He Just My Friend

1104 Kata
Melihat bagaimana perempuan itu di perlakukan, Dasha jadi teringat dengan dirinya waktu itu di mana ia di perlakukan dengan cara yang sama. Dan melihat tidak ada seorang pun yang berdiri dan membantu, Dasha jadi berinisiatif untuk menolongnya. Hanya saja, ketika ia berdiri, tangannya di cekal oleh seseorang, yaitu Rein. Rein menggelengkan kepalanya pertanda jangan. Ia lalu menyuruh Dasha untuk duduk. "Lihat, apa yang akan dia lakukan selanjutnya," ujar Rein mengedikkan dagunya ke arah perempuan tadi. Dasha mengernyit heran lalu menoleh ke belakang, siswa yang di bully itu tidak melakukan apapun, dia masih berdiri di sana mendengar kalimat demi kalimat pahit yang keluar dari bibir perempuan di depannya. "Tapi, dia tidak melakukan apapun." Dasha memprotes. Sebab, ia pernah di posisi itu, bagaimana rasanya ia tahu persis! "Lihat lagi." Dasha menoleh ke belakang sekali lagi dan ia langsung terkejut, matanya membesar tak percaya ketika siswa yang di bully itu melakukan hal sebaliknya ke perempuan itu, ia bahkan menjambak rambutnya sesaat sebelum Antony muncul di depan pintu kantin. "Kalian lagi?!" Serunya tak percaya lalu berjalan beberapa langkah ke depan. "Kalian ikut aku, segera! Sepertinya aku harus melakukan hukuman yang bisa membuat kalian jera," sambungnya lalu berbalik keluar dari kantin. "Aku yakin dia akan mengeluarkan dua siswa itu," celetuk Alina. "Mereka sudah sering di nasehati, orang tua yang di minta datang ke sekolah, dan juga hukuman. Tapi tak pernah jera, entah apa sebab mula dari pertengkaran mereka itu. Aku rasa sekarang Antony akan mengeluarkan mereka dari sekolah, karena jelas saja hal itu bisa merusak reputasi sekolah." "Kau tahu dari mana, Alina? Bukannya kau juga siswa baru di sini?" Dasha bertanya penasaran. "Seseorang berkata padaku begitu, aku hanya menyalin kata-katanya," ujar Alina santai Dasha dan Rein mengangguk-angguk paham. Mereka bertiga kemudian melanjutkan makan lalu pergi ke kelas begitu selesai. Rein dan Dasha berada di kelas yang sama, sedangkan Alina berada di kelas sebelahnya. Ketika pulang sekolah tiba, Rein dan Dasha berjalan bersisian, mereka tampak berbincang-bincang. Alina sendiri sudah lebih dulu di jemput oleh supirnya. Sedangkan dari jauh, Adrian sudah mengawasi mereka, memang jaraknya terlalu jauh, jadi Adrian harus menggunakan ponsel canggihnya untuk memperbesar objek. "Siapa pria itu?" gumamnya heran menatap lekat ke arah Rein. Kembali ke Rein, pria itu menatap Dasha. "Sudah ada yang menjemputmu?" tanyanya. Dasha mengedarkan pandangannya, mencari-cari mobil yang ada kemiripan dengan mobil-mobil Damian, tetapi ia tidak menemukannya. "Belum, mungkin nanti," katanya. Padahal hatinya mencemooh kalau tidak mungkin ada yang menjemputnya, ia memangnya siapa?! "Aku ingin mengantarmu, tapi aku punya urusan," kata Rein tak enak. "Oh sama sekali tidak apa, pergilah, aku bisa berjalan nanti kalau tidak ada yang menjemput," ujar Dasha, ia memang sudah terbiasa menggunakan kedua kakinya kemana-mana, bukan? "Memangnya apar-eh tempat tinggalmu dekat dari sini?" tanya Rein lagi. "Lumayan." Adrian memperhatikan dengan dahi mengerut, Dasha tampak rileks bersama pria itu, tapi kenapa dengan Damian tidak? Dia terlihat kaku dan banyak diam. Tiba-tiba ponsel Adrian bergetar, seseorang meneleponnya hingga ia terpaksa mematikan kameranya. Ia lalu melihat siapa yang menelepon itu dan ternyata Damian. Langsung saja Adrian menggeser tombol hijau, dan Damian langsung berbicara. "Dasha sudah pulang?" Persis seperti yang ia tebak. Damian pasti akan bertanya tentang Dasha. Siapa lagi kalau bukan perempuan itu yang sekarang menjadi prioritas Damian. "Iya, sudah. Dia sudah keluar dari sekolah, aku akan menjemputnya sekarang," ujar Adrian, berharap pertanyaan Damian cukup sampai sana saja. "Dia keluar bersama