Dasha tidak bohong jika ia sedang mengerjakan tugas sekolahnya, ia mengerjakannya di atas tempat tidur, Dasha juga berulang kali membolak-balik kertas, ini di karenakan ia tak menemukan jawaban atas soal yang tertulis.
"Kenapa tidak sama?" Dasha mengeluh dan menopang pipinya dengan kepalan tangan kanannya.
Merasa mulai pusing dan haus, akhirnya Dasha turun dari kasur dan berjalan ke arah pintu, ia membukanya lalu melihat ke arah kanan dan kiri, tidak ada orang sama sekali.
Memberanikan diri, Dasha menuruni satu persatu anak tangga, ia masih merasa canggung sebenarnya, maka dari itu ia jarang terlihat di rumah itu.
"Dasha Milkova?"
Dasha terkesiap ketika seseorang memanggil dirinya dari arah belakang tubuhnya.
"Kau sedang apa?" tanya Anna ketika Dasha berputar arah menghadap ke arahnya.
"Ah ya, aku hanya ingin minum, tenggorokanku kering sekali," ujar Dasha memegang lehernya.
Anna tersenyum kecil, ia lalu berjalan ke dapur meninggalkan Dasha yang diam terpaku, entah benar atau tidak, tapi perasaannya mengatakan kalau Anna sepertinya sedikit tidak suka dengan dirinya, ia bisa menilai hal ini karena Anna tampak dingin terhadapnya, atau memang sifatnya yang seperti itu?
"Ini, minumlah."
Anna tiba-tiba datang dengan segelas air putih lalu memberinya pada Dasha.
Dasha melirik gelas itu sesaat kemudian menerimanya. "Terima kasih," ucapnya dan Anna hanya mengangguk lalu berbalik pergi.
Dasha memperhatikan air yang sangat jernih di dalam gelas sebelum mulai menenggaknya, ia harap tak ada apapun yang berbahaya di sana.
***
Sudah jam lima sore, tapi kerjaan Damian seperti tak ada habisnya. Karena keinginan nya yang ingin cepat-cepat pulang, ia tampak terlalu cepat membaca suatu berkas lalu menandatanganinya begitu saja.
"Maaf, Damian, tapi jika kau membaca begitu cepat seperti itu, apa kau tidak takut kau melewatkan sedikit kesalahan?" celetuk Adrian.
Pria itu juga punya kerjaan karena Damian membagi kerjaannya ke Adrian, hanya saja Adrian lebih sedikit jadi dia memiliki waktu istirahat.
"Nope," ujar Damian singkat lalu mulai menyalakan laptopnya.
"Kau seperti monster," gumam Adrian pelan sekali sampai hanya ia sendiri yang bisa mendengar suaranya.
Tiba-tiba pintu ruangan Damian di ketuk. Damian sendiri hanya diam saja karena ada Adrian di sana.
"Sebentar," seru Adrian bangkit berdiri, berjalan lalu membuka pintu berwarna cokelat itu.
"Oh, Larisa Lagunov?"
Jari-jari Damian berhenti mengetik ketika Adrian menyebut nama itu, ia menghela nafas, sepertinya ia akan merasakan lagi apa itu kesal.
"Tolong, aku ingin berbicara dengan Damian," ujar perempuan yang memakai rok sangat pendek itu.
"Kenapa kau bisa masuk?" heran Adrian, di depan sana bukannya ada Kate? Sekretaris Damian yang garang itu.
Pintu yang berada di depan terbuka, muncul Kate dengan ekspresi marah.
"Maaf, sir, tapi biarkan aku yang menanganinya."
Kate tampak menarik tubuh Larisa, namun perempuan satu itu sangat bersikeras hingga ia terjatuh di sofa, begitu Kate menariknya lagi, ia malah tak mau dan menekan tubuhnya ke sofa agar Kate kesusahan menariknya.
"Pergilah, Larisa, sebelum ada tamu yang masuk ke sini," ujar Adrian dengan nada kasihan, tangannya juga menutup pintu ruangan Damian.
"Tapi aku benar-benar ingin bertemu dengannya!" Teriak Larisa pada Damian, setelahnya ia menangkis tangan Kate yang berusaha menggapai tubuhnya.
"Masih dengan masalah dan solusi yang sama? Maaf, tapi Damian bukanlah seorang baj*ngan, sudah berkali-kali kan di katakan kalau lebih baik kau mencari pria lain," ujar Adrian memasukkan tangannya ke dalam saku celananya.
Melihat Kate yang berjuang keras menarik Larisa membuatnya iba juga, ia pun kemudian meminta Kate menarik diri.
"Pergilah, Larisa, kau tidak di terima di sini lagi," usir Adrian.
"Tidak! Sebelum Damian membantu ayahku!" Teriak Larisa.
Adrian menggaruk keningnya, kalau saja Larisa bukan perempuan, mungkin beberapa pukulan mampu membuatnya sadar akan siapa dirinya.
