Damian sedang berjalan bersama kepala sekolah ketika ia mendengar nama Dasha di sebut di sertai dengan suara-suara lantang.
Kepala sekolah yang dari tadi sibuk berbicara jadi terdiam melihat Damian yang berhenti berjalan. Pandangan kepala sekolah tampak tak fokus, ia terlihat khawatir akan sesuatu.
"Ada apa?" tanyanya menelan ludah sedikit susah. Menyesal mengapa ia memilih jalan ini untuk keluar.
Sebenarnya, kepala sekolah sempat melirik ke arah taman dan cukup terkejut melihat ada Dasha dan Yuna di sana. Tak perlu berpikir dua kali, ia pun sudah tahu apa yang terjadi di sana. Maka dari itu ia semakin banyak bicara agar ucapan Yuna yang kuat itu tidak terdengar oleh Damian. Namun, sepertinya ia gagal.
Bukannya tak ingin bersikap adil pada Dasha. Tapi, kepala sekolah sebenarnya juga cukup tertekan karena pihak elit akan mempertegas, seolah-olah benar jika bukan mereka yang bersalah, atau meminta membuat suatu peristiwa agar seolah merekalah korbannya.
Itu pernah terjadi, masih dengan orang yang sama, Dasha dan Yuna. Dasha lah yang akhirnya meminta maaf dengan amat sangat terpaksa, kepala sekolah merasa bersalah tentu saja, hanya saja ia juga tak bisa berbuat apa-apa, pekerjaannya sangat penting baginya karena mau di sangkal ataupun tidak, pihak elit itu lah yang menyumbang dana paling besar ke sekolah.
"Sepertinya ada orang disana," gumam Damian melirik kepala sekolah sebentar sebelum berbalik berjalan melawan arah.
"Tapi aku rasa tidak ada siapapun, Damian Declavroix," ujar kepala sekolah berjalan cepat mensejajarkan langkahnya dengan Damian. "Lebih baik kita melanjutkan perjalanan saja."
"Tidak ada salahnya mengecek, 'kan? Ini area yang sepi, akan bahaya jika seseorang butuh pertolongan padahal tidak ada orang di luar," sahut Damian dengan cepat hingga kepala sekolah mengernyit karena tak menangkap seluruh perkataannya.
"Tapi, bukankah kau bilang jika kau akan segera kembali ke Moskow? Mungkin Adrian sudah menunggumu."
Damian berhenti melangkah. "Benar, aku memang harus kembali," ujar Damian melirik arlojinya.
Tapi, Damian yakin jika nama Dasha disebut tadi, apa ia salah dengar?
Sedangkan kepala sekolah sudah lega karena akhirnya Damian berhenti berjalan dan melupakan hal tadi. Mungkin setelah ini ia harus memperingatkan Yuna agar tak berlaku semena-mena lagi. Tapi sepertinya tidak akan lancar, karena seperti yang sudah-sudah, nasehat darinya pasti bagai angin lalu bagi Yuna.
"Kalau begitu, ayo." Ajak kepala sekolah dengan senyum ramah.
Damian mengangguk sebagai jawaban, ia sudah akan berbalik kalau saja tidak terdengar suara seseorang terjatuh yang membuat kepala sekolah menutup matanya dengan bibir terlipat. Kenapa ada lagi?!
Tanpa mempedulikan kepala sekolah. Damian melangkah lebar mencari sumber suara tadi, semakin ia berjalan suara-suara itu semakin jelas. Sampai akhirnya ia menemukan pemandangan yang membuatnya terdiam.
"Dasha?"
Dua perempuan di sana menoleh bersamaan dan keduanya sama-sama terkejut!
Yuna yang lebih dulu tersadar dan buru-buru membungkuk berpura-pura membantu Dasha bangkit.
Dasha sendiri terkejut karena ada Damian di sana. Terlebih karena ... pria itu menyebut namanya? Pria itu tahu dirinya?
"Apa yang kau lakukan?" tanya Damian menatap Yuna dengan sorot tajam sembari berjalan pelan ke arah mereka.
Damian tidak bodoh untuk tidak tahu apa yang barusan terjadi. Luka di kedua lutut Dasha sudah menjadi jawaban pasti atas pertanyaannya.
"Dia jatuh dan aku menolongnya," jawab Yuna ringan, polos seolah tak melakukan apapun yang salah. "Lalu, kenapa kau berada di sini, Damian Declavroix?" sambungnya tersenyum senang, wajahnya merona melihat tampang Damian secara langsung dari dekat.
Dasha sendiri hanya melihat Damian sebentar sebelum menunduk melihat sebelah lututnya yang mengeluarkan darah dan sebelahnya lagi yang terlihat lebam, ini pasti akan sangat sakit. Oh, Dasha benar-benar benci luka yang berada di lutut.
"Kau berbohong," ucap Damian. "Lalu bersikap ceria, pandai sekali," sambungnya tersenyum yang tak sampai ke mata.
"Apa yang terjadi di sini?!"
Kepala sekolah berdrama padahal ia sudah bisa menebak apa yang dilakukan Yuna ke Dasha. Dan melihat itu, membuat Dasha muak. Dasha memang tidak tahu bagaimana sikap kepala sekolah sebenarnya. Namun, dari beberapa pengalamannya bertengkar dengan Yuna dan kepala sekolah membela perempuan itu padahal ia menyaksikan sendiri bagaimana kejadian aslinya membuat Dasha berpikir jika kepala sekolah sama saja dengan para elit itu.
Sudahlah, pada akhirnya ia yang akan mengalah, ia sudah biasa dengan ungkapan yang sering di dengarnya di sekolah ini.
