Dasha melangkah cepat mengikuti langkah lebar pria didepannya, pria yang menempati apartemen di samping apartemennya dengan Laura itu tadi memberitahunya kalau ada beberapa pria datang dan berteriak sebelum memporak-porandakan isi apartemen mereka.
"Kenapa kau malah memberitahuku?" tanya Dasha terdengar panik, masih berjalan cepat. "Maksudku, kenapa tidak membantu Laura terlebih dahulu sebelum mengabariku?" Lanjutnya tergesa-gesa.
Pria tadi kemudian berbalik, membuat Dasha berhenti berjalan dan menatapnya. "Mereka sudah pergi. Sebenarnya aku ingin memberitahumu tentang hal ini. Namun, tadi Laura melarang keras, bahkan ia merampas ponselku, aku rasa ada yang ia sembunyikan makanya aku langsung menjemputmu," jelasnya. "Maaf, aku pasti mengganggu pekerjaanmu," tambahnya pelan.
Edmon, tetangganya itu adalah seorang mahasiswa. Edmon dan Dasha bertemu ketika Dasha berusia enam belas tahun kala itu. Edmon juga pernah menyatakan rasa sukanya ke Dasha, tapi alih-alih menolak, Dasha hanya berkata kalau Edmon sudah ia anggap sebagai teman.
"Tidak sama sekali," ujar Dasha melewati Edmon. "Sudah, ayo," ajaknya sebelum berlari dan diikuti Edmon dari belakang.
Tak lama kemudian, mereka sampai di gedung apartemen sederhana yang hanya berdirikan atas beberapa lantai. Dasha dengan cepat membuka pintu yang berbahan dasar kayu itu di lantai bawah, kemudian berlari ke arah tangga, menaiki dengan cepat dan akhirnya sampai di lantai di mana apartemennya berada.
Dasha memperlambat langkahnya, ia menoleh ke samping ke arah Edmon dengan dahi mengerut samar dan berkata, "tapi semuanya tampak baik-baik saja," gumamnya melirik pintu apartemennya dari jauh.
"Tidak di dalamnya, ayo kau harus lihat!" seru Edmon berjalan mendahului Dasha.
Dasha pun berjalan lebih cepat lagi hingga ia berdiri didepan pintu apartemennya, dengan tak sabar ia membukanya dan langsung terkesiap melihat isi apartemen yang seperti kapal pecah!
Dengan refleks, kedua tangan Dasha menutup mulutnya yang menganga tak percaya, apartemen itu sungguh berantakan, tak sedikit pula barang-barang yang hancur, khususnya barang-barang yang terbuat dari kaca.
Dari dalam kamar, terlihat Laura keluar dengan tangan mengusap ujung matanya, ia kemudian mendongak dan terkejut melihat kehadiran Dasha dan Edmon disana.
Mulut Laura terbuka, namun kemudian tertutup lagi, tak tahu harus dari mana ia berbicara, rahasianya sudah terbongkar, mau tak mau ia harus menjelaskannya pada Dasha, semuanya.
"Ada apa ini, Laura?" tanya Dasha sembari melangkah masuk, matanya menatap tajam ke arah Laura.
Laura diam, ia melirik Edmon. "Kau yang memberitahunya, 'kan?" tebaknya.
Edmon mengangguk, melihat wajah Laura yang tampak kesal, ia cepat-cepat menambahkan. "Hal ini tidak bisa disembunyikan lebih lama lagi dari Dasha, Laura, kau tahu pasti, bukan? Lagipula, lebih baik bertukar pikiran dengan orang lain, jadi hal ini tidak membebani dirimu sendiri."
"Kau tahu apa tentang masalahku, hmm?" Laura mendongakkan dagunya, ia tampak tak suka dengan kehadiran Edmon di sana.
Edmon tampak berdecak lidah. "Aku tidak bodoh untuk tidak tahu setelah melihat para orang itu mengacak-acak isi apartemenmu."
Laura balas berdecak, ia buru-buru mendekati Edmon lalu mendorongnya ke luar dari apartemennya. "Ya ya, kalau begitu terima kasih atas perhatianmu, urus saja tugas kuliahmu sana. Sekarang tinggalkan kami, ok?"
"Sebentar! Ponselku?!" Tangan Edmon menengadah, meminta ponselnya di kembalikan terlebih dahulu.
Laura mengeluarkan sebuah benda pipih dari saku celananya dan meletakkannya di atas tangan Edmon. "Sudah sana," usirnya sembari mendorong tubuh Edmon lagi.
Edmon sedikit kesal sebenarnya karena diperlakukan seperti itu. Namun, perasannya lebih ke senang karena malam ini juga Dasha akan mengetahui rahasia Laura. Edmon sudah tahu hal ini dari malam waktu itu, dimana para debt collector datang dan memporak-porandakan apartemen Laura. Laura sendiri juga tahu jika Edmon tahu. Jadi, ia meminta Edmon untuk merahasiakannya, tapi Edmon tidak bisa memendamnya begitu lama dan ia membongkarnya sekarang.
"Ini juga kebaikan untuk kalian berdua," gumam Edmon lalu memutar handle pintu apartemennya dan masuk ke dalam.
Laura menutup pintu apartemennya ketika Edmon sudah menghilang dibalik apartemen pria itu. Ia memejamkan matanya lalu menghela nafas, sulit rasanya mengungkit hal yang tak ingin di ingat, namun Dasha pasti butuh kejelasan.
"Das--"
"Kau punya hutang, ya?" sela Dasha dengan cepat, ia berdiri memunggungi Laura yang terkesiap. "Iya, 'kan?" Dasha lalu berbalik badan, menatap Laura dengan pandangan sakit.
