang ada di lokasi kejadian Cuma Natasha? Tapi, kenapa Natasha juga yang hubungin Lo?” Meira mulai menerka a

