Damian berdiri menatap pekatnya malam dengan kedua tangan di dalam saku celananya ketika Adrian mengetuk pintu lalu masuk ke dalam ruangannya.
"Damian, ada yang ingin kubicarakan."
***
Pagi menjelang, Dasha bangun dari tempat tidurnya, mencuci muka dan menyisir rambutnya, keluar dari kamar menatap ruang tamu yang masih tidak seperti semula.
"Dia masih tidur?" gumam Dasha melirik ke arah kamar Laura.
Dasha berjalan mendekati pintu itu, tangannya terangkat hendak mengetuk pintu. Namun, tindakannya urung ketika ia mendengar suara gemericik air dari dalam. Mungkin Laura sedang mandi, pikirnya.
Dasha kemudian berbalik berjalan ke arah dapur, mengambil sebuah kain lalu membasahinya di bawah air keran wastafel, ia lalu kembali ke ruang tamu, berjongkok mengelap lantai yang terdapat pecahan-pecahan kecil dari kaca yang tak bisa tersapu.
Lalu kemudian, terdengar suara pintu yang dibuka cukup keras, diiringi suara Laura yang terdengar kaget.
"Dasha?! Kenapa kau belum bersiap-siap?"
Laura melirik ke arah jam dinding dan jarum sudah menunjukkan angka tujuh!
"Dasha? Kau mendengarku?"
"Sudah kubilang tadi malam, 'kan? Aku akan berhenti sekolah, toh tidak ada hal yang menarik di sana, semua terasa hambar," ujar Dasha terdengar santai, masih melanjutkan pekerjaannya.
Wajah Laura kemudian mengeras. Hal ini yang ia paling takutkan terjadi jika ia memberitahu tentang hutangnya ke Dasha, perempuan satu itu pasti akan memaksa membantunya!
"No, Dasha!" teriak Laura sambil menarik kasar tangan Dasha hingga perempuan itu berdiri. "Please, kau harus sekolah, masalah ini biar aku yang urus."
Dasha menatap Laura dengan intens. "Aku hanya ingin membantu."
"Tapi aku tidak butuh bantuanmu!"
Dasha dan Laura sama-sama terkejut. Laura yang tak percaya kata-kata itu ke luar dari mulutnya dan Dasha yang tercengang mendengar kalimat pedas yang rasa-rasanya tidak pernah keluar dari mulut Laura.
"Dasha--maaf, maafkan aku," pinta Laura. "Aku tidak bisa mengontrol diri, maaf. Aku hanya ingin mengatasi masalahku sendiri, aku tak ingin merepotkan siapa pun, terutama kau, apalagi ingin keluar dari sekolah. Tidak, Dasha."
"Tapi ...," ucapan Dasha terhenti, ia menghela nafas pelan dan menunduk.
"Hadapi. Aku tahu ada alasan lain kenapa kau ingin sekali keluar dari sana. Tapi Dasha, kau kuat, tunjukkan ke mereka."
Perkataan itu tak mampu melekat, hanya masuk dan keluar dari telinga Dasha. "Aku akan bersiap," ujarnya, lalu meletakkan kain diatas meja sebelum berbalik berjalan ke arah kamarnya.
Laura memijit pelipisnya dengan tubuh bersandar pada dinding serta tangan yang bertumpu pada lengan kursi, semuanya membuat kepalanya terasa ingin pecah, pusing sekali, ia juga tidak tahu harus memulai dari mana, menjelaskan semua ke Dasha pun ia masih merasa belum siap.
"s**t ...."
***
Damian bersiap dengan setelan kemeja yang pas di tubuhnya, ia akan datang kembali ke sekolah itu, melakukan seminar yang kedua kalinya.
Tadi malam, Adrian memberitahunya perihal ini, pihak sekolah meminta dengan hormat pada Damian agar menghadiri seminar yang kedua, ini dikarenakan permintaan yang membeludak dari para siswa.
Awalnya, Damian ingin menolak, mengingat tiket pesawat sudah ada dalam genggaman, selain itu, ada banyak pekerjaan menunggunya di Moscow. Tapi, tiba-tiba ia terbayang wajah Dasha dan jantungnya berdegup kencang.
Ya, urusannya disini belum selesai. Degupan cepat di jantungnya memiliki arti penting dan ia penasaran dengan seseorang yang mampu membuatnya seperti itu, untuk pertama kalinya lagi dalam waktu yang cukup lama.
Ia ingin bertemu Dasha sekali lagi, jika ia masih merasa ada sesuatu yang aneh di dalam dadanya, maka Dasha harus tahu siapa dirinya. Bayangan bahwa ia tertarik pada Dasha namun Dasha bahkan belum kenal dirinya membuatnya merasa gila.
