Siang ini, Kalla melamun di halaman depan rumah Aksa. Meski terasa sangat terik, namun, Kalla tetap memaksakan diri berada di sana. Hatinya sudah tak karuan. Ingin segera pergi dari rumah Aksa. Ingin segera bebas dari segala ketidak nyamanan. Juga ingin mendapatkan ketenangan, yang bukan sementara. Ada banyak pikiran yang bertengkar di kepala Kalla. Ingin menjadi prioritas semua. Namun, Kalla tak kuasa. Ia hanya bisa melakukan satu per satu. Itu pun sangat terbatas. Tangannya masih butuh banyak perhatian lebih. Setiap hari Kalla harus menggendongnya dengan hati-hati. Terkadang, tangan kanannya berdenyut kencang. Karena merasa kesakitan. “Kenapa semuani ini terjadi begitu saja? Aku bahkan tidak lagi mengenali diriku,” ucap Kalla perlahan sembari duduk di bangku yang disediakan di depan rum