siapa? Pria atau perempuan?" Sejenak, otak Adrian lumpuh mendengar pertanyaan itu, entah ia harus menjawab apa, karena berbohong atau jujur, Damian pasti akan marah. "Mmm dia ...." "Bersama pria, ya?" Adrian menghela nafas, Damian sangat peka. "Ya, tapi kupikir mereka hanya teman, lagipula sekarang pria itu sudah pergi lebih dulu." Damian di seberang sana terdengar menghela nafas panjang. "Ok, hati-hati di jalan." Adrian mengernyit. Jarang sekali mendengar Damian memperhatikan dirinya. "Bukan untukmu, tapi Dasha. Kau sebagai supir harus hati-hati, awas saja kalau dia pulang dengan keadaan lecet." Adrian menjauhkan ponselnya dan memaki pelan. "Iya, aku tahu," ujarnya terdengar ceria setelah mendekatkan ponsel ke telinganya lagi. Damian berdeham lalu mematikan sambungan telepon begitu saja. Membuat Adrian hanya bisa mengelus d**a melihtanya. Adrian lalu mendongak, melihat Rein sudah berjalan jauh, sedangkan Dasha masih berdiri di sana. Namun, ketika Adrian menekan pedal gas, ia bisa melihat kalau Dasha mulai berjalan meninggalkan sekolah. "Apa yang dia pikirkan? Mau berjalan sejauh itu?" gumamnya tak habis pikir sembari menekan pedal gas lebih dalam. Hanya membutuhkan beberapa detik untuk Adrian memparkirkan mobilnya tepat di samping tubuh Dasha yang masih berjalan pelan. Ia kemudian menurunkan kacanya. "Dasha, masuklah," ucapnya, sengaja tidak terlalu turun karena bisa saja ada orang yang menyadarinya dan itu berbahaya. Dasha sendiri terkejut, tak percaya ia di jemput. Bagaimanapun ia hanya menumpang. Di biayai sekolah saja ia sudah sangat bersyukur. Ini bahkan di antar-jemput! "Hey, jangan melamun." "Ah, ya, maaf." Dasha tersadar seketika. Ia kemudian berjalan mendekat ke arah mobil, membuka pintu belakang dan duduk dengan nyaman. Saat Adrian menjalankan mobilnya, ia melirik ke kaca spion tengah. "Mm Dasha, ada yang ingin kutanyakan. Boleh?" Dasha menatap ke depan, tepatnya menatap Adrian dari samping. "Boleh saja." Adrian mengangguk. "Mm pria tadi ... siapa?" tanyanya. "Oh ini bukan karena aku. Tapi Damian, kau tahu bukan kalau dia memiliki rasa padamu. Jadi saat tahu kau tadi bersama pria itu, dia jadi sedikit ... kesal." "Dia cuma temanku," jawab Dasha cepat. "Oh? Benarkah?" Adrian terdengar tak percaya. "Baik, baguslah." Karena tak ada lagi pertanyaan Adrian, Dasha membuang pandangan ke luar jendela. Ia tahu Damian memiliki rasa padanya, namun jujur, ia belum merasakan apa-apa terhadap Damian walau kadang ia merasa jantungnya berdebar jika berada di dekat pria itu. Beberapa menit kemudian, mobil sampai di mansion, Dasha turun sebelum Adrian membukakan pintu, ia tak mau diperlakukan seperti itu, rasanya aneh saja. "Aku ke kamar dulu, ya, Adrian, ada tugas yang harus kukerjakan." Adrian mengangguk mengiyakan lalu duduk di sofa. Baru saja ia menutup matanya sejenak sebelum ponselnya kembali berdering. "Siapa orang ini?!" gumamnya kesal sembari menarik ponselnya dari saku jas dengan mata yang masih terpejam. "Oh Damian." Adrian menerimanya lalu menempelkan benda pipih itu ke telinganya. "Halo, ada apa, Damian?" "Kalian sudah di rumah?" "Kau bertanya untukku atau Dasha?" Selorohnya. Tapi Damian tidak menjawab. Benar, mungkin ia sedang kesal. Bercanda adalah hal paling akhir yang di lakukan ketika Damian dalam kondisi hati yang buruk. "Sudah, aku di ruang tamu dan Dasha di kamarnya, mengerjakan tugas katanya." "Begitu, ya. Dia tidak meminta ke kantorku?" "Hey Damian, bagaimanapun dia di sini baru beberapa hari, tidak mungkin langsung bersikap seperti itu." "Aku tahu, tapi aku mengharapkan yang seperti itu." Damian menghela nafas. "Kalau begitu kau sedang bebas, kan? Datang ke kantorku agar aku lebih cepat pulang." Perintahnya sesuka hati lalu mematikan sambungan telepon secara sepihak. "Sh*t!" ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN