Dasha berjalan tertatih dengan tangan berpegang pada dinding, luka di lututnya cukup perih padahal hanya luka kecil, hal ini lah yang membuatnya benci kalau lututnya terluka.
Kemunculan dua siswi dari persimpangan lorong, membuat Dasha buru-buru menegakkan tubuhnya dan berjalan pelan seperti biasanya. Hingga dua siswi tadi melaluinya barulah Dasha bernafas lega lalu menunduk melihat lututnya.
Waktu itu, kejadian ini pernah terjadi, dan akhirnya Dasha dapat ejekan lemah dan di anggap terlalu melebih-lebihkan keadaan, padahal memang sedari dulu Dasha selalu seperti ini jika lututnya yang terluka.
Ingin rasanya mengabaikan semuanya, tidak ingin bertindak di bawah kendali oeang lain. Namun. keinginan itu hanya semu. Kenyataannya, ucapan-ucapan yang terngiang-ngiang di kepalanya itu mampu membiusnya menjadi seseorang yang bukan dirinya.
Di persimpangan lorong, Dasha berbelok lalu duduk di sebuah bangku. Ia lalu mengeluarkan sebungkus tisu dari dalam tasnya, menarik selembar lalu dengan hati-hati serta sedikit ringisan, ia membersihkan darah dan pasir yang masih menempel.
Dasha kemudian menghela nafas panjang, lelah rasanya, andai ia bisa punya kekuatan dan melakukan sesuatu yang magic, ia ingin kaya lalu pergi ke sebuah tempat yang jauh dari khalayak ramai.
"But, that's impossible," gumam Dasha melirik tangannya yang terangkat.
Sebenarnya, ketika ia datang pertama kali ke sekolah ini, semuanya baik-baik saja. Ya, tampang lah yang menolongnya. Namun, semua tak berlangsung lama karena kemunculan Yuna di hadapannya membuat sebuah bencana.
Dasha menggelengkan kepalanya sembari memejamkan matanya, ia tak seharusnya mengingat masa lalu yang takkan terulang, yang ada ia harus menguatkan dirinya sendiri untuk melalui semua yang ada di depan mata. Tapi yang jadi pertanyaan, apa ia kuat? Apa ia sanggup?
***
"Damian, ingin kuberitahu sesuatu tentang bagaimana sikap yang harus di perlihatkan pada perempuan jika kita ingin mendekatinya?"
"Tidak, terima kasih. Tidak untuk sekarang."
"Tapi aku tetap ingin memberitahu. Yaitu kau harus terlihat ramah, buatlah dia nyaman, karena sekaku-kakunya seorang pria, ia harus merilekskan dirinya terhadap seseorang yang membuatnya tertarik jika ingin seseorang tadi kembali tertarik."
"Hm, okey."
Sebenarnya, tidak di beritahu Adrian pun, ia sudah tahu akan hal itu. Secara logika saja sudah dapat di pikirkan bagaimana bersikap yang seharusnya. Tapi, entah kenapa Adrian terkadang menganggapnya cukup bodoh dalam hubungan asmara.
Damian masih berjalan santai di koridor sampai matanya tak sengaja menangkap bayangan seseorang di sebuah lorong yang lain.
Ah, dia disini.
Itu Dasha, perempuan itu masih sibuk menunduk melihat lututnya ketika Damian berdiri di sana. Namun, Dasha sadar jika seseorang berdiri di sana karena bayanganya terlihat dari ujung matanya.
Dasha mengangkat kepalanya, melihat siapa gerangan yang berdiri di sana, namun ia malah terkejut! Mengerjapkan kedua matanya dengan perasaan heran.
Kenapa Damian ada di sana?
"Kau ... lututmu terluka?" tanya Damian melangkah pelan mendekat ke Dasha.
"Ah, iya," jawab Dasha berdiri dari duduknya, perasaannya jadi tak enak. "Mm, maaf, tapi aku harus pergi sekarang. Permisi."
Dasha sengaja, jelas. Namun, ia lupa kalau lututnya sedang bermasalah hingga berjalan santai sampai tiba-tiba terdiam karena sengatan sakit itu terasa menyengat.
Damian di belakang, berdiri melihat Dasha yang terdiam, ia paham.
"Aku tahu kau kesakitan, mau kuantar pulang?" tawarnya.
Dasha terheran-heran, tapi memang kakinya terlalu sakit untuk berjalan terlalu jauh. Di sisi lain, ia juga merasa tak enak jika menolak tawaran itu.
"Apa tidak merepotkan?" tanya Dasha berbalik menghadap ke Damian.
"Tidak, tidak sama sekali," sahut Damian tersenyum.
Damian berjalan lebih dulu, sengaja melambat karena Dasha juga berhati-hati di belakang. Padahal, tadi ia mau menawarkan sedikit pengobatan untuk lukanya, walaupun tidak ada first aid kit di mobilnya, dan juga ia tak pandai dalam hal seperti itu. Namun, Dasha malah buru-buru berdiri dan pergi.
"Kenapa ... kau tidak melawan, Dasha?" tanya Damian. "Orang seperti dia ... pasti sudah banyak korbannya," sambungnya dengan mata memicing.
"Tidak apa." Dasha tersenyum kecil. "Orang seperti dia tidak harus selalui di balas, nanti dia akan lelah sendiri."
"Tapi aku rasa dia tidak lelah berapa kalipun kau diam tak membalasnya."
Dasha menghela nafas ia juga bingung sebenarnya harus bersikap bagaimana ke Yuna. Dasha kemudian menatap ke depan, menatap punggung lebar Damian. Keberuntungan apa yang memihaknya sampai ada lelaki seperti Damian yang mau berbincang dengannya. Karena biasanya, lelaki di sekolahnya akan mundur ketika tahu ia ternyata siswa beasiswa.
Tapi, Dasha masih penasaran dari mana Damian mengetahui namanya.
"Kalau ada yang ingin kau tanyakan, tanyakan saja."
Dasha terperangah sesaat, pria ini ... kenapa terlihat seperti mengetahui segalanya
"Mm tidak ada," jawab Dasha berbohong.
Ketika mereka sampai di ujung lorong, Dasha berhenti sebentar dan melihat suasa sekitar, untungnya saja para siswa sudah pulang, jadi tidak akan ada yang melihatnya bersama Damian.
Sedangkan dari dalam mobil, Adrian ke luar dan tersenyum kecil melihat Dasha bersama Damian. Dan tanpa basa-basi, Adrian membukakan pintu mobil untuk Damian.
"Masuklah, Dasha. Tidak perlu sungkan, aku membantumu," ujar Damian memberi kode agar Dasha masuk lebih dulu.
"Ah ya terima kasih banyak," ujar Dasha menundukkan kepalanya sesaat, tanda hormat sekaligus terima kasihnya ke Adrian.
Di jalan, tak ada pembicaraan antara Dasha dengan kedua pria itu, hanya di isi dengan perbincangan antara Damian dan Adrian saja, itupun hal yang tidak di pahami Dasha.
Dasha berbicara hanya ketika di tanya alamat tempat tinggalnya, setelahnya ia dia saja sampai merek tiba di depan gedung apartemen Dasha.
"Terima kasih atas tumpangannya, permisi," ujar Dasha lalu keluar dari mobil.
"Kau tidak mengikutinya?" tanya Adrian dengan mata mengikuti langkah Dasha. "Dan juga, apa yang terjadi padanya?"
Damian melepas jasnya lalu menggulung lengan kemejanya sampai ke siku.
"Cari semua hal tentang keluarga Volkov , Adrian," perintahnya lalu turun dari mobil.
Ya, Damian sempat membaca name tag yang di sematkan di kemeja Yuna. Walaupun perempuan itu sudah meminta maaf dan merasa harga dirinya di rendahkan, ia yakin tak lama lagi, sikap buruknya itu akan terulang kembali. Maka dari itu, Damian ingin melakukan sesuatu agar ia benar-benar jera dan tak mengulanginya kembali.
Sedangkan Dasha, karena lututnya, ia berjalan lambat, jadi ia bisa mendengar langkah seseorang yang berjalan tepat di belakangnya. Awalnya ia mengabaikan karena bisa saja penghuni apartemen lain, tapi kenapa arahnya sama dengannya? Sedangkan apartemennya adalah apartemen terujung di lorong itu.
Penasaran, Dasha menoleh ke belakang dan terkejut melihat ternyata Damian lah orang yang dari tadi mengikutinya dari belakang.
Apa yang dia lakukan?
"S--Damian? Ada apa?" tanya Dasha dengan dahi berkerut samar.
"Aku hanya memastikanmu selamat sampai apartemenmu." Itu hanyalah alasan! Namun, Damian mengatakannya seolah ia serius dengan ucapannya.
"Ah begitu ...."
"Dasha?" Pintu apartemen terbuka dan muncul Laura dari dalam. Perempuan itu kemudian mengalihkan perhatian ke seseorang yang bersama Dasha, dan ia langsung terkesiap ketika mengenali wajah itu!
"Oh my God!" teriaknya dengan mata membesar.
"Laura? Kau kenapa?" Dasha melangkah ke arah Laura dengan khawatir.
Sedangkan Damian, ia berpikir sebentar untuk mengingat di mana ia pernah bertemu perempuan ini, ia merasa tidak asing dengan wajahnya.
"Ah kau--"
"Dasha, ayo masuk ke dalam!" Laura berseru memotong ucapan Damian, ia juga menarik Dasha paksa masuk ke dalam apartemen.
Lalu pintu tertutup dengan keras. Tapi, saat itu juga Damian mengingat di mana ia bertemu Laura! Ya, di lobi perusahaannya. Perempuan yang menyebabkan keributan waktu itu.
"Tapi, ada hubungan apa dia dengan Dasha?"
***