Miskin = lemah,
Yang lemah akan tertindas,
Yang tertindas akan kalah.
"Aku permisi."
Dasha hendak pergi. Namun, Damian dengan cepat memegang pergelangan tangannya. Hal itu membuat Dasha jadi sedikit salah tingkah, sebab yang menggenggam tangannya saat ini ialah Damian, dan juga ada kepala sekolah dan Yuna di sana, ia jadi malu.
"Akan aku antar," ujar Damian, tangannya turun ke bawah, namun Dasha melepaskan genggaman itu.
Dasha sangat merasa tidak enak sekaligus malu dalam satu waktu. Damian adalah orang asing. Memperlakukannya seperti itu tiba-tiba membuatnya terheran-heran.
Damian sendiri tidak mempermasalahkan, tidak juga marah, malah ia cukup merasa tertarik karena sekarang jantungnya kembali berdegup kencang karena memegang tangan Dasha walau sesaat.
Damian kemudian menatap Yuna kembali, membuat mata yang di tatap itu berbinar, namun ....
"Aku sangat tidak membenarkan p**********n di sekolah, jangan pikir kekuasaan bisa menghentikanku."
Dan kebinaran di kedua mata itu lenyap seketika ketika mendengar kalimat Damian.
Kepala sekolah menghela nafas melihat Damian dan Yuna yang saling beradu tatap. Dan juga, bagaimana Damian bisa langsung tahu kalau yang tadi itu adalah sebuah p**********n?
"Aku tidak menganiaya siapapun. Dasha hanya jatuh dan aku menolongnya," jawab Yuna, kembali dengan wajah ceria dan polosnya.
"Ya, dia tidak menganiaya siapapun," sahut Dasha, ia hanya ingin drama ini segera selesai. Tak perlu berdrama, Dasha yakin orang seperti Damian sama halnya dengan Yuna.
Dasha terkadang terlalu cepat menilai seseorang.
"Diamlah."
Itu suara Damian, ia berkata sembari menatap Dasha. Jelas saja hal itu membuat Dasha terperangah, bagaimana bisa pria itu berkata seperti tadi?! Memangnya ia siapa?!
"Kau yakin?" Damian kembali menatap Yuna. "Aku bisa membuat sesuatu yang menarik jika kau tidak mengakui kesalahanmu sekarang juga. Lagipula di sini sepi, tidak ada yang akan mengejekmu."
"Memang tidak akan ada yang mengejekku."
Damian tersenyum kecil. "Baiklah, kalau begitu nantikan saja, ya," ujarnya.
Senyum Yuna luntur, rahangnya mengeras, ia sadar akan apa yang akan dilakukan Damian jika ia tak menurut. Dan juga, rasa kagum Yuna ke Damian terasa sedikit luntur seketika, ia tak menyangka Damian tipe orang yang akan menyudutkan orang lain ketika permintaannya tidak terkabulkan.
"Ok!" Suara Yuna mengeras. "Aku yang bersalah, aku yang merundungnya," sambungnya dengan suara yang mengecil.
Mata Damian menyipit. "Minta maaf padanya, sekarang."
Damian kesal karena Dasha dipermainkan, ingin rasanya membalas dengan cara yang sedikit lebih dari ini. Namun ia ingat, Yuna adalah gadis yang penuh harga diri, meminta maaf sama saja menjatuhkan harga dirinya menurutnya, jadi Damian pikir ini cara terbaik agar Yuna bisa sedikit jera.
"Dia pasti sudah memaafkanku. Ya, 'kan, Dasha?" Yuna menatap Dasha penuh makna, memaksanya menjawab iya lewat tatapan matanya.
Awalnya Dasha ingin menyudahi drama ini. Namun, tiba-tiba timbul keinginan di hatinya bahwa sekali saja Yuna merasa kesal, jangan hanya orang lain yang bisa dibuatnya kesal.
"Tidak, maksudku belum," jawab Dasha yang membuat Damian terkekeh pelan.
"See, ayo lakukan sekarang," perintahnya.
Yuna terlihat susah membuka mulutnya. Ya, sesulit itu baginya meminta maaf pada orang lain, hal yang bahkan hampir tidak pernah ia lakukan selama ia hidup, bahkan ketika ia punya kesalahan pada orang tuanya.
"M--ma--maaf."
Dasha terlihat biasa saja mendengarnya, ia masih berpikir ini adalah drama yang di buat-buat. Maka dari itu, setelah Yuna meminta maaf, ia yang berdiri di belakang Damian, memutuskan pergi dari sana dengan langkah pelan, dan juga menyampaikan salam isyarat pada kepala sekolah.
"Good, dan berhentilah merundung orang lain karena di mataku, kau yang tampak menyedihkan."
Damian tak perlu memilah kata-katanya lagi karena ia sendiri sangat benci perundungan, jadi apa yang ada di dalam kepalanya, langsung ia lontarkan saja.
"Dan kau." Damian beralih ke kepala sekolah. "Kau pasti sudah tahu hal ini, 'kan? Bijaksanalah, karena kau yang seperti ini malah terlihat seperti pengecut."
Biarlah ia di anggap tidak sopan dengan orang yang lebih tua, lagipula kalau orang tua itu tak melakukan kesalahan, ia tak mungkin mengucapkan kata k*sar seperti itu.
Damian menghela nafas, ia merasa ia sudah selesai dengan perkataannya, ia kemudian berbalik dan mencari keberadaan Dasha, tapi ternyata gadis itu sudah tidak ada di sana.
"Di mana Dasha?"
Kepala sekolah memberanikan membuka suara walaupun pelan. "Sudah pergi, Damian."
***