"Jika di bantu, ayahmu akan melakukan hal yang sama lagi, lalu akhirnya memohon pada Damian lagi, begitu seterusnya tanpa akhir."
Bibir Larisa melengkunh ke bawah. "Aku. Aku yang akan jadi jaminannya!"
"Tapi Damian tidak mau, kau mengerti tidak? Dia hanya cukup membantu dua kali dan ternyata keluargamu masih masuk ke lubang yang sama, silakan cari pengusaha lain yang bisa membantu keluargamu, jangan di sini," jelas Adrian dengan usiran di ujung kalimatnya.
Larisa tampak ingin berbicara, namun pintu di depan terbuka dan beberapa security muncul, langsung berjalan ke arah Larisa dan membawa perempuan itu pergi walau caranya cukup ... tapi bagaimana lagi jika Larisa sungguh keras kepala.
"Perempuan itu menyebalkan, menyusahkan," gumam Kate kesal sembari merapikan rambutnya yang berantakan.
Adrian hanya terkekeh. "Baiklah, kembali bekerja," ujarnya dan membuka pintu ruangan Damian.
***
Tepat jam enam sore, dua mobil beriringan masuk ke dalam pekarangan rumah besar milik Damian. Dari jendela kamar di lantai dua, Dasha bisa melihatnya.
Damian dan Adrian beriringan masuk ke dalam rumah. Damian langsung naik ke lantai atas sedangkan Adrian pergi ke dapur.
Sesaat, Damian berhenti melangkah dan melirik pintu kamar Dasha, perempuan itu selalu berdiam diri di kamarnya, pertanyaan yang akhir-akhir ini mengusik Damian adalah ; apakah Dasha tidak suka berada di rumah ini?
Mungkin, Damian bisa membicarakannya nanti dengan perempuan itu, sekarang ia harus membersihkan dirinya agar kembali terlihat segar.
Beberapa menit kemudian, Damian keluar dari kamarnya dengan rambut yang cukup basah, di tangannya terdapat dua buah ponsel yang nantinya akan ia berikan ke Dasha.
Pria itu kemudian mengetuk pintu kamar Dasha, beberapa kali sebelum perempuan itu membuka pintunya dari dalam.
"Boleh aku masuk?"
Dasha mengangguk dua kali lalu mempersilahkan Damian masuk ke dalam.
"Kau sedang belajar?" tanya Damian melihat buku dan alat tulis yang cukup berantakan di atas tempat tidur.
"Oh, iya, maaf, Damian, tadi aku mengerjakan tugas sekolah yang cukup sulit, jadinya tidak memperhatikan kerapian," ujar Dasha buru-buru merapikan alat tulisnya.
Damian tersenyum kecil. Ya, dari sini saja ia sudah bisa berpikir kalau Dasha memang masih canggung berada di sini.
"Dan tugasmu itu sudah selesai?" tanya Damian lalu duduk di pinggir kasur, berhadapan dengan Dasha.
Dasha menggeleng, ia belum menemukan jawabannya.
"Pelajaran apa?"
"Ekonomi."
Andai ponsel Dasha masih berada di tangannya, mungkin ia sudah bertanya ke Rein yang pintar. Oh tidak, internet adalah jalan paling tepat.
"Datanglah ke ruang kerjaku setelah makan malam, aku akan bantu di sana," ujar Damian dan diangguki Dasha. "Dan ini ...."
Damian memperlihatkan dua ponsel yang ia bawa ke hadapan Dasha, dan perempuan itu langsung mengenali ponselnya! Salah satu dari dua ponsel itu adalah miliknya.
"Maaf aku tidak memberikannya langsung ke padamu, aku menemukannya di rooftop, hanya saja keadaannya mati karena terkena air." Damian memberi ponsel Dasha ke tangan perempuan itu.
Dasha lalu mengambil menekan tombol power. Menyala! Semua file di dalamnya masih utuh tak ada yang hilang.
Dasha menatap Damian dengan pandangan berbinar. "Terimakasih, Damian!" Serunya senang.
"Dan ini, aku hanya ingin memberikannya padamu, siapa tahu kau butuh dua ponsel," ujar Damian, tangannya yang menggenggam Ponsel terbaru itu terulur ke arah Dasha.
"Tap--"
"Ambil saja, walaupun sebenarnya kau tidak butuh." Sejujurnya, Damian hanya tidak ingin di tolak.
Dan Dasha, karena ia menghargai Damian, ia pun mengambilnya. "Terima kasih."
Damian menatap Dasha yang menunduk melihat kedua ponselnya dengan mata yang penuh makna, tanpa sadar tangannya terulur begitu saja menyentuh pipi lembut Dasha hingga perempuan itu pun terkejut karena ia tidak memperhatikan pergerakan Damian.
"Anything for you, baby."
Dasha tercenung, ia menatap Damian dengan pandangan lurus tak berkedip.
"Kalau begitu aku keluar dulu, keluarlah nanti untuk makan malam," ujar Damin bangkit berdiri dan mengusap puncak kepala Dasha sebelum melangkah pergi dari sana.
***