Damian kemudian melirik arloji di pergelangan tangan kanannya, merasa sudah cukup, ia memutuskan berbalik dan melangkah ke luar kamar.
"Sudah siap?"
Suara Adrian langsung terdengar tepat daun pintu terbuka.
"Hm," sahut Damian singkat, lalu berjalan mendahului Adrian.
Adrian tampak menahan senyum. Baru kali ini rasanya Damian rela mengorbankan pekerjaannya demi seorang gadis. Masih melekat erat di pikirannya bagaimana Damian selalu menolak apapun yang mengganggu pekerjaannya.
"Damian, nanti malam ada pesta keluarga di--"
" No, aku sibuk."
"Damian, kau di undang pada acara ulang tahun putri sulung Mr. Bob."
" Apa itu penting? Aku sibuk."
"Adrian, kau lama."
Suara Damian yang menggema dari anak tangga terbawah membuat kesadaran Adrian kembali.
"Ah maaf." Adrian cepat-cepat berjalan menyusul Damian yang sudah kembali melangkah.
***
Dasha berjalan dengan raut datar, tampak tenang namun sebenarnya tidak, ada beberapa hal yang ia pikirkan dan semuanya tentang Laura.
"Cepat! Kita akan ketinggalan seminarnya! Kau terlalu lama, Sarah."
"Tunggu sebentar!"
Dasha menatap heran dua siswi yang tampak melangkah terburu-buru ke arah aula, mereka tampak saling merutuki.
"Seminar?" gumam Dasha sembari melanjutkan langkahnya, ia melihat ke sekeliling di mana banyak siswi yang terburu-buru berjalan ke Aula.
Tapi, Dasha tak ke sana, ia melewatinya begitu saja, tak minat sama sekali, lebih baik ia berdiam diri di suatu tempat yang nyaman dan memikirkan apa yang ia harus lakukan supaya bisa membantu Laura melunasi hutangnya.
Hujatlah Damian karena tujuannya menerima permintaan menghadiri seminar itu karena ingin bertemu Dasha, tidak ada yang lain. Tapi, sepertinya ia harus kecewa karena tak menemukan Dasha di antara para siswi yang hadir di sana.
Di mana dia?
Adrian yang melihat dari jauh juga paham, amat sangat paham jika Damian sedikit kesal karena tidak ada Dasha di sana, nyatanya ekspetasi tidak sesuai dengan realita.
Bunyi dentingan pelan yang berasal dari saku jas Adrian membuatnya mengalihkan perhatiannya, sebuah pesan masuk, dan itu tentang pekerjaan yang harusnya di selesaikan hari ini namun jadi tertunda.
Adrian tertawa kecil, ia melihat ke depan lagi, Damian masih terlihat santai dan keren menanggapi seluruh pertanyaan. Untuk itu, sepertinya tak apa jika ia berkeliling sekolah sebentar.
Namun, Adrian malah kesal.
Ya, ia ingin berkeliling sendirian saja, tapi dua guru malah mengikutinya di belakang dan menunjukkan satu persatu kelebihan dari sekolah mereka. Menjengkelkan menurutnya, harusnya mereka memamerkan semuanya ke Damian, bukan dirinya.
"Haha, tidak ada satupun siswa perempuan disini, sepertinya semuanya berkumpul di Aula," ujar salah satu guru yang dibalas tawa oleh Adrian, sebenarnya terdengar awkward juga.
Acara show off itu berlangsung lama juga hingga deringan telepon membuat Adrian menarik diri sebentar.
Dan panggilan itu ternyata dari Damian, panggilan itu menjadi malaikat penolongnya karena hal itu akan menjadi alasan baginya untuk pergi dari sana.
"Halo."
"Kau di mana?" Terdengar suara Damian dari telepon karena Adrian sengaja menyalakan speaker.
"Di gymnasium."
"Cepat kesini, seminar sudah selesai, segera pulang."
Adrian tersenyum senang. "Ok!"
Dua guru yang mendengar jelas percakapan itu pun langsung paham dan mengijinkan Adrian pergi.
Adrian berlari kecil, ia memang melihat banyak siswi berhamburan dari dalam aula menandakan acara telah selesai.
Namun tiba-tiba, Adrian menabrak sesuatu, ia menoleh ke samping dan ternyata ia menyenggol bahu seorang siswi.
"Oh maaf, tidak sengaja," ujarnya tampak ramah dan merasa bersalah.