Laura memijit pelipisnya sebentar sebelum membalas tatapan Dasha. "Iya ...," ucapnya lirih.
Raut wajah Dasha tampak kaku, ia tak pernah terpikirkan hal ini sebelumnya karena Laura selalu tampak tenang tanpa ada beban di wajahnya.
"Kenapa tidak memberitahuku?" Bisiknya.
"Dasha--" ucapan Laura terputus, ia menggaruk kepalanya kasar, entah kenapa bibirnya terasa berat untuk menjelaskan.
"Berapa banyak hutang yang kau punya?" Dasha berjalan mendekat.
"Banyak, intinya banyak," ujar Laura membuang wajahnya ke arah kanan tubuhnya. "Kesalahanku dulu karena berfoya-foya padahal aku terlahir miskin."
"Laura--"
"Aku sangat tidak tahu diri, 'kan?" Ia tertawa kecil. "Merasa kaya dan sanggup membeli semuanya seperti yang lainnya, padahal semuanya hutang."
"Aku bisa membantumu! Aku akan keluar dari sekolah dan mencari pekerjaan full time agar dapat menghasilkan uang yang banyak dan membantumu melunasi hutangmu!" seru Dasha.
"Jarang-jarang mendengarmu berbicara cukup panjang," gumam Laura tersenyum kecil. "Tapi tidak, aku melarang keras kau berhenti sekolah, ini masalahku, kau tak perlu ikut masuk ke dalamnya."
Dasha sedikit tak terima dengan pernyataan itu, bagaimanapun Laura sudah ia anggap sebagai keluarganya, satu-satunya orang yang benar-benar tahu tentang dirinya, apa yang menjadi masalah untuk Laura, akan menjadi masalahnya juga.
"Ini terlalu besar, Laura. Biarkan aku ikut bersamamu, masalah ini akan lebih cepat selesai jika kita berdua yang menanganinya."
Laura menggeleng. "Aku tak mau kau ikut andil dalam masalah ini karena aku peduli padamu, aku akan mencari cara bagaimana melunasi secepatnya, jangan khawatir."
Laura berjalan melewati Dasha yang tetap terdiam kaku disana, mereka saling memunggungi.
"Laura, tunjukkan saja kalau kau sedang bersedih," ucap Dasha berbalik badan. "Jangan memasang ekspresi seolah semuanya baik-baik saja."
Laura juga berbalik menatap Dasha. "Aku sudah menunjukkannya, seperti inilah ekspresi sedihku."
Ya, dan Dasha amat tahu betul kalau Laura sedang berbohong.
"Apa ada yang kau sembunyikan lagi?"
Laura menggeleng yakin. "Tidak ada."
"Bohong."
"Aku tidak bohong."
Dasha merasa masih ada hal lain yang disembunyikan Laura darinya, tapi ia tak bisa menebak hal apa itu.
"Kau sudah kuanggap sebagai keluargaku, Laura. Jadi, jangan pernah menyembunyikan apapun karena aku juga tidak pernah menyembunyikan apapun darimu."
Laura mengerjap, ia mengangguk pelan sebagai jawaban sebelum berbalik badan. "Aku hanya merasa ini adalah salahku dan hanya aku yang patut bertanggung jawab, tidak orang lain, termasuk kau, Dasha. Maaf ...." Laura lalu masuk ke dalam kamarnya dengan pintu tertutup pelan.
Dasha menarik nafas panjang, bahkan Laura yang ia anggap sebagai dewi dalam hidupnya pun bisa mematahkan hatinya. Padahal, ia dengan setulus hati sangat ingin membantunya.
Tak ingin terlarut terlalu dalam, Dasha memutuskan untuk membereskan barang yang berserakan dan mengumpulkan pecahan kaca lalu dibuang.
Sedangkan Laura didalam kamar menutup wajahnya dengan kedua tangan, ia sangat sedih namun tak ada air mata yang keluar dari kedua matanya sebagai bentuk luapan dari kesedihan, yang ada hanya kepala berat yang terasa ingin pecah dan d**a yang sesak.
"Maaf ..., maaf, Dasha."
Sama seperti Dasha yang menganggap Laura sangat penting, Laura pun memberlakukan hal yang sama kepada Dasha. Hanya saja, Laura tak mau sesuatu yang berat menimpa Dasha, apalagi asal muasalnya dari dirinya.
Laura benar-benar tak sanggup membuka suara tentang dirinya yang statusnya sudah pengangguran, hal itu pasti akan membuat Dasha semakin kekeh membantunya.
"Kenapa harus seperti ini ...," lirih Laura mengacak rambutnya yang basah karena keringat.
Tiba-tiba terdengar suara deringan sebuah ponsel, Laura berjalan ke arah meja dan mengambil ponselnya itu, awalnya ia terlihat biasa saja, tapi ketika mengetahui dari siapa panggilan itu, jantungnya berdegup kencang seketika.
Laura tampak gugup, menghela nafas berulang kali sebelum menggeser tombol hijau.
"Halo."
Terdengar suara dari seberang telepon, tapi tidak jelas, samar.
Seiring si penelepon berbicara, ekspresi Laura berganti-berganti dari gugup, sedih, lalu khawatir.
"Ya, tolong beri waktu dua atau tiga hari lagi," sahutnya pelan kemudian mendengarkan dengan cermat apa saja sahutan dari orang di seberang telepon.
Tak lama kemudian, setelah si penelepon memutuskan sambungan, Laura meletakkan ponselnya kembali dan menghela nafas lelah, seperti ada batu besar yang menimpa dadanya, sesak dan berat sekali.
Banyak hal yang mengantri untuk Laura pikirkan, namun yang terpenting hanyalah tentang ... Dasha.
"Bagaimana nanti denganmu, Dasha?"
***