"Tolong pakai mata jika berjalan," sahut siswi yang tak lain adalah Yuna. Selesai berkata seperti itu ia berjalan kembali dengan tampang kesal. Sepertinya perempuan itu melupakan fakta jika Adrian adalah asisten pribadi Damian.
Adrian sendiri tidak mengenal Yuna, jadi ia hanya mengabaikannya. Tidak heran menemukan siswa angkuh di dalam sekolah elit, jadi Adrian menganggap hal ini adalah hal yang sudah biasa terjadi.
Adrian kemudian menemukan Damian duduk di balik panggung, sedang menatap serius pada layar ponselnya.
"Sudah menunggu lama?" tanya Adrian berjalan medekat.
Damian mendongak sebentar sebelum fokus kembali ke arah ponselnya. "Tidak terlalu."
"Kenapa cepat sekali?"
Damian menutup ponselnya lalu menyimpannya di saku jas. "Harusnya tidak, tapi aku menolak acara tanda tangan," ujarnya menarik nafas panjang.
"Jadi, pulang sekarang?"
Damian terdiam, masih enggan sebenarnya, tapi sampai sekarang ia masih belum menemukan Dasha, entah di mana perempuan itu.
"Ya, ke Moscow," jawab Damian akhirnya. "Cari jadwal penerbangan terdekat dan tercepat, pekerjaanku sudah menunggu."
"As you wish, Sir."
Damian berdecak pelan. "Duluan lah ke mobil, aku ada urusan sebentar dengan kepala sekolah," ucapnya dan berjalan meninggalkan Adrian.
***
Dasha duduk tenang menatap hamparan rumput di depannya. Ia duduk di sebuah bangku usang di sebuh taman tak terurus di belakang gedung sekolah, letaknya yang tertutup dengan gedung, pagar batu dan pepohonan membuatnya terbengkalai, bahkan sekolah membuat taman yang lain yang lebih segar.
Tapi justru karena tidak ada orang, Dasha malah suka di sana.
"Dasha!"
Teriakan itu membuat Dasha mengedipkan matanya lelah. Pemilik teriakan itulah yang membuatnya tidak betah berlama-lama di sekolah ini.
"Aku dengar kalau tadi malam--Dasha!"
Yuna berteriak lagi ketika Dasha hendak berdiri dan meninggalkannya, perempuan itu mencekal lengan Dasha lalu menghempaskan tubuh Dasha hingga kembali duduk di atas bangku.
"Aku belum selesai bicara!"
Dasha muak, benar-benar muak, ingin rasanya melawan Yuna. Namun, pada akhirnya ia yang akan meminta maaf, uang dan kekuasaan adalah segalanya, bukan?
Dari mana Dasha tahu? Ia pernah mengalaminya.
"Sebenarnya, apa yang kau lakukan, hm? Kau menggoda ya? Kalau hanya mengandalkan tampang, belum cukup, Dasha," ujar Yuna menunduk menatap ke kedua mata Dasha.
"Apa yang kau bicarakan?"
"Hah, haha, pura-pura tidak tahu padahal suka menggoda." Yuna tertawa sembari mendecih pelan.
"Kau terlalu banyak melantur," sahut Dasha kembali berdiri dan menangkap lengan Yuna yang hendak memaksanya duduk kembali.
"Apa? Kau terlalu banyak mengganggu orang lain, Yuna. Gunakanlah waktumu untuk hal yang lebih baik, misalnya memperbaiki dirimu agar tak selalu bersinar hanya karena uang dan kekuasaan," ujar Dasha dan menghempaskan kasar lengan Yuna.
Tak biasanya Dasha menimpali dengan perkataan seperti itu, tapi untuk saat ini, ada banyak hal yang menjadi pemicu ia bersikap sedikit kasar.
Yuna yang harga dirinya terlalu tinggi jelas tak terima, ketika Dasha membelakanginya, ia dengan keras menarik ransel Dasha hingga Dasha terjatuh cukup keras ke tanah.
"Jangan coba-coba melebihiku, Dasha, karena kau tak akan bisa," ejek Yuna sama sekali tak merasa kasihan.
Dasha di bawah meringis merasakan ada yang perih di lututnya yang terbentur batu kerikil. s**l, ia paling benci jika lututnya terluka. Walaupun kecil, ia akan merasa kesakitan jika berjalan.
"Sebenarnya ..., kenapa kau begitu tak suka padaku?" Suara Dasha terdengar pelan dan berat.
"Karena kau mencoba menandingiku, lagipula aku tidak suka dengan para siswa beasiswa, menganggu saja," jawab Yuna dengan bangga.
Dasha menyahut dengan suara yang masih terdengar berat, "kau--"
"DASHA?!"
****